Aurora menarik napas panjang sambil berjalan menyusuri koridor kampus. Jack masih belum ada kabar, sementara Phoebe tidak masuk kuliah karena sakit sejak kemarin. Menurut kabar yang dia dengar, Phoebe sempat bertengkar dengan Jason dan menangis hebat di koridor sambil memaki Jack. Gadis itu menjadi tidak tega melihat keadaan Phoebe. Walaupun dia masih memiliki sedikit rasa suka untuk Jack, tapi dia sudah bisa mengihlaskan laki-laki itu. Kalau Jack dan Phoebe saling mencintai, Aurora bisa apa?
Tidak fokus dalam langkahnya, Aurora menabrak sesuatu yang bidang di depannya. Gadis itu mengaduh dan mengusap keningnya, kemudiang mendongak. Senyuman orang di depannya itu yang pertama kali menyambut Aurora, membuat gadis itu mengerjap dan tahu-tahu saja, detak jantungnya mulai berpacu cepat.
Ini benar-benar tidak baik untuk kesehatan jantungnya.
“Haikal?”
“Hai, Ra,” balas Haikal sambil membungkukkan sedikit tubuhnya agar wajahnya bisa sejajar dengan wajah Aurora. Kedua mata gadis itu benar-benar bagus, membuat Haikal terpesona. “Lo nggak apa-apa?”
“Hah?”
Sungguh kegugupan Aurora terbaca jelas di kedua mata Haikal. Mati-matian laki-laki itu menahan diri untuk tidak menyemburkan tawanya, agar gadis di depannya itu tidak merasa malu. Hanya senyum Haikal lah yang mewakili kegelian laki-laki itu terhadap sikap Aurora saat ini kepadanya.
“Lo kan tadi nabrak gue, Ra,” kata Haikal kemudian. Dia menegakkan punggung dan bersedekap. “Kening lo nabrak d**a gue. Apa nggak sakit?”
“Hah? Oh, itu....” Aurora memaki dirinya sendiri di dalam hati dan menarik napas panjang. Diulaskannya sebuah senyum yang menurutnya normal untuk Haikal, tanpa tahu bahwa efek dari senyuman simpulnya itu mampu membuat Haikal mematung di tempatnya. “Nggak apa-apa, kok. Nggak sakit sama sekali.”
Haikal berdeham untuk mengusir perasaan asing yang menyusup masuk ke dalam hatinya saat ini dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Merasa t***l pada dirinya sendiri karena salah tingkah di depan gadis yang bahkan masih kuliah dan mungkin terpaut sekitar tiga tahun di bawahnya.
“Masih ada kuliah?”
“Hmm?” Aurora nampak berpikir sejenak. Masih ada satu kuliah lagi, tapi mata kuliah itu baru akan dimulai pukul tiga sore. Dan dia sedang merasa malas untuk mengikuti mata kuliah tersebut. “Ada, sih... tapi, gue punya rencana untuk bolos.”
“Ternyata, lo cewek yang bandel juga, ya,” sela Haikal sambil tertawa. Dikedipkannya sebelah mata untuk Aurora yang kini mendengus dan menggembungkan pipinya.
“Gue lagi malas dan nggak bisa fokus untuk melakukan apa pun.”
Alis Haikal terangkat satu. “Kenapa?” tanyanya bingung.
“Jack menghilang. Udah hampir lima hari.” Suara gadis itu sarat akan kecemasan. Pun dengan wajahnya. “Phoebe bahkan sampai sakit. Dua hari nggak masuk kuliah.”
Dalam hati, Haikal mendengus geli. Benar-benar pasangan yang menggemaskan. Saking gemasnya, ingin sekali Haikal mengunci keduanya di dalam kamar. Entah itu Pangeran Flamel atau Putri Slavia, maupun Jack dan Phoebe, mereka memiliki sifat yang sama!
“Percaya sama gue, Ra,” kata Haikal. Nada suara laki-laki itu terdengar geli. “Dari zaman dulu, kelakuan Jack dan Phoebe nggak pernah berubah sama sekali.”
Aurora mengerutkan kening dan memiringkan kepalanya. “Maksudnya?”
Kali ini, Haikal tidak bisa menahan tawanya lagi. Raut wajah Aurora benar-benar menggemaskan. Sambil mengacak rambut Aurora, Haikal berkata, “Gimana kalau kita ngelupain mereka dan makan siang bareng? Kebetulan, gue sengaja datang ke sini untuk minta lo menemani gue makan karena gue paling malas untuk makan sendirian.”
###
“Serius, deh... umur lo udah berapa?”
Pertanyaan Aurora itu membuat Haikal tertawa keras. Sudah belasan kali dia mendengar Aurora menanyakan hal tersebut, hanya karena dirinya mengajak gadis itu pergi ke Taman Mini.
Tadinya, Aurora ingin menolak. Sumpah, dia sedang tidak mood untuk pergi ke mana pun. Tapi, dia bisa apa? Dia berada di dalam mobil Haikal dan laki-laki itu dengan seenaknya saja membawanya ke Taman Mini.
“Ada yang salah dengan Taman Mini, Ra?” tanya Haikal sambil menoleh sekilas ke samping, di mana Aurora masih sibuk mendumel tanpa suara. Di Taman Mini lebih didominasi oleh anak-anak, sementara dirinya dan Haikal sudah jauh dari kategori tersebut.
“Nggak ada yang salah,” jawab Aurora dengan nada bete. “Cuma, di sini lebih didominasi sama anak-anak, Kal... dan omong-omong, kita sekarang mau ke mana, sih?”
Haikal diam dan terus berjalan. Sampai kemudian, keduanya sampai di tempat penyewaan sepeda.
“Sepeda? Lo mau naik sepeda?”
“Bukan gue,” kata Haikal seraya mengeluarkan beberapa lembar uang untuk diberikan kepada si pemilik tempat penyewaan sepeda. “Tapi, kita.”
“Kita?” tanya Aurora dengan nada melengking sambil menunjuk dirinya dan Haikal bergantian. “Maksud lo, gue juga ikutan naik sepeda?”
“Jelas!” tandas Haikal. Dia membawa sebuah sepeda ke hadapan Aurora. “Lo harus menemani gue, Aurora.”
Aurora kehilangan kata-kata. Gadis itu menatap langit yang mulai sedikit mendung sambil menarik napas panjang. Kemudian, ketika kepalanya kembali menunduk, gadis itu refleks menahan napas karena wajah Haikal sudah berada tepat di depan wajahnya. Senyuman laki-laki itu benar-benar lembut dan manis, membuat Aurora mencengkram stang sepeda dengan kuat.
“Mau nemenin gue naik sepeda, kan? Nanti, gue beliin es krim dan gulali.”
Kepala Aurora mengangguk dengan sendirinya. Kemudian, Haikal mengacak rambut gadis itu dan mulai naik ke atas jok, mencari posisi yang nyaman. Dilihatnya Aurora masih mematung sambil menatap aspal di depannya. Hal yang sanggup membuat Haikal tertawa dan menatap gadis itu dengan tatapan yang tidak terbaca.
“Aurora, Aurora....” Haikal bergumam pelan dan mulai mengayuh sepedanya.
Tak sampai lima menit, Aurora sudah berhasil menyusul Haikal. Gadis itu nampak bete dan mendengus, ketika Haikal menoleh untuk melihat keadaannya. Kemudian, dengan satu kayuhan cepat, sepeda Aurora berhasil mendahului Haikal dan berada di posisi paling depan.
“Mau main balapan sepeda ceritanya, nih?” tanya Haikal dengan volume suara yang sengaja dikeraskan. Aurora hanya mengibaskan sebelah tangannya di udara, tanda tidak mau ambil pusing dengan apa pun ucapan Haikal saat ini.
Saat itulah, Aurora merasakan angin berhembus lumayan kencang dari sisi kirinya. Begitu Aurora menoleh, gadis itu tersentak kala sosok Haikal sudah berada tepat di sisinya, bahkan mendahuluinya. Kini, posisi laki-laki itu kembali menjadi yang terdepan.
“Ish! Gue nggak akan kalah!” teriak Aurora penuh semangat. Gadis itu mengayuh sepedanya dengan kuat agar bisa menyusul Haikal lagi. Keduanya tertawa bersama sampai akhirnya, suara jeritan Aurora terdengar. Sigap, Haikal segera menghentikan laju sepedanya dan menoleh.
“Aurora!” seru laki-laki itu cemas. Dia turun dari sepeda dan membiarkan benda tersebut jatuh begitu saja mencium kerasnya aspal. Tidak peduli kalau nantinya, dia diharuskan mengganti kerugian yang mungkin terjadi akibat kerusakan sepeda tersebut.
“Ra, lo nggak apa-apa?” tanya Haikal khawatir sambil bersimpuh dengan satu lutut menyentuh aspal. Di depannya, Aurora sedang meringis menahan sakit, bahkan mengaduh, ketika dia menggulung celana jeans-nya dan terdapat luka lecet pada lututnya.
“Nggak apa-apa, sih... cuma lecet doang,” jawab Aurora pelan. Padahal, rasa nyerinya begitu menyiksa. Namun, gadis itu tidak ingin menambah kecemasan Haikal saat ini.
“Keliatannya lo apa-apa, deh,” kata Haikal sangsi. Dia segera membantu Aurora berdiri dan gadis itu nampak membeku sambil meringis sakit. “Tuh, keliatan banget kalau lo kesakitan.”
Aurora segera menepis tangan Haikal yang melingkar di pinggangnya dan memasang raut wajah cemberutnya yang menurut Haikal sangat lucu itu. Gadis itu mencibir, kemudian menatap Haikal. “Gue cuma nggak mau lo khawatir sama keadaan gue, itu aja.”
“Ya nggak bisa, dong.”
“Maksudnya?”
“Mau lo berusaha sekuat apa pun untuk nggak bikin gue khawatir, gue akan tetap khawatir sama keadaan lo, kali.”
“Kenapa emangnya?”
Keduanya terdiam. Haikal menatap Aurora dengan tatapan intens, membuat Aurora salah tingkah di tempatnya. Dia berdeham, berusaha menghilangkan kegugupannya dan memalingkan wajah.
“Ayo, kita balikin aja sepeda-sepeda ini,” usul Aurora. Gadis itu mendesis dan kembali berdeham untuk menghilangkan rasa nyeri yang menderanya. “Kita pulang aja. Udah mendung juga.”
“Oke.” Haikal mengangguk tegas dan mengambil satu keputusan.
Laki-laki itu menahan lengan Aurora, berjongkok di hadapan gadis itu dan langsung mengalungkan kedua lengan Aurora ke lehernya. Membuat Aurora terkesiap dan menahan napas, kala Haikal menggendongnya di punggung.
“Nggak usah khawatir, lo nggak seberat itu, kok.” Haikal menoleh ke belakang punggung dan mengedipkan sebelah mata. “Kalau itu yang lo takutin.”
Aurora hanya bisa diam dan membiarkan Haikal menggendongnya sambil menarik dua sepedanya kembali ke tempat penyewaan.
Entah kenapa, perasaan Aurora menghangat begitu saja.
###
Pintu di depannya itu tertutup rapat.
Jack menarik napas panjang dan menunduk sejenak untuk menatap lantai. Tiga hari di rumah sakit tanpa ada kabar pada keluarganya membuat Jack memutuskan untuk keluar dari tempat tersebut dan pulang ke rumah. Kedua orangtuanya, terutama sang Mama, langsung menyambutnya dengan tangis kelegaan. Lily bahkan sampai merawatnya selama dua hari terakhir ini dan memutuskan untuk tidak masuk sekolah dulu.
Saat sampai di rumah, Jack segera menghubungi Jason ke rumah laki-laki itu. Begitu Jason mengetahui bahwa dirinya yang menelepon, sang teman dekat langsung menceramahinya dan mengomelinya habis-habisan. Setelah diberi kesempatan untuk menjelaskan, barulah Jason mengerti apa yang terjadi pada Jack dan memberitahu laki-laki itu kalau Phoebe, gadis yang Jack cintai itu, sedang demam tinggi dan tidak masuk kuliah dua hari berturut-turut.
Dan, di sinilah Jack sekarang. Di depan pintu rumah Phoebe dan belum berani mengetuk. Dia takut, takut kalau Phoebe tidak bisa menerima penjelasannya begitu saja. Dia juga merasa sangat t***l karena main ambil kesimpulan sendiri, tanpa menanyakannya terlebih dahulu kepada Phoebe mengenai sosok laki-laki yang dilihatnya waktu itu memeluk Phoebe di taman kompleks perumahan ini.
Ketika tangan Jack terangkat untuk mengetuk pintu di depannya setelah memantapkan hati, daun pintu tersebut terbuka. Di depannya, sosok yang sangat dicintainya dan dirindukannya itu muncul. Wajahnya pucat dengan tatapan lelahnya. Gadis itu bahkan memakan jaket super tebal dan celana training.
“Hai,” sapa Jack gugup. Dia benar-benar tidak siap kalau Phoebe akan mengusirnya dan tidak mau mendengar penjelasan apa pun yang keluar dari mulutnya.
Sementara itu, Phoebe diam bak patung. Menatap sosok Jack dengan kepala dan lengan yang diperban dengan tatapan yang tidak terbaca. Kesal, marah, rindu dan khawatir. Namun yang lebih mendominasi adalah tatapan kerinduan dan kekhawatiran itu. Meredam semua emosi dan amarah yang sempat hadir ke permukaan.
“Maaf, Phoebs... gue... gue bisa jelasin semuanya,” ucap Jack cepat. Laki-laki itu membasahi bibirnya dan menatap Phoebe dengan tatapan serius. “Waktu itu, gue udah mau sampai di taman, saat gue liat lo dan—“
Penjelasan Jack itu pun terhenti tatkala Phoebe dengan gerakannya yang tidak terduga, langsung menghambur ke pelukan Jack. Gadis itu mengalungkan kedua lengannya di leher Jack dengan erat dan membenamkan wajahnya di leher laki-laki itu. Phoebe bahkan sampai berjinjit untuk bisa memeluk Jack karena tinggi mereka yang memang tidak seimbang.
Dan... gadis itu menangis di sana.
“Gue kangen... gue kangen....” Phoebe menangis terisak dan semakin mempererat pelukannya. “Gue kangen sama lo, Jack... gue cinta sama lo. Jangan bikin gue khawatir lagi, jangan pernah....”
Awalnya, Jack merasa seluruh tubuhnya membeku ketika Phoebe menerjang ke arahnya untuk memeluk tubuhnya. Lama-kelamaan, seiring dengan ucapan yang baru saja keluar dari mulut Phoebe, membuat tubuh Jack rileks dan perasaannya meringan begitu saja. Lalu, kedua tangan Jack terangkat dan dia balas memeluk Phoebe sama eratnya.
Mungkin, ini awal yang baru untuk kisahnya dengan Phoebe.
Selamanya, Phoebe akan selalu menjadi bagian yang paling penting di hatinya. Gadis yang sangat dia cintai, melebihi cintanya pada diri sendiri.
###
Haikal menyusuri lorong bangunan ini dengan senyuman ramah yang dia bagikan kepada para pengunjung atau staff yang berjalan melintasinya. Laki-laki itu kemudian berjalan menuju meja informasi dan menanyakan keadaan seseorang.
“Maaf, Mas... pasien bernama Jack Thampson sudah keluar dari rumah sakit kemarin.”
Haikal mengucapkan terima kasih dan menjauh dari meja informasi. Laki-laki itu kemudian mendengus geli lantas terkekeh. Benar-benar gemas dengan sifat Jack dan Phoebe.
“Semoga kalian bahagia, deh,” ucap Haikal tulus.
###