Mobil yaris milik Phoebe berhenti di depan rumah Jack. Gadis itu sampai membuka jendela mobilnya untuk menatap rumah bergaya unik di sampingnya ini. Jack memang ingin mengantar Phoebe pulang ke rumah. Namun, di perjalanan, laki-laki itu berubah pikiran. Jack memutuskan untuk membawa Phoebe pulang ke rumahnya terlebih dahulu supaya gadis itu tidak terserang flu dan demam karena kedinginan. Dia ingin Phoebe mengganti pakaian basahnya dengan pakaian kering milik Lily, setelahnya, baru Jack akan mengantar gadis itu pulang ke rumah. Jack bahkan memberikan kunci motornya pada Jason, agar temannya itu yang membawa motornya.
“Rumah lo?” tanya Phoebe dengan suara gemetar. Tubuhnya benar-benar menggigil karena pakaian basah yang dia kenakkan. Belum lagi AC mobil yang menyala walau dalam suhu kecil dan angin yang berhembus tepat ketika dia membuka jendela mobil. “Kenapa lo bawa gue pulang ke rumah lo?”
Jack mematikan mesin mobil dan tersenyum. Belum pernah dia merasa senyaman dan sedamai ini sebelumnya. Dia tidak pernah berada dalam tahap sedekat ini dengan Phoebe. Tanpa berdebat, tanpa mengejek. Mereka seakan teman dekat yang saling membutuhkan satu sama lain.
“Gue nggak mau ambil resiko lo pulang dalam keadaan menggigil hebat, wajah pucat, bibir yang mulai membiru, ditambah pakaian basah. Meskipun gue nggak takut sama abang-abang lo, tapi, gue masih punya banyak dosa yang harus diperbaiki, sebelum ketiga abang lo mengirim gue ke akhirat.” Jack mengakhiri kalimatnya dengan tawa, ketika dia mendengar dengusan Phoebe dan gadis itu memukul lengannya. “Ayo, masuk. Lo bisa pinjam baju Lily.”
“Lily?” tanya Phoebe. Gadis itu bersin dan segera membersihkan hidungnya. Kepalanya mulai terasa pening. Dia membuka sabuk pengaman dan turun dari mobil, setelah Jack membuka pintu penumpang dan membantunya keluar.
Jack tidak menghiraukan pertanyaan Phoebe barusan. Dibiarkannya gadis itu tenggelam dalam rasa penasarannya. Jack menuntun Phoebe memasuki rumah dan memanggil Lily. Sepupunya yang masih mengenakan seragam sekolah itu muncul dengan raut wajah berseri, senyum menggoda penuh makna dan alis yang dimainkan. Kaget dengan kemunculan Jack bersama seorang lawan jenisnya.
“Ly, tolong pinjamin baju kamu buat Phoebe, ya,” kata Jack kemudian. Didekatinya Lily dan diserahkannya Phoebe kepada gadis itu. “Kasian, dia kedinginan.”
“Oke!” seru Lily penuh semangat. Ditatapnya Phoebe dengan binar polos bak anak kecil. “Kak Phoebe siapanya Kak Jack? Namanya unik, ya... kayak salah satu tokoh di serial Charmed. Kak Phoebe tau serial itu?”
Phoebe hanya mengangguk dan tersenyum kikuk. Tidak tahu harus merespon apa kepada gadis berseragam SMA di depannya itu. Sementara dia dibawa pergi oleh Lily ke kamar, Jack berkacak pinggang dan menunduk. Senyumnya terbit, perasaannya menghangat tanpa bisa dia cegah. Sambil menghela napas panjang, Jack pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian.
Di kamar Lily, Phoebe duduk di meja belajar gadis itu. Televisi di depan ranjang sedang memutar anime entah apa, Phoebe tidak tahu. Dia memang tidak pernah menonton anime atau kartun.
“Orangtua Kak Phoebe pasti penggemar berat serial Charmed, ya? Sampai-sampai, mereka kasih nama salah satu karakter di serial itu buat Kakak.” Lily masih saja berceloteh riang sambil mencari pakaian yang cocok untuk teman kakak sepupunya itu. “Aku suka banget sama serial itu. Aku suka sama tokoh Prudence.”
“Nama sepupu ipar gue... eh, aku, juga Prudence. Prudence Lexnarita. Cuma, dia dipanggil Lexna, bukan Prue,” terang Phoebe. Tanpa sadar, gadis itu terbawa obrolan Lily mengenai serial Charmed.
“Oh iya?” Lily tertawa renyah dan mengeluarkan sebuah kaus berlengan panjang dan celana jeans miliknya. Diserahkannya kedua pakaian itu kepada Phoebe. “Keren! Apa jangan-jangan, Kak Phoebe juga punya kenalan lain dengan nama Piper dan Paige? Dua saudara Phoebe dan Prue yang lain?”
Phoebe tertawa kecil dan menggeleng. Dia melepas kausnya di depan Lily dan menggantinya dengan kaus berlengan panjang dengan tulisan Kitten di tengahnya itu. “Kalau ada, pasti lucu, ya?”
Lily mengangguk antusias dan menopang dagu dengan kedua tangan. Dia kembali menekan tombol play pada DVD player miliknya, sehingga anime yang sedang dia tonton kembali berjalan.
“Lily siapanya Jack?” tanya Phoebe penasaran. Dia melipat pakaian basahnya dan menaruhnya di atas meja belajar. “Adiknya?”
“Adik sepupu, Kak.” Lily terlihat hebring dengan kemuncullan salah satu tokoh di anime tersebut. “Mamaku adiknya Papanya Kak Jack.”
“Berarti, Mama kamu orang Inggris?”
“Iya. Cuma, sejak lulus SMA, Mama pindah ke Indonesia karena suka dengan budaya Indonesia. Ketemu Papa di Bali dan akhirnya menikah.” Lily menjerit nyaring ketika ada adegan heroic pada anime tersebut. Gadis SMA itu bertepuk tangan heboh, membuat senyum Phoebe terbit.
Benar-benar polos, batin Phoebe geli.
“Kakak suka anime?” tanya Lily. Dia menoleh dan menatap Phoebe yang mengerjap.
“Nggak. Aku nggak tau apa pun soal anime atau kartun.”
“Kalau gitu, Kakak harus coba nonton ini.” Lily menyerahkan tempat DVD anime yang ditontonnya. “Ini Wedding Peach. Tokoh utama ceweknya, Momoko, punya darah malaikat di dalam tubuhnya. Dia saling jatuh cinta sama Yousuke, yang ternyata ada darah iblis dalam tubuhnya. Pokoknya, baper parah, deh!”
Phoebe membolak-balik tempat DVD yang dipegangnya. Gadis itu lantas menarik napas panjang dan menaruh tempat DVD itu kembali ke tempatnya.
“Dan ini soundtracknya.” Lily memperbesar volume televisi. “Kak Jack juga lumayan suka sama lagu ini. Kata dia, lagunya bikin galau. Emang beberapa hari ini Kak Jack keliatan murung dan galau, sih.”
“Oh ya?” Phoebe menoleh cepat. “Kenapa?”
Lily mengangkat bahu. “Waktu aku tanya, Kak Jack cuma bilang kalau dia lagi jatuh cinta sama seorang cewek, tapi cewek itu nggak percaya sama pernyataan cintanya. Padahal, dia tulus cinta sama cewek itu. Dia bilang, dia udah kalah sama seorang cowok yang baru dikenal si cewek.”
Phoebe mengerutkan kening. Apakah yang dimaksud Jack adalah dirinya dan... Haikal?
“Dia bilang, dia pernah liat cewek yang ditaksirnya ini lagi sama cowok itu. Berdua, di sebuah taman. Mereka keliatan akrab dan dekat.”
Benar! Yang dimaksud oleh Jack adalah dirinya dan Haikal!
“Terus?” tanya Phoebe ingin tahu.
Baru saja Lily hendak menceritakan lebih lanjut curhatan Jack tempo hari padanya, pintu kamarnya terbuka. Jack masuk dengan senyuman lembutnya sambil menyuruh Phoebe keluar untuk makan sup hangat buatan si Mbok.
###
“Phobia!”
Phoebe berhenti melangkah dan tersenyum tipis ke arah Jack yang berlari mendekatinya di koridor kampus. Dia senang Jack sudah memanggilnya dengan sebutan itu. Entah kenapa, hatinya menghangat dan meringan begitu saja.
“Apa, sih?” tanya Phoebe pura-pura kesal. “Jangan panggil gue dengan sebutan aneh itu lagi, Jok Mobil!”
Jack tertawa dan mengacak rambut Phoebe. Sejak kejadian di kolam renang dua hari yang lalu, hubungan Jack dan Phoebe bisa dikategorikan dalam kondisi yang baik. Mereka mengobrol banyak di taman belakang rumah Jack, chatting di salah satu aplikasi ponsel dan membuat janji untuk pergi ke Dufan besok.
Memang terlalu cepat, tapi, Phoebe sangat menikmati proses ini. Walaupun awalnya dia benci setengah mati pada Jack, tapi, ketulusan dan kesungguhan laki-laki itu membuatnya luluh juga. Apa yang harus Phoebe lakukan, kalau ternyata, dia juga mulai mencintai Jack? Entah disebut apa status hubungan mereka saat ini, yang jelas, Phoebe hanya ingin menikmatinya selama mungkin.
“Nggak usah cemberut gitu,” kata Jack seraya mengedipkan sebelah matanya. Laki-laki itu berencana mengungkapkan perasaannya sekali lagi kepada Phoebe besok di Dufan, menjadikan Phoebe sebagai pasangannya seumur hidupnya. Semoga saja Phoebe mau menerimanya.
Tanpa Phoebe, Jack merasa tidak sempurna.
“Selamat pagi pasangan heboh di tahun ini,” sela Jason yang datang seraya menguap. Dia mencubit kedua pipi Phoebe dengan gemas, membuat Jack segera mengenyahkan kedua tangan haram Jason dari pipi gadis itu. Phoebe sendiri hanya tertawa ketika melihat Jack dan Jason berdebat tidak jelas.
“Pajak jadian jangan lupa, ya!” teriak Jason sambil berlari. Jack mendengus dan menatap Phoebe yang menunduk karena malu akan ucapan Jason barusan. Rona merah menjalar pada pipinya, membuat Jack tersenyum geli dan kembali mengacak rambut gadis itu.
“Besok di taman dekat kompleks rumah lo, oke? Kita berangkat bareng.”
Phoebe mendongak dan mengangguk. Jack melambaikan tangannya untuk pamit mengejar Jason, saat Phoebe menahan lengan laki-laki itu. Secepat kilat, Phoebe berjinjit untuk mencium pipi Jack, kemudian kabur begitu saja dari hadapannya.
Jack yang kaget hanya bisa terpana. Dia menyentuh pipinya yang baru saja dicium oleh Phoebe dan sekarang laki-laki itu senyum-senyum sendiri seperti orang gila di koridor. Tidak peduli ketika beberapa pasang mata menatapnya dengan kening mengerut dan pikiran yang mengatakan bahwa Jack kemungkinan besar sudah kehilangan akal sehatnya.
###
Kalau kalian bisa mengontrol rasa cemburu kalian, maka kekuatan cinta kalian patut diacungi jempol...
Kata orang, semakin tinggi pohon, semakin besar angin menerpa.
Jack melajukan motornya dengan kecepatan sedang di kompleks perumahan Phoebe. Sejak berangkat, laki-laki itu tidak pernah berhenti tersenyum. Dalam kepalanya, muncul senyuman Phoebe, tawa Phoebe dan semua hal mengenai gadis itu.
Sampai kemudian, Jack menghentikan motornya tidak jauh dari taman karena melihat pemandangan itu.
Phoebe sedang duduk di salah satu bangku taman dan bangkit ketika seorang laki-laki berpostur tegap atletis menghampirinya. Dengan senyum sumringahnya, Phoebe memeluk laki-laki itu dengan sangat erat. Seolah-olah, dia sudah sering melakukannya dengan laki-laki tersebut.
Jack merasa sesak bukan main. Senyuman yang sejak tadi menghiasi wajahnya lenyap begitu saja. Perasaan bahagia yang dia rasakan sejak kejadian di kolam renang waktu itu, yang berhasil mendekatkannya dengan Phoebe, hilang tak bersisa.
Apakah laki-laki itu adalah laki-laki yang dicintai Phoebe?
Lantas, kenapa gadis itu mencium pipinya kemarin?
Kenapa Phoebe bersikap lain dari biasanya? Kenapa gadis itu seperti membuka diri dan hatinya untuk Jack?
Apa yang sebenarnya diinginkan oleh Phoebe darinya?
Apa gadis itu ingin mempermainkannya?
Well, kalau memang itu yang diinginkan oleh Phoebe, gadis itu berhasil melakukannya.
Mencoba meredam rasa cemburu yang berlebihan dan emosi serta rasa sesak yang menggelegak, Jack memutar motornya dan pergi meninggalkan kompleks perumahan Phoebe.
###
“Teman apa teman?”
Godaan itu membuat Phoebe tersipu malu dan mendorong bahu Zac. Sebuah kejutan bagi Phoebe ketika dia melihat sahabat Alviansa, isteri dari Altaro itu. Zac bilang dia sedang mengunjungi rumah salah satu temannya di daerah ini dan berniat mengunjungi Phoebe, ketika dia melihat gadis itu duduk di taman dengan pakaian rapi.
“Seorang Phoebe tersipu-sipu? Keren banget laki-laki yang udah berhasil bikin seorang Abimanyu berubah pemalu seperti ini.” Zac tertawa keras dan membiarkan Phoebe memukul lengannya berulang kali. Gadis itu memasang wajah cemberutnya.
“Bang Zac ngeselin banget, ya!” dengus Phoebe bete. Dia menarik napas panjang dan melihat jam tangan yang melingkar manis di pergelangan tangan kirinya.
Di mana Jack? Dia sudah terlambat dua puluh menit.
“Coba aja ditelepon, Phoebs,” saran Zac, ketika dia melihat kecemasan pada wajah gadis di sampingnya itu.
Phoebe mengangguk dan mengambil ponselnya. Dia mencari nama Jack, kemudian menekan tombol berwarna hijau pada layar.
Nomor yang Anda tuju sedang berada di luar jangkauan... cobalah beberapa saat lagi.
“Nggak aktif, Bang,” keluh Phoebe. Perasaannya mulai tidak tenang. Dia takut sesuatu yang buruk terjadi pada Jack.
Tuhan... lindungi laki-laki itu.
###
Jack mengendarai Ninjanya dengan kecepatan penuh. Laki-laki itu berusaha menahan emosinya namun tidak berhasil. Semakin dia berusaha meredam, semakin sesak dadanya. Dia ingin mengeluarkan semuanya dalam bentuk teriakan. Dia ingin hatinya merasa plong.
Seekor kucing melintas begitu saja di depannya, membuat Jack tersentak. Laki-laki itu menarik rem dan motornya langsung jatuh karena mendadak menjadi tidak stabil. Jack terlempar dari motornya dan terguling di aspal. Punggung dan kepalanya terbentur trotoar jalan, membuatnya mengerang hebat dan meringis menahan sakit.
Sebelum kesadarannya hilang total, sekelebat bayangan melintas di benaknya.
Bayangan seorang anak laki-laki kecil yang memberikan sebuah lolipop berbentuk hati kepada seorang anak perempuan sebayanya.
Lalu, anak laki-laki itu berkata, “Alright, then... be careful, cutie... see you next time.”
There’s a happiness in our chance meeting...
Then why does it change into loneliness?
The wings on my heart, injured...
Are now gazing at the distant sky...
(English Translete of Soundtrack Wedding Peach anime-Wedding Wars)
###