02
Sinar matahari menerobos masuk melalui celah gorden yang terbuka separuh. Sekar mengerjap-ngerjapkan mata untuk membiasakan dengan suasana terang.
Sekar memindai sekitar. Tatapannya terhenti pada setelan blus dan celana panjang krem, yang berada di standing hanger.
Perempuan berambut panjang itu bangkit duduk dengan bertumpu pada kedua siku. Sekar menarik selimut untuk menutupi bagian tengah tubuhnya.
Sekar memerhatikan sekeliling. Dia meringis ketika menyadari bila hanya ada secarik kain penutup bagian bawah yang teronggok di lantai, sedangkan jubah mandinya menghilang.
Perempuan berhidung bangir beringsut ke tepi kasur. Dia membungkuk untuk menggapai kain kecil. Lalu dia cepat-cepat memakai benda itu.
"Sekar," panggil seseorang dari belakang yang sukses mengagetkan Perempuan tersebut. "Ehm, mau sarapan di sini, atau di depan?" tanyanya sambil mendekat.
Sekar menarik selimut untuk menutupi bagian atas tubuhnya. "Ehm, di luar aja. Aku mau mandi dulu," jawabnya sembari memandangi pria berkaus putih pas badan. "Jubah mandi, di mana?" desaknya.
"Di toilet. Sebentar, kuambilkan." Bryan berbalik dan bergegas memasuki toilet. Tidak berselang lama dia kembali dan memberikan jubah handuk pada Sekar.
Keduanya sempat tertegun, sebelum Bryan mengayunkan tungkai keluar kamar. Dia berhenti di dekat sofa, lalu memandangi langit cerah di luar kaca.
Bryan menggaruk-garuk kepala. Dia bingung hendak menjelaskan apa pada Keven, bila Adik angkatnya itu menanyainya.
Pria berkumis tipis tersebut mengingat sosok Heru. Bryan tidak bisa membayangkan reaksi sahabatnya tersebut, jika mengetahui dirinya dan Sekar telah menghabiskan malam bersama.
Bryan mengomeli diri yang tidak mampu menahan hasrat, hingga melakukan kisah cinta semalam dengan temannya. Bryan memijat tengkuk, sembari membayangkan reaksi Aruna, Jourell dan Vlorin, jika mereka mengetahui peristiwa kemarin malam.
Puluhan menit terlewati, Bryan dan Sekar telah berada di sofa. Keduanya bersantap tanpa saling berbincang. Hanya suara televisi yang terdengar, selebihnya sunyi.
Bryan yang lebih dulu menghabiskan makanannya, melirik Sekar yang tengah sibuk dengan ponselnya.
"Sekar, yang kemarin malam ... aku minta maaf," cakap Bryan.
Sekar terdiam sejenak, kemudian dia menyahut, "Itu bukan salah Mas. Aku yang meminta."
"Ehm, aku nggak pakai pengaman."
"Ini bukan masa suburku."
"Beneran?"
"Hu um."
"Kalau jadi, gimana?"
Sekar meletakkan ponselnya ke meja. "Kayaknya nggak mungkin, Mas."
"Kenapa?"
"Aku ... PCOS. Saat masih bersuami dulu pun, aku nggak pernah hamil. Padahal kami sudah mencoba inseminasi buatan, tapi gagal."
Bryan tertegun. "Sorry, aku nggak bermaksud untuk mengorek rahasiamu."
"Enggak apa-apa." Sekar mengingat masa lalu. "Justru setelah bercerai darinya, aku bersyukur, kami tidak memiliki keturunan. Kalau punya anak, kasihan dia, karena rumah tangga orang tuanya hancur karena perselingkuhan ayahnya," lanjutnya.
Bryan manggut-manggut. Dia tahu kisah masa lalu Sekar bersama mantan suaminya. "Ke mana mantanmu sekarang?"
Sekar mengangkat bahunya. "Enggak tahu. Terakhir yang kudengar dari Agung, dia di Bali. Tapi aku beneran nggak paham dia ngapain di sana."
"Agung supervisor PB dan PBK wilayah Bali sama Nusa Tenggara?"
"Ya, supervisor abadi."
Bryan menyunggingkan senyuman. "Aku sudah lama nggak ke Bali. Terakhir, sekitar tiga tahun lalu. Waktu peresmian hotel para bos senior."
"Aku waktu itu nggak datang. Kalau nggak salah, lagi liburan ke Yunani sama keluarga. Cuma Mas Tohpati yang mewakili keluarga kami saat grand lounching itu."
"Kamu nyebut Yunani, aku baru ingat. Waktu itu Heru ada bilang mau ada proyek di sana."
"Ya, bareng Jerome Hank Ming, Aaron Lawrence, Philips dan Matthew Beurergard, Ludwig dan Haghen Van Alphern,
Patrick Fillmore, serta Baltissen Grup Spanyol."
"Kapan dimulainya?"
"Kalau nggak salah, September. Nanti aku tanya ke Hisyam."
"Dia yang pegang?"
"Ya, sama Tari, Rangga, dan Yardley."
"Kalau masih bisa, aku mau ikut."
"Dari HKB?"
Bryan menggeleng. "Aku pribadi. Ini buat si bungsu. Dia ribut aja nanya kerjaan."
"Zaiban mau mengikuti jejak Mas sebagai pengusaha sukses."
"Aku belum sukses. Ini cuma mendompleng nama Papa."
Dering ponsel Bryan memutus percakapan itu. Sekar memerhatikan sang duda yang tengah berbincang dengan seseorang yang diduganya pengasuh kedua anak Bryan.
"Sekar, aku harus pulang. Lucky tadi pagi main bola dan jatuh di lapangan. Tangan kirinya keseleo," terang Bryan seusai menutup sambungan telepon.
"Aku ikut, boleh?" tanya Sekar.
"Ehm, ya."
"Sebentar, aku ambil tas dulu."
***
Sekar memerhatikan bocah laki-laki yang tengah merengek pada papanya. Sekar mengulum senyuman, karena Bryan kesulitan membujuk putranya, agar mau diurut Shinshe.
Perdebatan antara kedua pria berbeda generasi itu berlangsung cukup lama. Sebelum akhirnya Sekar memutuskan untuk turun tangan.
"Lucky, lihat ini," cakap Sekar sambil menunjukkan bekas jahitan di siku kirinya.
"Apa itu, Tante?" tanya Lucky.
"Bekas jahitan."
"Kok, bisa begitu?"
"Tante dulu rada tomboi. Mainnya sama laki-laki. Dan luka ini didapat waktu Tante belajar naik motor. Karena panik, bukannya narik rem, malah gas yang ditarik."
"Tante jatuh?"
"Hu um. Posisinya miring ke kiri, dan tulang siku ini bergeser. Sayangnya, waktu itu Tante nggak mau diurut. Akhirnya terpaksa dioperasi," jelas Sekar. "Setelah paham, Tante nyesal. Harusnya diurut aja, sakitnya cuma sebentar. Kalau operasi, berbulan-bulan baru tangannya bisa lurus," lanjutnya.
Lucky terperangah. Dia mengamati Sekar yang sedang menggerak-gerakkan tangannya dengan pelan. Lucky menggigit bibir bawah. Dia tidak mau sakit lama seperti Sekar, dan akhirnya dia memutuskan mau dipijat.
Selama belasan menit berikutnya, Sekar berusaha menguatkan diri. Sebetulnya dia tidak tega melihat Lucky kesakitan saat diurut Shinse langganan hotel Arvhasatya, yang tadi diminta datang oleh Bryan.
Setelahnya, Sekar mengantarkan Lucky ke kamarnya. Dia ikut duduk di samping kanan laki-laki berusia hampir 5 tahun yang tengah terisak-isak.
Sekar mengusap pelan rambut ikal Lucky yang diwarisinya dari sang mama. Sekar membatin, bila Lucky dan Karin, terpaksa harus lebih mandiri daripada anak seusia mereka. Sebab Mama kandung mereka telah pindah ke Indonesia dan memiliki anak lainnya.
Sekar teringat cerita Aruna, istri Keven, tentang masa lalu Bryan. Seperti halnya Sekar, duda beranak dua itu juga korban perselingkuhan yang dilakukan mantan istrinya dengan pria lain.
Akan tetapi, setelah bercerai dengan Bryan, Dewinta justru ditinggal selingkuhannya, yang kembali dengan istrinya, dan pindah ke Korea untuk menjauhi Dewinta.
Dalam kondisi terpuruk, Dewinta mendatangi Bryan untuk meminta maaf. Kemudian dia kembali ke Indonesia dan menetap di Kota Salatiga, untuk memperbaiki kehidupannya yang sempat kacau.
"Tante, aku lapar," rengek Lucky yang menyadarkan Sekar dari lamunan.
"Mau makan apa?" tanya Sekar.
"Cheese burger dan kentang goreng."
"Oke. Tunggu sebentar, Tante buatkan."
Selama belasan menit berikutnya, Sekar terlihat sibuk di dapur. Selain buat Lucky, dia juga membuatkan burger untuk semua orang di rumah.
Sekar mengantarkan makanan buat Lucky menggunakan meja kecil berkaki. Dia ikut menikmati burger sambil mengajak Lucky berbincang, agar lelaki kecil tersebut lupa akan rasa sakit di tangannya.
Bryan mengamati keduanya dari depan pintu kamar yang terbuka lebar. Dia terkejut, melihat Sekar yang sangat sabar meladeni putranya. Hal yang tidak pernah dilakukan Odettia, kekasih Bryan yang menetap di Melbourne.