nan 03 - Ganti Pacar

1112 Words
03 Hari berganti hari. Senin pagi, Bryan baru memasuki ruang kerjanya, ketika Keven Kahraman menerobos masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Bryan membatin jika dirinya mungkin akan diinterogasi sang adik angkat, yang tengah memandanginya saksama dari kursi seberang meja kerja. Kendatipun sudah terbiasa dicecar Keven yang lebih cerewet daripada Hansel, tetap saja Bryan deg-degan. "Acara Jumat malam belum selesai, tapi Mas sudah nggak ada. Ke mana?" tanya Keven tanpa berbasa-basi terlebih dahulu. "Aku ... nemenin Sekar. Dia butuh toilet pribadi, jadi kuajak dia ke sini," jelas Bryan. Dia memutuskan mengungkapkan bagian itu dengan jujur, tetapi tidak untuk sesi selanjutnya. "Habis itu, ke mana lagi?" "Aku nganter dia ke kamar lantai 7. Karena sesuatu hal, dia akhirnya menginap di sini. Dan aku, tidur di kamar seberangnya." "Kenapa Sekar harus menginap?" "Bagian itu, mending kamu tanya langsung ke dia." Keven menyipitkan mata. "Kenapa aku menduga jika Mas menyembunyikan sesuatu dariku?" Bryan berdecih. "Kamu makin mirip Varo dan Wirya. Mereka selalu jadi penyidik peristiwa." "Pengendus rahasia. Itu julukan yang pas buat Wirya. Kalau Varo, detektif." "Sama aja itu, beda nama, doang." "So, lanjut yang tadi." "Sudah kubilamg, kamu mending nanya langsung ke Sekar." Keven berdecih. "Harusnya Mas chat aku. Supaya bisa nyiapin pidato penutup acara. Kemarin itu, aku cuma khotbah singkat aja." "Pidato penutupan memang nggak perlu panjang. Sudah pada bosan," kilah Bryan. "Cukup bilang, terima kasih banyak atas perhatiannya dan sampai jumpa di lain kesempatan," lanjutnya. "Itu pidato ala anak SMU." "Memangnya mau sebagus apa?" "Kayak pidato Mas saat pembukaan." "Level kita sudah beda." "Cih! Sombong." Bryan terkekeh dan akhirnya memancing Keven untuk ikut tertawa. Keduanya meneruskan berbincang, hingga didatangi sekretaris yang menjelaskan jika Bryan dan Keven ditunggu di ruang rapat. Sementara itu di kantornya, Sekar tengah berbincang dengan Heru melalui sambungan telepon jarak jauh. Suara Tania, anak Heru, yang ingin berbincang dengan Sekar, menjadikan perempuan bersetelan blazer biru, tiba-tiba merindukan keponakannya. "Kakak, sudah mandi?" tanya Sekar. "Sudah. Bun, kapan pulang?" desak Tania. Diasuh oleh Sekar sejak ibunya wafat, menjadikan Tania menyematkan panggilan Bunda pada Adik ayahnya tersebut. "Ehm, mungkin awal bulan depan." "Lama banget. Kakak kangen." "Bunda juga rindu, Kak. Tapi, pekerjaan Bunda masih banyak." "Akhir bulan, ada acara di sekolah. Lomba keluarga. Kakak ditemani siapa, dong?" Sekar berpikir cepat, lalu dia menjawab, "Nanti Bunda telepon Tante Maudy, atau kalau dia nggak bisa, moga-moga Tante Naysila mau nemenin Kakak." "Papa juga nggak bisa ikut. Untung Om Aric mau bantu Kakak." Sekar menggerutu dalam hati. Dia kesal, karena Heru sering lalai dalam menemani Tania di acara sekolah. Biasanya Sekar atau Sulistiana, Ibu mereka, yang akan menghadiri rapat wali murid. "Papanya mana? Bunda mau bicara sebentar," ungkap Sekar. "Papa lagi ke depan, Bun," jawab Tania. "Bawa cangkir kopi?" "Hu um." "Ya, udah. Nanti Bunda telepon lagi. Papamu kalau lagi pacaran sama bunga kesayangannya, jangan diganggu. Pasti ngedumel." Tawa Tania terdengar dan Sekar kian merindukan bocah perempuan berusia 8 tahun tersebut. Setelah menutup sambungan telepon, Sekar memutar kursi untuk menghadap jendela. Langit cerah Kota Sydney di pertengahan Januari, menjadi pemandangan memukau buat Sekar. Berbeda dengan kawasan Eropa, di Australia dan New Zealand, Desember hingga Februari merupakan musim panas. Sekar kembali mengingat malam di mana dirinya bercinta beberapa kali bersama Bryan. Sekar merutuki diri yang tidak berhati-hati. Hingga bisa terjebak dalam percintaan satu malam bersama sang duda. Sekar meringis ketika terlintaa di benaknya, bagaimana dirinya yang begitu atraktif, dan diimbangi Bryan dengan sama panasnya. Sekar menggeleng pelan. Dia harus melupakan hal itu dan bisa bersikap biasa, bila kebetulan berjumpa dengan CEO HKB Grup tersebut. Akan tetapi, usaha Sekar gagal. Sore itu dia kembali bertemu Bryan di supermarket. Keduanya hendak berbelanja bahan makanan, dan Bryan meminta bantuan Sekar untuk memilihkan daging, ayam dan ikan. "Aku dicecar Keven," bisik Bryan, sembari berpura-pura tengah mengecek tanggal kadalyarsa pada kemasan ikan beku. "Dia nanya apa?" tanya Sekar dengan suara pelan, sembari menahan rasa malunya yang mencuat. "Tentang Jumat malam itu. Kenapa aku tiba-tiba ngilang." "Terus, Mas jawab apa?" "Kubilang, nganter kamu ke ruang kerja. Lalu, kita masuk ke dua kamar yang berbeda." "Ehm, ya. Itu jawaban yang bagus." "Tapi kayaknya dia nggak percaya." "Nanti kalau dia nanya, aku mau ngarang cerita." "Ehm, tentang orang yang memberimu obat, apa sudah ketemu?" Sekar menggeleng. "Aku bingung mau nyelidikin dari mana." "Sebenarnya, malam itu aku sudah minta Chatur dan Angga mengintai mereka." "Lalu, gimana?" "Dari ketiganya, cuma satu yang agak mencurigakan. Dia celingukan terus, mungkin lagi nyari kamu." "Siapa?" "Dayton." Sekar mendengkus. "Aku juga feelingnya ke dia, karena dia orang terakhir yang ngasih aku minuman. Beberapa menit langsung bereaksi." "Apa mau didalami lagi penyelidikannya?" "Memang bisa?" "Gampang." "Jangan melibatkan ajudan, Mas. Pasti nyampe ke Wirya." Bryan mengulum senyuman. "Si pengendus rahasia." "Ya, itu julukannya dari para bos PG dan PC." Bryan manggut-manggut. "Nanti aku minta tolong sama Clay, dia detektif langganan kami." "Kami?" "Para pebisnis muda di sini. Rata-rata pakai jasanya Clay jika mau menyelidiki seseorang." Puluhan menit berlalu. Keduanya telah usai berbelanja. Bryan yang ditemani Chatur, akhirnya berinisiatif untuk mengantarkan Sekar ke apartemennya. Kendatipun tidak mau merepotkan, tetapi Sekar tidak bisa menolak. Dia mengemudikan mobil SUV silver dengan kecepatan sedang, sembari mengecek ke belakang melalui kaca kecil di bagian atas. Sekar menekan klakson, sesaat setelah membelokkan mobilnya ke gerbang bangunan apartemen. Chatur yang menjadi sopir mobil MPV hitam, membalas dengan hal serupa, sebelum melanjutkan perjalanan. "Sepertinya sudah harus cari bodyguard lady yang baru buat Kak Vlorin. Supaya tidak perlu meminjam Siska, bila Kak Vlorin mau ke luar kota," cakap Chatur. "Kamulah yang usulkan ke Dedi," sahut Bryan. "Sudah pernah, tapi Dedi belum ketemu orangnya." "Kenapa nggak tarik Mathilda atau Christine? Aruna jarang ke luar kota sekarang, karena anaknya masih bayi." "Christine sudah dialihkan sebagai bodyguard lady Nona Gwen Ahyden." "Ehm, ya, aku lupa tentang itu." Chatur melirik bosnya sesaat. "Bapak kayaknya makin sering lupa." "Pikiranku penuh, karena beban kerjaan sangat banyak." "Alihkan ke Pak Andrew atau yang lainnya. Supaya beban Bapak bisa berkurang." "Andrew lagi sibuk dengan beberapa proyek. Bakal stres dia kalau kerjaannya ditambah." "Berarti Bapak harus cari asisten baru." "Sedamg dicarikan sama Debby. "Ehm, sebetulnya ada satu hal lagi yang bisa Bapak lakukan." "Gimana?" "Menikah." Bryan melemgos. "Aku dan Odettia sepakat hanya dekat saja. Dia nggak mau terikat pernikahan, dan aku juga nggak mau maksa." "Ganti pacar Bapak." "Ngawur!" "Supaya bisa segera nikah, kan, Bu Odettia nggak mau. Jadi Bapak harus cari perempuan yang mau diajak nikah." "Nyari di mana, Thur? Aku sudah susah bagi waktu." "Enggak perlu cari jauh-jauh. Bu Sekar aja." "Makin ngaco!" "Serius, Pak. Bu Sekar sayang ke Karin dan Lucky, begitu juga sebaliknya. Susah cari yang kayak begitu, kan? Bu Odettia pun, nggak nyampe level itu." Bryan terdiam. Ucapan Chatur yang memang berani mengatakan apa pun, membuat egonya tersentil. Terutama bagian Odettia yang tidak menyayangi kedua anaknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD