Perubahan sikap Jack membuat Phoebe frustasi.
Gadis itu terbiasa dengan semua kejahilan dan keisengan Jack, sehingga ketika Jack justru mendiamkannya seperti ini, Phoebe merasa ada yang hilang. Tidak ada lagi tawa keras dari Jack saat laki-laki itu memanggilnya dengan sebutan Phobia. Bahkan, nama panggilan menyebalkan yang Jack ciptakan khusus untuknya itu pun tidak lagi terdengar. Semua terasa aneh dan asing bagi Phoebe.
Diam-diam, Phoebe melirik Jack. Laki-laki itu nampak sibuk dengan ponselnya sambil menopang dagu dengan sebelah tangan. Sama sekali tidak peduli dengan penjelasan dosen di depan sana. Phoebe jadi ingat, waktu itu, saat dia bertengkar hebat dengan ayahnya di ponsel, Jack memergokinya. Laki-laki itu dengan seenak dengkulnya mengambil foto Phoebe yang sedang menangis dan mengancam akan menyebarkannya ke seluruh penjuru kampus, kalau gadis itu tidak mau menuruti keinginannya. Namun, setelah kejadian hari itu, Jack justru tidak merealisasikan ancamannya dan tidak mendesak Phoebe untuk melakukan apa pun yang laki-laki itu inginkan.
Phoebe menarik napas panjang dan menunduk menatap mejanya. Ada perasaan hampa dan kosong yang masuk ke dalam hatinya saat ini. Dia tidak suka kalau Jack bersikap acuh padanya. Dia tidak suka kalau Jack cuek padanya dan tidak lagi memanggilnya dengan sebutan aneh itu.
Mungkin, dia harus berdamai dengan dirinya sendiri dan mulai jujur pada perasaannya.
Mungkin, sedikit-banyak, Jack memang sudah menempati ruang khusus di hatinya. Jack sudah menjadi bagian dari hatinya.
Mungkin, Phoebe sudah mulai mencintai Jack.
Lagi, Phoebe menarik napas panjang. Gadis itu memijat pelipisnya dan memejamkan kedua mata. Penjelasan dosen bagaikan dimensi gaib yang saat ini mencoba merasukinya namun gagal. Yang ada di otak Phoebe hanyalah perubahan drastis pada diri Jack. Hanya Jack, bukan yang lain.
Ketika kedua matanya terbuka, Phoebe teringat sesuatu. Dua hari yang lalu, dia sempat kaget saat mendapati diri sudah berada di kamarnya sendiri. Waktu itu, Phoebe bertanya pada Zerokha yang memang sedang menjaganya di kamar. Zerokha bilang, seseorang bernama Haikal sudah mengantarnya pulang dan membelikannya obat. Haikal bilang pada Zerokha bahwa dirinya pingsan karena kelelahan, kehujanan dan belum makan. Altaro dan Redhiza bahkan sempat mengomelinya sementara Zerokha hanya menahan senyum.
Dibukanya ransel dan ditatapnya kaus serta celana training yang sudah terlipat rapi. Pakaian milik Haikal. Kata Zerokha, Haikal berkata bahwa pembantunya lah yang sudah mengganti pakaian basah Phoebe dengan pakaian kering milik laki-laki itu. Haikal juga memberikan nomor ponselnya untuk Phoebe kepada Zerokha.
“Phoebe,” panggil seseorang dengan nada berbisik, membuat lamunan Phoebe buyar. Gadis itu menoleh dan mengangkat satu alisnya ketika senyuman Jason menyambutnya. “Lo lagi berantem sama Jack, ya? Kok tumben, sih, nggak ada adegan so sweet seperti biasanya?”
Phoebe memutar bola matanya kesal dan menoyor kepala Jason. Adegan so sweet apanya? Si Jason ini otaknya udah kecampur sama limbah pabrik, kali, ya? Orang yang dilakukan Phoebe dan Jack setiap harinya berdebat, kok.
Tatapan Phoebe tidak sengaja mengarah pada Jack. Laki-laki itu sedang mengobrol pelan dengan Aurora. Nampak gadis itu terlihat menahan tawa dan menggelengkan kepala, sementara Jack menunduk untuk menyembunyikan tawanya yang sudah keluar namun dalam intonasi pelan. Tiba-tiba saja, perasaan sesak itu menyeruak keluar dalam hati Phoebe, membuatnya menoleh dan mengerjapkan mata untuk mengusir lapisan bening yang sangat mengganggu itu.
Rasanya dia ingin sekali menangis.
###
Jack ingin sekali meninju dirinya saat ini.
Benar-benar payah! Pengecut tingkat dewa! Bagaimana bisa dia mengabaikan Phoebe, bersikap cuek pada gadis itu, padahal selama tiga hari ini yang ada dalam otak dan mimpinya hanya Phoebe seorang? Jelas-jelas dia sangat merindukan Phoebe, tapi, begitu melihat Phoebe tadi saat tidak sengaja bertabrakan di pintu kelas, dia justru melewati Phoebe begitu saja, seolah gadis itu tidak ada di sana. Entahlah, begitu bertatapan dengan Phoebe, ucapan Haikal kembali hadir. Membuatnya tidak bisa mengontrol diri dan akhirnya malah menghindari gadis itu.
Hari ini, sikap Phoebe berbeda dari biasanya. Gadis itu jadi pendiam, entah kenapa. Apa ada hubungannya dengan Haikal? Apa sesuatu sudah dilakukan Haikal pada Phoebe malam itu? Sialan! Seharusnya dia yang mengantar Phoebe pulang saja malam itu, bukannya malah sok menyuruh Haikal untuk mengantar gadis itu.
Jack Thampson, you’re such an i***t!
“Ngelamun lagi....”
Suara lembut itu menginterupsi pikiran Jack, membuatnya mendongak dan senyuman Aurora menyambutnya. Jack balas tersenyum kemudian menghembuskan napas panjang. Dia mempersilahkan Aurora untuk duduk bersamanya. Ini adalah kali pertama Jack mau makan di kafetaria kampus. Selama ini, Jack hanya mau membeli makanan di kafetaria, lalu dia akan memakan makanannya di tempat lain. Dia tidak pernah mau makan berdesakan di tempat ini.
“Cuma lagi mikir, Ra,” kata Jack membela diri. Dia menawari Aurora kentang goreng yang dipesannya namun belum disentuh sama sekali itu. “Biasanya lo bawa bekal makan siang.”
“Lagi nggak mood bawa bekal,” balas Aurora seraya mengangkat bahu tak acuh. “Mikirin Phoebe, ya?”
Jack tertawa renyah dan menggeleng geli. Tidak menyadari perubahan wajah Aurora yang mendadak sendu saat menyebut nama Phoebe.
“Nggak ada satu hal pun yang bisa menggantikan posisi Phoebe di otak dan hati gue, Ra....”
DEG!
Sangat menyakitkan. Namun, sebisa mungkin, Aurora tetap tersenyum dan mengabaikan denyut sakit pada hatinya. Sejak awal, dia sudah paham bahwa Jack tidak akan pernah berpaling dari Phoebe, meskipun gadis itu justru menganggap Jack seperti wabah penyakit mematikan.
“Jack, gue boleh tanya sesuatu?”
Jack yang sedang meminum jus jeruknya mengangguk.
“Misalkan... seandainya, ada seorang gadis yang mencintai elo, tapi dia nggak berani mengungkapkan dan hanya berani mengawasi lo dari jauh, dan dia juga tau kalau lo cinta sama Phoebe, apa yang bakal lo lakuin, kalau lo tau soal perasaan si gadis ini?”
Jack diam. Dia menatap kedua manik Aurora dengan tatapan teduhnya. Senyum Jack mengembang dan laki-laki itu menarik napas panjang.
“Gue akan minta maaf sama gadis itu dan minta dia untuk cari laki-laki yang lebih baik daripada gue. Kalau gue maksa untuk tetap menerima gadis itu supaya dia nggak sedih, itu sama aja gue nyakitin dia. Mungkin sebagian orang akan bilang, kalau gue mau menerima cinta gadis itu, gue akan membantu menjaga dan melindungi hatinya. Kenyataannya, yang gue lakukan justru bukan melindungi hatinya, tapi menghancurkan hatinya.”
Aurora tertegun kala mendengar jawaban Jack. Dia mendapati diri tidak bisa mengalihkan tatapannya ke arah lain. Senyuman Jack, tatapan Jack, jawaban Jack atas pertanyaannya, semua hal itu membuat Aurora merasa semakin jatuh hati.
Tuhan... tidak bisakah dia melupakan Jack? Membunuh perasaan cintanya pada Jack? Apa yang harus dia lakukan untuk menghilangkan Jack dari otak dan hatinya?
“Gue tau, Ra....”
Aurora tersentak dan mengerutkan kening. Apa? Apa yang diketahui oleh Jack? Jangan bilang kalau...
Di sisi lain, senyuman Jack semakin mengembang. Lembut dan tulus. Seperti sorot mata laki-laki itu saat ini.
“A—apa?” tanya gadis itu mendadak gugup dan takut.
“Gue tau kalau lo suka sama gue.”
DEG!
Ya Tuhan... jadi... Jack tahu soal perasaannya?
Perasaan Aurora saat ini campur aduk. Dia ingin menghilang dari hadapan Jack, tapi dia tidak mau bersikap seperti seorang pengecut yang kabur dari masalah. Jadi, yang dilakukan oleh Aurora hanya diam dan mematung. Menunggu ucapan selanjutnya yang akan dikeluarkan oleh Jack untuknya.
Jack sendiri tidak bermaksud membuat Aurora resah dan malu. Sudah sejak lama dia sadar akan perasaan Aurora untuknya itu. Waktu itu, Tarra, sahabat Aurora tapi berbeda kampus, mendatanginya. Tarra tipikal orang yang keras dan tidak suka jika ada orang lain yang tersakiti. Apalagi, yang tersakiti menurut versinya itu adalah sang sahabat. Padahal, Jack merasa tidak melakukan apa pun yang bisa dikategorikan sebagai menyakiti, bukan?
Tarra mendatanginya di kelas, tepat ketika Aurora tidak hadir karena sakit. Menurut Jack, Tarra mungkin langsung mengambil kesempatan untuk bertemu dengannya saat sang sahabat tidak berada di kampus. Dengan tampang juteknya, Tarra menyuruh Jack mengikutinya dan mereka berbincang di taman belakang.
Di situlah, Tarra mengomelinya habis-habisan dan memakinya. Mengatainya tidak peka pada perasaan gadis sebaik Aurora dan mengancamnya untuk menjauhi Aurora.
“Kalau... kalau lo tau....” Aurora menunduk dan membasahi bibirnya. “Kenapa lo justru bersikap baik sama gue? Lo bahkan ngedeketin gue, Jack. Bukannya itu malah bikin gue jadi tambah suka sama lo? Apa lo nggak memikirkan konsekuensi itu?”
Jack menaruh telapak tangannya di kepala Aurora, membuat gadis itu mendongak untuk menatap Jack.
“Gue bukan orang baik, tapi gue juga bukan orang b******k, Ra... meskipun gue tau perasaan lo untuk gue, gue nggak akan menjauhi lo. Karena lo teman gue. Karena manusia harus saling bersikap baik. Lagipula, bukan gue yang menyakiti lo karena mendekati lo, tapi lo yang menyakiti diri lo sendiri dengan menganggap sikap baik gue selama ini sebagai bentuk rasa suka gue untuk lo. Itu pun kalau lo berpikir demikian....”
Aurora lagi-lagi tertegun. Apa yang diucapkan Jack memang benar. Selama ini, dia beranggapan bahwa Jack mungkin saja menaruh rasa untuknya, karenanya, laki-laki itu kerap mendekatinya bahkan mau menerima bekal makan siang yang dia buat untuknya.
“Jangan pernah menghindari gue, ya, Ra,” kata Jack. Laki-laki itu mengacak rambut Aurora penuh kasih dan mengangsurkan kelingkingnya. “Teman?”
Aurora menatap kelingking Jack. Walaupun menyakitkan, dia akan berbesar hati menerima kenyataan bahwa Jack memang bukan untuknya. Mungkin, suatu hari nanti, dia bisa menemukan laki-laki yang jauh lebih baik dari Jack.
Tanpa ragu, Aurora mengaitkan kelingkingnya ke kelingking Jack sambil tersenyum lebar.
“Teman!”
Keduanya pun tertawa. Awal yang baru bagi pertemanan di antara Jack dan Aurora pun dimulai.
###
Gadis dengan pakaian ala kerajaan itu berlari kencang. Sesekali, dia akan menoleh ke belakang guna mencari tahu apakah mereka masih mengikutinya atau tidak. Ternyata, para orang jahat itu tidak gentar. Mereka masih berlari mengejarnya dan berniat membunuhnya. Ketiga kakaknya tewas karena berusaha melindunginya, sementara Pangeran Artemis, sang suami, entah berada di mana.
Putri Slavia mulai tidak sanggup untuk berlari lebih jauh lagi. Dia melihat sebatang pohon besar dan memutuskan untuk bersembunyi di baliknya. Sambil mengatur napas yang tersengal, Putri Slavia teringat akan pengorbanan ketiga kakaknya dan akhirnya menangis.
Ketiga kakaknya yang sangat dia sayangi sudah tidak ada lagi di dunia ini. Dia sebatang kara sekarang. Siapa gerangan orang-orang yang berniat membunuhnya dan semua keluarganya itu? Apa kesalahan mereka?
“Putri Slavia?”
Suara itu, disusul dengan sentuhan ringan pada lengannya, membuat Putri Slavia terlonjak dan refleks berteriak sambil menjauh. Ketika cahaya bulan berhasil menerangi wajah orang yang baru saja memanggil dan menyentuhnya itu, barulah dia bisa mengontrol ketakutannya.
“Pa... Pangeran Flamel,” ucap gadis itu dengan nada terbata. Air matanya menjadi deras tanpa bisa dia cegah. Lalu, tiba-tiba saja, Putri Slavia berlari ke arah Pangeran Flamel dan memeluknya erat.
Membuat perasaannya menjadi lebih tenang dan nyaman.
“Putri Slavia, apa yang sedang kau lakukan di sini?” tanya Pangeran Flamel cemas. “Ada apa?”
“Mereka... mereka membunuh ketiga kakakku dan sekarang sedang mengejarku juga,” jelas Putri Slavia dengan nada takut. Dia mendongak, menatap manik Pangeran Flamel yang membesar karena terkejut pada ucapannya barusan. “Mereka mencoba membunuhku juga!”
Tak lama, suara tawa menakutkan itu terdengar. Sigap, Pangeran Flamel membawa tubuh Putri Slavia ke belakang, menjadikan dirinya sendiri sebagai perisai. Pangeran Flamel menarik pedangnya keluar dan menatap beberapa orang dengan pakaian serba hitam.
“Siapa kalian?” tanyanya tegas.
“Jadi, ini yang kau lakukan di belakangku, Putri Slavia? Berselingkuh dengan Pangeran Flamel?”
Pertanyaan itu diiringi dengan sosok laki-laki yang keluar dari barisan orang-orang berpakaian serba hitam tersebut. Betapa terkejutnya Putri Slavia saat melihat Pangeran Artemis tersenyum jahat ke arahnya.
“Pangeran Artemis?! Kau?!” serunya tidak percaya.
“Ya, aku lah yang menyuruh mereka untuk membunuhmu dan keluargamu! Aku ingin menguasai harta kekayaan kalian dan juga kerajaan kalian. Lalu, aku akan menikahi gadis yang sangat kucintai sejak dulu. Dia adalah... istrimu, Pangeran Flamel! Putri Aurora!”
Pangeran Flamel tersentak dan rahangnya mengeras.
“Kau pikir dia mencintaimu, begitu? Kau salah besar! Dia hanya mencintaiku dan terpaksa menikah denganmu karena perintah kedua orangtuanya! Kami saling mencintai, sama seperti kau dan Putri manja itu yang juga saling mencintai!”
Pangeran Flamel menatap ke balik punggungnya dan berusaha memberitahu Putri Slavia melalui tatapan matanya serta senyumannya, bahwa semua akan baik-baik saja.
“Pergilah kalian ke neraka!” teriak Pangeran Artemis.
Lalu, Phoebe terlonjak dan menjauhkan kepalanya dari meja.
Gadis itu terengah-engah. Mimpi anehnya barusan benar-benar menguras tenaganya. Peluh membanjiri wajah cantiknya, meski ruangan kelas ini ber-AC. Sambil mengusap wajah dengan kedua tangan, Phoebe menggigit bibir bawahnya tegang.
Mimpi tadi... kenapa dia bisa bermimpi seperti itu? Kalau tidak salah, nama-nama yang muncul di mimpinya tadi adalah nama dari orang-orang yang diceritakan salah satu temannya tempo hari, kan? Tentang zaman kerajaan entah apa itu. Lantas, kenapa dia memimpikannya? Bahkan, dia merasa seperti berada dalam mimpi tersebut.
“Jangan tidur di kelas makanya. Mungkin lo nggak tau, tapi, kelas ini ada penunggu gaibnya. Mimpi buruk lo barusan mungkin kerjaan dari para makhluk halus penunggu kelas ini.”
Suara itu membuat kepala Phoebe berputar cepat. Dia menatap Jack yang masuk ke dalam kelas dan menuju kursinya untuk kemudian memakai ransel hanya di satu pundak. Tanpa menatap Phoebe, laki-laki itu berjalan lagi ke luar kelas.
“Jack!”
Entah dorongan darimana, Phoebe memanggil laki-laki itu tepat ketika Jack sudah berada di ambang pintu. Jack tidak menatapnya, laki-laki itu memunggunginya. Walau rasanya sangat sakit diabaikan seperti ini, tapi Phoebe mencoba bertahan.
“Minggu depan acara ulang tahun gue yang ke dua puluh satu,” kata gadis itu gugup. Kegugupan yang entah datang darimana. Mimpinya barusan bahkan tidak lagi menjadi beban pikiran Phoebe. “Kalau lo bersedia datang, gue akan menunggu lo di rumah. Undangannya baru gue bagiin besok. Kalau lo nggak datang, gue juga nggak akan maksa.”
Keduanya diam. Phoebe menunggu jawaban Jack dengan hati berdebar, sementara Jack menahan diri untuk tidak berlari ke arah Phoebe dan memeluk gadis itu dengan erat.
“Akan gue pikirin,” ucap Jack kemudian. Lalu, dia menoleh sedikit melalui pundaknya. “Pulang, jangan tidur di sini. Bahaya.”
Sepeninggal Jack, ada rasa senang yang terbit di hati Phoebe saat tahu laki-laki itu mengkhawatirkannya. Walaupun Phoebe tidak tahu apa yang sudah membuat sikap Jack berubah, tapi, setidaknya laki-laki itu masih mencemaskannya.
“Makasih, Jack... makasih.” Phoebe bergumam pelan sambil tersenyum dan memegang dadanya yang terasa hangat. Tidak menyadari kalau Jack mengawasi dari celah pintu dan ikut tersenyum ke arah gadis itu.