Sial. Gara-gara saltik di grup kantor, aku malu setengah mampus sampai keesokan harinya. Orang-orang di balik kubikel tersenyum geli melihatku berjalan canggung. Aku menggaruk kepala, membalas senyuman mereka dengan senyum rikuh. Bahkan saat duduk di depan komputer, Mas Tama berdeham dan terkekeh. "Kemarin abis ngapain, Fil?" Aku mengatupkan telinga. "Aduh, Mas. Jangan bahas itu lagi dong. Gue kan typo." Ya Allah gini amat nasib hamba. "Beneran juga nggak ada protes kok." Aku melayangkan pukulan ke lengannya, membuat Mas Tama terbahak. Tak mengacuhkan pandangan dan tawa cekikikan yang lain, aku menyibukkan diri di kubikel dan enggan menoleh ke kanan maupun kiri. Tak ada lagi yang membahas saltikku di grup kantor. Sebab, topik pembicaraan sudah berganti ke Lucinta Gua yang sedang ram

