Ruang jurnalis sepi. Dari balik papan kubikel, Mas Tama mencondongkan kepala sekadar melihat aktivitasku. Sejak tadi pagi, aku mengerjakan artikel dengan khidmat tanpa bersuara. Aku meneguhkan diri untuk bersikap biasa bila bertemu Meri, apalagi Mas Danu. Sigh! Menyebutkan nama dua orang itu saja sudah membuat bibirku terlipat kesal. Aku sudah menyelesaikan sepuluh artikel dalam waktu yang cukup cepat. Tidak seperti biasa. Di saat-saat seperti ini, otakku justru terangsang untuk menulis. Aku butuh pengalih pikiran soalnya. "Entar pulang kerja kita ada makan-makan lagi. Lo mau gabung?" tanya Mas Tama. Aku menggeleng. "Aku ada janji." "Sama pacar?" Aku menggeleng lagi. "Sama temen." Terdengar suara helaan napas panjang. "Yah, sayang. Padahal lagi ada traktiran kantor loh. Danu diangk

