Chapter 8

2964 Words
Suasana canggung itu tercipta, membuat Phoebe mendengus pelan dan menopang dagu dengan kedua tangan. Saat ini dia berada di salah satu kafe di dekat kampus, bersama dengan Haikal si laki-laki berkacamata dengan senyum dan sikap misteriusnya, Aurora si gadis cantik yang menaruh hati pada Jack, juga Jack sendiri, si laki-laki iseng bin jahil yang selalu membuat darahnya mendidih namun juga baru-baru ini menyatakan cinta kepadanya. Sungguh, ingin rasanya Phoebe memaki pihak kafe yang sudah memutar lagu Grey Area milik Sam Tsui tersebut. Harus Phoebe akui, lagu dan musiknya memang bagus, tapi, liriknya itu loh. Kayaknya si Sam Tsui sengaja menyindirnya, deh.             “Jadi, kalian mau pesan apa?” tanya Haikal, memutus dunia khayal Phoebe. Gadis itu melirik malas, sementara Aurora terlihat antusias membaca daftar menu di tangannya. Kalau Phoebe tidak salah dengar, saat Haikal mengajak mereka makan di kafe ini, Aurora mengiyakan dengan penuh semangat karena gadis itu sangat menyukai kafe ini. Phoebe tadinya ingin menolak. Dia malas berada satu tempat dengan Jack, juga Aurora. Hal yang sangat gadis itu herankan karena hatinya juga mendadak panas dan gerah. Tapi, berkat tatapan intimidasi dan mengejek dari Haikal, yang seakan menyiratkan ucapannya di jembatan malam itu mengenai diri Phoebe, gadis itu akhirnya ikut juga walau setengah hati. “Biar gue yang bayar.”             Lagi, Phoebe mendengus. Kali ini, suara dengusannya terdengar oleh ketiga orang di sekitarnya. Phoebe sendiri hanya menatap malas mereka bertiga dan mengambil buku menu yang ada di sampingnya. Kemudian, tangannya disentuh oleh Jack, membuatnya menoleh cepat.             “Lo baik-baik aja, Phobia?” tanya laki-laki itu. Raut wajah dan nada suaranya terdengar sangat cemas.             Phoebe diam. Dia bisa merasakan ketulusan dan kecemasan dalam suara dan tatapan mata Jack. Namun, setan dalam hatinya kembali mengambil dirinya.             Ingat, Phoebs... dia bilang dia jatuh cinta sama lo, tapi kenyataannya, dia justru tertarik juga sama Aurora. Jangan lengah. Jangan pernah tertipu sama wajah cemasnya itu!             Phoebe mati-matian menahan gejolak emosi yang mendadak hadir begitu saja di dalam hati. Dia menarik tangannya yang disentuh oleh Jack dengan cepat, membuat Jack mengangkat satu alisnya dan Haikal menatap gadis itu dengan senyum tipisnya.             Terlalu kentara, batin Haikal puas.             “Nggak usah sok peduli sama gue, Jack,” balas Phoebe datar dan dingin. Kening Jack lantas mengerut mendengar ucapan gadis itu padanya. Terlebih, Phoebe tidak lagi memanggilnya dengan sebutan ‘jok mobil’ seperti biasa. Gadis itu justru memanggil namanya. “Gue nggak butuh kepedulian lo.”             Di tempatnya, Aurora menatap kejadian itu dengan hati yang berdenyut nyeri. Perhatian dan kepedulian Jack pada Phoebe membuatnya sesak dan sedih. Sudah sejak lama, ketika dia berani jatuh cinta pada Jack, dia menyadari konsekuensi ini. Bahwa selamanya, Jack hanya akan menatap ke arah Phoebe. Hanya Phoebe, bukan dirinya, bukan juga gadis lainnya di luar sana. Namun, dengan bodohnya dia tetap bertahan. Bertahan pada rasa sakit itu, bertahan pada rasa cintanya. Dia hanya berpegang teguh pada harapan, bahwa jika dia bersabar, mungkin Jack bisa menoleh ke arahnya dan menyadari keberadaannya.             Bahwa selama ini, ada seorang gadis bernama Mawaddah Aurora yang tulus mencintainya.             Bukankah Tuhan maha pembolak-balik hati manusia?             “Lo kenapa sih, Phobia?” tanya Jack lagi. Kali ini, Jack menggunakan nada geli saat bertanya hal tersebut. Dia sengaja menyebut nama Phoebe dengan nama panggilan khusus darinya. Tidak ada orang lain yang boleh memanggil gadis itu dengan nama panggilan tersebut selain dirinya. Jika ada yang berani melakukan hal itu, Jack akan pastikan orang tersebut hancur lebur bak debu. “Salah makan sewaktu di kampus?”             Phoebe memutuskan untuk tidak menggubris ucapan Jack tersebut. Dia bangkit dan tangan Jack refleks mencekal lengannya. Tak lama, laki-laki itu bangkit, menatap Phoebe yang harus mendongak untuk menatapnya.             Tidak ada lagi Jack yang humoris dan iseng. Tidak ada lagi tatapan super geli yang selalu laki-laki itu berikan untuk Phoebe. Yang ada hanyalah tatapan tegas dan tajam yang menyiratkan keingintahuan atas perubahan sikap Phoebe.             “Lepasin gue, sialan!” seru Phoebe berapi-api. Tidak peduli sama sekali dengan tatapan penasaran yang dilayangkan oleh para pengunjung kafe, termasuk dari Haikal dan juga Aurora. Dia menentang tatapan tegas milik Jack. “Lo tentu nggak lupa siapa gue, kan?! Gue bisa laporin lo ke—“             “Siapa?” tanya Jack memotong ucapan Phoebe. “Ketiga abang lo? Kalau udah begitu, apa yang akan terjadi sama gue? Ngambang di sungai? Ditaruh dalam plastik hitam besar dengan berbagai macam potongan dari tubuh gue? Kepala bolong karena ditembak sniper?” Jack tersenyum miring. “I’m not afraid at all, miss Abimanyu.”             Rahang Phoebe mengeras, tanda emosinya semakin menjadi-jadi. Dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk melepaskan cekalan Jack dari lengannya, dan begitu terlepas, Phoebe langsung melayangkan tangannya berniat menampar Jack. Namun, dengan sigap, Jack menahan laju tangan Phoebe. Dia menarik Phoebe mendekat ke arahnya hingga tidak ada jarak tersisa di antara keduanya. Para pengunjung perempuan di kafe itu langsung menyentakkan napas dan menutup mulut dengan sebelah tangan. Mendadak terpesona dengan tindakan Jack yang mereka anggap sangat romantis.             Romantis dari sisi mananya, coba? Aneh.             “Gue akui, lo jauh lebih menarik dan menggoda saat sedang emosi seperti ini, Phoebs,” kata Jack berbisik tepat di depan wajah gadis itu. Dia bahkan tidak lagi memanggil Phoebe dengan nama panggilan khusus darinya. Senyuman Jack sanggup menyihir semua pengunjung perempuan, termasuk Aurora. “Tapi, gue nggak suka kalau harus ngeliat lo berubah layaknya setan seperti ini.”             “Jaga omongan lo!” teriak Phoebe kemudian. Dia mendorong tubuh Jack hingga laki-laki itu mundur beberapa langkah. Setelahnya, Phoebe berusaha mengontrol napasnya sendiri. Wajahnya merah padam, tanda emosi yang berbaur dengan perasaan asing yang sejak beberapa hari ke belakang selalu menyusup masuk ke hatinya. “Gue benci sama lo!”             Setelah mengatakan hal tersebut, Phoebe langsung menyambar tas nya dan pergi dari hadapan Jack. Kedua tangan Jack terkepal kuat di sisi tubuhnya, memandang punggung Phoebe yang semakin menjauh. Di tempatnya, Haikal menyandarkan punggung dan bersedekap. Cukup menikmati suguhan ala FTV yang baru saja berlangsung tepat di depan mata. Sampai kemudian, lengan kausnya ditarik pelan.             “Kenapa, Ra?” tanya Haikal dengan senyuman ramahnya. Mau tidak mau, Aurora membalas senyuman itu.             “Mmm... apa nggak sebaiknya kita pergi juga, Kal? Gue ngerasa nggak enak sama keadaan ini.” Aurora melirik Jack yang masih saja berdiri sambil menatap ke kejauhan. Padahal, sosok Phoebe sudah tidak terlihat lagi di sana.             Haikal memperhatikan sikap Aurora. Laki-laki berkacamata itu memanggil pelayan dan berkata bahwa makanan yang sudah terlanjur dia pesan akan dia bawa pulang saja. Tak lama, fokus Haikal kembali pada Aurora yang masih saja betah menatap wajah murung Jack.             Sungguh, dia tidak tertarik dengan masalah percintaan di antara Jack, Phoebe dan Aurora. Dia bahkan baru mengenal ketiganya belum lama ini. Tapi, ada sesuatu yang membuat Haikal bersikeras untuk bertahan di antara ketiganya.             Karena menurutnya, semua ini akan menjadi sangat menarik.   See i’ve been getting used to all this elevator music... That you play me, while i wait on hold... Guess you’re on the other line... And though i let you take your time... This waiting game is getting old... Always looking over your shoulder... Just in case something better comes by... Still hoping for the day when i’ll be more than second place... Is just a waste of my precious time... (Sam Tsui-Next Best Thing) ### Phoebe pergi begitu saja dari kafe tadi tanpa menghiraukan mobilnya. Dia terlanjur berlari dan takut jika Jack bisa mengerjanya saat dia mendekati mobilnya. Tidak mau mengambil resiko Jack berhasil mencegahnya untuk pergi, Phoebe memutuskan untuk meninggalkan mobilnya untuk sementara. Nanti, begitu dia sampai di rumah, dia bisa meminta anak buah ayahnya pergi ke kafe itu untuk mengambil mobilnya tersebut.             Saat ini, Phoebe sedang berada di salah satu taman entah di mana. Dia bahkan tidak tahu ke mana arahnya berlari. Gadis itu mendekati sebuah ayunan dan duduk di atasnya. Dia mendongak, menatap langit yang mulai menghitam, diiringi dengan gemuruh petir sebagai backsound nya. Phoebe menarik napas panjang lantas menunduk. Kedua tangannya mencengkram dua sisi rantai ayunan tersebut.             “Gue kenapa, sih?” keluhnya muram. Teringat lagi olehnya saat dia marah-marah di depan semua orang, termasuk di depan Jack. Si oknum yang sudah membuatnya emosi, tapi justru dia sendiri tidak tahu apa alasan dibalik emosinya itu. Apa... itu karena dia pernah melihat Aurora membuatkan bekal makan siang untuk Jack? Atau... saat tadi Jack dan Aurora bersenda gurau di kelas?             Arrrgh! Mustahil dia cemburu!             Sungguh, jika ada makhluk paling menyebalkan di muka bumi ini, makhluk tersebut adalah Jack. Selama ini, Phoebe sangat kesal pada laki-laki itu. Dia selalu diisengi dan dijahili oleh Jack. Bahkan, Jack dengan seenak dengkulnya mengganti nama bagusnya itu menjadi Phobia.             Tapi, baru kali ini dia begitu marah pada Jack hingga berkata jika dia membenci laki-laki itu.             Perlahan, langit menangis. Awalnya hanya berupa gerimis, namun lambat-laun, gerimis itu berubah menjadi deras. Phoebe tetap diam di tempatnya. Gadis itu membiarkan tubuhnya basah kuyup diguyur air hujan. Dia butuh menyegarkan otak dan hatinya saat ini.             Lalu, guyuran hujan itu mendadak berhenti membasahi tubuhnya.             Phoebe yang bingung kontan mendongak. Sebuah jaket sudah menutupi kepalanya dan begitu dia menoleh ke samping, sosok yang baru saja dia kenal malam itu di jembatan tersenyum ke arahnya.             “Haikal?”             “Senang kamu masih mengingat saya,” kata laki-laki itu dengan nada lembut. Tadi, karena ada Aurora dan Jack, Haikal menggunakan kata non-formal kepada mereka semua. Masalahnya, nggak lucu kalau dia harus menggunakan kata non-formal kepada Aurora dan Jack, lalu kepada Phoebe dia menggunakan kalimat yang formal. Akhirnya, dia mengambil alternatif tersebut. “Kamu kenapa hujan-hujanan di sini?”             “Lo sendiri? Kenapa lo datang ke sini?” tanya Phoebe. Gadis itu balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Haikal barusan. “Dan kenapa lo pakai bahasa formal ke gue? Seingat gue, waktu di kafe tadi, lo sama sekali nggak pakai kalimat ‘saya-kamu’ seperti sekarang, tuh.”             Haikal tertawa dan tawa tersebut membuat Phoebe merasa sedikit tenang. Entah kenapa. Bagi Phoebe, sosok Haikal seperti sosok ketiga abang sepupunya. Mereka sanggup membuatnya tenang dan melupakan semua kesedihannya.             “Saya cuma bingung harus memakai bahasa seperti apa.” Haikal mengangkat bahu tak acuh. “Kepada Aurora, saya sudah memutuskan untuk memakai bahasa non-formal karena gadis itu yang memintanya. Untuk Jack, saya tidak mungkin memakai bahasa formal seperti yang saya lakukan sama kamu karena hal itu bisa menimbulkan efek lain bagi orang-orang.”             “Maksudnya?”             “Well... mungkin orang-orang akan berpikiran kalau saya dan Jack adalah sepasang kekasih?”             Phoebe melongo dan detik berikutnya dia tertawa. Benar-benar geli dengan asumsi Haikal barusan. Padahal, banyak orang-orang di sekitarnya, yang juga sesama laki-laki, menggunakan bahasa formal seperti yang Haikal lakukan kepadanya.             “Kalau gue suruh lo untuk pakai bahasa non-formal sama gue, lo mau, kan?” tanya Phoebe setelah tawanya reda. Haikal nampak berpikir sejenak, sebelum kemudian senyumannya muncul.             “Saya rasa, saya sudah nyaman berbicara seperti ini sama kamu. Is it ok for you?”             Phoebe kembali tertawa dan menggelengkan kepalanya. Intensitas hujan mulai menurun tapi tidak benar-benar reda. Haikal tertular dengan tawa Phoebe yang renyah dan menenangkan itu. Keduanya tertawa bersama dan Haikal memutuskan untuk menaruh jaketnya di atas kepala Phoebe.             “Loh? Elo gimana?” tanya gadis itu tidak enak. Pasalnya, tadi Haikal hanya menaungkan jaketnya ke atas kepalanya, juga ke atas kepala laki-laki itu sendiri.             “Nggak usah mikirin saya, Phoebe... saya laki-laki dan saya wajib menjaga kamu yang notabene adalah seorang perempuan.” Haikal mengedipkan sebelah matanya dan menarik napas panjang. Dia lupa kapan dia terakhir kali menikmati hujan yang mengguyur tubuhnya seperti sekarang. “Soal pertanyaan kamu... saya berniat pulang dan kebetulan memang harus melewati daerah ini. Lalu, saya melihat kamu dan saya memutuskan untuk menghampiri kamu.”             Phoebe hanya membulatkan mulutnya dan mengangkat bahu tak acuh.             “Gimana kalau saya antar kamu pulang?” tawar Haikal.             Tatapan waspada khas seorang Phoebe kembali ke luar, membuat Haikal menaikkan satu alisnya.             “Tenang, saya nggak akan berbuat macam-macam sama kamu. Saya masih sayang sama nyawa saya sendiri.”             “Maksud lo?”             Haikal hanya tertawa dan melirik sekilas melalui pundaknya. Tepatnya ke arah sebuah motor Ninja hitam yang diparkir tak jauh dari mobilnya. Di mana seseorang sedang mengawasinya dan juga Phoebe.             Benar-benar pengecut seperti Pangeran Flamel, batin Haikal geli. ### Jack membanting pintu kamarnya dan masuk dengan napas terengah. Lama-lama, dia bisa gila sendiri membayangkan jika pada akhirnya, Phoebe justru tertarik pada oknum bernama Haikal dan pergi meninggalkannya. Gila, gimana nasib hati sama otaknya nanti tanpa kehadiran Phoebe?             Tuhan! Mungkin dia benar-benar sudah gila sekarang!             “Sialan benar si Haikal-Haikal itu,” kata Jack emosi. Tanpa mengganti bajunya yang basah kuyup, dia menghempaskan tubuhnya begitu saja di atas kasur. “Baru kenal sama Phoebe aja udah main nyosor duluan! Sinting banget, dia!”             Lagu Wedding Wars mengalun dari kamar tamu. Sebenarnya, Jack tidak terlalu paham apa makna dari lagu yang selalu didengarkan oleh adik sepupunya yang dititipkan oleh Om dan Tantenya sejak seminggu yang lalu itu. Adik sepupunya bilang, lagu Wedding Wars adalah salah satu soundtrack dari anime yang menjadi kesukaannya. Bercerita tentang seorang gadis yang memiliki darah malaikat di dalam tubuhnya dan saling mencintai dengan teman sekolahnya yang rupanya memiliki darah iblis di dalam tubuhnya. Hanya dengan mendengar cerita adik sepupunya mengenai anime itu dan juga mendengar lagunya saja, Jack bisa merasakan keputusasaan dari kedua manusia tersebut.             Sama seperti dirinya dan Phoebe.             “Apa yang harus gue lakuin supaya lo percaya kalau gue benar-benar mencintai elo, Phoebs?” gumam Jack pada dirinya sendiri. Semakin lama, lagu Wedding Wars semakin membuatnya merasa sesak dan tahu-tahu saja, dirinya terlelap begitu saja dengan pakaian basah melekat di tubuhnya.             Sebelum benar-benar terlelap, Jack sempat menggerutu dalam hati mengenai sikap pengecutnya karena hanya berani mengawasi dari jauh tadi, ketika Haikal dan Phoebe bersama di taman tersebut, juga mengenai lagu anime sialan itu yang justru membuatnya merasa sesak entah kenapa. ### Can’t figure out exactly how we stand... Stuck in between two uncharted lands... We’re sending signs like i’ve never seen... Changing our minds, don’t know what we mean... Are we off? Are we on? Is it right? Is it wrong? Is that it? Is there more? Are we here? Are you sure? Not enough? Or too far? Do we know, what we are? (Sam Tsui-Grey Area)               Ketukan keras pada pintu rumahnya membuat tidur Jack terusik. Laki-laki itu menggeram kesal dan bangkit dengan satu gerakan cepat. Kepalanya agak sakit, mungkin efek kehujanan tadi. Dia menoleh ke dinding dan menatap jam di sana. Sudah pukul delapan malam. Siapa yang bertamu? Di mana adik sepupunya yang punya hobi nonton anime romantis-fantasi itu?             Lagi, suara gedoran pintu rumahnya membuat Jack tersentak. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan membuang napas panjang. Kesal dengan siapa pun yang saat ini bertandang ke rumahnya.             “Sebentar!” teriak Jack serak. Sekarang, menyusul kepalanya yang terasa nyeri dan pening, suaranya sudah serak seperti kodok. Lengkap sudah penderitaannya. Sudah cemburu buta, dibenci oleh gadis yang dicintainya, kini dia harus bersiap-siap menghadapi virus flu dan demam yang akan datang tak lama lagi.             Terseok, Jack menyeret langkahnya ke pintu depan. Di sana, sosok adik sepupunya baru saja sampai dan bersiap membuka pintu. Jack nyaris saja mendengus ketika dia melihat cengiran tak bersalah yang disuguhkan adik sepupunya itu ke arahnya.             “Maaf, Kak... Lily lagi bereksperimen di dapur sama si Mbok.” Gadis yang masih duduk di bangku SMA kelas satu itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sejak dulu, Lily memang selalu berhasil membuat Jack luluh.             “Bukain, deh,” kata Jack malas dan bersiap kembali ke kamar, saat mendadak, sesuatu menyambar lengannya hingga mengakibatkan tubuhnya berputar cepat.             Lalu, tatapan tajam salah satu abang sepupu Phoebe menyambutnya.             “Di mana adik gue?” tanya Redhiza dingin. Sedingin tatapannya saat ini. Cengkraman tangan Redhiza bahkan terasa sangat kuat, sampai-sampai Jack berpikir bahwa tulang lengannya bisa saja remuk beberapa saat lagi.             “Apa-apaan, nih?” tanya Jack tidak senang. Dia menyentakkan tangan Redhiza dari lengannya dan menatap tajam ketiga abang sepupu Phoebe. Dia juga heran darimana mereka bertiga bisa tahu alamat rumahnya ini. “Kalian tau sopan-santun, kan? Tata krama?”             Redhiza nyaris saja melayangkan tinjunya ke arah Jack, ketika Altaro mendekat dan menahannya. Dia menggelengkan kepala, kemudian tersenyum tipis ke arah Jack.             “Masih ingat kami?” tanya Altaro pelan. “Gue Altaro, dia Redhiza dan yang di belakang Zerokha. Kami abang sepupu Phoebe.”             “Ya, gue ingat,” balas Jack tanpa gentar. Lily sudah menghilang ke belakang karena tidak ingin ikut campur masalah apa pun yang saat ini sedang dihadapi kakak sepupunya itu. “Ada apa?”             “Lo tau di mana Phoebe? Dia belum pulang dan nggak ada kabar sama sekali. Setau gue, hari ini dia cuma punya dua jadwal kuliah.”             Altaro memang meminta jadwal kuliah Phoebe agar dia bisa memantau gadis itu seperti titah Omnya, Marcus Abimanyu, alias ayah Phoebe.             Alis Jack terangkat satu. Mendadak, perasaannya tidak enak. Dia melihat Phoebe bersama Haikal. Karena tidak tahan dengan pemandangan di mana Phoebe terlihat nyaman dan tertawa bersama Haikal, Jack memutuskan untuk pergi.             Seandainya saja, dia terus mengawasi.             “Gue nggak tau,” jawab Jack berusaha cuek. “Dia sama sekali bukan tanggung jawab gue. Lagipula, gue hanya menganggap dia sebagai bahan isengan gue aja.”             “Apa lo bilang?!”             Kali ini, Altaro harus menahan Redhiza dan Zerokha sekaligus. Heran, deh, kenapa dua sepupunya ini tidak bisa menahan emosi sama sekali, sih?             “Seenggaknya, di mana lo terakhir kali ngeliat Phoebe?” tanya Altaro lagi. Tetap berusaha tenang dan tidak tersulut api. Sebenarnya, dia juga ingin memberi pelajaran pada Jack, barang satu sampai dua jotosan mungkin. Cuma, dia masih bisa berpikir jernih. Dia yang tertua di antara keluarga Abimanyu dan dia harus bisa menahan diri.             “Di taman daerah Kayumanis. Nggak jauh dari kampus kita,” jawab Jack datar. “Kalau udah nggak ada yang diomongin lagi, bisa kalian pergi? Gue mau istirahat.”             Altaro mengangguk tegas. Dia mencoba meredam emosi Redhiza dan Zerokha serta meminta mereka untuk segera pergi. Sebelum benar-benar meninggalkan rumah Jack, ketiganya berhenti ketika laki-laki itu bersuara.             “Mungkin, lo bisa cek ke resto cepat saji Amazing. Cari manager resto itu. Namanya Haikal.”             Ketiga Abimanyu bersaudara itu saling tatap.             “Resto Amazing?” tanya Zerokha.             “Manager?” tanya Redhiza.             “Haikal? Siapa dia?” kali ini, pertanyaan yang lebih berbobot ke luar dari mulut Altaro.             “Entah. Hanya orang asing yang mendadak kenal sama Phoebe, gue, juga Aurora.”             Lagi, ketiganya saling tatap.             Ini si Phoebe terlibat kisah cinta berapa lingkaran, sih? Batin ketiganya heran.             Setelah ketiga abang sepupu Phoebe menghilang dari pandangannya, Jack masih diam di tempatnya semula. Laki-laki itu menatap lantai dan kedua tangannya mengepal kuat. Pikirannya sibuk mengarah pada Phoebe, pada keselamatan gadis itu. Dia tahu Phoebe adalah gadis yang kuat, tapi, dia juga tahu kalau semua itu hanyalah benteng pertahanan yang dibangung oleh Phoebe.             Phoebe sebenarnya adalah gadis yang rapuh dan butuh perlindungan.             Phoebs, lo di mana? ###  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD