"Lo di mana?" Sambil membekap mulut, aku menangis sesenggukan, berusaha untuk tak berisik. "A-aku...." "Suara lo kenapa?" Rasanya seolah ada sesuatu yang mencekik leherku sampai membuatku tak bisa berkata-kata kecuali suara isak tertahan. Pintu berusaha didobrak. Aku memejamkan mata. Menoleh ke samping kiri, aku melesat mendekati jendela kamar dan membukanya. Kelambu berkelebatan tertiup angin. "Kok lo diem aja, sih? Itu suara apa? Lo di mana? Jangan bikin panik, dong!" Aku tak kunjung menjawab. Kumatikan sambungan dan memasukkan ponsel saat pintu mulai dibuka. Aku menarik napas dalam-dalam, mengembuskan perlahan, dan memusatkan perhatian pada satu titik agar tetap tenang. Meskipun kakiku bergetar dan keringat menganak sungai, aku tetap bersikap tenang. Aku melompat hati-hati. Kaki

