2. Emak Rindu

1028 Words
Hari ini, pengunjung Warung Manis Selera tidak seperti biasanya. Semua kursi terisi penuh, bahkan kursi di luar ruangan rumah makan pun tak bersisa. Ada satu rombongan bus mampir untuk makan. Pandemi hanya berlaku di kota-kota besar. Di kota kecamatan berjarak 200 km dari ibu kota provinsi, penduduk masih beraktivitas seperti biasa. Hanya segelintir orang yang memakai masker, itupun hanya menempel di leher. Lasmini yang baru saja menghidang makanan ke pengunjung, memasuki ruangan Mami Sherly. "Mam, apa ada kerjaan buat aku?" tanya Lasmini sembari duduk di depan Mami Sherly yang sedang menghitung uang. "Ada. Dua orang memesan kamu, seperti biasa. Sopir langganan." Lasmini hanya mengangguk, tahu siapa yang dimaksud. Hari Sabtu pasti dua orang lelaki kasar, sopir truk yang transit dari Semarang, sebelum melanjutkan menuju Bali. Lasmini lalu berdiri agak malas. Mami Sherly melirik kostum yang dikenakan Lasmini. Kaos lengan panjang dan celana jeans. Rambut hitam pekatnya diikat dengan karet gelang. "Hei, ganti baju! Kamu mau buat aku kehilangan pelanggan?" Lasmini membalik badan. Wajahnya kusut dan keruh. "Bisa digantikan Tina, Mam? Aku sedang kepikiran Rama." "Jangan buat aku naik darah, Las. Sopir itu langganan kamu. Cepat ganti baju, sekarang!" Lasmini melangkah gontai membuka pintu ruangan Mami Sherly lainnya. Sebuah ruangan yang tersambung dengan beberapa kamar berukuran cukup satu ranjang standard dan sebuah meja kursi. Bisa dikatakan ini adalah ruangan rahasia Warung Manis Selera. Dari luar, Warung Manis Selera hanyalah warung makan biasa. Yang sering menjadi langganan transit kendaraan dari luar kota. Tidak banyak yang tahu, bahwa di dalam warung, Mama Sherly menyediakan wanita untuk menghibur para sopir yang transit, yang tidak lain adalah pramusaji warung. Tiap pramusaji yang sedang bertugas di kamar rahasia Mami Sherly, harus mengganti seragam dari seragam pramusaji ke seragam andalan masing-masing, untuk menghibur tamu yang sudah memesan. "Mam, apa kita akan buka selama Corona?" tanya Lasmini dari balik pintu. "Tidak usah kau pikirkan Corona, itu bukan urusan kita," sergah Mami Sherly. Wanita itu memang tidak pernah berbicara tanpa nada tinggi. Mungkin karena tubuhnya yang tiga kali lipat mayoritas anak buahnya. "Meski Surabaya tutup karena Corona, kita tetap buka. Kalau perlu 24 jam. Apa kau tidak sadar, sejak ada Corona warung kita malah ramai? Itu karena di tempat lain banyak yang tutup." Lasmini keluar dengan baju andalan Mami Sherly. Dress merah menyala berleher rendah dan berkain tipis nyaris seperti pelapis tirai. Mami Sherly tersenyum pendek, penanda dia suka dengan penampilan anak buahnya. "Kamu memang anakku yang selalu membawa rejeki. Masuk, aku panggilkan yang pertama." Lasmini menatap punggung lebar juragannya, meninggalkan ruang kerja. Kadang Lasmini merasa, warung ini seperti klinik saja. Mami Sherly bagian resepsionis yang memanggil pelanggan, dan Lasmini beserta beberapa temannya adalah dokter yang mengobati di ruang-ruang periksa. Saat Lasmini hendak masuk ke kamarnya, Mimi keluar dari ruangannya, menyertai seorang lelaki berbadan gelap dan berambut keriting. Lelaki itu melalui Lasmini sembari mencolek pipinya. Lasmini tersenyum pendek. Pipi lesung pipitnya memang daya tariknya sejak dulu. Mimi tiba-tiba menyandar lemas di dinding. Lasmini bergegas menghampiri, meraih bahunya dan menuntun Mimi masuk kembali ke dalam kamar. Beberapa hari ini, Mimi sedang tidak sehat. Flu dan diare, tapi dia memaksa diri untuk bekerja. "Kamu istirahat dulu aja, Mi. Aku bilang ke Mama Sherly, ya? Biar aku gantikan tugasmu, tapi fee tetap buat kamu." Mimi menggeleng lemah. Dia tampak pucat. "Aku hanya diare, Las. Mana mungkin Mami Sherly mengijinkan. Sudah minum obat juga, kok. Nanti malam pasti rame, malam minggu." Lasmini menggenggam tangan Mimi. "Jangan memaksa diri, Mi. Kalau kamu tambah parah, sama juga tidak bisa kerja." Mimi membaringkan badan. "Aku harus ngirim uang buat anakku kuliah, Las. Kamu tahu sendiri kan kebutuhannya banyak." Lasmini tepekur. Anak Mimi malah ada tiga dan semuanya masih butuh banyak biaya. Masih beruntung Lasmini, hanya punya Rama yang sudah hampir lulus kuliah, dan tak pernah absen mendapat beasiswa. Hingga Lasmini cukup hanya mengirim kebutuhan makan dan kost saja.  Sejak suaminya meninggal ketika Rama masih TK, Lasmini bertekad untuk selalu memenuhi apapun kebutuhan sekolah Rama. Yaitu dengan menjadi anak buah Mami Sherly, melayani para pelanggannya. Dan Lasmini berharap Rama tidak pernah tahu apa pekerjaan Lasmini sebenarnya. Kadang Lasmini was-was, Rama curiga pada pekerjaannya. Sejak kuliah, anak itu menunjukkan sikap berbeda. Sepertinya dunia kampus sangat menyibukkannya. Hanya pulang tiga hari dalam setahun, saat Idul Fitri saja. Kabarpun, hanya bila Lasmini menelpon. Namun Lasmini yakin, dia sudah sangat rapat menyimpan rahasinya. *** "Kau jemput saja anakmu," saran Tina. Mereka sedang bersiap untuk pulang. Warung Manis Selera sudah mulai ditutup semua pintu dan jendelanya. Mami Sherly juga sudah tidak kelihatan ketika Bejo, waker warung bersiap meringkuk berselimut sarung di bangku panjang depan warung. Lasmini menaiki motornya dan merapikan jilbabnya yang tertiup angin. Saat berangkat dan pulang kerja, dia selalu mengenakan pakaian rapat dan menutup semua auratnya.  Meski saat bekerja, semua busana ini harus lepas dari badannya. "Mami Sherly tidak mengijinkan, Tina. Pergi ke Surabaya kondisi pandemi seperti sekarang, pasti tidak cukup 1 hari," keluh Lasmini. "Sedangkan di warung, sedang ramai karena banyak yang tutup kata Mami." Tina mengangguk sembari tersenyum sinis. "Iya, teman-teman Mami banyak yang gulung tikar. Malah mau mengoper anak buahnya pada kita. Masih muda dan cantik. Kita bakal tergeser, Las." Lasmini menstarter motornya. "Aku aman-aman saja, Tina. Sudah ada pelanggan tetap." Tina manyun. Lasmini, meski sudah kepala empat, baik wajah maupun bentuk tubuhnya, seperti masih seperempat abad. Dia memang berani keluar modal untuk perawatan wajah dan senam. Makanya, Mami paling sayang padanya, karena Lasmini memang paling banyak dipesan. Sebelum meninggalkan Tina yang sedang menunggu jemputan salah satu pelanggannya, Lasmini menyempatkan bertanya. "Menurutmu, apa anakku tahu pekerjaanku yang sebenarnya?" Tina terdiam, lalu mengendik bahu. Pekerjaan kupu-kupu malam mereka, sudah pasti tercium di masyarakat. Pun seberapa rapat mereka menyembunyikannya.   "Aku tidak tahu, Las. Kau sudah dua puluh tahun pandai merahasiakannya, kan? Kita dan Mami Sherly juga sepakat. Kenapa sekarang kau tidak yakin?" Lasmini menatap dashboard motor matiknya. Dia sendiri tidak tahu, kenapa baru sekarang dia merasa was-was.  "Aku dengar dari Alif, teman kuliahnya. Katanya, Rama itu sering jadi imam salat di mesjid kampus. Dia, katanya juga hapal beberapa juz Al-Qur'an. Kenapa aku bisa tidak tahu, Tin? Sejak kuliah, dia jarang pulang, tidak seperti Alif. Apa dia memang sangat sibuk,ya Tin?" Tina terdiam. Sudah pasti, bagi seorang Rama yang demikian, pekerjaan Lasmini adalah aib yang akan mencoreng wajahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD