Bab 04 - Sudah hamil?

1088 Words
04 Ucapan Chatur tadi sore, masih terngiang di telinga Bryan. Pria berkumis tipis tersebut, terbayang perempuan berambut panjang, yang melenguh berulang kali dalam dekapannya. Masih terasa kulit halus Sekar saat disentuh Bryan. Aroma harum sabun yang menguar dari tubuh perempuan tersebut, masih tercium di hidungnya. Begitu pula dengan leher jenjang Sekar yang nyaris tidak berhenti diciumi sang duda. Bryan menggeleng kala terbayang bagian tengah tubuh Sekar. Walaupun tidak terlalu besar, tetapi bentuknya bagus dan sangat halus. Pria berkaus hijau tua, akhirnya menyerah untuk tidur. Dia bangkit duduk, lalu menimbang-nimbang hendak melakukan apa. Sekian menit berikutnya, Bryan telah berada di balkon. Dia duduk sambil menumpangkan kaki kanan ke lutut kiri. Tatapannya diarahkan pada langit yang gelap. Nyaris tidak ada bintang di sana. Sementara rembulan tengah bersembunyi di balik awan pekat. Bryan menjengit ketika ponselnya berbunyi. Dia meraih benda itu dari meja, dan segera mengangkat panggilan dari Henley, direktur operasional HKB. "Siapa yang berani menyabotase proyek kita?" tanya Bryan, sesaat setelah Henley menyelesaikan penuturannya. "Masih belum bisa dipastikan, Pak. Tapi, kecurigaan mengarah ke kelompok preman di sini," terang Henley dengan bahasa Indonesia berlogat unik. "Selidiki terus. Kalau sudah fix, hubungi Geoff, dia tengah berada di Townsville." "Siap." "Usahakan kabar ini jangan menyebar dulu. Minta ketua sekuriti untuk menenangkan anak buahnya." "Supaya info ini nggak nyampe ke Yanuar dan Power Rangers lainnya." "Hu um. Mereka pasti langsung datang, dan aku nggak mau ada perang lagi." "Kecuali terdesak." Bryan berdecih. "Kenapa kamu sepertinya menginginkan ada keributan ?" "Kok, Bapak tahu?" "Otakmu sudah terkomtaminasi orang-orang PB dan PBK. Urusan kecil pun, mereka maunya perang." Henley tertawa, sedangkan Bryan mengulum senyuman. Setelah tawanya lenyap, Henley berpamitan dan menutup sambungan telepon. Sementara itu di unitnya, Sekar terbangun karena mimpi buruk. Dia mengusap d**a sambil mengatur napas yang ngos-ngosan. Sekar memindai sekitar untuk memastikan tidak ada orang lain di sana. Terbayang kembali bunga tidur yang baru saja lewat. Sekar bergidik ketika mengingat peristiwa di masa lampau, di mana dirinya menjadi korban kekerasan mantan suaminya. Sebab tidak bisa tidur kembali, akhirnya Sekar duduk dan beringsut ke tepi kasur. Dia menjejakkan kaki ke sandal lembut, lalu berdiri. Tidak berselang lama, Sekar telah berada di kursi dekat pantry. Dia menyeruput s**u cokelat hangat, sambil memikirkan mimpi tadi. Sekar mengecek jam dinding, sebelum berdiri dan jalan kembali ke kamar. Dia menyambar ponsel dari meja kecil samping kasur, lalu menelepon seseorang yang berada di tempat, yang waktunya lebih lambat 11 jam dari Sydney. "Waalaikumsalam. Lagi sibuk, Dek?" tanya Sekar, sesaat setelah disapa Adik bungsunya. "Enggak, Mbak. Aku masih ngulet-ngulet di kasur," terang Utari Pratista Dewawarman. "Enggak masak?" "Abang yang giliran masak hari ini." "Hmm, kalau Hisyam yang masak, lauknya nggak jauh dari mi, sarden, kornet, atau telur dadar." "Ho oh. Kacau emang dia. Nggak bisa-bisa diajarin masak." Utari bangkit duduk. Meskipun berbeda jarak, tetapi ikatan batinnya dengan Sekar sangat kuat. "Mbak mimpi buruk lagi?" desaknya. "Loh, kok, tahu?" "Mbak pasti akan langsung meneleponku bila mengalami mimpi itu lagi." "Ehm, ya." "Masih mimpi yang sama?" "Hu um, tapi tempatnya di sini. Sydney, maksudku." Utari mengerutkan dahi. "Apa dia ada di sana, ya?" "Enggak tahu, Dek. Makanya aku nelepon kamu. Mau minta tolong kamu tanyain ke temanmu yang di Bali itu. Buat memastikan si bren-gsek itu ada atau nggak di sana." "Enggak minta tolong Mas Agung aja?" "Lalu, beritanya nyampe ke Wirya dan nyebar ke Mas Heru serta Atalaric." Utari mengulaskan senyuman. "Ya, Mbak benar. Mereka pasti heboh." "Makanya itu. Aku bingung mau minta tolong siapa lagi. Kenalanku di Bali, cuma sebatas orang-orang PB dan PBK." "Oke, nanti aku hubungi Yana. Moga-moga dia bisa cari info." "Dek, usahakan suamimu jangan sampai tahu." "Siap. Tenang saja. Ini urusan para ladies. Abang nggak perlu tahu." *** Hari berganti hari. Siang itu, Bryan didatangi Clay. Sang detektif menerangkan hasil penyelidikannya selama beberapa hari terakhir. Bryan terperangah, ketika Clay menyebutkan jika Dayton memang gemar menjebak para perempuan yang akan menjadi korbannya. Selain Sekar, sudah ada beberapa perempuan yang semuanya berstatus janda, yang pernah melaporkan Dayton ke polisi, karena telah menjadi korban asusila. Akan tetapi, karena tidak cukup bukti, Dayton selalu bebas dan kasusnya tidak pernah sampai ke persidangan. Selain itu, beberapa korbannya dikabarkan menghilang tanpa jejak, setelah kasus itu ditutup pihak berwajib. "Yang kamu temui, berapa orang?" tanya Bryan. "Hanya dua orang. Itu pun sangat sulit untuk mengorek keterangan dari mereka," jelas Clay. "Apa mereka diancam?" "Kemungkinan memang begitu. Saat kutemui, mereka hanya membuka pintu sedikit. Kupikir mereka jadi trauma bertemu dengan laki-laki." Bryan memegangi dagunya yang ditumbuhi jenggot pendek. "Berarti harus perempuan yang mendatangi. Mungkin bisa dapat info lebih." "Siapa yang mau dimintai bantuan?" "Siska, ajudannya Sekar. Kalau nggak salah, hari ini dia pulang dari Canungra." Clay manggut-manggut. "Kabari aku jika dia sudah siap. Nanti akan kuantar ke sana." "Okay." Sepeninggal Clay, Bryan masih termangu. Dia memikirkan para korban Dayton, yang pastinya ketakutan. Bryan tidak memahami, orang seperti Dayton yang cukup sukses sebagai pebisnis, bisa melakukan kejahatan. Bryan juga tidak mengerti, kenapa Dayton harus melakukan itu dan bukan membayar perempuan pemberi jasa khusus pria. Bryan menoleh ke pintu ruang kerjanya yang terbuka. Sekar muncul bersama Chatur. Raut wajah keduanya sangat tegang dan itu menyebabkan Bryan bertanya-tanya dalam hati tentang penyebabnya. "Mas, aku dapat pesan-pesan ini," tukas Sekar sembari memperlihatkan layar ponselnya. Bryan mengambil ponsel itu dan membaca rentetan pesan dengan cepat. Dia mendengkus kuat, lalu menggerutu tidak jelas. "Jangan diblokir. Kita harus tahu siapa pengirimnya," ujar Bryan. "Ya, Mas," balas Sekar. "Kamu jangan panik dulu. Bisa saja orang yang mengirim pesan ini cuma iseng." "Itu bukan iseng. Di pesan terakhir, dia menyebutkan nama lengkapku, dan jarang ada orang yang tahu tentang itu. Maksudku, di Sydney." "Kamu berasal dari keluarga terpandang. Gampang bagi orang asing buat mengecek infomu." "Ehm, ya." "Hapemu yang ini, biar aku yang pegang. Kalau orang itu kembali menakut-nakuti, mau aku kerjain." "Kerjain gimana?" "Pura-pura jadi kamu, tapi versi centil." Sekar terperangah, sedangkan Chatur spontan tersenyum. Bryan kembali membaca pesan-pesan itu dari atas, sambil menebak-nebak siapa pelakunya. "Mas, kalau Tari chat atau nelepon, minta dia buat ngubungin aku di nomor kedua," cakap Sekar. Bryan mengangguk mengiakan. "Apa kabarnya?" "Baik." "Sudah hamil?" "Enggak mau sekarang-sekarang katanya. Nunggu dia dan Hisyam pulang ke Indonesia." "Ya, hamil muda di tanah rantau memang beda. Mungkin karena jauh dari keluarga, bawaannya lebih berat." "Padahal aku sudah pengen punya gendongan baru." "Kamu saja yang hamil dan punya anak sendiri." Sekar spontan mencebik. "Mas, nih, omongannya ngawur. Aku nggak punya suami. Bakal heboh keluarga Dewawarman, kalau tiba-tiba aku hamil, tanpa ada kabar pernikahan." "Bapak pasti mau jadi suami Ibu," canda Chatur. Sebelum dia cepat-cepat lari keluar ruangan untuk menghindari omelan bosnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD