Sarah berulang kali menghubungi Syila, tapi tak ada jawaban. Kesal. Dia sendiri sekarang terjebak di tengah jalan kota. Dasar apes, taxi yang ditumpangi Sarah mogok. Untuk mencari taxi lain sayangnya tidak mudah. Kebetulan yang sangat tidak diinginkan. Sudah terbayang Omelan bos besar dan ancaman terakhir yang dia terima.
"Parah! Gak, gak bisa, aku gak mau dipecat gara-gara ini."
Sarah mondar-mandir di trotoar. Melempar pandangan sejauh mungkin sambil terus berdoa dalam hati berharap ada taxi yang lewat. Kalau mau memilih angkutan umum lain rasanya juga bukan solusi. Situasi jalanan kota di tengah hari begini lumayan padat. Tetap saja dia akan terlambat.
"Syila lagi ngapain sih? Kok bisa-bisanya telponku malah dimatiin? Seenaknya banget. Harusnya dia bisa nolongin aku kalau udah sampai di kantor duluan." Terus saja Sarah mengomel. Keningnya sudah mulai berkeringat karena matahari siang ini memang begitu menyengat.
Tidak ada partner lain yang bisa Sarah percaya di kantor selain Syila. Atau lebih tepatnya belum menemukan saja. Sarah hanya bergaul sekedarnya ke teman kantor lain. Hal yang kurang menguntungkan memang. Karena saat dalam situasi seperti ini dia tidak bisa mengandalkan pertolongan teman lain.
"Aduh, coba tadi aku gak usah ke rumah sakit, gak bakalan kayak gini! Dasar Dave selalu bikin sial! Lagi koma juga masih sempat-sempatnya bikin sial!" Untuk kesekian kalinya Sarah mengoceh sendiri.
Tiba-tiba saja sebuah mobil mendekat. Lajunya melambat lalu berhenti tepat di depan Sarah. Bukannya senang, gadis ini malah takut. Buru-buru dia memalingkan muka dan berjalan cepat.
Pikiran Sarah langsung terisi dugaan yang tidak-tidak. Mobil sedan tadi kacanya begitu gelap. Sarah takut itu penculik, atau mungkin om-om iseng yang suka menggoda perempuan.
Melangkah tanpa menoleh, Sarah terus menggerutu dalam hati. Apalagi menyadari kalau mobil itu terus membuntuti.
"Kurang ajar! Maunya apa sih orang ini? Emang dipikirnya aku cewek apaan?" Sarah tidak tahan lagi. Dia berhenti dan ingin nekat menyebrang. Padahal itu jalur cepat. Dimana semua kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi. Jembatan penyeberangan orang masih ratusan meter di depan sana. Terlalu jauh. Sarah tidak sabar. Nekat saja dia turun dari trotoar dan melewati mobil yang sejak tadi melaju pelan di pinggir mengikutinya itu.
Dengan cepat seseorang keluar dari mobil itu. Menarik tangan Sarah yang sudah hampir nekat melangkah.
"Mau celaka kamu?!" Dia menarik Sarah ke pinggir dan mengembalikan gadis itu ke trotoar.
Sarah yang kaget sesaat belum bisa berkata apa-apa. Tanpa sadar sudah beberapa detik pandangannya jatuh ke wajah pria itu.
'Ternyata bukan om-om seram yang suka iseng dan genit sama perempuan. Aku salah.' Batin Sarah.
"Hei, kenapa bengong?" tanya Pria itu.
Sarah baru sadar ada sesuatu mencengkeram lengannya.
"Heh, lepas! Sakit tau! Sembarangan aja gandeng tangan orang!" Bentak Sarah sambil melepaskannya genggaman tangan pria itu.
"Apa? Gandeng tangan kamu? Kamu itu bisa bedain gak? Orang yang gandeng tangan, sama orang yang narik tangan orang lain karena reflek?"
"Terserah. Saya gak peduli soal itu. Lagian ngapain kamu ngikutin saya? Kamu bukan sopir taxi kan? Saya lagi cari taxi. Dan saya gak mau basa-basi asal kenalan sama orang di jalan!" Setelah kalimatnya selesai Sarah langsung buang muka dan kembali mencoba meninggalkan tempat itu. Tapi kali ini dia tidak lagi nekat untuk coba menyebrang.
"Saya bukan sopir taxi, saya kesini untuk cari Sarah Jessica yang setelah jam makan siang selesai belum kembali juga ke kantor." Seru pria itu setelah Sarah pergi beberapa langkah.
Detik pertama Sarah hanya mencabik sambil mengedikkan bahu. Tapi sedetik kemudian otaknya baru berhasil mencerna. Seketika Sarah melongo dan menoleh.
"Ka-kamu tahu nama saya?"
Pria itu tersenyum.
"Dari mana kamu tahu nama Saya?" Sambil mengoceh Sarah berpikir. Seharusnya bukan itu yang dia katakan tadi. Mungkin saja ini hanya orang iseng yang asal bicara dan kebetulan saja tebakannya pas. "Permisi," Sarah kembali buang muka lagi dan lagi-lagi mencoba pergi.
"Saya sudah sampai di kantor kamu dua puluh menit yang lalu, karena resepsionis bilang kalau nona Sarah Jessica belum kembali dari makan siang, saya akhirnya cari kamu. Kebetulan banget ketemu di jalan ini. Mau ikut saya gak? Meeting belum akan dimulai kalau kamu dan saya belum sampai di kantor. Bukannya pak boss sudah kasih tugas buat kamu?"
Sarah dibuat jantungan mendengarnya. Ini lebih buruk, lebih seram dan lebih mengerikan dari diteror mimpi oleh si Dave. Bagaimana mungkin pria yang tidak sengaja bertemu di jalan ini tau semua tentang Sarah.
"Mau masuk? Atau masih mau nunggu taxi sampai besok?" Pria itu sekarang bersiap masuk ke mobil.
Sarah bingung. Ingin terus acuh dan cuek saja, tapi mendengar semua kalimat pria tadi yang serba tau tentang Sarah dan kantor, rasanya takut juga. Apalagi dia sempat menyebut soal meeting dan pak boss.
"Ok, aku ikut." Dengan membunuh segala gengsi Sarah akhirnya masuk ke mobil.
Begitu Sarah duduk, mobil langsung melaju dengan kecepatan tinggi. Sarah tersentak dalam hati. Sesaat menutup mata karena takut. Belum pernah ia naik mobil dengan kecepatan tinggi seperti ini.
"Pakai seat belt." ucap pria itu singkat.
Gemetaran Sarah meraih seat belt dan mengenakannya. Ingin marah, ingin mengomel, tapi situasi belum memungkinkan.
'Siapa sih dia ini?' tanya Sarah. Sayangnya hanya berani bertanya dalam hati.
Seperti detektif, bola mata Sarah langsung beredar diam-diam. Bodohnya dia kepikiran untuk menjelajah seisi mobil ini. Mungkin saja ada petunjuk. Mungkin tulisan nama atau apapun itu. Namun ada sesuatu yang mengusiknya. Semakin lama berada di dalam mobil ini dia terasa tidak asing dengan sesuatu. Aroma parfum. Iya, aroma parfum yang sudah susah payah ia lupakan. Aroma parfum Dave tercium jelas.
Sarah buru-buru menepis semua pikiran aneh yang bergelayut di otaknya. Mungkin saja semua hanya kebetulan. Yang namanya parfum, semua orang juga bisa beli. Apalagi sekarang banyak parfum KW.
"Kalau mau kenalan itu tanya langsung sama orangnya. Jangan lirak-lirik begitu, gak sopan." ujar pria itu tiba-tiba.
Sarah langsung menoleh. "Kenalan? Apa maksudnya?"
"Kamu dalam hati lagi bertanya-tanya tentang saya kan?"
"Hah? Ih, GR banget!"
"Gak usah pura-pura."
"Heh, jelas-jelas kamu yang tiba-tiba menghampiri saya di jalan. Kok GR banget bilang saya yang mau kenalan?"
"Saya jelas gak butuh kenalan sama kamu. Karena saya sudah tahu siapa kamu."
"Maksudnya apa sih?"
"Kamu lupa kalau saya tadi sudah sebutkan nama dan kantor kamu, bahkan tugas kamu di kantor?"
Sarah semakin kesal. Tapi memang benar dia semakin bertanya-tanya dalam hati. Lagi-lagi hanya berani dalam hati.
"Siapa juga yang lupa, emang aku nenek-nenek pikun apa, baru sebentar doang lupa." Sarah membalas dengan tetap mempertahankan gengsi.
Seketika kalimat Sarah membuat pria itu tak bisa menahan tawa.
"Kamu galak juga ya," ujarnya sambil berusaha meredam tawa. Ia menyadari wajah Sarah kelihatan kesal. "Maaf, maaf. Saya gak bermaksud ketawain kamu. Saya Arjuna Narendra. Pemimpin redaksi yang baru di kantor kamu. Kita harus bergegas sampai ke kantor. Kasian yang lain takut kelamaan menunggu."
Sarah hanya bisa tercengang dalam diam. Jantungnya sekarang menderu. Bukan karena pria ini. Tapi karena memikirkan nasibnya selanjutnya di kantor.