Chapter 15

2702 Words
“Kenapa bisa sakit?”             Pertanyaan itu menggantung di udara.  Saat ini, Jack dan Phoebe sedang berada di teras lantai dua rumah keluarga Phoebe. Langit hitam mulai menggantung, mengusir awan-awan di atas sana. Sesekali, gemuruh petir akan terdengar, membuat Jack meringis aneh dan melirik Phoebe di sampingnya, yang sejak tadi hanya membisu.             Tentu saja pernyataan cinta dari Phoebe di depan pintu rumah tadi, ketika tiba-tiba saja gadis itu langsung memeluknya, membuat hati Jack berbunga-bunga dan terus menghangat hingga sekarang. Selama ini, selalu dia yang mengucapkan kata cinta untuk Phoebe, dan, meskipun sebelum ini dia dan Phoebe sudah sangat dekat, namun belum ada kata cinta yang terucap dari bibir gadis itu dan belum ada kata ‘jadian’. Dia dan Phoebe hanya sudah cukup dekat, itu saja.             “Nggak tau,” balas Phoebe sekenanya. Gadis itu merapatkan jaket yang dia pakai dan menunduk. Ingin menangis saja rasanya, mengeluarkan semua sesak yang lima hari ini dia rasakan akibat menghilangnya Jack. Bukan hanya sesak, melainkan emosi yang sempat berkecamuk karena laki-laki itu membatalkan janji seenaknya, rindu yang tidak tertahan, khawatir dan cemas yang membumbung tinggi, semuanya.             “Phoebs... gue... gue mau minta maaf sama lo. Soal janji kita waktu itu.”             Kedua mata Phoebe terpejam.             “Waktu itu, gue datang. Sumpah, gue benar-benar datang,” kata Jack lagi. Laki-laki itu tersenyum tipis dan menarik napas panjang. Rasa cemburu itu mendadak hadir, di kala dia mengingat pelukan Phoebe pada laki-laki di taman waktu itu. “Cuma, waktu gue liat lo dari kejauhan, lo lagi, mm... sibuk.”             Kedua mata Phoebe terbuka dan gadis itu mengangkat kepala untuk menatap wajah Jack. Keningnya mengerut bingung.             Sibuk?             Apa maksudnya?             “Sibuk?” tanya Phoebe dengan suara lelahnya. Lelah karena suhu tubuhnya semakin meninggi saja. “Sibuk apa maksud lo? Gue nungguin lo di taman waktu itu.”             “Iya, gue tau. Gue udah ngeliat elo. Lo lagi sibuk... sama laki-laki tinggi di taman waktu itu.”             Mulut Phoebe kembali terbuka, ketika sebuah gagasan melintas di kepalanya. Gadis itu tidak jadi berbicara dan akhirnya malah memicingkan mata ke arah Jack. Wajah Jack saat ini terlihat bingung, mungkin karena gadis di depannya itu memicingkan mata ke arahnya.             “Maksud lo si Zac?”             “Jadi namanya Zac?”             “Jadi lo main pergi gitu aja, nggak nyamperin gue, nggak jadi ke Dufan, cuma karena lo liat gue sama Zac?” tanya Phoebe dengan nada tidak percaya.             “Lo pelukan sama dia, Phoebe,” jelas Jack dengan nada sinis. “Lo keliatan bahagia. Sungguh, gue emang sangat mencintai elo, dan gue rela ngelepasin lo asal lo bahagia sama cowok bernama Zac itu. Gue bahkan nggak nyangka dia memiliki nama yang sama kayak gue, hanya beda di huruf depan dan pelafalan aja.”             “Umur lo berapa?”             Alis Jack terangkat satu. “Dua puluh satu bulan November nanti.”             “Dua puluh satu, ya?” Phoebe mengangguk beberapa kali dan meringis ketika rasa pusing menderanya. Namun, gadis itu mengabaikan. “Dua puluh satu tahun yang keliatan seperti anak berumur lima tahun.”             “Maksud lo?”             Phoebe mendengus. “Bisa nggak, lo mengkonfirmasi dulu apa yang lo liat dengan mata lo, sebelum lo main ambil kesimpulan sendiri dan pergi menghilang selama lima hari? Dan gue berani jamin, lo habis mengalami kecelakaan, kalau diliat dari perban di kepala dan lengan lo itu.”             Jack mengangguk mengiyakan.             “Dia itu Zachary Roudenn! Sahabat sepupu ipar gue yang sebentar lagi bakalan nikah sama calonnya yang bernama Inggit!”                     Jack nampak sangat terkejut. Laki-laki itu melongo dan menelan ludah. “Gue pikir—“             “Lo nggak mikir, Jack Thampson!” seru Phoebe langsung. Gadis itu merasa matanya mulai memanas dan sesak itu semakin naik ke permukaan. Teringat lagi olehnya bagaimana dia merasa khawatir pada keadaan Jack selama lima hari ini, juga semua gagasan negatif yang mampir ke otaknya. Gagasan yang mengatakan jika Jack hanya mempermainkan dirinya, terlebih hatinya. Lalu, air mata itu tanpa sadar mengalir turun, membuat Jack mematung dan merasa menjadi seorang yang sangat b******k. “Lo sama  sekali nggak berpikir.”             “Phoebe, gue....”             “Kalau gue emang tertarik sama Zac, buat apa gue mengiyakan ajakan lo ke Dufan? Buat apa gue mencium pipi lo di koridor kampus waktu itu? Buat apa gue ngerasa nggak suka waktu ngeliat lo dekat sama Aurora dan merasa sesak luar biasa saat lo tiba-tiba seperti menghindari gue? Karena gue cinta sama lo!”             Kemudian, Phoebe menghapus air matanya dengan kasar dan bangkit dari kursi. Dia berniat masuk ke dalam rumah, ketika lengannya ditarik lumayan keras, menyebabkan tubuhnya berputar cepat dan berakhir dalam pelukan erat Jack.             “Maaf... maafin gue....” Jack memejamkan kedua matanya dan menarik napas panjang. “Gue emang salah karena seenaknya aja ngambil kesimpulan. Maafin gue, Phoebs....”             Phoebe tetap menagis di pelukan Jack. Gadis itu sudah tidak mampu lagi berpura-pura tegar dan kuat di depan Jack. Ini adalah sosok asli dirinya. Sosoknya yang lain, yang pertama kali dilihat Jack di taman belakang kampus dulu sekali.             Dan karena kejadian itulah, Jack dan Phoebe bisa menjadi lebih dekat, hingga akhirnya saling mengungkapkan perasaan satu sama lain.             Dibalik pintu yang menghubungkan teras dengan ruang tamu lantai dua, ketiga abang sepupu Phoebe dan Zac yang kebetulan ingin menjenguk satu-satunya penerus keluarga Abimanyu yang berjenis kelamin perempuan itu, menyaksikan adegan mesra di antara Jack dan Phoebe. Altaro mendesis jengkel dan menjauh dari kerumunan, kemudian berkacak pinggang sambil melirik Zac sinis.             “Apa?” tanya Zac polos, ketika sadar dirinya diperhatikan oleh suami dari sahabatnya. “Apa?”             “Jadi elo, yang bikin Phoebe sakit sampai kayak gini?”             “Lah? Kok jadi gue?” tanya Zac sambil menunjuk dirinya sendiri. “Salah gue di mana?”             “Siapa yang suruh elo meluk Phoebe di taman, sampai si bocah ingusan itu ngeliat dan akhirnya cemburu terus menghilang sampai sekarang? Udah gitu, muncul dengan kepala dan lengan penuh perban!” Redhiza ikut menghakimi, sementara Zerokha memilih diam. Menatap geli kedua sepupunya yang sedang main hakim sendiri terhadap Zac.             “Dih! Gue mana tau kalau si Jack-Jack itu ngeliat? Lagian, kenapa dia harus cemburu, coba? Gue udah anggap Phoebe kayak adik gue sendiri.”             “Ya emang si bocah ingusan tau kalau lo sama Phoebe nggak ada hubungan?!” seru Redhiza dan Altaro hampir berbarengan. Zerokha akhirnya tidak bisa menahan tawanya lagi dan pergi dari ketiganya sambil melambaikan tangan tanpa menoleh.             “Kok jadi gue, sih?” gumam Zac pada dirinya sendiri sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Mereka mengikuti jejak Zerokha, meninggalkan Jack dan Phoebe yang sedang berpelukkan erat di sana. ### Suara bel membuat Jack berjalan cepat ke arah pintu rumah Phoebe, berniat untuk membukanya. Dia memang masih ada di rumah gadis itu, ingin menjaga dan merawat Phoebe yang sedang sakit. Dia juga kaget saat melihat keberadaan ketiga abang sepupu Phoebe dan seorang laki-laki lain, yang kini Jack tahu bernama Zac, orang yang sudah dicemburuinya tanpa alasan waktu itu. Jack dengan mantap meminta izin pada keempatnya untuk menjaga Phoebe seharian ini—bahkan meminta izin untuk menginap—dan memberikan lirikan sinisnya untuk Zac, yang langsung dibalas dengan cengiran aneh dari laki-laki itu.             “Sebentar,” kata Jack keras. Begitu Jack membuka pintu, sosok di depannya yang sempat terkejut sebentar, kemudian menampilkan senyuman ramahnya, membuat alis Jack terangkat satu.             “Elo? Ngapain lo di sini?” tanya Jack curiga. Dia bersedekap dan menatap Haikal dari ujung rambut hingga ujung kaki.             “Hai, Jack... gimana keadaan lo? Udah sembuh?”             Kening Jack mengerut.             “Maksudnya?”             Haikal tidak menjawab, melainkan semakin tersenyum dan melongokkan kepalanya ke dalam. “Phoebe ada? Bisa ketemu?”             “Ada urusan apa sama Phoebe?” tanya Jack menyelidik dengan nada yang sangat mengintimidasi. Namun sayangnya, Haikal sama sekali tidak terpengaruh dengan nada intimidasi dari seorang Jack tersebut.             “Nanti juga lo akan tau.” Haikal memasukkan kedua tangannya di saku celana jeans. “Gue nggak akan ngerusak hubungan orang yang bahkan baru jadian, kok.”             Lagi-lagi, ucapan Haikal membuat Jack bingung.             “Lo tau darimana kalau gue sama Phoebe udah jadian?”             “Semua orang akan langsung tau, kalau disuguhi sama raut wajah datar bin seram macam lo saat ini, dan juga pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dengan nada waspada diselingi rasa cemburu.”             Sialan!             Memangnya dia segitu gampang ditebaknya, kah?             “Haikal?” suara serak dan parau milik Phoebe memecah keheningan yang tercipta di antara Haikal dan Jack. Jack menoleh, sementara Haikal menyapa Phoebe dengan mengangkat sebelah tangan. “Ngapain di sini?”             “Ada yang mau gue omongin sama lo, Phoebe,” jelas Haikal lembut. “Tapi... pacar tercinta lo ini kayaknya mau menginterogasi gue terlebih dahulu sebelum diizinkan masuk, karena takut lo direbut sama gue.”             “Bohong!” seru Jack mendadak. Laki-laki itu melotot ganas ke arah Haikal yang dibalas dengan senyum tertahan, kemudian melangkah mendekati Phoebe dan merangkul pundaknya dengan erat. “Ayo, masuk. Jangan lupa tutup pintunya, ya!”             Setelah berkata demikian, diiringin tatapan bingung dari Phoebe, Jack membawa gadisnya masuk ke dalam rumah dengan sikap posesif dan protektifnya. Membuat Haikal mati-matian menahan tawa dan menggeleng geli.             “Dasar,” gumamnya pelan.             Sesampainya di ruang tamu, Haikal duduk di depan Jack yang masih setia menempel pada Phoebe dan merangkul pundak gadis itu. Hampir saja tawa Haikal tumpah karena tidak sanggup menahannya. Jadi, yang dilakukan oleh Haikal adalah berdeham dan menarik napas panjang.             “Ada apa, Kal?” tanya Phoebe.             “Iya, ada apa?” tanya Jack ikut-ikutan. “Udah malam begini, nggak baik laki-laki main ke rumah perempuan. Apa kata tetangga nanti, coba?”             Kali ini, Haikal membalas ucapan Jack melalui tatapan matanya dengan makna tersirat yang kira-kira berbunyi, “Lah, elo sendiri laki-laki. Ngapain di rumah perempuan sampai sekarang? Atau lo banci?”             Rupanya, Jack menangkap maksud tersembunyi dari tatapan Haikal itu. Langsung saja Jack mendengus, membuat Phoebe menoleh ke arahnya.             “Kamu kenapa?”             Setelah resmi berpacaran di teras atas rumah Phoebe, kata sapaan yang terjadi di antara keduanya otomatis berubah. Membuat Phoebe merasa sedikit malu-malu ketika menggunakan kata ‘aku-kamu’ dengan Jack.             “Hah? Oh, aku nggak apa-apa,” jawab Jack seraya tertawa dengan nada aneh. Membuat Phoebe mengangkat bahu tak acuh dan kembali fokus pada Haikal.             “Gue... mau minta tolong sama lo,” kata Haikal kemudian dan berdeham sambil melirik Jack. “Sama kalian berdua.”             “Minta tolong apa?” tanya Phoebe ingin tahu. “Kalau gue bisa bantu, pasti gue bantuin. Iya kan, Jack?”             “Iya dong, Sayang,” balas Jack sambil mengusap rambut Phoebe penuh kasih dan mencium rambutnya mesra. “Sebagai manusia, kita emang wajib tolong-menolong, kan?”             Haikal mendesah berlebihan dan tersenyum geli.             “Kayaknya... gue suka sama Aurora.”             “Hah?” Jack dan Phoebe saling tatap. Keduanya tersenyum dan mengangkat bahu.             “Tapi, gue mau memastikan apa dia masih ada rasa sama lo atau nggak,” kata Haikal lagi sambil menatap tegas Jack. “Lo tentu tau, kan, kalau dia ada rasa sama lo?”             Jack mengangkat satu alisnya dan mengangguk tegas.             “Sori, Phoebe... tapi, gue nggak bermaksud untuk bikin lo nggak nyaman.” Haikal beralih menatap Phoebe. “Gue hanya ingin memastikan apa Aurora masih bertahan sama perasaannya untuk lo atau nggak.”             “Dan misalkan dia masih memiliki perasaan itu,” ucap Phoebe dengan nada yang tidak terbaca. “Lo akan mundur?”             Haikal diam. Dia menatap manik mata Phoebe dengan tatapan serius. Jack yang melihat itu hanya bisa memutar kedua bola matanya jengah. Kenapa coba Haikal harus membahas Aurora di saat ada Phoebe? Menyebalkan!             “Nggak,” jawab Haikal mantap. “Gue bertekad menjadikan dia sebagai milik gue seutuhnya. Akan gue buat dia melupakan perasaannya untuk Jack.” ### Aurora mematikan mesin mobilnya dan melirik taman dekat komplek kampusnya yang sepi dengan perasaan sedikit takut. Gadis itu menerima pesan singkat dari Phoebe yang menyuruhnya untuk datang ke sini karena ada hal yang ingin dibicarakan. Ketika Aurora menyuruh Phoebe untuk membicarakannya saja lewat pesan singkat tersebut, Phoebe menolak dengan alasan, hal sepenting ini harus dibicarakan secara langsung dan empat mata.             Memantapkan hati, Aurora melepas seatbelt dan turun dari mobil Jazz nya. Dia merapatkan jaket kemudian menoleh ke kanan dan ke kiri guna mengantisipasi adanya orang jahat yang mungkin mendadak hadir dan menyergapnya.             Sebuah tepukan pada pundaknya membuat Aurora terperanjat dan langsung berjongkok sambil berteriak serta memejamkan kedua mata dan menutup kedua telinganya. Jantungnya berpacu dengan liar, membuatnya ingin menangis saja. Lalu, suara yang sangat lembut dan menenangkan itu menembus ketakutan Aurora.             “Hei, ini gue....”             Perlahan, kedua tangan Aurora menjauh dari telinga dan kedua matanya terbuka. Dia mendongak, menatap seseorang yang rupanya sudah ikut berjongkok di hadapannya. Mengenali sosok tersebut sebagai Haikal, yang sialnya saat ini tersenyum hangat dan membuat jantungnya jumpalitan, Aurora langsung berdeham untuk mengatasi kegugupannya dan bangkit berdiri.             Haikal terkekeh geli dan ikut berdiri. Ditatapnya Aurora yang kini sibuk mengalihkan tatapannya ke arah lain. Tapi, gadis itu pada akhirnya toh tetap menatap ke arahnya.             “Kenapa lo bisa ada di sini, Kal?” tanya Aurora penasaran. Mengabaikan rasa gugup yang semakin menguasai dirinya, membuatnya diserang kesesakkan yang jenisnya jelas bukan sesak akibat rasa sakit atau semacamnya.             “Gue yang nyuruh Phoebe untuk ngirim pesan singkat buat lo dan ajak lo ketemuan di sini.” Haikal bersedekap dan mengangkat satu alisnya ketika melihat raut wajah terkejut milik Aurora.             “Kenapa?” tanya gadis itu.             “Karena ada yang mau gue sampaiin ke lo,” jawab Haikal. Laki-laki itu menarik napas panjang dan tersenyum lembut. “Gue tau ini terlalu cepat, tapi... i think, i love you.”             Kedua mata Aurora membulat maksimal, membuat wajahnya terlihat imut dan menggemaskan. Gadis itu tidak mampu berpikir jernih dan lidahnya mendadak kelu. Dia bingung harus merespon apa, terlebih saat Haikal kini tertawa pelan.             “Gue nggak maksa elo untuk langsung menerima gue, kok.” Haikal menarik napas panjang. “Gue cuma mau lo tau kalau gue jatuh cinta sama lo, itu aja. Gue tau kalau lo mungkin masih ada rasa sama Jack, tapi... gue mau berusaha sekuat tenaga gue untuk bikin lo berpaling dari dia dan hanya melihat gue.”             Karena kehidupan kita di kehidupan sebelumnya memang seperti ini. Kita, Pangeran Artemis dan Putri Aurora yang terlahir kembali. Kita, sejak kehidupan sebelumnya, saling mencintai satu sama lain.             Aurora terperangkap dalam sepasang mata tegas milik Haikal. Sepasang mata tegas yang juga diiringi dengan kelembutan tiada tara. Gadis itu tahu, ada sesuatu yang menggelitik hatinya beberapa hari terakhir ini, tepatnya ketika tindakan Haikal waktu itu di resto tempatnya bekerja. Aurora mendapati diri jadi sering memikirkan Haikal tanpa dia sadari.             Mungkin dia butuh sedikit disadarkan akan perasaannya sendiri saat ini.             “Mm... gimana, ya?” gumam Aurora dengan nada gugupnya yang terdengar sangat jelas di telinga Haikal. “Gue... gue sendiri sebenarnya bingung....”             “Bingung?”             Aurora mengangguk. “Bingung dengan arti kehadiran lo di diri gue saat ini sebagai apa. Apa memang cuma teman, atau... sedikit banyak, lo udah mulai mengisi pikiran dan hati gue.”             Senyuman Haikal bertambah lebar. Hatinya tiba-tiba saja meringan tanpa bisa dia cegah.             “Itu artinya, apa gue masih bisa terus berjuang?”             Aurora tertawa. “Mungkin.”             “Oke!” tandas Haikal mantap. Laki-laki itu mengulurkan tangan kanannya, menunggu tangan Aurora menyambutnya. Pelan namun pasti, gadis itu memang menjabat uluran tangan Haikal. “Deal?”             “De—“             Belum sempat Aurora menyelesaikan kalimatnya, Haikal menarik tangan Aurora pelan, menarik gadis itu ke dalam pelukannya.             “Haikal....” lirih Aurora memanggil nama laki-laki itu. Namun, bukannya melepaskan, Haikal justru semakin mempererat pelukannya. Laki-laki itu mendesah panjang dan tersenyum tanpa beban.             “Gue akan terus berusaha supaya lo hanya tetap menatap gue. Hanya gue, bukan yang lain.”             Aurora mengerjap dan tersenyum tipis. Menikmati pelukan Haikal yang menenangkan ditemani para bintang di langit sana.             Mungkin, dia memang harus membuka hati.             Sementara itu, di kejauhan, menatap Haikal dan Aurora dari jendela mobil Phoebe yang dikendarai oleh Jack dan diparkir tak jauh dari posisi taman, membuat kedua orang tersebut tersenyum dan ikut bahagia dengan keduanya.             “Aku senang liatnya.” Phoebe tertawa pelan dan menarik napas panjang. Dia kemudian menoleh ke arah Jack. “Bukan begitu, Jack?”             Dan sebuah lolipop berbentuk hati muncul tepat di depannya, diiringi senyuman lembut Jack.             “Jack?”             “Maaf kalau sebelum ini, aku nggak ingat sama kejadian lolipop yang sempat kamu singgung di kolam renang waktu itu.” Jack membuka tangan Phoebe dan menaruh lolipop itu pada genggaman gadisnya sambil mengusap rambutnya. “Waktu remaja, aku pernah mengalami kecelakaan. Aku amnesia. Aku lupa semuanya, bahkan sama nama aku sendiri. Lalu, Ayah dan Bunda membantu aku untuk mengenali semua orang, termasuk namaku sendiri. Dan, saat kecelakaan kemarin, kepalaku terbentur cukup keras, sampai akhirnya, ingatan aku kembali.”             Kedua mata Phoebe berkaca.             “Jadi... kamu... anak kecil yang waktu itu....”             “Ngasih kamu lolipop, di saat kamu tenggelam dan Ayahku yang menolongmu.” Jack tersenyum dan memeluk Phoebe. “Senang rasanya bisa bertemu lagi sama boneka cantik yang aku temui waktu aku kecil dulu di kolam renang. Apa itu artinya, aku sama kamu emang sudah berjodoh sejak lama, ya?”             Phoebe hanya bisa tertawa dan mengusap air mata yang entah sejak kapan mengalir.             “Mungkin,” jawabnya mantap. Gadis itu semakin mengeratkan pelukannya pada Jack. “Jadi, apa yang akan kita lakuin sekarang?”             Jack nampak berpikir dan detik berikutnya dia berkata, “Mungkin mengundang ketiga abang sepupu kamu yang super protektif itu untuk ngopi bareng dan menyuruh mereka untuk berhenti memperlakukan aku seperti seorang penjahat karena sebentar lagi, aku akan bergabung dalam keluarga kalian. Juga meminta kamu secara baik-baik ke Ayah kamu. Gimana?”             Phoebe kembali tertawa dan mengangguk penuh semangat.             Kehidupan yang baru akan segera dimulai. ###  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD