Layar telepon genggam Jessica terus menyala tanpa henti, memancarkan denting notifikasi bertubi-tubi yang memenuhi ruang kerja sekretaris di lantai empat puluh lima tersebut. Jessica menghela napas panjang, menatap malas ke arah ponsel pintarnya yang tergeletak di samping papan ketik komputer. Dengan jemarinya yang lentur, ia menggeser layar dan membaca rentetan pesan yang mengalir di grup percakapan w******p lingkar pertemanannya. Fani: “Jes! Hari ini jam 7 malam nongkrong di Kafe Lumina ya! Awas aja kalau gak datang, lo utang cerita sama kita-kita!” Siska: “Iya nih, dari kemarin-kemarin di grup diam-diam bae. Jangan-jangan masih meratapi nasib gara-gara gagal manjat ke kehidupan cowok kaya? Hahaha!” Nadia: ”Datang dong, Jes. Kita mau lihat raut muka lo yang katanya lagi patah hati be

