3. Kupu Kupu Malam

1202 Words
“Andi!”  Aku mencoba menarik perhatian Andi. Tampak dari kejauhan dia sedang sibuk dengan gawai di tangannya, sambil menggunakan headset di telinga. Aku ragu apakah dia akan benar-benar mendengar panggilanku dan menyadari bahwa aku akan datang. Seperti biasa, segelas teh tampak sudah ada di meja, bersama sepiring kentang goreng berbalut saus, milik Andi pasti. Isinya sudah tersisa setengah saja. Kurang lebih satu jam dia sudah habiskan waktu di tempat ini. Setidaknya begitulah pikiranku menebak. Beberapa langkah aku mendekatinya, ternyata dia belum juga menyadari kehadiranku. Sepertinya dia memasang volume terlalu keras. Sapaanku pada jarak lima meter saja tidak mengusiknya yang tetap anteng memperhatikan sesuatu di layar telepon. Atau mungkin karena aku memakai masker sehingga suara teriakan semakin kecil. “Hei, aku sudah datang.” Aku melambaikan tanganku di depan Andi, mencoba untuk mengalihkan fokusnya. Pandangannya melirik sedikit kepadaku. “Eh, Rama. Sudah lama kamu di sini?” Pertanyaan yang sedikit menjengkelkan, karena sejak tadi aku terus menyapa dan memanggil, tapi tidak ada respon darinya.  “Nggak, baru saja duduk.” “Mas, es kopi s**u satu!”  Aku memesan minuman favoritku. Harganya murah dan cukup memuaskan dahaga di sore ini. Apalagi setelah sekian jam menghadap dosen. Selain itu, segelas kopi s**u cukup untuk bisa menjaga mataku begadang sepanjang malam, mengerjakan sesuatu apapun itu.  “Gimana kabar? Santai sekali kelihatannya.” Aku mencoba menggoda Andi.  “Ya beginilah, Ram. Aku tidak bisa lulus semester ini sepertinya. Perlu tambah satu atau dua semester lagi.” Aku mengangguk paham. “Nggak apa, bro. Nanti aku datang kok ke wisudamu.” Aku tertawa kecil. Raut muka Andi sedikit memerah, tapi kemudian ikut tertawa. Tidak masalah bercanda terkait waktu kelulusan dengan Andi. Aku dan dia sudah paham satu sama lain. Bahkan, kami pernah satu kos saat tahun ketiga. “Eh, gimana, Ram? LSM ada pengejaran lagi?” Pembahasan mulai serius. Rasa penasaran Andi kembali muncul, sama seperti kemarin sore. Sepertinya berdiskusi tentang ini berjam-jam tidak lekas membuat keingintahuannya puas. “Ada. Penyelundupan gadis kampung lagi.” Aku menghela napas panjang. Perasaan bersemangat untuk berdiskusi bercampur dengan kenyataan yang menyedihkan, bahwa kejahatan ini tidak menunjukkan adanya tanda mereda, bahkan mendekati bulan puasa.  “Hanya, yang ini sedikit beda. Ada indikasi aparat terlibat.” Kekecewaanku semakin memuncak. Bahkan mereka yang seharusnya menegakkan keadilan dan menumpas kriminalitas, malah ikut serta berperan dalam kejahatan. Lucu terkadang, godaan seperti apa yang bisa mempengaruhi orang seperti mereka. “Oh iya? Bisa-bisa terhambat pengejarannya. Kacau.” Muka Andi kembali memerah, hanya saja kali ini karena benar-benar marah. Aku bisa melihat rasa tidak terima dari wajahnya. Sebenarnya aku juga memiliki perasaan yang sama, hanya saja posisiku yang berada langsung di lapangan sepertinya membuat aku lebih bisa menenangkan diri, dan memahami kondisi yang ada. “Begitulah. Kami masih cari jalan untuk bisa menuntaskan pengejaran. Kami berencana menghubungi kejaksaaan untuk bisa meringkus semua pelaku, termasuk mereka yang aparat.” Andi mengangguk paham. “Ya begitulah, negeri ini semakin lucu setiap harinya.” Aku tertawa kecil, diikuti pula dengan Andi. Latar belakang kami mungkin anak jurusan kesehatan masyarakat, tapi kalau bicara soal politik dan masalah bangsa jangan ditanya.  Beberapa kesempatan aku dan Andi pernah menjuarai lomba debat tentang kenegaraan. Paham kami seluk beluk busuknya negeri yang indah dipandang mata ini. “Terima kasih, Mas.” Segelas kopi s**u dengan sedotan bersandar di bibir gelas sudah sampai di mejaku. Memberikan jeda dari serunya diskusi kami sore itu.  “Em, kasihan juga ya mereka yang diselundupkan. Sebegitunya kah kondisi mereka sampai rela untuk jadi barang selundupan.” Aku mengangguk diikuti berdehem pelan, sambil menyedot kopi s**u.  “Kadang aku bertanya, Ram. Mereka itu apa punya keluarga, ya?” Aku mulai memperhatikan dengan cermat Andi berbicara. “Maksudku, apakah keluarganya tidak peduli dengan mereka? Kalau mereka punya anak atau saudara, kenapa mereka ditinggalkan begitu saja.” Aku tersedak seketika, terkejut dengan pernyataan Andi barusan. Andi memandangku dengan sedikit aneh, bingung mengapa aku bersikap seperti itu ketika ia baru selesai berbicara. “Ah, iya. Entahlah, kita belum juga latar belakang kondisi keluarga mereka seperti apa.” Aku mencoba membuat kondisi kembali tenang. Jangan sampai terlihat seperti orang yang menyembunyikan sesuatu.   Andi hanya mengangguk. Sepertinya dia sepakat dengan perkataanku.  Waktu berselang sekian menit, tidak ada yang berbicara. Angin sejuk menghembus kantin yang mulai sepi. Matahari juga semakin turun di ufuk barat. Langit semakin menunjukkan warna jingganya, ibarat kata penyair, senja telah tiba. Andi kembali memperhatikan gawainya, sambil menggeser layar sesekali. Sepertinya dia sedang membaca sesuatu. “Bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu, Rama?” Pertanyaan Andi menarik perhatianku. Mataku memandangnya, penasaran pertanyaan apa lagi yang akan dia lontarkan.  “Iya, boleh. Santai saja.” “Kamu seperti minta tolong ke petugas berseragam saja, tidak perlu formal-formal.” Aku dan Andi tertawa kecil. Aku pasang telingaku untuk mendengarkan dengan detail setiap kata yang akan diucapkannya. Raut muka Andi mulai serius. “Kalau kau punya keluarga yang menjadi korban penyelundupan manusia, apa yang akan kau lakukan?” Mataku melotot. Badanku menegang sesaat, laiknya patung. Aku tidak pernah menyangka dia akan bertanya seperti itu. Kring. Kring. Dering telponku berbunyi, sedikit meredakan kondisi tegang yang terjadi. Syukurlah, waktu yang tepat. Nama Alif, sahabatku sejak kecil yang juga satu jurusan denganku, terlihat muncul di layar. Aku memberikan isyarat ke Andi untuk mengangkat telepon terlebih dahulu. Dia mengangguk sambil menyisir rambut keritingnya dengan jemari. “Assalamualaikum, Rama?” Suara Alif terdengar pelan, tidak seperti biasa. “Waalaikumsalam. Iya, ada apa, Lif?” Terdengar suara Alif sesenggukan.. Sepertinya dia habis menangis. “Kamu kenapa, Lif? Ada apa?” Alif yang kutahu, bukan anak yang cengeng. Kehilangan dompet saja dia malah terbahak. Bila dia menangis, pasti sesuatu yang berat sedang menimpanya.  “Tadi pagi aku mengantar ayahku ke dokter. Kondisinya memburuk akhir-akhir ini.” Aku membiarkan Alif kembali menangis. Rupanya, sakit ayahnya semakin parah. Bulan kemarin dia pulang kampung dan menceritakan kondisi ayahnya.  “Dari hasil lab, ayahku terkena HIV. Sudah parah, Ram.” Tangis Alif semakin menjadi. Aku melirik Andi, lalu bangkit perlahan meninggalkannya, mencari tempat lebih sepi agar bisa mendengar suara serak Alif lebih jelas. “Tiga hari lalu aku menemukan ibumu dengan ayahku. Mereka ….” “Apa maksudmu, Lif?” Aku memotong perkataan Alif. Aku muak mendengar kabar dari Alif tentang wanita yang kupanggil “emak” itu. Bila memang benar apa yang diucapkan Alif barusan, maka sudah pasti, emak dan ayah Alif adalah … sial, aku bahkan tak sanggup melanjutkan pemikiranku tentang mereka.  Alif terdiam, kemudian menarik napas panjang dan berusaha berucap pelan, “Maaf, Ram. Aku tidak bermaksud berprasangka buruk. Tapi, sepertinya … ayahku adalah pelanggan tetap warung tempat ibumu bekerja. Setelah kau tahu ayahku terkena HIV, aku bertanya padanya, darimana dia mendapat penyakit itu. Dan dia menjawab …” “Cukup, Lif!” Alif masih terisak. Kami berdua terdiam, dengan sambungan telepon masih bergerak mengurangi pulsa. Speaker masjid berbunyi, sebentar lagi azan. Aku menutup telepon terlebih dahulu. Suasana hatiku berkecamuk.  Aku dan Andi saling tatap, kami sudah paham dan sepakat lewat pandangan, bahwa cukup dahulu untuk diskusi sore ini, walaupun pertanyaan Andi masih belum aku jawab. “Dari siapa tadi, Ram?” “Teman di kampung, lagi kena musibah.” Singkat saja aku jawab pertanyaan terakhir sore itu. Aku langsung berpamitan menuju masjid kembali. Aku harus tiba sebelum adzan, malam ini jadwalku menjadi imam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD