Jemariku mengetik cepat di atas keyboard untuk menyalin hasil wawancara dari rekaman di ponsel. Sambil mendengar suara narasumber, aku masih sempat mendengar kasak-kusuk teman-teman di sekitarku. Mas Tama sedang asyik menyeruput kopi seraya mengobrol dengan yang lain. Oh. Rupanya mereka membahas soal penutupan kasus penyuapan. Bola mataku melirik ke mereka. "Gue malah lebih kaget kalau kasusnya tetep dilanjut." "Ah, udah. Nggak usah dipikirin. Udah bukan wewenang kita. Gue mah kerja cari aman aja, Tam." Mas Nanda menggeleng-geleng. Mungkin, mereka benar. Mungkin, aku mengubur saja aksi sok beraniku. Aku bisa menutup mata dan tak memedulikan semua hal gila itu dan melanjutkan pekerjaanku dengan tenang tanpa dibayangi ketakutan. Bibirku mencebik. Inilah yang kadang membuatku berpikir ula

