Waktu itu hari begitu cerah. Kami sekeluarga berencana liburan ke Puncak. Mama dan Papa asyik mengobrol, bercanda tawa, dan mengikuti nyanyian di radio saat sebuah lagu kenangan ketika mereka masih pacaran diputar. Sesekali, mereka menoleh ke belakang dan menanyakan turnamen karateku. Juga, bertanya soal Ilalang. "Aku bisa kok menang! Aku bisa bawa medali dan bikin master Rano bangga." Bibirku mengerucut. Sebab, orang-orang di klub karate selalu meremehkan kekuatanku hanya karena aku terlihat tak bertenaga karena terlalu kecil—atau lebih tepatnya, mungil. "Itu baru anak Papa. Punya semangat yang besar." "Teman kamu kok udah jarang main ke rumah?" tanya Mama. "Biarin aja. Dia main juga ngerepotin dan bikin kesel." "Hush... kok kamu jadi galak sama dia. Nggak boleh, Sayang." Mama mengge

