Ruang kerja eksekutif lantai empat puluh lima yang megah itu mendadak terasa begitu beracun, sempit, dan membakar. Aroma cendana yang biasanya menenangkan kini kalah pekat oleh sisa-sisa wangi vanila tubuh Jessica dan hawa gairah bercampur kepanikan yang menyengat. Regan Anggara mematung di tengah ruangan. Kedua tangannya yang mengepal erat gemetaran hebat. Dengan satu gerakan frustrasi, pria berbadan tegap itu mengangkat tangannya dan mengusap rambut hitam tebalnya secara kasar—merusak tatanan rambut rapi yang selama bertahun-tahun menjadi simbol kesempurnaan sang CEO Anggara Corp. "Sialan! Sialan lo, Jessica!" maki Regan dengan suara bariton yang teramat serak, pecah di udara hening. Dada bidangnya naik turun dengan ritme yang liar. Untuk pertama kalinya dalam 31 tahun usianya, seoran

