Chapter 11

2134 Words
Haikal berlari dari parkiran mobil menuju resto Amazing tempatnya bekerja sebagai seorang manager. Long coat cokelat yang dia kenakan terlihat sedikit basah akibat hujan yang turun sejak satu jam yang lalu, namun dalam intensitas sedang. Sambil mengacak rambutnya sendiri untuk sedikit mengeringkannya, laki-laki itu berjalan ke dalam resto tanpa memperdulikan decakan kagum yang jelas-jelas dikeluarkan oleh para pengunjung perempuan kepadanya. Kemudian, ketika dia mengangkat kepalanya dan tatapannya jatuh pada meja di sudut resto yang berada di samping jendela, sehingga memungkinkan pengunjung yang duduk di situ untuk menatap keadaan di luar, Haikal menghentikan langkah dan mengangkat satu alisnya.             Jam makan siang sudah habis dan Haikal memang baru kembali ke resto ini. Meskipun dia bekerja di sebuah resto, tapi Haikal lebih suka menghabiskan jam makan siangnya di luar. Karenanya, saat sekarang dia kembali ke resto untuk bekerja dan justru menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya, Haikal memutuskan untuk menghampiri pengunjung yang sedang duduk seraya menopang dagunya dengan sebelah tangan itu. Sangat jelas jika pikiran si pengunjung berwajah cantik itu tidak bersama dengan raganya di tempat ini.             “Hai,” sapa Haikal ramah. Yang disapa sedikit kaget, kemudian menoleh cepat. Kedua mata bulatnya mengerjap dan gadis itu tersenyum lebar.             Agak dipaksakan, Haikal sadar itu.             “Hai!” seru gadis itu berusaha riang. Sungguh, Haikal bukan anak kemarin sore yang tidak tahu mengenai gadis-gadis yang sedang galau atau semacamnya. Dia sudah dua puluh lima tahun dan dia paham betul ekspresi wajah gadis di depannya itu. “Habis darimana?”             “Hmm?” Haikal melepaskan long coat cokelatnya dan duduk di depan gadis itu. Dia memajukan tubuh, membuat wajahnya dan wajah gadis di depannya berdekatan dan kedua tangan Haikal yang refleks menangkup wajah gadis itu agar tidak menjauh darinya. Terlihat jelas gadis di depannya tersebut menahan napas dan mengerjapkan mata bulatnya, lagi. “Habis cari makan siang di luar. Lo sendiri? Apa yang lo lakuin di sini, Aurora?”             Aurora bingung harus menjawab apa. Tiba-tiba saja kemampuannya bernapas dan berbicara lenyap tak bersisa. Wajahnya justru memanas dengan cepat, padahal cuaca sedang dingin-dinginnya karena hujan yang mengguyur ibu kota sejak satu jam yang lalu. Gadis itu pun berusaha menjauhkan wajahnya dari wajah Haikal yang cukup dekat dengannya, namun laki-laki itu tidak mengizinkan.             “Kenapa, Ra?” tanya Haikal dengan nada geli yang disamarkannya. Dia mendapati diri menyukai kepolosan, kegugupan dan eskpresi salah tingkah Aurora yang menyambutnya sejak tadi. Ada desakan kuat dalam diri Haikal untuk mendaratkan bibirnya di pipi gembil merona gadis itu, namun laki-laki tersebut menahan diri sekuat mungkin.             Demi Tuhan! Dia dan Aurora bukanlah sepasang kekasih. Dia bahkan mengenal gadis itu belum lama ini dan rasanya tidak mungkin jika dia merasakan getaran cinta pada Aurora saat ini.             “Mmm... bisa lepasin tangan lo, Kal?” tanya Aurora gugup. Sungguh, debaran jantungnya saat ini berada di atas ambang normal dan Aurora takut kalau ini akan berakibat buruk pada kesehatan jantungnya. Dia belum mau mati muda, terlebih karena penyakit jantung. “Nggak enak diliat orang lain, Kal.”             “Urusannya apa sama orang lain?” tanya Haikal lagi. Laki-laki itu bahkan tertawa renyah dan geli. “Mereka nggak berhak mengomentari apa pun yang gue lakuin, kan? Mereka nggak berhak mengurus kehidupan gue.”             Benar, sih, tapi...             “Mmm, Kal... gue mau ke toilet dulu,” kata Aurora sambil tersenyum kikuk. Gadis itu memegang kedua tangan Haikal dan menjauhkan tangan tersebut dari wajahnya. Tak lama, Aurora bangkit dan membungkukkan tubuh setengah untuk pamit pada Haikal dan gadis itu melesat bak roket ke toilet.             Membuat Haikal tertawa karena ulah Aurora. Tawa yang benar-benar geli.             “I’ll be damned!” Haikal menggeleng kemudian menunduk seraya menarik napas.             This is no good. ### Mungkin banyak hal yang bisa dilakukan oleh seorang Phoebe Venzilla Abimanyu. Katakanlah memanah, menembak, bela diri, membidik dengan pisau, berkuda dan lain sebagainya. Tapi, ada juga yang ditakutkan oleh Phoebe. Seperti orang-orang bertopeng—baik dalam bentuk konotatif maupun denotatif, juga... kolam renang.             Sejak kecil, Phoebe memang diajarkan berenang oleh ayahnya. Namun, ketika insiden itu menyerangnya saat dia berusia tujuh tahun, dia tidak pernah lagi menyentuh air di dalam kolam renang.             Waktu itu, Phoebe sedang berenang bersama teman-teman seusianya. Tentu saja dia ditemani oleh dua orang pembantu perempuan dan tiga pengawal. Bagi seorang keturunan Abimanyu, dia harus selalu dijaga dan dilindungi dari para rival ayahnya yang sangat mendambakan kematian beliau dan juga keluarganya. Karena itu, sebisa mungkin, tidak boleh ada yang tahu identitas Phoebe.             Saat sedang bersenda-gurau bersama teman-temannya di pinggir kolam yang kedalamannya hampir satu meter setengah, Phoebe terpeleset. Dia tercebur ke dalam kolam renang dan tidak sanggup naik ke permukaan. Pertama, Phoebe saat itu masih belum bisa berenang di tempat yang terlalu dalam. Dia hanya bisa berenang di kedalaman air yang hanya mencapai pahanya saja. Kedua, dia terpeleset di tempat yang jauh dari keramaian, sehingga gadis itu sudah pasrah kalau harus menghadap malaikat maut.             Namun, seseorang berhasil menyadari keberadaannya akibat teriakan teman-temannya. Dia ditarik ke permukaan dan diberi pertolongan. Saat dalam keadaan setengah sadar, seseorang yang sudah menolongnya itu tersenyum lega dan membantu Phoebe untuk duduk. Laki-laki gagah itu menyelimutinya dengan handuk besar dan mengusap rambutnya penuh kasih sayang. Lalu, teman-teman Phoebe yang lain datang bersama para pengawal dan para pembantu gadis itu.             Marcus Abimanyu tentu saja marah besar. Dia mencaci kelima anak buahnya itu dan nyaris saja memecat mereka, kalau bukan karena permohonan Phoebe. Setelah berhasil menenangkan sang ayah, Phoebe pergi ke kamar dan memeluk boneka beruangnya.             Satu hal yang dia ingat ketika si penolong pergi dari hadapannya. Seorang anak seusia dengannya tersenyum ke arahnya dan memberikan permen lolipop berbentuk hati kepadanya.             “Are you ok?” tanya anak laki-laki itu kemudian. Dia mencubit pipi Phoebe gemas. “Need medicine or something?”             Phoebe menggeleng lemah dan membalas senyumannya. “No, thanks. I just wanna go home right now.”             “Alright, then... be careful, cutie. See you next time.”             Setelahnya, Phoebe tidak pernah bertemu lagi dengan anak laki-laki yang sudah memberikannya lolipop itu.             “Ngapain ke sini, sih?” tanya Phoebe akhirnya, ketika dia tersadar dari lamunannya di masa kecil dulu. Tsania, Gia dan Rossi mengajaknya ke salah satu sport center yang berada tak jauh dari kampus. Karena dosen mata kuliah terakhir berhalangan hadir, mereka mengajak Phoebe untuk berenang guna menghilangkan penat.             “Main ular tangga, Phoebs,” balas Tsania cuek. Jawaban itu diikuti derai tawa Gia dan Rossi. Ketiganya memang sudah memiliki rencana untuk berenang pada hari ini, dan menyeret Phoebe karena merasa gadis itu sedikit berubah menjadi pendiam. Ketiganya hanya ingin menghibur Phoebe yang dirasa memiliki banyak masalah. “Pinjam baju renangnya, gih.”             “Nggak. Gue nggak mau berenang.” Phoebe menolak tegas dan melenggang menuju pintu keluar, ketika Gia langsung menarik lengannya untuk kembali duduk di meja yang sudah mereka tempati.             “Kenapa, sih? Lo nggak bisa berenang?” tanya Gia penasaran. Phoebe diam dan mendengus pelan. Walau gadis itu tidak menjawab, ketiga temannya sudah tahu jawaban tersebut.             Phoebe memang tidak bisa berenang.             “Awalnya gue bisa berenang,” jelas Phoebe tanpa diminta. “Tapi, karena satu alasan di masa kecil, gue jadi takut ngeliat kolam renang.”             “Phobia, gitu?”             “Bisa jadi.” Phoebe nampak berpikir sejenak. Pertanyaan Rossi tadi mengingatkannya pada Jack yang selalu memanggilnya dengan sebutan itu. “Tapi, gue rasa nggak separah itu sampai harus dibilang phobia.”             “Mendingan, kita ngobrol sambil duduk aja sebelum berenang,” ajak Tsania. “Kita ada di tepi kolam dan ngalangin orang yang mau—“             Peringatan yang datangnya sepersekian detik dari Tsania, menjelang tubuh Phoebe terlempar begitu saja ke kolam di sampingnya.             Lagi, Phoebe seperti merasakan deja vu. Dulu, dia terpeleset ke dalam kolam berkedalaman dua meter. Sekarang, seseorang menyenggolnya, menyebabkannya jatuh ke dalam kolam dengan kedalaman yang sama. Dia sempat mendengar teriakan ketiga temannya, sebelum kemudian tubuhnya menghantam air begitu saja.             Phoebe berusaha menggali ingatannya akan teknik berenang yang baik. Sayang, ingatan masa kecilnya membuat gadis itu takut. Alhasil, Phoebe dengan panik berusaha naik ke permukaan namun tidak berhasil. Paru-parunya mulai tidak bisa diajak kompromi, dadanya terasa berat, pun dengan matanya. Sebelum benar-benar hilang kesadaran, dia melihat seseorang menerjang ke arahnya dan menariknya ke permukaan.             Tsania, Gia dan Rossi yang tadinya bersiap menolong Phoebe, kontan menghentikan niat mereka, tepat ketika seseorang berlari begitu saja ke dalam kolam. Ketiga gadis itu saling tatap dan tersentak saat menyadari kehadiran Jason.             “Lo bertiga parah, ya, mainnya. Ngapain si Phoebe didorong ke dalam kolam begitu, sih?”             “Sinting!” seru Gia bete sambil menoyor kepala Jason yang langsung memberengut. Heran, akhir-akhir ini kepalanya selalu jadi korban kekerasan tangan para mahasiswi di kampusnya. “Dia kesenggol orang, tadi, terus nyemplung.”             “Bahasa lo, Ya,” balas Jason. Laki-laki itu berdecak mengejek. “Lo kudu belajar bahasa Indonesia yang baik dan benar kayaknya.”             Baru saja Gia akan membalas ucapan Jason, sosok Phoebe terlihat diangkat ke permukaan. Ketiga gadis itu mengangkat alis mereka masing-masing, saat menyadari bahwa Jack Thampson lah yang sudah melompat masuk ke kolam renang untuk menyelamatkan Phoebe.             “Duileh... jadi iri gue sama kemesraan mereka berdua,” kata Jason. Dia kemudian langsung mendapat toyoran sepenuh hati pada kepalanya dari Tsania, Gia dan Rossi, yang membuatnya bersungut-sungut ria.             Di tepi kolam, Jack mengontrol napasnya. Dia menepuk pelan pipi Phoebe dan memanggil nama gadis itu. Air yang jatuh dari rambutnya mengenai wajah pucat Phoebe, membuat Jack mengumpat karena tidak melihat gerakan naik-turun pada d**a gadis itu.             “Phoebe, bangun!” teriaknya panik. Dia masih saja menepuk pipi Phoebe dan akhirnya mengambil satu keputusan.             Laki-laki itu memberikan napas buatan kepada Phoebe.             Pada pemberian napas buatan yang ketiga, Phoebe terbatuk dan mulutnya mengeluarkan air. Gadis itu mencoba bangun, dan Jack langsung membantunya. Dia merangkul pundak Phoebe dan tersenyum lega ke arah gadis itu.             “Are you ok?” tanya Jack cemas. Phoebe yang sudah sadar sepenuhnya kini mendongak dan bertemu mata dengan Jack.             Lalu, debar jantungnya mulai meningkat drastis.             “Jack? Lo... apa yang lo lakuin di sini?” tanya gadis itu. Entah kenapa, dia sempat melihat Jack dalam mimpinya tadi dan sekarang, laki-laki itu ada di hadapannya. Hal itu membuat Phoebe merasa bahagia, entah mengapa.             “Jason ngajak gue berenang. Sekalian, gue butuh penyegaran otak,” jawab Jack. Laki-laki itu kemudian menegakkan tubuh Phoebe agar gadis itu bisa duduk sempurna, lantas menangkup wajahnya. “Need medicine or something?”             DEG!             Pertanyaan ini... dua pertanyaan Jack ini mengingatkan Phoebe akan anak kecil yang dulu ada di hadapannya saat dia diselamatkan dari kolam renang. Tanpa sadar, sebelah tangan Phoebe terangkat dan menyentuh pipi Jack yang basah oleh air kolam. Matanya memanas begitu saja dan dia pasti sudah menangis sekarang. Terlihat dari sorot terkejut yang diberikan Jack untuknya.             “Phoebe? Lo kenapa?” tanya Jack semakin cemas. Dia membiarkan tangan Phoebe mengusap pipinya.             “I just... i just wanna go home.” Gadis itu memberikan jawaban yang sama, seperti yang dilakukannya empat belas tahun yang lalu. Dia menunggu dengan jantung berdegup kencang. Menunggu ucapan Jack selanjutnya.             “Alright, then... be careful, cutie....” Jack membantu Phoebe berdiri dan merangkul pinggangnya sambil tersenyum menenangkan ke arah gadis itu. “I’ll walk you home, then....”             Ada beberapa kalimat yang sama, namun ada yang berbeda. Sebutan cutie itu bahkan masih terdengar sama. Ya Tuhan... apakah Jack adalah anak kecil yang dulu memberikannya lolipop berbentuk hati itu?             Mendadak, Phoebe menghentikan langkahnya. Hal itu membuat Jack ikut berhenti melangkah dan menatap gadis itu dengan kening berkerut. Jason, Tsania, Gia dan Rossi pun demikian. Keempatnya menatap Phoebe dengan tatapan ingin tahu.             “Phoebs? Lo nggak apa-apa, kan?” tanya Jack untuk yang kesekian kalinya. Mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa gadis di sampingnya ini memang tidak apa-apa. Karena, kalau sampai Phoebe kenapa-napa, Jack tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri yang sudah gagal menjaga dan melindungi Phoebe.             Gadis yang dicintainya itu.             “Apa... apa lo pernah ngasih lolipop ke seorang anak perempuan, waktu dia diselamatkan dari kolam renang karena tenggelam, Jack?” tanya Phoebe akhirnya. Gadis itu ingin tahu. Dia harus mencari tahu apakah Jack adalah anak laki-laki itu atau bukan.             Jack nampak berpikir. Kemudian, gelengan kepalanya membuat tubuh Phoebe lemas begitu saja. Gadis itu menunduk, berusaha menghilangkan rasa sesak dan sedih yang tiba-tiba saja hadir. Kenangan indahnya itu, ketika bertemu dengan anak laki-laki tersebut, yang sempat hadir ke permukaan, dan berharap kalau Jack adalah anak itu, pupus. Dia bahkan tidak sadar kalau Jack sudah melepaskan rangkulan tangannya pada pinggangnya dan pergi entah ke mana.             Lalu, Phoebe kembali menangis.             Dia rindu anak kecil itu... dia ingin bertemu lagi... dia belum sempat mengucapkan terima kasih karena sudah memberikannya sebuah lolipop berbentuk hati.             “Phoebe? Lo baik-baik aja, kan?” tanya Tsania seraya merangkul pundaknya. Dia merasa bersalah pada Phoebe, pun dengan Gia dan Rossi. Sementara itu, Jason menarik napas panjang dan menepuk pundak Phoebe beberapa kali.             Sampai akhirnya, sebuah lolipop berbentuk hati muncul di depan kedua mata Phoebe. Membuat gadis itu mematung dan mendongak. Matanya bertemu dengan mata Jack. Laki-laki itu tersenyum lembut.             “Buat lo.” Jack mengambil tangan Phoebe dan menaruh batang lolipop berbentuk hati itu ke telapak tangan gadis yang masih terkejut di depannya tersebut. Kemudian, Jack mengusap rambut Phoebe dengan penuh perasaan dan mengulurkan tangan kanannya. “Pulang?”             Phoebe menatap uluran tangan Jack tersebut. Hatinya menghangat tanpa bisa dia cegah. Rasa sesak tadi masih terasa, tapi sesak penuh bahagia. Bahagia karena perlakuan Jack ini. Phoebe menyunggingkan seulas senyum dan menyambut uluran tangan Jack tersebut, diiringi siulan menggoda dari Jason, Tsania, Gia dan Rossi.             Satu hal yang Phoebe yakini saat ini.             Dia memang mencintai Jack Thampson. ###  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD