Sementara di tempat lain, Syila sudah tiba di depan sebuah rumah mewah bergaya eropa klasik sejak tadi. Bell pintu di tekan berkali-kali tidak kunjung ada yang membuka juga. Takut salah alamat, dia cek sekali lagi alamat yang dikirim Nyonya Jasmine melalui pesan w******p.
“Benar kok, tapi kok gak ada orang dari tadi?” Syila garuk-garuk kepala. “Jangan-jangan benar-benar aku ketipu lagi? Jangan-jangan benar kalau Nyonya yang waktu itu pasien rumah sakit jiwa yang kabur?”
“Siapa yang kamu bilang pasien rumah sakit jiwa?” Suara wanita paruh baya mengejutkan Syila. Dia langsung menoleh dengan setengah terperanjat. Ah, dasar hobinya bikin kaget. Ternyata Nyonya Jasmine yang ada di sana. Sejak pertama kemunculannya di kantor sudah bikin kaget dan ternyata di rumahnya juga sama.
“Eh, eng … itu Nyonya, saya … saya lagi ngomongin taman saya. Lama banget gak datang-datang. Saya kira nyasar ke rumah sakit jiwa.” Sekenanya saja Syila bicara. Daripada ketahuan kalau yang dimaksud adalah si nyonya ini, lebih baik cari aman.
“Jadi kamu sedang menunggu teman kamu?”
“Eng … gak juga sih, eh, maksudnya nunggu dibukakan pintu sambil nunggu teman juga.”
“Maaf saya baru saja tiba di rumah. Saya baru kembali dari kantor. Kebetulan asisten rumah juga sedang saya tugaskan di rumah lain. Itu di rumah yang di sebelah sana.”
Syila reflek saya pandangannya berpindah mengikuti arah yang ditunjuk Nyonya itu. Padahal dia juga tidak paham dari sekian banyak rumah yang berjajar di komplek ini, entah rumah mana yang dimaksud.
“Tadi saya gak lihat Nyonya lewat sini?” bisa-bisanya Syila menayakan hal itu. Padahal lewat mana saja si Nyonya ini tidak penting. Yang penting sekarang dia harus segera bicara ke inti persoalan yang sudah Nyonya Jasmine janjikan untuk diceritakan.
“Di sebelah sana ada gerbang lagi. Saya tadi lewat sana. Mari masuk, atau kamu masih mau menunggu teman kamu dulu?”
“Hah, eng … kayaknya teman saya gak jadi datang deh,” dalam hati Syila padahal sudah gregetan tidak sabar. Kaki juga sudah kesemutan tak karuan ingin cepat diajak duduk dan menjelajah rumah isi rumah si Nyonya.
“Ya sudah, mari.”
Syila akhirnya mulai melangkah masuk. Rumah si Nyonya ini begitu luas. Saking luasnya halamannya sampai-sampai rasanya pintu masuk terasa begitu jauh.
‘Emang si Nyonya tua ini tinggal di rumah sebesar ini sendirian? Kok serem juga ya? Sarah sih nyebelin, disuruh nemenin malah gak mau. Kalau sampai ada yang aneh-aneh di dalam gimana nih? Mana aku sendirian lagi? Eh, tapi ngapain aku takut sih? Dia kan cuma ibu-ibu tua, gak bakalan lah ada macam-macam.’ Gumam Syila dalam hati.
“Silahkan masuk, kita bicara di ruang dekat taman belakang.”
“Hah? Kenapa gak di ruang tamu saja? Eng … maksud saya, sepertinya lebih santai kalau di ruang tamu. Lagipula saya gak banyak waktu Nyonya, saya harus kembali ke kantor.”
“Kamu keberatan masuk ke rumah saya lebih jauh?”
“Oh, bu-bukan begitu, tapi rumah Nyonya ini terlalu luas. Dan seperti yang saya katakana tadi, mohon maaf sekali lagi, waktu saya disini terbatas.”
“Baiklah kalau begitu. Sebetulnya aman-aman saja sih bicara di sini, karena semua pelayan di rumah ini sedang saya suruh mengurus yang satu lagi. sengaja memang. Saya gak mau ada orang lain sembarangan dengar. Karena ini masalah sensitif.”
“Eng … i-iya Nyonya.”
Syila duduk di sofa. Ia tarik napas dalam-dalam. Dia harus professional. Katanya dia ini pemburu berita professional ‘kan? Jadi rasanya terlalu konyol kalau gampang takut dan gampang berpikiran yang macam-macam dengan situasi yang dihadapi. Memang pembawaan si Nyonya ini sejak awal agak horror dan tidak jelas. Tapi lama-lama dia kelihatan baik.
“Jadi, apa Nyonya sudah siap untuk menceritakan tentang bus yang Nyonya sebut-sebut waktu itu?” Syila mengawali pembicaraan. Tak mau lama-lama basa-basi lagi.
Nyonya Jasmine mengangguk. Sorot matanya terlihat memendam amarah dan kecewa yang tertahan.
“Iya. Saya bisa bilang, orang yang berhasil bertemu dan terbawa oelh bus itu adalah orang yang beruntung.”
“Beruntung?” jelas saja Syila kaget. Pasalnya selama ini cerita tentang bus itu terasa begitu menjadi momok. Semua orang takut mendadak hilang.
“Bus itu tidak akan sembarangan mengangkut orang. Saya tidak sengaja menaiki bus itu di halte 009. Saat itu pikiran saya sedang benar-benar dalam puncak kekalutan. Dan setelah semua yang saya alami, saya yakin bus itu seperti bisa membaca signal masalah yang sedang dialami seseorang yang memiliki persoalan tidak selesai di masa lalu. Mungkin tidak semua orang siap ketika masa lalunya diulang. Karena bisa saja kenyataan lebih buruk yang akhirnya terbongkar. Tapi saya merasa beruntung.”
“Ja-jadi … Nyonya benar-bear kembali ke masa lalu? Lalu … ca-caranya kembali ke masa sekarang bagaimana?” Syila agak terbata-bata. Maklum saja, apa yang dikatakan Nyonya ini masih terlalu mustahil untuk diterima logika orang waras.
“Ketika semua yang ingin saya selesaikan di masa lalu selesai, saya mendadak sudah kembali ke masa kini.”
“Lalu apa boleh Nyonya ceritakan, Nyonya pergi ke tahun berapa dan apa saja yang terjadi di tahun itu? Apakah sama dengan yang terjadi sebenarnya dulu? Dan apakah diri Nyonya Jasmine jadi ada dua? Yang dimasa lalu dan yang mendadak datang dari masa depan?”
Reflek saja pertanyaan itu meluncur dari mulut Syila. Maklum, dia ini penggemar katun jepang yang tokoh utamanya adalah robot pemilik kantong ajaib. Yang memiliki laci meja belajar yang bisa membawa ke masa lalu atau masa depan. Dan gambaran yang ada di otak Syila ketika mendengar cerita Nyonya ini kurang lebih seperti apa yang terjadi di film kartun favoritnya itu. Ketika diri seseorang di masa depan masuk ke masa lalu maka si masa depan bisa bertemu dengan dirinya sendiri di masa lalu.
“Tidak.” Jawab Nyonya Jasmine. Seketika Syila meralat gambaran yang sedang berputar di otaknya.
“Jadi bagaimana?”
Dering ponsel mengagetkan keduanya. Obrolan ini terpaksa terjeda. Syila mematikan panggilan itu. ponsel juga sedang ia gunakan untuk merekam pembicaraan super penting ini.
‘Aduh, Sarah nih ngapain sih nelpon?’ gerutunya dalam hati.
Syila baru sadar ketika menatap layar ponsel kalau jam makan siang sudah berakhir lima menit yang lalu.
‘Gawat! Hari ini ‘kan mau ada meeting penting setelah makan siang. Aduh, bisa kena marah bos ini!’
Panggilan dari Sarah ia abaikan. Syila pikir, tak lain yang mau Sarah sampaikan di telpon pasti soal menyuruhnya cepat kembali ke kantor.
“Nyonya, eng … maaf, maaf banget. Apa kita bisa lanjutkan pembicaraan ini besok? Saya janji akan memuat berita itu. Tapi sekarang saya ada meeting penting.”
Nyonya Jasmine terlihat kecewa. Tapi dia tidak bisa menghalangi. “Baiklah,”
Sementara seorang pria beberapa menit yang lalu sudah tiba lebih dulu di kantor mereka. Wajah tampan dan penampilan sempurnanya membuat ia seketika menjadi pusat perhatian hanya dengan melangkah dalam diam dan menyapa dengan senyum ramah.