Tadinya, Haikal ingin mengantar Phoebe pulang ke rumahnya. Hanya saja, saat dalam perjalanan, Haikal mengira jika Phoebe tertidur, sehingga dia membiarkan gadis itu untuk tidur sejenak dan akan dibangunkannya nanti sekitar lima sampai lima belas menit kemudian, guna menanyakan alamat rumah gadis itu. Walaupun Phoebe adalah anak dari seorang pengusaha terkenal, tapi, Haikal tidak tahu alamat rumahnya. Haikal adalah tipikal orang yang tidak mau ambil pusing dengan kehidupan orang lain. Termasuk kehidupan orang-orang terkenal layaknya artis, pengusaha atau yang lainnya.
Setelah melewati lampu merah, Haikal menepikan mobilnya. Laki-laki itu menoleh, tersenyum samar ke arah Phoebe yang masih terlelap. Setelah mendaratkan telapak tangannya di lengan gadis itu, Haikal mengangkat satu alisnya. Suhu tubuh Phoebe sangat tinggi, membuat laki-laki itu terperanjat dan langsung memegang keningnya.
“Phoebe?” panggil Haikal pelan. Tidak ada respon apa pun. Haikal mencoba mengguncang tubuh Phoebe pelan-pelan, namun gadis itu tetap tidak memberikan reaksi apa pun. Akhirnya, setelah terus memanggil nama Phoebe, bahkan guncangan di tubuh gadis itu pun berubah menjadi lumayan kencang, Haikal menarik kesimpulan.
Gadis itu pingsan.
Langsung saja, Haikal membawa Phoebe ke rumah sakit. Gadis itu diperiksa oleh dokter dan beliau mengatakan bahwa Phoebe hanya kelelahan dan lambungnya belum terisi apa pun. Akibat kehujanan, suhu tubuh gadis itu merangkak naik dengan drastis. Setelah memberikan resep obat yang harus ditebus oleh Haikal di apotek, dokter mempersilahkan Haikal membawa Phoebe pulang ke rumah karena tidak ada hal serius apa pun yang perlu dikhawatirkan.
Lagi-lagi, karena tidak tahu alamat rumah Phoebe, juga karena ponsel gadis itu mati, Haikal tidak memiliki pilihan lain, selain membawa gadis itu ke rumahnya. Di sana, seorang pembantu yang diperkerjakan Haikal setiap harinya dari pagi hingga malam, menyambut kedatangannya dengan wajah cemas karena melihat Phoebe yang berada dalam gendongan Haikal. Laki-laki itu langsung menyuruh pembantunya untuk mengganti pakaian Phoebe dengan kaus miliknya dan juga celana training, membuatkan Phoebe bubur dan teh panas, lalu mempersilahkan wanita itu untuk pulang ke rumah.
Hanya Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi pada dirinya, jika salah satu anggota keluarga Phoebe menemukan gadis itu tak sadarkan diri di sini. Semua hal sudah dipikirkan oleh Haikal, ketika dia memutuskan untuk membawa Phoebe pulang ke rumahnya. Keluarga gadis itu adalah keluarga terpandang, keluarga terhormat, keluarga yang disegani. Pastinya, mereka akan langsung mencari keberadaan gadis itu.
“Mati gue,” gumam Haikal geli. Laki-laki itu tidak takut, sungguh. Dia tidak merasa melakukan apa pun yang menentang dan melawan norma hukum maupun norma asusila.
Suara berisik yang berasal dari pintu rumahnya membuat Haikal mengerutkan kening. Dia menatap Phoebe yang masih belum sadarkan diri dan menarik napas panjang. Sudah pukul setengah sembilan malam dan ada tamu yang berkunjung? Dan lagi, kenapa tamu tersebut justru menggedor pintu rumahnya? Bukankah di depan ada bel rumah?
Haikal sibuk menerka-nerka siapa yang datang ke rumahnya dan menggedor pintu rumahnya dengan tidak sabaran itu. Otaknya mengatakan jika anggota keluarga Phoebe berhasil mendeteksi keberadaan gadis itu di sini dan akan menyerangnya karena dianggap sebagai penculik. Penculik? Ya, tidak berlebihan juga, sih, mengingat keadaan Phoebe yang pingsan saat ini, sebutan penculik mungkin cocok untuknya.
Ketika pintu rumahnya terbuka, Haikal menghilangkan senyumannya. Laki-laki itu mengangkat satu alisnya, saat sosok dengan napas terengah, rambut berantakan dan pakaian terlihat setengah basah itu berdiri dengan tatapan tajam dan tegas, seolah berniat untuk mencabiknya hingga tak bersisa.
“Di mana Phoebe?” tanya sosok itu dengan nada dingin.
Jack Thampson.
###
Sepeninggal ketiga abang Phoebe, Jack langsung mengambil kunci motornya di kamar dan bergegas menuju resto Amazing. Dia melajukan motor Ninjanya dengan kecepatan penuh. Semua makian dan klakson yang dibunyikan oleh pengendara lain, tidak dihiraukan oleh Jack. Pikirannya mendadak kalut. Hatinya mendadak tidak tenang. Dia harus memastikan dengan kedua mata kepalanya sendiri kalau Phoebe baik-baik saja.
Bahkan, Jack pergi tanpa menutup pintu rumahnya.
Ketika sampai di resto Amazing, Jack langsung menerjang masuk dan menghampiri pihak kasir. Diberi tatapan super dingin olehnya, si penjaga kasir yang notabene adalah seorang perempuan, langsung menelan ludah dan berusaha tersenyum.
“Ada yang bisa saya bantu, Mas?” tanyanya gugup. Jack menggebrak meja kasir begitu saja, mengabaikan tatapan ingin tahu yang dilayangkan oleh semua pengunjung. Si penjaga kasir otomatis terlonjak.
“Kenal sama Haikal, kan? Manajer lo di sini?”
Gadis itu mengangguk takut.
“Lo tau alamat rumahnya?”
Baru saja si penjaga kasir ingin menjawab, bahwasannya, dia tidak tahu alamat rumah sang manager, seseorang menepuk pundak Jack. Jack yang merasa terusik, kontan menoleh cepat dan menatap waspada seorang laki-laki berpostur tinggi yang rupanya, memiliki wajah yang sangat mirip dengan laki-laki di samping kanannya. Di tengah-tengah keduanya, seorang gadis cantik berkulit putih terlihat menggenggam tangan si laki-laki yang tadi menepuk pundak Jack.
Kembar?
“Siapanya Haikal? Temannya?” tanya laki-laki itu dengan nada datar terkesan cuek.
“Bukan,” jawab Jack sinis. “Cuma seseorang yang mau ngasih pelajaran ke laki-laki sialan itu karena udah bawa kabur orang yang paling penting bagi hidup gue! Apa lo tau alamat rumahnya?”
Si laki-laki terlihat terkesan dengan sikap Jack, karenanya dia dan saudaranya saling tatap. Setelah melakukan telepati dadakan, laki-laki itu akhirnya memberikan alamat rumah Haikal, yang langsung membuat Jack melesat bahkan tanpa mengucapkan terima kasih.
“Haikal bawa kabur cewek?” tanya Renzano seraya menggelengkan kepalanya. Geli.
“Belum pernah dengar sejarahnya, sih, seorang Haikal bawa lari cewek orang.” Kenzano tertawa renyah kemudian mengacak rambut Keisha gemas. “Asal jangan cewek gue aja yang dia bawa kabur. Gue kejar biar sampai ke akhirat juga.”
Dan, di sinilah dia sekarang. Di depan pintu rumah Haikal, berhadapan langsung dengan laki-laki itu.
“Di mana Phoebe?” tanya Jack sekali lagi. Dia bahkan mencengkram kerah kemeja yang dipakai Haikal, namun laki-laki itu masih sanggup bersikap tenang. “Lo apain dia, hah?!”
“Tenang, Phoebe aman,” jawab Haikal. “Bisa lepasin gue?”
Mau tidak mau, Jack menyentak kerah kemeja Haikal, hingga laki-laki itu terdorong mundur beberapa langkah. Sambil tersenyum misterius, Haikal menyuruh Jack untuk mengikutinya ke kamar.
“Phoebe!” seru Jack sambil berlari ke arah gadis itu. Digenggamnya tangan Phoebe dan diusapnya rambut gadis itu. Kemudian, tatapannya kembali ke arah Haikal. Tajam dan dingin. “Lo apain dia?!” desisnya.
“Dia pingsan karena kelelahan dan belum makan apa pun,” jelas Haikal. “Dia demam karena kehujanan. Gue rasa, lo juga tau hal itu, kan?”
“Apa maksud lo?”
“Gue sadar keberadaan lo di kejauhan, saat gue dan Phoebe ada di taman itu, Jack,” jawab Haikal. “Kenapa lo nggak mendekati gue dan Phoebe? Kepengecutan lo itu mengingatkan gue akan seseorang.”
Sialan!
Jadi, Haikal tahu kalau dirinya mengawasi Phoebe?
“Kalau lo tau gue ada di sana, kenapa lo nggak manggil gue?”
“Buat apa?” tanya Haikal dengan nada mengejek. “Toh, gue menikmati kebersamaan gue sama Phoebe.”
DEG!
Rasanya ada magma yang ingin dimuntahkan oleh Jack dari dalam hatinya ketika dia mendengar ucapan Haikal itu. Ingin rasanya dia menerjang Haikal, menghajarnya dengan semua rasa sesak, emosi dan amarah yang menyatu di dalam dadanya.
“Maksud lo, lo lagi ngelakuin aksi pendekatan sama Phoebe, iya?”
“You’ve got the point!” Haikal menjentikkan jarinya dan tersenyum miring. “Dia gadis yang menarik dan cantik, jelas gue nggak akan pernah melewatkan kesempatan untuk bisa jadiin dia sebagai milik gue satu-satunya.”
“Milik lo, kata lo?!” Jack bangkit dan menghimpit Haikal ke dinding dengan menggunakan lengannya. Haikal sendiri masih tetap tenang dan santai, menikmati ekpresi murka yang diperlihatkan oleh Jack saat ini. “Lo pikir Phoebe itu barang, hah?! Lo mau dekatin dia, di saat lo juga mendekati Aurora, begitu?!”
“Lalu kenapa?” tantang Haikal. Tidak ambil pusing dengan kenyataan bahwa Jack bisa saja menghilangkan nyawanya detik ini juga. “Mereka berdua masih sendiri, belum taken. Jadi, nggak ada salahnya, kan, kalau gue mendekati keduanya sekaligus?”
“b******k!”
Ketika tangan Jack melaju kencang, tepat ke wajah Haikal, Haikal langsung menangkap kepalan tangan Jack tersebut dengan tangan kanannya. Jack tersentak dan mencoba menarik kepalan tangannya namun tidak berhasil. Rahangnya mengeras, tanda dia semakin emosi, tapi Haikal lagi-lagi menanggapinya dengan santai dan tenang.
“Maju, kalau lo emang suka sama Phoebe, Jack. Cegah gue, lawan gue, hentikan gue! Kalau lo hanya bisa diam dan mengawasi dari jauh, akan gue pastikan dia terlepas dari genggaman lo.”
Selesai mengatakan kalimat itu, Haikal mendorong kepalan tangan Jack yang ada di dalam genggamannya dengan kuat. Tubuh Jack mundur beberapa langkah dan Haikal kembali tersenyum.
“Akan gue panggilkan taksi untuk lo sama Phoebe. Gue liat tadi ada motor lo di depan. Kalau gitu, lo bisa tinggalin motor lo di rumah gue dulu. Setelah lo antar Phoebe, lo bisa—“
“Nggak perlu,” potong Jack. Masih dengan nada dingin yang sama. Dia melirik ke arah Phoebe dan mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya. Kedua matanya terpejam, seiring dengan rasa nyeri yang menyerang hatinya. “Lo yang bawa dia ke sini dan lo juga yang harus bawa dia pulang ke rumahnya.”
“Gue nggak tau alamat rumahnya,” kata Haikal lagi. Dia terlihat sedang membereskan barang-barang Phoebe, ketika suara Jack terdengar lagi.
Laki-laki itu menyebutkan alamat rumah Phoebe.
“Lo tau alamat rumah Phoebe? Lo pastinya sangat mencintai Phoebe, ya, sampai-sampai lo udah tau alamat rumahnya.”
“Bukan urusan lo!”
Ketika Jack akan pergi dari kamar itu, Haikal memanggilnya. Tidak ada yang bersuara setelah itu. Jack menunggu Haikal mengucapkan sesuatu, di mana laki-laki itu masih berdiri membelakangi Haikal, sementara Haikal terlihat puas menyaksikan semua ini.
“Lo tau, Jack? Sebagian besar orang pernah bilang kalau kita juga memiliki kehidupan lain, di kehidupan sebelumnya.”
Kening Jack mengerut, namun dia tetap bertahan pada posisinya.
“Mereka bilang, sejarah akan kembali terulang kalau kita nggak ada niat untuk mengubahnya.”
Kali ini, kepala Jack berputar. Senyuman sialan milik Haikal itu lagi-lagi menyambutnya.
“Apa yang mau lo bilang sebenarnya?”
“Lo akan kehilangan semuanya, kalau lo nggak berusaha,” jawab Haikal.
Tidak ada yang tahu jika Altaro, Redhiza dan Zerokha berada di balik pintu kamar. Mereka mencuri dengar pembicaraan tersebut dan memutuskan untuk segera pergi, sebelum Jack dan Haikal memergoki keberadaan mereka.
###
Mirror on the wall...
Here we are again... through my rise and fall...
You’ve been my only friend...
You told me that they can, understand the man i am...
So why are we here... talking to each other again...
(Bruno Mars-Mirror)
Suara petikan gitar dan nyanyian Jack membahana di penjuru kelas. Beberapa pasang mata yang tentunya adalah milik para mahasiswi, mengarah langsung kepada laki-laki itu. Jack duduk di pojok kelas, memainkan gitarnya dan terus menyanyikan bait lagu milik Bruno Mars. Wajahnya terlihat sendu dan tatapan matanya terlihat tidak fokus.
Karena ucapan Haikal masih terus membayangi benaknya.
Sudah dua hari semenjak kejadian di rumah Haikal, Jack belum lagi melihat Phoebe. Gadis itu sakit. Ini adalah hari ketiga dan dia yakin jika Phoebe masih belum sehat. Dia rindu gadis itu. Dia rindu tatapan berapi-api milik Phoebe, juga semua caci-maki yang keluar dari bibir mungilnya.
“Hai,”
Sapaan ramah dan lembut itu membuat Jack mendongak. Di depannya, Aurora tersenyum sambil menunjuk kursi kosong di samping Jack. “Boleh gue duduk di situ?”
Jack balas tersenyum dan mengangguk. Lagi, ucapan Haikal menari-nari di otaknya. Bagaimana bisa laki-laki sialan itu dengan entengnya berkata bahwa dia akan mendekati Aurora dan Phoebe sekaligus?
b******k!
“Keliatannya lo lagi banyak masalah,” ucap Aurora tiba-tiba, membuyarkan semua lamunan Jack. Laki-laki itu memaksakan senyumnya dan memetik senar gitarnya lagi. “Ada apa?”
“Nggak ada apa-apa,” balas Jack. “Cuma lagi mikirin sesuatu aja.”
“Seperti?”
Jack melirik Aurora. Jika saja dia menyukai Aurora yang manis, polos dan lembut, mungkin keadaan akan lebih mudah baginya. Hanya saja, perasaan tidak bisa ditebak, bukan? Bukan karena fisik, melainkan hati. Jack jatuh cinta pada Phoebe karena hatinya yang menginginkan hal itu.
Kalau harus membandingkan, Phoebe kalah cantik dengan Aurora, walaupun pada dasarnya, keduanya memang sama-sama cantik. Sifat keduanya juga bertolak belakang. Aurora yang lembut dan polos, sangat jauh berbeda dengan Phoebe yang mandiri, tegas, keras kepala dan susah didekati. Tapi, hatinya justru berkata Phoebe adalah orang yang tepat untuknya.
“Lo udah lama kenal sama Haikal?”
Pertanyaan Jack itu membuat Aurora sedikit senang. Dia pikir Jack mengajukan pertanyaan itu karena rasa cemburu dan tidak senang kalau dirinya terlalu dekat dengan Haikal. Nyatanya, semua rasa senang itu harus sirna saat dia mendengar kalimat Jack selanjutnya.
“Gue nggak suka dia dekat-dekat sama Phoebe. Gue ngerasa dia ada maksud tertentu.”
Aurora menunduk. Kedua tangannya terkepal kuat di atas paha. Gadis itu merasa matanya panas. Lapisan bening itu bahkan sudah menggantung di pelupuk matanya, seiring dengan sesak yang mendadak hadir.
Selalu Phoebe.
Selalu Phoebe.
Apa Jack tidak bisa membuka matanya, bahwa ada orang lain yang tulus mencintainya?
“Kalau... kalau ternyata....” Aurora membasahi bibirnya yang terasa kering dan memantapkan hati. “Kalau ternyata Haikal ngedeketin gue karena ada maksud tertentu juga, apa lo juga nggak suka sama hal itu, Jack?”
Jack menoleh cepat.
“Aurora?”
Mendengar Jack memanggil namanya menyadarkan Aurora bahwa dia sudah sangat kelewatan. Bagaimana bisa dia menanyakan hal tersebut kepada Jack?
Tak disangka, Jack mengacak rambut Aurora, membuat gadis itu tertegun dan tidak bisa mengontrol degup jantungnya. Aurora mengangkat kepala dan bertemu mata dengan Jack yang tersenyum lembut.
“Tentu aja gue nggak suka,” jawab Jack pasti. “Lo teman gue, Ra... gue nggak suka sama orang-orang yang punya maksud jahat, ketika mereka mendekati teman gue.”
Teman...
Teman...
Jack hanya menganggapnya teman, tidak lebih...
Harusnya, Aurora bisa mengira hal tersebut. Tapi, tetap saja rasanya sakit jika dihadapkan langsung pada kenyataan.
“Gue ke kantin dulu, ya.”
Jack bangkit dan berjalan menuju pintu kelas, ketika tiba-tiba, dia menabrak seseorang yang hendak masuk. Sigap, laki-laki itu mengulurkan tangan kanannya untuk menahan lengan orang yang sudah ditabraknya itu agar tidak terjatuh.
Lalu, keduanya bertatapan.
Jack dan Phoebe.
Phoebe yang kaget hanya bisa diam. Jantungnya mulai berpacu cepat, hal yang belakangan ini selalu menimpa dirinya tatkala dia berpapasan dengan Jack atau memikirkan laki-laki itu. Sebaliknya, Jack justru menatap datar gadis di depannya. Tak lama, tangan laki-laki itu menjauh dari lengan Phoebe, dan dimasukkan ke dalam saku celananya.
Lantas, Jack pergi dari hadapan Phoebe tanpa menggoda gadis itu seperti biasanya, bahkan tanpa mengucapkan apa pun. Laki-laki itu mengalihkan tatapannya dari wajah Phoebe, menabrak pundak Phoebe dengan pelan, lalu melangkah begitu saja.
Meninggalkan Phoebe yang terlihat shock di tempatnya, mengangkat sebelah tangan ke dadanya, menekan kuat bagian tersebut dengan harapan rasa sesak yang tiba-tiba datang bisa segera sirna.
###