Chapter 6

2108 Words
“Semoga Tuhan ngasih gue kesabaran untuk menghadapi orang galak macam lo, Phobia.”             Phoebe menggeram kesal dan terus melanjutkan langkah cepatnya. Bahkan, gadis itu sudah terlihat seperti berlari. Namun, Jack tetap saja mengikutinya di belakang. Kadang, Phoebe heran dengan kelakuan manusia yang bernama Jack Thampson itu. Dari ribuan mahasiswi yang ada di kampus ini, kenapa laki-laki menyebalkan itu harus menyukainya? Tidak bisakah dia menyukai gadis lain? Aurora misalnya?             Padahal, hari ini Jack tidak melakukan apa pun yang bisa membuat Phoebe kesal bahkan nyaris berteriak keras saking emosinya. Laki-laki itu justru menolongnya saat climbing di wall milik kampus tadi. Tapi, kenyataan bahwa Jack selalu ada di sekitarnya dan menolongnya justru membuat Phoebe geram. Dia tidak ingin otak dan hatinya berubah seratus delapan puluh derajat karena kelakuan dan sikap baik dari Jack untuknya.             Misalnya... mulai jatuh cinta pada Jack?             Satu gagasan itu langsung membuat langkah Phoebe terhenti. Gadis itu mulai gila sepertinya. Bisa-bisanya dia berpikir bahwa dirinya mulai jatuh cinta pada jok mobil itu? Ya Tuhan!             Karena berhenti mendadak, Jack tidak bisa mengontrol langkahnya. Laki-laki itu terpaksa menabrak tubuh mungil Phoebe, menyebabkan gadis itu limbung ke depan. Refleks, Jack meraih pergelangan tangan Phoebe dan memutar tubuh mereka, sehingga dirinya lah yang menghantam aspal, sementara Phoebe berada tepat di atas tubuhnya.             Lalu, mereka bertatapan.             Jack bisa melihat ekspresi kaget pada wajah gadis di depannya itu. Gadis yang sudah berhasil merebut semua perhatiannya. Gadis yang membutakan mata dan akal sehatnya, bahwa di luar sana, masih banyak gadis yang jauh lebih cantik, seksi dan manis daripada Phoebe. Tapi, Phoebe seolah memiliki magnet tersendiri untuk dirinya. Membuatnya tidak bisa berpaling, apalagi berpikir jernih.             Di tempatnya, Phoebe mematung. Detak jantungnya mulai meliar tanpa sebab dan alasan yang pasti. Matanya terkunci oleh manik Jack. Saat tangan Jack mulai menyampirkan anak rambutnya ke belakang telinga, disusul kemudian tangan besar nan hangat itu membelai pipi mulusnya, Phoebe mulai diserang penyakit pernapasan. Gadis itu tidak bisa menghirup oksigen sebagaimana mestinya.             “Lo cantik meskipun dalam keadaan emosi, Phobia,” kata Jack lembut. Suaranya sanggup menyihir Phoebe, melupakan rasa kesal dan emosi yang selama ini selalu ada jika berhadapan dengan laki-laki sableng di depannya itu. Bahkan, siulan menggoda dari mahasiswa lainnya yang menonton pertunjukan romantis ini pun tidak dihiraukan oleh Phoebe. “Gue harus gimana lagi supaya lo paham dan sadar kalau gue emang jatuh cinta sama lo? Apa gue harus duel dulu sama ketiga abang lo? Hmm?”             Tidak, bukan seperti itu. Phoebe hanya tidak terbiasa diperhatikan oleh lawan jenis selain ayah dan ketiga abangnya. Selama ini, tidak ada yang berani mendekatinya karena nama belakang yang dia sandang. Tidak ada yang berani berteman dengannya. Dia ingin berteman, dia ingin memiliki sahabat atau pacar, seperti kebanyakan gadis lainnya. Hanya saja, semua orang menatapnya karena dia adalah seorang Abimanyu. Seorang yang harus ditakutkan. Jadi, jika sekarang ada seseorang yang menyatakan cintanya kepada Phoebe, gadis itu takut.             Takut jika dia dipermainkan. Takut jika dia dimanfaatkan karena nama belakangnya itu.             “Kenapa diam, Phobia? Apa lo mulai terima soal perasaan gue? Gue serius, loh.” Jack tersenyum lembut. Lembut dan hangat. Dia membiarkan tangannya bertengger manis di pipi Phoebe. Merasakan hangatnya kulit gadis itu di tangannya. Entah apa yang dia sukai dari Phoebe, dia juga tidak tahu. Yang jelas, gadis itu begitu mempesona. Dibalik semua sikap galaknya, dia hanyalah gadis biasa yang rapuh dan butuh perlindungan. Bukan karena Phoebe seorang Abimanyu yang terkenal, lantas dia ingin mendekatkan diri pada gadis itu.             Tidak, tidak seperti itu.             Dia jatuh cinta pada Phoebe apa adanya. Dia tulus mencintainya.                     “Gue... gue....” Phoebe tidak sanggup berkata apa pun. Ucapan Jack membuat debar jantungnya semakin meliar. Langsung saja, Phoebe bangkit dari atas tubuh Jack dan membersihkan pakaiannya sendiri. Seolah-olah, Jack sudah menularkan berbagai macam virus mematikan di tubuhnya. Lalu, tatapan Phoebe menajam.             Membuat Jack menatap Phoebe dengan tatapan mengerti.             Gadis itu sudah membangun benteng pertahanannya jauh lebih tinggi daripada sebelumnya. Mungkin, ucapan Jack tadi sedikit banyak sudah mempengaruhi benteng pertahanan Phoebe, sehingga gadis itu takut kalau Jack akan menerobos masuk dan berhasil mendapatkan hatinya.             Oke, Jack akan berusaha lebih keras lagi. Dia akan menerjang masuk ke dalam hati Phoebe, meruntuhkan semua benteng pertahanan gadis itu dan meyakinkan Phoebe bahwa tidak semua orang ingin memanfaatkannya hanya karena nama belakang gadis itu.             “Berhenti gangguin gue, Jack! Kalau lo masih sayang nyawa lo, jauhin gue dari sekarang atau lo gue tumbalin ke Blacky!” ancam Phoebe berapi-api. Perpaduan antara emosi dan perasaan aneh yang mulai menyusup masuk ke dalam hatinya itu membuat jantungnya semakin kuat dalam bekerja. Menggedor d**a Phoebe, membuat gadis itu sedikit kesulitan dalam bernapas. “Ngerti lo?!”             Phoebe langsung pergi dari hadapan Jack yang sialnya masih saja tersenyum ke arahnya dengan cara yang sangat lembut. Tidak mau mengambil resiko dirinya jatuh ke dalam senyuman hangat itu, Phoebe membuang ludahnya ke samping, mengabaikan perasaan berdenyut dalam hatinya ketika melakukan hal itu.             Dia tidak ingin Jack sakit hati dengan tindakannya barusan. Dia takut laki-laki itu akan menjauhinya.             Lalu kenapa? Bukankah itu yang diinginkan olehnya?             Kemudian, dia mendengar suara itu.             “Jack!”             Langkah kaki Phoebe terhenti dengan sendirinya. Kedua tangan gadis itu terkepal tanpa dia sadari sepenuhnya. Sambil memantapkan hati yang mendadak nyeri tanpa alasan yang masuk akal, kepala Phoebe berputar perlahan.             Dan pemandangan itu membuatnya sesak. Sesak yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.             “Hai, Aurora.” Jack tersenyum sangat ramah dan lembut ke arah Aurora yang datang menghampirinya sambil membawa dua kotak bekal makanan. Phoebe bisa melihat bagaimana Aurora tertawa renyah dan bahagia karena Jack memujinya dan mengacak rambutnya dengan gemas. Kemudian, laki-laki itu menerima kotak bekal makanan yang dibawa oleh Aurora, membuka tutupnya, mencium aroma makanan yang ada di dalamnya dan menggelengkan kepala takjub sambil mengacungkan jempolnya.             Pemandangan itu membuat Phoebe terpaku. Tatapannya berubah datar dan ekspresi wajahnya kaku, nyaris tanpa ekspresi. Seperti itukah yang dibilang oleh Jack? Bahwa laki-laki itu menyukainya? Mencintainya?             Bullshit!             Baru beberapa menit yang lalu Jack menyatakan isi hatinya, berkoar-koar bahwa dia tulus mencintai Phoebe, dan sekarang Jack sudah berani mendekati gadis itu. Dia berani mendekati Aurora tepat di depan matanya.             Jangan menangis, Phoebe!             Sungguh, matanya memanas saat ini. Pandangannya mulai memburam. Seperti ada lapisan bening yang menggantung di pelupuk matanya. Hatinya berdenyut, nyeri rasanya. Ini baru pertama dia rasakan. Bahkan, dia sendiri tidak tahu apa yang sedang terjadi saat ini.             Lo kuat, Phoebs! Lo nggak butuh orang seperti Jack!             Mengikuti dengan pandangan bagaimana Jack menyicipi makanan yang dibawa oleh Aurora sambil tertawa, menatap ekspresi puas dan kagum di wajah Jack kepada Aurora, membuat Phoebe menarik napas panjang guna mengisi paru-parunya yang sepertinya kekurangan oksigen. Tidak ingin berlama-lama di tempat ini, Phoebe memutuskan untuk pergi.             Jauh dari kerumunan, jauh dari siapa saja, termasuk... jauh dari Jack.             Dia mempermainkan lo, Phoebs!             Ya, kata hatinya memang benar. Tidak ada satu orang pun yang mau mendekatinya secara tulus. Termasuk Jack.             Laki-laki itu hanya mempermainkannya. ### Phoebe berubah.             Bukan Redhiza, Altaro dan Zerokha namanya kalau mereka tidak bisa melihat perubahan di diri adik sepupu mereka itu. Phoebe satu-satunya anggota penerus keluarga Abimanyu yang berjenis kelamin perempuan, di mana mereka memiliki kewajiban untuk menjaga gadis itu. Dan, perubahan itu terlihat jelas di mata ketiganya.             “Lo kenapa?” tanya Redhiza dengan nada cuek seperti biasa. Namun, bagi semua orang yang mengenal Redhiza dengan baik tahu bahwa di dalam hatinya, laki-laki itu sebenarnya khawatir dengan keadaan Phoebe. “Salah makan?”             Phoebe hanya diam. Dia menatap datar ketiga abangnya yang memang mengundangnya untuk makan malam di rumah Altaro. Lexna, Alviansa dan Nima juga khawatir dengan keadaan Phoebe, namun mereka memutuskan untuk diam dan menyerahkan semua kepada para suami.             “Gue pulang dulu.” Phoebe bangkit dari kursinya dan pamit. Dia bahkan tidak menatap keenam orang itu saat melangkahkan kaki ke luar dari ruang makan. Tadinya, Zerokha berniat mengejar, namun Altaro melarang. Dia yakin bahwa Phoebe sedang membutuhkan waktu untuk sendiri.             Mobil yaris Phoebe melaju dengan kecepatan tinggi. Gadis itu menolak diantar oleh supir Altaro. Suasana hatinya benar-benar memburuk sejak kejadian di kampus tadi. Silih berganti, wajah Jack dan Aurora menari-nari di benaknya. Lalu, gadis itu menginjak pedal rem dan yaris itu pun berhenti mendadak dengan ban berdecit.             Phoebe kehilangan kontrol dirinya. Gadis itu terengah-engah, berusaha menahan gejolak emosi yang begitu menyesakkan d**a.             b******k!’             Jack Thampson benar-benar b******k!             “Gue. Benci. Sama. Lo!” Phoebe menekankan semua kalimat yang diucapkannya barusan. Kedua tangannya mencengkram kemudi dengan kuat hingga buku tangannya memutih. Merasa butuh udara segar, Phoebe ke luar dari dalam mobil dan menutup pintu dengan bantingan.             Membiarkan angin malam menerpa tubuh dan wajahnya, mengabaikan rasa dingin yang menjalar di tubuhnya, Phoebe berjalan ke arah jembatan. Di bawah sana, air sungai mengalir. Phoebe mendongak, menatap langit hitam tanpa bintang. Mendung. Sebentar lagi hujan pasti turun.             Kepala Phoebe menunduk, menatap aliran sungai di bawah sana. Dia menarik napas panjang dan memejamkan kedua mata. Belum selesai masalahnya dengan sang ayah, kini muncul masalah baru yang tidak dipahaminya. Akal sehatnya seolah berhenti berfungsi dan hatinya serasa ditusuk ribuan pisau.             “Gue kenapa, sih?!” serunya pada diri sendiri, tepat ketika buliran kristal itu jatuh begitu saja dari kelopak matanya. Dia menghapusnya dengan kasar dan kembali menarik napas panjang. “Udah sinting kayaknya!”             Lagi, wajah Jack dan Aurora menari-nari di benaknya. Phoebe menggeram frustasi dan melempar batu di dekat kakinya ke bawah. Ke arah sungai yang mengalir di sana. Napasnya kembali terengah. Belum, rasa sesak ini belum hilang. Dia butuh pelampiasan. Dia butuh sesuatu untuk melampiaskan emosinya.             Haruskah dia menyuruh Blacky untuk memangsa Jack?             “Tadinya saya pikir, kamu berniat terjun ke bawah.”             Suara b***k, serak dan parau itu mengusik Phoebe. Perpaduan yang sangat menggoda sebenarnya, tapi tidak untuknya. Gadis itu menoleh dan menatap tajam serta waspada seorang laki-laki berkacamata yang kini tersenyum ke arahnya sambil mengangkat satu alis.             “Lo siapa?”             “Tenang,” kata laki-laki itu lembut. Dia bahkan tidak terintimidasi dengan tatapan tajam milik Phoebe. “Saya bukan orang jahat. Saya cuma tidak sengaja lewat dan melihat kamu. Lalu, saya pikir kamu berniat bunuh diri dengan terjun ke sungai atau semacamnya.”             “Cih,” cibir Phoebe. “Gue nggak butuh siapa pun untuk mengasihani gue! Kalau pun gue mau lompat dan bunuh diri, nggak ada satu orang pun yang bisa menghalangi niat gue!”             Laki-laki itu diam. Senyumnya hilang. Namun, tatapan matanya terlihat lembut kepada Phoebe. Dalam satu menit saja, begitu Phoebe selesai mengucapkan kalimat tadi, dia sadar bahwa gadis di depannya ini adalah gadis rapuh yang mencoba membuat benteng pertahanan agar terlihat kuat.             “Kamu nggak capek berusaha terlihat kuat di depan orang lain?”             Langkah kaki Phoebe terhenti. Tadinya, dia berniat masuk ke dalam mobil agar terbebas dari orang asing itu. Nyatanya, ucapan orang itu berhasil menyentil hati Phoebe. Gadis itu kini menoleh dan semakin menatap tajam laki-laki tersebut.             “Apa maksud lo ngomong begitu?” tanya Phoebe dingin. “Nggak usah sok tau sama kehidupan gue!”             “Saya nggak ada maksud apa pun,” katanya membela diri dan mengangkat bahu tak acuh. Kepalanya dimiringkan seraya tersenyum tipis. “Saya hanya kasihan sama kamu. Kamu berusaha untuk terlihat kuat dan tegar, meskipun kamu tau bahwa sebenarnya kamu jauh dari dua kata itu. Apa kamu pikir semua orang tertipu dengan usaha kamu itu?”             Phoebe semakin tidak bisa mengontrol emosinya. Kedua tangannya terkepal kuat di sisi tubuh.             “Saya sarankan, kamu sebaiknya tidak usah berpura-pura lagi. Semuanya sia-sia saja.” Laki-laki itu semakin tersenyum dan mendekat ke arah Phoebe. Dia sedikit menunduk agar wajahnya bisa sejajar dengan wajah gadis itu. “Kamu sebenarnya gadis yang baik. Saya bisa melihatnya. Kamu rapuh, kamu butuh sandaran. Dan yang saya liat, kamu sepertinya sedang mencoba membohongi diri sendiri dari orang yang kamu cintai.”             DEG!             Apa maksudnya?             Apa maksud ucapan laki-laki asing ini?             “Kamu cemburu pada gadis itu sebenarnya, tapi kamu mengelak akan hal itu.”             “Siapa lo sebenarnya?!” seru Phoebe akhirnya.             “Saya?” Laki-laki itu mengulurkan tangan kanannya kepada Phoebe, meskipun dia tahu, uluran tangannya tidak akan pernah disambut oleh gadis dingin di depannya itu. “Nama saya Haikal. Kamu lupa? Kita bertemu di restoran cepat saji tempo hari. Saya, kamu, seorang laki-laki lainnya dan juga... Aurora.”             Nama itu... nama gadis itu membuat sesak di hati Phoebe semakin bertambah kuat.             Sialan!             “Lo kenal sama Aurora?”             Haikal mengangguk.             Phoebe tidak bersuara lagi. Gadis itu menatap uluran tangan Haikal yang masih terarah kepadanya.             Laki-laki keras kepala!             Akhirnya, dengan ogah-ogahan, Phoebe menyambut uluran tangan itu. Meskipun dengan setengah hati dan wajah datarnya, senyuman Haikal masih saja menyambut Phoebe.             “Phoebe.”             “Abimanyu, kan?”             Kening Phoebe mengerut dan alisnya terangkat satu. Tatapan waspada itu semakin meningkat, seiring dengan Haikal yang menyebutkan nama belakangnya. Dengan satu gerakan cepat, Phoebe menarik uluran tangannya dan menyipitkan mata.             “Lo siapa? Kenapa tau kalau gue seorang Abimanyu?” tanyanya curiga.             Haikal diam. Senyumnya menghilang. Tatapan matanya memang masih terasa lembut, namun Phoebe merasa ada yang berbeda.             Hatinya mengatakan, orang bernama Haikal ini menginginkan sesuatu darinya.             Atau dari semua keluarga Abimanyu.             “Saya Haikal, Phoebe.” Haikal menjawab dengan nada menerawang. “Just Haikal.”             Lalu, senyuman itu muncul lagi.             Kali ini, Phoebe bisa merasakan adanya aura misterius yang keluar dari Haikal. Terlebih dari senyumannya. ###  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD