Dibandingkan saat berangkat, saat pulang, Prasaja berubah menjadi patung. Tak ada kata yang keluar. Tatapannya pada jalan yang dilalui, tetapi pikirannya tertuju pada Danica. Danica sendiri juga tidak ada niatan untuk membuka percakapan apa pun itu. Baginya semua sudah jelas. Ada bagian dari dirinya yang merasa lega karena sudah bicara jujur apa adanya. Sesuatu yang ia simpan demi menjaga perasaan lainnya. Beban sepanjang hidup sih. Danica teringat pembicaraannya dengan ibunya saat baru pertama masuk sekolah menengah atas. *** "Ma..., bilanginlah ama si Pras, gak usah belagak menjadi senior sok perhatian. Saya malu, Ma. Jangan kayak waktu saya SMP dulu," pinta Danica dengan wajah merengut sembari mengambil tempe goreng sebagai lauk pendaping sayur beningnya. "Memangnya Prasaja merugik

