Chapter 13

1330 Words
Sudah tiga hari berlalu dan Phoebe masih belum mendapatkan kabar apa pun soal Jack.             Tiga hari yang lalu, Jack dan Phoebe berjanji untuk pergi bersama ke dufan. Namun, hampir tiga jam Phoebe menunggu, Jack tak kunjung datang di taman dekat rumahnya, sesuai tempat pertemuan yang mereka sepakati itu. Dia menunggu ditemani oleh Zac, sahabat dari Alviansa Carsena Abimanyu, istri dari abang sepupunya. Berulang kali Phoebe menelepon Jack, tapi nomor ponsel laki-laki itu tidak aktif.             Membuat Phoebe marah dan merasa benci dengan Jack.             Phoebe menganggap Jack hanya mempermainkannya. Bahwa laki-laki itu memang tidak pernah serius dengan perasaan dan pernyataan cintanya. Namun, semua rasa benci dan amarah itu mendadak lenyap saat tiga hari berselang, Jack tidak juga muncul di depannya.             Di mana laki-laki itu?             Perasaan khawatir dan cemas yang kian membuncah membuat Phoebe kehilangan konsentrasi dan fokusnya. Dia menjadi orang yang tidak peduli dengan sekitar karena otaknya hanya mengarah pada Jack. Perasaannya selalu dilingkupi ketidaktenangan dan selama tiga hari ini, Phoebe selalu bermimpi buruk mengenai Jack.             “Phoebe, itu ada ekor kucing depan lo! Awas kein—“             Peringatan dari Jason itu sangat lah sia-sia, karena Phoebe terlanjur menginjak ekor kucing malang di depannya, hingga kucing tersebut berteriak kesakitan dan marah terhadap gadis itu. Phoebe terlonjak ketika sesuatu yang tajam menggores kakinya, yang belakangan gadis itu ketahui sebagai cakar dari si kucing.             “Phoebs, lo kalau jalan yang fokus, dong,” kata Jason kemudian. Ditatapnya sebelah kaki Phoebe. Ada garis kemerahan melintang pada kaki putih mulus gadis itu. “Lo luka, Phoebs.”             Phoebe mengerjap dan mencoba tersenyum. Dia mengibaskan sebelah tangan dengan maksud memberitahu Jason bahwa cakaran kucing itu bukanlah hal yang besar. Kemudian, gadis itu melangkah begitu saja, meninggalkan Jason yang menatap punggung Phoebe dengan tatapan kasihan serta tarikan napas.             Semua orang merasa kehilangan Jack Thampson. Satu per satu teman dari Jack, yang tahu alamat rumah laki-laki itu, datang menghampiri. Namun, mereka semua mendapat jawaban yang sama: Jack belum pulang selama tiga hari. Mereka bahkan sudah melapor kepada polisi perihal menghilangnya Jack.             Bukannya Phoebe tidak mau mencari Jack. Kalau gadis itu mau, dia bisa menyuruh semua anak buah ayahnya untuk mencari keberadaan laki-laki itu. Hanya saja, dia merasa tidak sanggup. Entah kenapa. Dia hanya tidak ingin semua orang, terlebih ayahnya, tahu bahwa dia jatuh cinta pada seorang laki-laki yang menurutnya sangat b******k itu.             Apalagi namanya kalau bukan b******k, ketika seorang laki-laki menyatakan cintanya, membuat janji namun tidak datang dan akhirnya menghilang selama tiga hari tanpa ada kabar?             “Bisa jadi, Jack kecelakaan dan sekarang terdampar entah di mana....”             Suara itu membuat langkah kaki Phoebe terhenti dan menoleh. Di belakangnya, sosok Jason hadir. Laki-laki itu rupanya mengikuti Phoebe untuk meyakinkan gadis itu bahwa sahabatnya bukanlah tipe orang yang suka mengingkari janjinya dan meninggalkan sesuatu yang sangat berharga dan penting.             Yaitu seorang Phoebe, gadis yang selama ini selalu Jason dengar namanya keluar dari mulut Jack.             “Dia cuma seorang b******k yang merasa bisa memainkan ribuan hati perempuan mana pun yang dia mau, Son,” ucap Phoebe dingin. Ada sengatan sakit ketika kalimat itu keluar dari mulutnya. Namun, sebisa mungkin, Phoebe mematikan fungsi hatinya. “Dan gue dengan bodohnya membiarkan diri serta hati gue jatuh ke dalam perangkap laki-laki sialan itu!”             “Phoebe, gue kenal Jack udah lama!” tegas Jason. Tidak terima jika Jack dihina seperti itu. “Gue tau kalau Jack nggak mungkin ngelakuin hal itu sama orang yang dia cintai!”             “Apa lo bisa kasih tau gue, di mana dia sekarang? Hmm?”             Jason diam. Dia membeku kala melihat senyuman sinis dan dingin milik Phoebe.             “Kenapa diam, Son? Itu karena lo dan semua teman-teman lo yang sangat mengidolakan Jack juga nggak tau keberadaan dia, kan?”             “Pasti ada sesuatu, Phoebs! Jack nggak mungkin menghilang tanpa kabar kayak gini!”             “KENYATAANNYA DIA MENGHILANG!”             Seruan Phoebe itu membuat suasana koridor menjadi hening. Jason terlonjak dan mematung. Bukan karena teriakan Phoebe, melainkan kala dia melihat bagaimana tubuh Phoebe bergetar dan air mata itu mengalir mulus di kedua pipinya.             “DIA NGGAK ADA! DIA INGKARIN JANJI, DIA BIKIN GUE JATUH CINTA SAMA DIA, SETELAHNYA, DIA PERGI TANPA ADA JEJAK APA PUN! DI MANA DIA SEKARANG PUN, GUE NGGAK TAU! YANG LEBIH GILA LAGI, MESKIPUN GUE MERASA MARAH DAN BENCI SAMA DIA, GUE NGGAK BISA BOHONG KALAU GUE KHAWATIR DAN CEMAS SAMA DIA! KALAU GUE TAKUT DIA KENAPA-NAPA! KALAU GUE NYATANYA TETAP CINTA SAMA DIA, MESKIPUN DIA UDAH BIKIN GUE SAKIT HATI SAMA TINDAKANNYA!”             Sesudahnya, Phoebe berjongkok dan menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan. Pertama kalinya, dia menunjukkan sisi lemahnya dan kerapuhannya di depan orang lain.             Semuanya karena Jack Thampson. ### Sudah tiga hari berlalu dan Jack masih belum sadarkan diri.             Ada perban yang melingkar di kepala dan juga lengannya. Wajahnya luka dan memar sana-sini. Pihak rumah sakit ingin menghubungi keluarga Jack, namun sepertinya, laki-laki itu sudah menjadi korban perampokkan. Dia ditemukan terluka di pinggir jalan tanpa adanya kartu identitas. Jangankan kartu identitas, dompet Jack pun tidak berhasil ditemukan oleh orang yang sudah berbaik hati mengantar Jack ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.             Bukti lainnya adalah, ketika orang yang menemukan Jack melihat pecahan kaca, yang diyakini sebagai kaca spion. Orang tersebut menduga Jack sedang mengendarai motor, lalu saat dia mengalami kecelakaan, ada oknum tidak bertanggung jawab yang sudah mengambil dompet serta motor laki-laki itu.             Suster yang bertugas memeriksa keadaan Jack mencatat semua yang dia perlukan. Lalu, perempuan itu memeriksa slang infus Jack, apakah masih baik-baik saja atau tidak, ketika tangan laki-laki itu bergerak perlahan.             Jack membuka kedua matanya pelan dan menatap langit-langit putih di atasnya. Tak lama, dia menoleh ke samping dan senyuman dari seseorang yang tidak dikenalnya menyambutnya.             “Anda sudah sadar?” tanya si suster ramah. “Biar saya panggilkan dokter. Sebentar.”             Sepeninggal si suster, Jack meringis dan memegang kepalanya yang terasa sakit. Dia menggali ingatannya, mencoba mengetahui apa yang sudah terjadi padanya. Lalu, semuanya hadir begitu saja. Bagaimana dia cemburu pada laki-laki yang bersama Phoebe di taman, bagaimana dia melajukan motornya dengan kecepatan tinggi dan menghindari seekor kucing, juga bagaimana anak perempuan kecil yang dia beri lolipop berbentuk hati itu tersenyum ke arahnya.             Anak perempuan kecil... lolipop berbentuk hati...             Apa lo... pernah ngasih lolipop berbentuk hati ke seorang anak perempuan kecil?             Pertanyaan Phoebe waktu itu di kolam renang, tepat ketika dia berhasil menyelamatkan Phoebe, membuat Jack bangun dalam satu gerakan cepat. Meskipun hasilnya, laki-laki itu meringis, mengaduh dan mengumpat karena rasa nyeri pada seluruh tubuhnya, terutama bagian kepalanya. Pertanyaan Phoebe, dan ingatan masa kecil yang mendadak hadir, membuat Jack tertegun.             Dia dan Phoebe pernah bertemu, dulu sekali, sekitar empat belas tahun yang lalu, di kolam renang di negara Inggris!             Jack ingat, dulu, beberapa anak kecil seusianya berteriak ketakutan sambil menyebut nama seseorang yang saat itu tenggelam. Ayahnya dengan sigap masuk ke dalam kolam dan berhasil menyelamatkan seorang anak perempuan kecil yang sangat manis.             Begitu ayahnya pergi setelah menyelimuti tubuh kecil itu dengan handuk, Jack mendekati anak tersebut. Dia mengajaknya berbicara dan tersenyum ketika menyerahkan sebatang lolipop berbentuk hati yang diberikan ibunya di rumah.             “Kenapa gue bisa lupa? Kenapa ingatan sepenting itu bisa gue lupain sebelum ini?” gumam Jack. Dia menyentuh kepalanya dan meringis lagi, saat seorang dokter memasuki kamarnya sambil tersenyum lebar.             “Anda sudah sadar?” tanyanya, seperti pertanyaan yang dilontarkan si suster beberapa saat yang lalu. Jack mengangguk lemah dan mencoba membalas senyuman si dokter yang kini memeriksa keadaannya. “Siapa nama Anda?”             “Nama?” tanya Jack heran. Apa pihak rumah sakit tidak memeriksa kartu identitasnya? “Jack Thampson.”             “Begini Tuan Jack,” kata si dokter lagi. “Anda sudah tiga hari tidak sadarkan diri. Anda ditemukan pingsan di pinggir jalan dengan tubuh penuh luka. Tidak ada dompet maupun kartu identitas yang berhasil ditemukan, sehingga kami tidak bisa menghubungi pihak keluarga.”             “Kalau gitu, biaya rumah sakit yang sudah....”             “Orang yang menemukan Anda sudah membayar biaya rumah sakit Anda,” potong si dokter. “Dia orang yang sangat baik.”             Dalam hati, Jack mengiyakan.             “Masalah lainnya, benturan yang lumayan keras pada kepala Anda membuat saya khawatir. Tapi, kekhawatiran saya tidak berlangsung lama, karena pada kenyataannya, Anda mengingat nama Anda dengan sangat baik.” Dokter tersebut nampak berpikir. “Apa sebelum ini, Anda tidak mengalami hal apa pun?”             Kening Jack mengerut.             “Hal apa pun? Seperti?”             Dokter tersebut menarik napas panjang.             “Amnesia, mungkin?” ###  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD