Chapter 7

2319 Words
Gadis itu memiliki mata yang tegas dan indah.             Sudah sejak lama, Pangeran Flamel memendam perasaan cintanya pada Putri Slavia. Gadis penerus kerajaan Abimana itu memiliki aura yang mampu memikat hati Pangeran Flamel. Dari kejauhan, Pangeran Flamel selalu menjaga dan memperhatikan Putri Slavia. Senyuman gadis itu, tawanya, sanggup menenangkan hati Pangeran Flamel dan membuatnya nyaman. Semakin hari, perasaan cintanya pada Putri Slavia semakin membesar.             Sayangnya, kerajaan mereka saling bermusuhan.             Ketiga kakak laki-laki Putri Slavia melarang keras gadis itu untuk berhubungan dengan Pangeran Flamel. Karena keduanya pernah beberapa kali bertemu, terlebih Pangeran Flamel pernah menyelamatkan nyawa Putri Slavia dari tangan orang-orang jahat, Putri Slavia memiliki perasaan khusus untuk laki-laki itu. Hal yang rupanya diketahui oleh ketiga kakaknya, Pangeran Lionel, Pangeran Volkano dan Pangeran Elusion.             “Slavia, sudah berapa kali aku bilang, jangan pernah berhubungan dengan Pangeran Flamel!” seru Pangeran Volkano berapi-api. Ditatapnya tajam adiknya tersebut. “Dia adalah keturunan dari kerajaan Thampson! Demi Tuhan, kerajaan dia adalah musuh besar kerajaan kita! Apa kamu lupa bagaimana ayah Pangeran Flamel membunuh ayah kita?!”             Putri Slavia hanya diam. Dia menunduk, tidak berani menatap kakak keduanya yang terkenal tempramental itu. Putri Slavia melirik sekilas ke samping, ke arah kakak sulungnya, Pangeran Lionel. Dari dulu, Pangeran Lionel selalu sayang dan perhatian kepadanya. Bukannya Pangeran Volkano dan Pangeran Elusion tidak sayang terhadapnya, hanya saja, dibanding Pangeran Lionel, kedua kakaknya yang lain sangat tegas dan keras.             “Volkano, sudahlah,” sela Lionel bijak. Dia mendekati Putri Slavia dan mengusap rambutnya. “Dia sudah besar. Dia tau apa yang terbaik untuknya. Lagipula, sampai kapan kamu akan mengibarkan bendera perang? Permusuhan tidak akan pernah membawa kedamaian, Lionel.”             “Jadi, kamu tidak merasa marah dengan Raja Elios yang sudah membunuh ayah kita, begitu?” tanya Pangeran Elusion dengan nada sinisnya. Dia tidak habis pikir dengan pemikiran kakak pertamanya itu. “Raja Elios sudah membunuh ayah kita, Lionel! Sampai kapan pun, aku dan Volkano tidak akan pernah sudi membiarkan Slavia didekati oleh Pangeran Flamel, anak dari pembunuh ayah kita!”             Lionel menarik napas panjang dan menatap kasihan ke arah Slavia yang hanya bisa membisu. Sungguh, bukannya Lionel tidak marah dengan perbuatan Raja Elios dulu sekali itu, di saat beliau membunuh ayah mereka. Hanya saja, itu sudah berlalu. Kalau pun Volkano dan Elusion berniat membalas dendam dengan membunuh Raja Elios, perbuatan mereka itu tidak akan pernah mengembalikan Raja Ornus, ayah mereka.             “Lalu, apa kalian tega menghancurkan kebahagiaan adik kalian ini?” tanya Lionel tegas. Dia merangkul pundak Slavia, membawa adiknya itu ke dalam dekapannya. Wajah gadis itu begitu sendu. “Dia dan Pangeran Flamel saling mencintai, Volkano, Elusion! Jika kalian berniat memisahkan cinta mereka, kalian sama saja dengan Raja Elios! Kalian sama kejamnya dengan beliau!”             “Berani sekali kamu berkata seperti itu kepada dua adikmu ini, Lionel!” Elusion menunjuk wajah Lionel lurus-lurus. “Kamu tega menyamakan kami dengan pembunuh kejam itu?!”             “Dan kalian juga tega memisahkan Slavia dari orang yang sangat dicintainya!” Lionel berteriak. Baru kali ini, Volkano, Elusion dan Slavia mendengar Lionel berteriak. Selama ini, Lionel dikenal sebagai sosok yang bijak, lembut dan penyabar. Dia selalu bisa berpikir logis dan memecahkan masalah dengan kepala dingin. Namun, kalau sudah menyangkut kebahagiaan Slavia, adik perempuan satu-satunya yang dia miliki, dia akan melakukan apa pun. Apa pun untuk kebahagiaan gadis itu.             Volkano dan Elusion diam. Mereka saling tatap dan kembali fokus pada Lionel. Di sampingnya, Slavia mulai menangis. Dia tidak menyukai keributan. Dia benci permusuhan dan peperangan. Lalu, kenapa keluarganya harus bermusuhan dengan keluarga Pangeran Flamel?             Kenapa takdir mempermainkan kehidupan mereka?             Kenapa keluarga mereka harus mengalami hal seperti ini?             Apa salah kalau dia mencintai Pangeran Flamel? Apa salah kalau Pangeran Flamel juga mencintai dirinya? Kenapa dia harus lahir dari keluarga kerajaan seperti ini? Kenapa? Lebih baik dia lahir dari kalangan biasa, asalkan dia bisa bebas dan bahagia bersama orang yang dia cintai.             “Dengar, Lionel,” kata Volkano. Nada suaranya tetap tegas dan dingin. Tidak peduli bahwa dirinya sedang berbicara dengan kakaknya sendiri. “Aku dan Elusion tetap tidak mengizinkan Slavia berdampingan dengan Pangeran Flamel! Aku sudah memilihkan calon untuk Slavia. Calon yang kuat, yang berkharisma, yang memiliki semuanya dibandingkan dengan Pangeran Flamel. Aku dan Elusion sudah menentukan hari pernikahan Slavia dengannya. Dua bulan dari sekarang. Dia adalah penerus kerajaan Pernauns. Dia adalah Pangeran Artemis.”             Slavia menatap Volkano dan Elusion dengan tatapan tidak percaya. Dia akan dinikahkan dengan seseorang yang sama sekali tidak dia kenal dan tidak dia cintai. Dia hanya ingin bersatu dengan Pangeran Flamel. Hanya itu keinginannya, bukan yang lain.             “Apa kalian tidak mendengar desas-desus yang beredar? Bahwa Pangeran Flamel akan menikah dengan putri kerajaan Diamond. Putri Aurora.” Elusion menimpali. Ditatapnya Slavia yang menutup mulut dengan kedua tangan. “Itukah yang kamu bilang dengan cinta, Slavia? Orang yang kamu cintai, yang katanya juga mencintaimu, dia justru akan menikah minggu depan dengan Putri Aurora.”             “Jadi, lebih baik kamu segera melupakannya dan mempersiapkan pernikahanmu sendiri dengan Pangeran Artemis!”             Sepeninggal Pangeran Volkano dan Pangeran Elusion, Putri Slavia menangis sejadi-jadinya di pelukan Pangeran Lionel. Pangeran Lionel hanya bisa menghembuskan napas berat dan mengusap punggung adik tercintanya itu.             Takdir benar-benar kejam.             Dalam hati, Putri Slavia berdoa, semoga di kehidupan selanjutnya, dia bisa bersatu dengan Pangeran Flamel. ### Phoebe mendengarkan cerita teman sekelasnya dengan wajah tanpa minat. Dia sedang tidak ingin ke luar kelas dan sialnya, teman-teman yang duduk di sekitarnya justru mulai bercerita hal-hal yang aneh.             Kisah percintaan Putri Slavia dan Pangeran Flamel?             Ya Tuhan, cerita dongeng darimana itu?             “Itu cerita serius? Beneran?” tanya Gia, si mahasiswi berotak encer yang anehnya percaya dengan hal-hal berbau mistis dan kisah percintaan roman picisan. Tentu saja cerita Putri Slavia dan Pangeran Flamel membuatnya tertarik.             Thania, oknum yang baru saja menceritakan kisah tersebut, mengangguk antusias dan menepuk dadanya pelan. “Itu, legenda yang diceritain sama nenek gue. Waktu liburan imlek kemarin, gue ke Solo dan beliau cerita tentang kisah Putri Slavia sama Pangeran Flamel. Katanya, sih, secara turun-temurun, kisah itu diceritain dari generasi pertama keluarga gue sampai sekarang.”             “Kok mirip sama elo, ya, Phoebs?”             Kali ini, sambil menopang dagu dengan sebelah tangan, Phoebe menoleh ke arah Shasa. Gadis berambut ikal itu memiringkan kepala, menatap selembar foto yang ada di tangannya, kemudian beralih menatap Phoebe. Terus seperti itu selama beberapa kali.             “Apanya?” tanya Gia penasaran. Dan, ketika dia melihat foto yang dibawa oleh Thania dari rumah neneknya itu, Gia nampak terkejut sekaligus terpesona. “Gila! Cantik banget! Ini yang namanya Putri Slavia? Ini cerita nyata? Serius? Buset, dah! Kok nenek lo bisa tau, Than? Eh, semua generasi keluarga lo, deh. Ini kejadian di mana, sih? Indonesia?”             Thania memutar bola matanya dan mendengus. Dikeluarkannya beberapa lembar foto dari dalam tas selempangnya dan diletakkan di atas meja.             “Kejadiannya di Solo juga. Udah berabad-abad yang lalu, sih. Sekitar tahun seribu delapan ratus tahunan, lah. Gue agak lupa. Yang gue sesalin, kenapa Putri Slavia harus mau nikah sama Pangeran Artemis. Dan si Pangeran Flamel juga akhirnya nikah sama Putri Aurora.” Thania nampak berkaca-kaca. “Sedih Hayati jadinya.”             Phoebe menghela napas panjang dan mengambil selembar foto dari atas meja. Ditatapnya foto tersebut dengan alis terangkat satu.             “Ini....” Gadis itu menyipitkan mata untuk memastikan dan ternyata memang benar. “Lo ngerasa dia mirip sama si jok mobil, nggak, sih?”             “Jok mobil?” tanya Thania, Gia dan Shasa berbarengan.             “Jack Thampson.” Phoebe menyebutkan nama itu dengan malas dan ogah-ogahan. Namun, hanya dengan menyebutkan nama itu saja rupanya bisa membuat jantungnya berdetak di atas normal.             Tak lama, oknum yang baru saja disebutkan namanya oleh Phoebe muncul di ambang pintu. Laki-laki itu rupanya juga sedang menatapnya dan kini tersenyum. Sangat lembut dan hangat. Membuat Phoebe terpana dan buru-buru melepaskan pandangannya.             “Iya, ya?” Thania meraih foto di tangan Phoebe dan memperhatikan dengan seksama. “Kok gue baru sadar, ya? Putri Slavia mirip banget sama elo, Pangeran Flamel mirip sama Jack Thampson. Terus....” Tangannya meraih selembar foto dan menatap sosok di pojok kelas yang tengah dihampiri oleh Jack. “Putri Aurora mirip sama Mawaddah Aurora!”             Semua mata kini menatap ke arah Aurora yang sedang tertawa bersama Jack. Keduanya nampak akrab, membuat Phoebe merasakan hal itu lagi. Hal yang dia tidak tahu apa artinya. Hal yang selalu muncul di hatinya, jika dia melihat kebersamaan Jack dan Aurora.             b******k!             Ada apa dengannya?!             Ketika Thania, Gia dan Shasa pergi menghampiri Jack dan Aurora seraya membawa foto Putri Aurora dan Pangeran Flamel, Phoebe membuang muka. Kedua tangannya terkepal tanpa sadar dan dia bangkit dari kursinya. Dia merasa gerah dan panas. Dia butuh oksigen dan angin untuk menyegarkan diri, otak terlebih hatinya.             Lalu, dia tidak sengaja menyenggol meja Thania, menyebabkan empat lembar foto jatuh begitu saja. Tidak ingin Thania mendapat masalah karena kehilangan foto-foto yang memiliki legenda tersendiri di kota kelahiran temannya itu, Phoebe terpaksa berjongkok untuk mengambil keempat foto tersebut.             Foto yang membuatnya membeku detik itu juga.             Foto itu diberi label nama. Yang membuat Phoebe heran bukan main adalah, di saat dia melihat foto berlabelkan nama Pangeran Lionel, Pangeran Volkano dan Pangeran Elusion.             “Kenapa mereka mirip banget sama Bang Al, Bang Red dan Bang Zero?”             Phoebe melupakan kenyataan bahwa foto dengan label nama Pangeran Artemis juga mengingatkannya pada seseorang. Seseorang yang baru ditemuinya tadi malam dan tahu bahwa dia adalah keturunan Abimanyu.             Haikal Putra, si manager resto cepat saji. ### Hari ini, Haikal Putra memutuskan untuk tidak datang bekerja. Pertemuannya dengan Phoebe semalam membuatnya yakin akan satu hal. Dia tidak tahu apakah gadis itu akan mendengarkan semua omong kosongnya nanti. Yang jelas, pertemuannya dengan Phoebe, Aurora dan seorang laki-laki lainnya sudah ditakdirkan sejak lama.             Haikal sudah jutaan kali mendengar ucapan kakeknya sejak dia kecil sampai sekarang. Bahwa dia adalah reinkarnasi dari seorang Pangeran di masa lampau. Dia bukanlah orang yang percaya pada reinkarnasi atau semacamnya. Dia mengandalkan logika dan akal sehat. Selama ini, dia selalu mengiyakan saja perkataan kakeknya agar beliau senang.             Sampai kemudian, dia diberikan tujuh lembar foto oleh sang kakek, tepat sebelum beliau meninggal di usianya yang menginjak seratus tahun. Tujuh lembar foto yang membuatnya mengerutkan kening karena bingung.             Dia tertegun kala melihat dirinya sendiri di salah satu foto. Foto itu diberi nama Pangeran Artemis. Jadi, apa yang diucapkan kakeknya selama ini benar. Bahwa dia adalah reinkarnasi dari seorang Pangeran di masa lampau. Hanya saja, dia tidak percaya bahwa hal-hal semacam ini benar terjadi. Dia sendiri pernah menonton beberapa film yang menuangkan cerita reinkarnasi atau semacamnya. Misalkan saja si tokoh utama memiliki kehidupan sebelumnya sebagai seorang Pangeran, dan di masa ini, dia dilahirkan kembali. Tapi, si tokoh utama langsung mengingat kehidupannya di kehidupan sebelumnya, tepat ketika dia menyadari bahwa dirinya adalah reinkarnasi dari Pangeran tersebut.             Namun, hal itu tidak terjadi padanya.             Dia tidak ingat apa yang sudah terjadi di masa Pangeran Artemis berlangsung itu. Pangeran yang wajahnya benar-benar mirip dengannya. Mungkin, ini hanya kebetulan saja.             Sampai akhirnya, dia melihat ketiga foto Pangeran yang lain, yang diberi nama Pangeran Lionel, Pangeran Volkano dan Pangeran Elusion. Dia merasa pernah melihat orang-orang di dalam foto itu. Lalu, sebuah nama muncul di benaknya dan dia langsung mencarinya di internet.             Benar!             Ketiga Pangeran itu sangat mirip dengan anggota keluarga Abimanyu yang terkenal di kalangan masyarakat. Kemudian, Haikal memutuskan untuk tidak mempermasalahkan hal-hal yang kemungkinan besar hanyalah sebuah kebetulan ini.             Kemudian, dia bertemu Phoebe, Aurora dan seorang laki-laki di resto cepat saji tempatnya bekerja sebagai seorang manager.             Dia terpana kala menatap Aurora dan laki-laki yang duduk bersama gadis itu. Haikal merasa seperti mengalami deja vu. Dia seolah mengenal kedua orang di hadapannya tersebut. Lalu, Phoebe datang. Dan, dia semakin yakin dengan perasaannya. Bahwa dia mengenal ketiga orang di hadapannya.             Setelah mengantar Aurora pulang, Haikal langsung mencari ketujuh foto yang diberikan sang kakek kepadanya. Dia menjentikkan jari ketika melihat foto Putri Aurora dan Pangeran Flamel. Keduanya sangat mirip dengan Aurora dan laki-laki yang duduk bersama gadis itu di resto. Lalu, ketika tatapan Haikal beralih kepada foto Putri Slavia, dia mengangkat satu alisnya.             Putri Slavia mirip dengan gadis yang mendadak datang di resto, yang belakangan dia ketahui bernama Phoebe. Tentu saja saat itu dia belum berkenalan dengan Phoebe, karena dia baru tahu nama gadis itu saat pertemuan selanjutnya di jembatan semalam. Dia hanya mengikuti instingnya untuk mencari lagi anggota keluarga Abimanyu dan foto Phoebe keluar di layar laptopnya.             Karena itulah, semalam dia menyebutkan nama Abimanyu hingga membuat Phoebe bersikap waspada kepadanya.             “Menarik,” gumam Haikal seraya menyesap kopinya. Laki-laki berkacamata itu memperhatikan ketujuh foto yang disebar secara acak di atas meja. Dia tersenyum lalu mengambil dua lembar foto. Satu foto Putri Slavia dan satu lagi foto Putri Aurora.             “Kata kakek, Pangeran Artemis dinikahkan dengan Putri Slavia. Sedangkan Pangeran Flamel menikah dengan Putri Aurora. Tapi, Pangeran Flamel dan Putri Slavia saling mencintai,” kata Haikal dengan nada menerawang. Ditatapnya kedua foto Putri dari kerajaan berbeda itu dengan tatapan lembut. Sangat cantik, seperti Phoebe dan Aurora. “Kali ini, mungkin ada sedikit perubahan.”             Angin seolah menyetujui ucapan Haikal, membuat laki-laki itu kembali tersenyum. ### Phoebe menguap kecil dan mempercepat langkahnya. Dia ingin segera sampai di rumah dan beristirahat. Berada dalam ruangan yang sama dengan Jack entah kenapa membuatnya merasa sesak. Terlebih ketika adegan Jack dan Aurora mengobrol dan tertawa bersama terus berputar di benaknya seperti kaset rusak.             Sesampainya di parkiran, langkah kaki Phoebe terhenti. Di sana, tak jauh dari mobilnya, seseorang bersandar sambil bersedekap. Melihat kemuncullan orang tersebut otomatis membuat kewaspadaan Phoebe meningkat. Namun, gadis itu tetap mendekati orang tersebut.             “Mau apa lo di sini?” tanya gadis itu dingin. Mengabaikan senyuman yang diberikan orang itu untuknya.             “Hanya ingin memastikan keadaan orang yang berniat untuk bunuh diri semalam.” Orang itu mengangkat bahu tak acuh dan semakin tersenyum. Dia, Haikal.             “Darimana lo tau kampus gue?”             “Zaman udah kelewat canggih, Phoebe Abimanyu. Hanya dengan bermodalkan ponsel, saya bisa mencari tahu semua tentang kamu. Terlebih kamu adalah keturunan seorang Abimanyu.”             “Phobia?”             Jack tiba-tiba hadir, berdiri di sisi kiri Phoebe seraya menatap gadis itu dan laki-laki di hadapan Phoebe secara bergantian. Rasanya, Jack pernah bertemu Haikal sebelum ini.             “Saya manager di resto cepat saji waktu itu. Haikal Putra.”             Barulah Jack menjentikkan jari dan tersenyum ramah. “Ngapain di sini?”             “Mencari Phoebe.”             Kalimat itu sukses membuat senyuman Jack menghilang. Dia kembali menatap Phoebe, namun gadis itu menolak menatapnya. Saat mulutnya terbuka, hendak bertanya apakah Phoebe mengenal Haikal, sebuah suara telah lebih dulu menginterupsi.             “Haikal?”             Ketiganya menoleh bersamaan dan bertemu mata dengan Aurora.             Keempat orang itu kemudian saling menatap dan suasana mendadak berubah drastis. ###  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD