Matahari sudah mulai menampakkan dirinya, walau belum sepenuhnya. Terdengar seruan-seruan keras di area belakang rumah Phoebe. Gadis itu, yang kini sedang menyiapkan sarapan di atas meja makan, langsung tersenyum sumringah. Dia menggosok kedua tangannya dan melepas apron yang melekat di tubuhnya. Dengan penuh semangat, Phoebe berlari ke arah pintu, bersiap menyambut seseorang yang dua minggu lagi resmi menjadi suaminya itu.
Begitu pintu rumah Phoebe terbuka, gadis itu nyaris tertawa ketika melihat Jack membungkuk sambil mengatur napas. Peluh membanjiri wajah tampan laki-laki itu. Jack sedikit mendongak untuk menyapa Phoebe, tersenyum lembut ke arah gadisnya, lalu jatuh terduduk di atas rumput.
“Gue masih nggak ngerti kenapa lo mau nikah sama cowok lemah begini, Phoebs,” kata Redhiza seraya menyeka keringatnya. Laki-laki itu masih penuh semangat dan bahkan ada niat untuk kembali berlari mengitari kompleks perumahan Phoebe sekali lagi. “Ini bahkan belum ada setengahnya dari latian rutin kita bertiga setiap pagi.”
Zerokha dan Altaro hanya tertawa melihat sikap Redhiza yang tidak berubah sejak satu tahun yang lalu itu. Mungkin, Redhiza masih belum yakin dengan Jack dan belum rela melepas Phoebe untuk laki-laki lain, walaupun umur gadis itu sudah menginjak dua puluh dua tahun dan sudah di wisuda sekitar tiga bulan lalu. Altaro mengerti hal itu karena waktu kecil, Phoebe lah yang selalu ada di sisi Redhiza, ketika bunda laki-laki itu meninggal dunia.
“Bang, lo nggak capek nyiksa gue melulu? Udah setahun lebih sedikit, loh,” ucap Jack dengan nada yang dibuat sememelas mungkin. Laki-laki itu bahkan menatap Redhiza dengan tatapan sedihnya, yang tentu saja hanya bersifat lelucon saja. “Mungkin gue lemah menurut lo dalam hal tanding lari, tapi, gue nggak lemah kalau urusan—“
“Weits, jaga omongan, Nak,” potong Zerokha tiba-tiba. Dia mengerti ke mana arah ucapan Jack barusan, sementara Altaro tidak berhenti tertawa sejak tadi. Phoebe yang juga mengerti arti ucapan Jack barusan, langsung menunduk dan berdeham. Panas mulai menjalar pada wajahnya dan dia yakin pipinya mulai merona saat ini.
Jack cengengesan saja, dan saat sadar Redhiza memicingkan mata ke arahnya, wajah laki-laki itu langsung diubah menjadi polos kembali.
“Udahlah, nggak usah diperpanjang,” kata Altaro setelah tawanya reda. Dia menepuk pundak Jack dan membantu calon sepupu iparnya itu berdiri. “Biasa, Redhiza kalau udah bersikap protektif, emang suka begitu.”
Jack mengangguk mengerti dan menatap Redhiza. Dia nyengir kuda dan mengangkat sebelah tangan untuk menyapa, kemudian melambaikan tangannya. “Besok gue nggak akan capek, deh, Bang... janji!”
Redhiza hanya memutar kedua bola matanya dan mencibir. Dia memeriksa ponsel, kemudian tersenyum samar kala melihat kelakuan anaknya di pagi hari ini, yang dikirimkan oleh istrinya—Lexna, ke chat aplikasi BBMnya.
Melihat Redhiza tersenyum membuat Jack mengangkat bahu tak acuh dan tertawa dalam hati. Meskipun galak dan seram, Redhiza sangat berbeda jika sudah berhadapan dengan Lexna dan anaknya. Jack menyukai Lexna, karena istri dari Redhiza itu selalu membelanya dan peduli padanya kalau abang sepupu Phoebe itu sudah memarahinya.
“Masuk, yuk,” ajak Phoebe. “Phoebe udah buatin sarapan. Abang-abang sekalian nggak apa-apa sarapan di sini? Para istri nggak marah, kan?”
Altaro dan Zerokha serempak menggeleng dan berkata untuk apa istri mereka marah. Sambil tertawa dan merangkul Phoebe, Altaro masuk ke dalam rumah, diikuti oleh Zerokha dan Redhiza yang masih sibuk dengan ponselnya.
“Cih... kalau udah sama Kak Lexna, sikap galaknya langsung hilang. Jangan-jangan, dia tipe suami yang takut sama istri. Malu-maluin banget, jadinya...,” ucap Jack dengan suara pelan. Namun, detik berikutnya, dia langsung terlonjak.
“I’ve heard that!” seru Redhiza tegas.
Jack langsung tertawa dengan nada dipaksakan, dan buru-buru melesat, mendahului Redhiza, guna meminta perlindungan dari Phoebe, Altaro dan Zerokha.
###
“Zac masih bulan madu, ya?”
Pertanyaan tidak biasa dari Jack itu membuat Phoebe menoleh dan tersenyum geli. Saat ini, keduanya sedang berada di taman belakang rumah Phoebe, menikmati langit bertabur bintang dan ditemani oleh makanan-makanan kecil juga lagu romantis.
“Kok nanya begitu?”
Jack hanya mendesah dan tertawa. “Pengin cepat-cepat bulan madu juga, soalnya.”
Kedua mata Phoebe mengerjap dan gadis itu menunduk malu. Dipukulnya lengan Jack keras. “Apaan, deh....”
Jack tertawa lagi dan mengacak rambut Phoebe. Satu bulan yang lalu, Zac dan Inggit menikah. Pada saat acara pertunangan keduanya, Phoebe tidak bisa hadir karena sedang ada masalah dengan Jack. Namun, ketika acara pernikahan Zac berlangsung, laki-laki itu langsung mendoakan Phoebe dan Jack supaya cepat menyusul mereka.
“Kalau dipikir-pikir lagi,” ucap Jack kemudian. Matanya menatap indahnya hamparan bintang di atas sana. “Hidup ini lucu, ya, Phoebs....”
“Lucu?”
Jack mengangguk dan menarik napas panjang. Dia menoleh, menatap Phoebe yang terlihat bingung. Wajah cantiknya benar-benar membuat Jack terpesona, hingga laki-laki itu memeluknya dengan sangat erat sambil mencium keningnya.
Phoebe merasa damai dan nyaman. Gadis itu membalas pelukan Jack dan menghembuskan napas panjang. Senyumnya merekah, diiringi dengan perasaannya yang menghangat karena perlakuan Jack padanya saat ini.
“Aku nggak pernah nyangka kalau kamu mau nerima aku jadi pasangan hidup kamu. Padahal, dulu aku sempat putus asa, sih. Aku udah berpikir kalau sampai kapan pun, kamu nggak akan pernah nerima aku.”
Phoebe tertawa dalam pelukan Jack yang semakin mengerat.
“Nggak ada yang tau perasaan manusia, Jack... karena Tuhan lah yang bisa membolak-balikkan hati dan perasaan kita.” Phoebe menerawang. “Awalnya, aku juga mikir nggak akan pernah mungkin jatuh cinta sama kamu. Tapi, semuanya berubah, kan?”
Jack tersenyum di atas kepala Phoebe yang masih dipeluknya.
“Aurora dan Haikal bahkan udah menikah, ya,” gumam Jack kemudian. “Bahkan, katanya Aurora udah hamil.”
“Iya. Udah hamil satu bulan. Mungkin, nanti dia akan seumuran sama anak kita.”
“Anak,” gumam Jack dengan nada menerawang. Tiba-tiba saja, sifat usilnya timbul. Dia melepaskan pelukannya pada Phoebe, lalu dengan satu gerakan tidak terbaca, Jack mendorong Phoebe hingga gadis itu jatuh ke atas tikar.
Phoebe yang kaget bahkan tidak mampu menjerit. Jantungnya berdegup liar hingga dia takut kalau Jack bisa mendengarnya. Laki-laki itu kini berada tepat di atas tubuhnya dan menahan kedua tangan Phoebe di dua sisi kepala gadis itu.
“Ja—Jack?” panggil Phoebe gugup. Sebelum jatuh cinta pada Jack, Phoebe adalah sosok gadis galak yang tangguh dan berani. Dan kini, dia bagaikan anak kucing yang pasrah saja diperlakukan seperti apa pun oleh majikannya. “Kamu... mau apa...?”
Jack tidak menjawab. Laki-laki itu benar-benar tersihir dengan kecantikan Phoebe dan bagaimana sepasang bola mata indah gadis itu ketika menatapnya. Dia mendekatkan wajahnya ke arah Phoebe, menuju bibir mungil dan seksi gadisnya.
“Gimana kalau kita bikin anak sekarang, Phoebs?” tanya Jack dengan nada sensualnya. “Nggak akan ada orang yang tau soal ini. Nanti, saat kita menikah pun, seandainya kamu udah hamil anak kita, orang lain nggak akan ada yang tau.”
Sungguh, Phoebe ingin memberitahu Jack akan satu kenyataan yang mungkin dilupakan oleh laki-laki itu, tapi Phoebe tidak sanggup mengeluarkan suaranya. Dia terlalu terpikat dengan ketampanan Jack, juga terbawa arus oleh nada s*****l yang dikeluarkan oleh laki-laki tersebut.
Sampai akhirnya, sebuah botol melayang dan tepat mengenai sasaran.
Kepala Jack.
“Sinting! Elo mau ngapain adik sepupu gue, hah?! Dasar kurang ajar! Belum nikah aja lo udah berani, ya?! Sini, lo!”
Jack buru-buru bangkit dari atas tubuh Phoebe dan duduk bersila seraya menatap bintang di langit. Lupa kalau ketiga abang sepupu Phoebe yang rese dan protektif itu memutuskan untuk menginap di rumah Phoebe untuk mengawasi pertemuannya dengan gadisnya. Terlebih Redhiza, si iblis b******k menyebalkan nomor wahid di keluarga Abimanyu ini.
“Baaaaaang! Bintangnya bagus, deh! Bikin permohonan, gih! Minta supaya Kak Lexna makin terpesona sama Abang dan mau bikinin adik buat Tristan! Siapa tau nanti ada bintang jatuh! Arrrggh!”
Dan botol kedua sukses mengenai kepala belakang Jack, membuat Phoebe terbahak walau masih dalam keadaan terbaring di atas tikar.
###
Satu minggu menjelang pernikahan Phoebe dan Jack.
Jack sedang uring-uringan di dalam kamarnya, karena tidak bisa menemui Phoebe. Bahkan, untuk sekedar mengirim chat atau menelepon gadis itu saja, dia tidak bisa.
“Kalian kan mau nikah minggu depan, jadi sekarang harus dipingit dulu, oke?”
Itu adalah ucapan Lexna, Alviansa dan Animaya, para istri dari ketiga abang sepupu Phoebe. Jack hanya bisa melongo dan tidak bisa berbuat apa-apa, saat Redhiza dengan ganasnya mengusirnya dari rumah Phoebe.
“Duh! Gue bisa mati karena nahan rindu kalau begini ceritanya!” Jack mondar-mandir di dalam kamar sambil menggerutu. Dia menggigit bibir dan bersedekap, mencari cara bagaimana bisa menghubungi Phoebe.
Laki-laki itu kemudian menghempaskan tubuh di atas kasur. Diliriknya jam yang menggantung di dinding dan dia langsung bangkit dalam satu gerakan cepat.
Sudah pukul sebelas malam dan Redhiza beserta dua sepupu Phoebe yang lain tidak mungkin masih berada di rumah gadisnya! Sip, dia bisa langsung ke rumah Phoebe dan memanjat pohon untuk memanggil Phoebe, agar gadisnya itu bisa membuka jendela dan Jack pun bisa memandang wajahnya.
Perjalanan ke rumah Phoebe tidak memerlukan waktu yang lama karena keadaan jalan yang sudah sepi. Dia memarkir mobil di seberang rumah Phoebe, kemudian mengawasi rumah gadis itu.
Para penjaga rumah Phoebe tidak ada! Benar-benar beruntung!
Dengan semangat empat lima, Jack keluar dari dalam mobil dan menuju pagar rumah Phoebe. Laki-laki itu terkekeh geli dan bersiap memanjat pagar setelah situasi dirasa aman, ketika sebuah dehaman dan seraut wajah seram diterangi oleh cahaya lampu senter, membuat Jack terlonjak dan nyaris berteriak. Meskipun tidak berteriak, laki-laki itu jatuh terduduk di aspal dan berusaha menetralkan detak jantungnya.
“Ha... hai, Bang Red....”
Redhiza mendesis dan membuka pagar. Sudah dia duga, hal ini pasti akan terjadi. Karenanya, dia menyuruh para penjaga rumah Phoebe untuk menjaga pintu belakang, sementara dia akan menjaga pagar utama bersama Altaro dan Zerokha yang sekarang ikut muncul sambil menahan tawa dan menatap Jack dengan tatapan kasihan.
“Bang, please... gue kangen sama Phoebe, sumpah!”
“Lo baru sehari doang nggak ketemu sama dia, Jack,” kata Zerokha mengingatkan. “Masih ada enam hari lagi.”
“Gue tau. Makanya, izinin gue ketemu dia sekali ini aja,” pinta Jack sambil menangkup kedua tangannya di depan d**a. “Gue janji akan menuruti perintah konyol ini sampai acara pernikahan berlangsung nanti.”
Zerokha dan Altaro saling tatap. Sebenarnya, mereka mengizinkan saja. Tapi, keputusan ada di tangan Redhiza. Redhiza yang memegang andil dalam hal ini. Di sisi lain, mereka tahu kalau Redhiza memang sedikit kesal dengan Jack karena urusan laki-laki itu dengan Phoebe di masa lalu, hingga membuat Phoebe galau berkepanjangan.
Redhiza dan Jack saling tatap. Jack tahu kalau Redhiza orang baik. Laki-laki itu hanya terlalu protektif pada sang sepupu.
“Kalau gue nggak mengizinkan?”
“Gue akan tunggu di sini sampai lo mengizinkan!” tegas Jack tak gentar.
Jeda yang berlalu cukup lama, hingga menimbulkan atmosfer yang lumayan menegangkan. Sampai akhirnya, Redhiza menarik napas panjang dan mencibir. Harus diakui, dia terkesan dengan sikap tegas dan pantang menyerah dari Jack.
“You have ten minutes!”
Jack langsung bangkit dan melompat sambil menggenggam udara. Dia kemudian bersikap normal kembali, tatkala Redhiza memicingkan mata dan berdeham.
“Hehe... peace, Bang.”
###
Hari pernikahan pun tiba. Phoebe nampak cantik dengan kebaya berwarna hijau tosca yang melekat pas di tubuhnya. Dia diserang rasa gugup, tatkala Lexna, Alviansa dan Animaya masuk ke dalam ruang gantinya sambil menggendong anak masing-masing.
“Ya ampun, kamu cantik banget, Phoebs,” puji Lexna tulus. Yang dipuji hanya menunduk dan tertawa pelan.
“Jack pasti langsung ngeces kalau liat kamu nanti,” sambung Alviansa yang sesekali menenangkan Dergo yang sedang menangis. Animaya juga mengangguk mengiyakan seraya membuat wajah-wajah lucu untuk membuat Reffal, anaknya itu, tertawa.
“Aku gugup banget, Kak,” ucap Phoebe pelan. Dia saling meremas kedua tangan yang berada di atas pahanya sendiri.
“Semua yang mau menikah, pasti akan gugup di hari pernikahan mereka. Kamu hanya perlu tarik napas dan berdoa, semoga semuanya diberi kelancaran.”
Phoebe menatap Lexna dengan tatapan lembut. Dulu, dia sering membuat Lexna berada dalam masalah. Sekarang, dia menyesali perbuatannya dan bersyukur memiliki ipar seperti wanita tersebut. Pun dengan Alviansa dan Animaya. Kedua wanita itu berhasil melewati masa-masa sulit saat bersama kedua abangnya di masa lalu.
Semoga, dia dan Jack juga bisa melewati rintangan apa pun yang nantinya akan hadir di depan mata.
“It’s time,” kata Alviansa mengingatkan. Phoebe bangkit dari duduknya dan menarik napas panjang. Sebentar lagi, kehidupannya yang baru akan segera dimulai. Kehidupannya sebagai Phoebe Venzilla Abimanyu Thampson. Nama belakangnya akan bertambah, dan nama itu adalah nama belakang dari suaminya, Jack.
Phoebe turun dari lantai dua rumahnya dengan didampingi oleh ketiga sepupu iparnya. Di sana, dia bisa melihat Jack sedang duduk menunggu kehadirannya. Ketika laki-laki itu mendongak dan tatapan mereka bertemu, Phoebe bisa merasa wajahnya memanas dengan cepat. Gadis itu berdeham sejenak, membuat ketiga sepupu iparnya saling tatap dan tersenyum.
Sungguh, Jack benar-benar terpesona dan tersihir dengan kecantikkan Phoebe saat ini. Kebaya itu sangat pas dan cocok dikenakan oleh Phoebe. Make-up natural itu semakin membuat wajah Phoebe elegan dan sempurna.
Ketika Phoebe duduk tepat di sampingnya, Jack merasa semuanya sudah lengkap dan sempurna.
“Halo Nyonya Thampson,” goda Jack pada orang yang sebentar lagi akan berganti status menjadi istrinya itu. Phoebe tersipu malu sambil menggumamkan sesuatu entah apa, dan mendorong lengan Jack pelan. Membuat Jack tertawa dan mencium keningnya dengan penuh perasaan.
“Belum boleh cium-cium dia, bocah!” seru Redhiza mangkel sambil mengambil alih Tristan ke dalam gendongannya. “Sana, ijab kabul dulu!”
Jack menggerutu pelan dan semua itu membuat para tamu tertawa. Setelah mengambil napas dan menjabat tangan penghulu, Jack mampu mengucapkan ijab kabul itu dalam satu tarikan napas. Kemudian, dia menghadapkan tubuhnya ke arah Phoebe dan mencium keningnya sekali lagi dengan lembut.
Keduanya kini tersenyum dan siap dengan kehidupan baru mereka.
###