Syila kocar-kacir berlari menuju pintu masuk lobi. Dalam bayangannya ruang meeting sudah terisi penuh. Pak boss yang pasang tampang seperti banteng ingin ngamuk dan tatapan macam-macam dari rekan kantor yang lain. Ada yang tatapannya nyinyir, ada juga yang tatapannya tatapan menertawakan dalam hati. Salah dia juga kenpa sudah tahu ada agenda sepenting ini masih berani-beraninya teledor dan telat. “Permisi, permisi,” Syila mendahului beberapa orang yang sama-sama ingin menuju lobi. Langkah kakinya mendadak terhenti ketika melihat sarah baru saja turun dari sebuah sedan bersama seseorang yang baru pertama kali ini dia lihat. “Heh, sama siapa dia?” Sarah sendiri melangkah turun dari mobil tanpa menoleh sama sekali. Ia berjalan menuju pintu lobi dengan kepala sedikit tertunduk. Selama di per

