Sinar matahari pagi yang masih samar menerobos masuk melalui celah gorden tipis di kamar kos Jessica. Jam dinding kayu murah di atas lemari menunjukkan tepat pukul lima pagi. Namun, tidak seperti biasanya di mana Jessica harus berjuang mati-matian melawan rasa kantuk untuk bangun, pagi ini mata gadis berusia 23 tahun itu langsung terbuka lebar. Wajahnya segar, berbinar, dan dipenuhi oleh energi misterius yang meledak-ledak dari dalam dadanya. Jessica menyibakkan selimut tipisnya, duduk meluruskan kaki di atas kasur busa yang biasanya terasa menyiksa itu. Pagi ini, kasur keras itu terasa sehalus sutra di badannya. Ia langsung melangkah menuju dapur kecil terpisah di sudut kosannya. Dengan gerakan lincah, Jessica mengikat rambut panjangnya ke atas, menyalakan kompor gas portable, dan mulai

