Hold My Hand

1306 Words

Terjadi keheningan. Ia hanya memandangku dalam kegemingan, membuatku merenungi ucapanku baru saja. Dalam hati aku menyumpah serapah. Ah, berengsek, gue ngomong apaan sih barusan! Kugigit bibir bawah untuk merutuki kebodohan. Mendadak, ia tertawa. "Kenapa tertawa?" tanyaku. Ia menghentikan tawa dan mengubah ekspresinya saat menatapku. "Lo lagi demam?" Ia menempelkan punggung tangan ke dahiku. Aku menepisnya. "Ish. Gue bersungguh-sungguh." "Tadi lo ngomongnya 'aku'. Sekarang 'gue'. Kan gue nggak yakin sama yang lo omongin." AH ELAH SERAH LO DEH! Bibirku terpilin kesal. Aku jadi menyesal melontarkan kalimat bodoh tadi. Memutar badan, aku melipat tangan di depan d**a sekadar meredam suara degup jantung yang bertalu-talu. "Ngomongnya nggak tepat, sih. Udah tahu gue lagi emosi," katanya.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD