05
Jalinan waktu terus bergulir. Pagi itu, Sekar dan Siska keluar dari mobil SUV silver. Keduanya jalan cepat memasuki gedung puluhan lantai di pusat Kota Sydney.
Mereka disapa petugas keamanan yang kemudian mengantarkan keduanya menuju lift. Sekian menit berlalu, Sekar dan Siska tiba di lantai 17. Mereka mendatangi sekretaris direksi, lalu keduanya memasuki ruang rapat di seberang koridor.
Sekar menyalami rekan-rekannya sesama pebisnis. Namun, ketika melihat seorang pria di kursi sudut kiri, Sekar sontak tertegun.
Siska menyentuh lengan kiri bosnya, lalu menunjuk ke kursi kosong di antara Gwen Ahyden dan Rachel Brown. Setelah Sekar menempati kursinya, Siska berpindah ke deretan belakang, di mana sekumpulan asisten bos lainnya tengah duduk.
Selama puluhan menit berikutnya, Sekar berusaha fokus mengikuti rapat. Dia sama sekali tidak menoleh ke sudut kiri, di mana pria masa lalunya tengah berada.
Sekar tidak habis pikir, bagaimana Tarendra Palguna bisa berada di sana. Padahal pria itu terakhir diketahui tengah berada di Bali.
Kedipan di ponselnya mengalihkan perhatian Sekar. Dia menunduk dan menekan notifikasi pesan dari Utari. Sekar menggerutu dalam hati saat membaca informasi dari adiknya, yakni jika Tarendra telah dua minggu terakhir pindah ke Sydney.
Sekar memasukkan ponsel ke saku blazer abu-abu yang dikenakannya. Perempuan yang mengikat rambutnya setengah, berusaha tetap tenang, walaupun hatinya gundah.
Seusai rapat, Sekar sengaja berlama-lama berbincang dengan rekan-rekannya. Setelah memastikan Tarendra telah pergi, barulah Sekar bisa sedikit lega.
"Kamu masih ada meeting?" tanya Gwen.
"Tidak ada," sahut Sekar.
"Ikut denganku. Kita coba restoran baru milik temanku. Lewis."
"Lewis Marinus Smith?"
"Ya. Apa kamu mengenalnya?"
Sekar mengangguk mengiakan. "Kami beberapa kali bertemu di berbagai tempat hiburan miiknya."
"Hmm, apa kamu yang dibilangnya Tuan Putri?"
Sekar mengangkat alisnya. "Tidak tahu. Dia tidak pernah menceritakan kehidupan pribadi. Pembicaraan kami hanya seputar bisnis."
"Dilanjutkan nanti bicaranya, Ladies. Kita harus berangkat sekarang. Aku lapar," sela Rachel.
Ketiga perempuan berbeda tampilan itu melenggang keluar dengan diikuti para asisten. Setibanya di dekat lift, seorang pria menyelinap dan menggamit tangan kiri Sekar.
"Apa kabar, Istriku sayang?" tanya Tarendra yang menyebabkan Sekar kaget.
"Aku bukan istrimu lagi. Kita sudah cerai sejak 4 tahun lalu!" desis Sekar sembari menyentakjan tangannya, hingga terlepas dari pegangan pria bersetelan jas cokelat.
"Bagiku, kamu tetap istriku. Apalagi saat banding itu, aku menang."
"Dan aku mengalahkanmu lagi di MA. Itu pengadilan tertinggi di Indonesia. Keputusannya sudah final!"
"Aku masih mencintaimu."
"Makan saja cintamu. Aku tidak butuh!"
Pintu lift terbuka dan Sekar bergegas masuk. Kala Tarendra hendak menyusul, Siska spontan menghalanginya. Tarendra hendak memprotes, tetapi Siska menyingkap blazernya untuk memperlihatkan pistol.
Panggilan Sekar menyebabkan Siska menoleh ke belakang. Dia mengangguk, lalu kembali memandangi laki-laki yang diketahuinya sebagai mantan suami Sekar.
Siska jalan mundur memasuki lift. Rachel yang berada di dekat pintu, menekan tombol agar pintu elevator segera menutup.
"Siapa laki-laki tadi?" tanya Gwen sambil memandangi wajah Sekar yang terlihat tegang.
"Mantan suamiku," jelas Sekar.
"Mbak, bagaimana dia bisa ada di sini?" desak Siska sembari berbisik.
"Tadi Tari chat aku, dia dapat informasi jika pria tadi telah membantu Edric Palmer di Bali," jelas Sekar. "Masih belum tahu bantuannya seperti apa, tapi yang pasti, dia akhirnya diajak bos itu untuk kerja di sini," lanjutnya.
"Maksudmu, Edric anaknya Tuan Palmer?" sela Rachel.
"Ya, karena itu, tadi mantanku datang untuk mewakili Palmer Grup," ungkap Sekar. Dia mendekatkan diri ke ajudannya, lalu berbisik, "Tolong hubungi Wirya. Minta dia chat aku di nomor kedua."
"Ya, Mbak," balas Siska.
"Ini memang sudah di luar kendali. Mau nggak mau aku harus meminta bantuan Wirya dan teman-teman PBK," cakap Sekar sembari memijat pangkal hidungnya.
Siska mengamati bosnya. Dia mengkhawatirkan keselamatan Sekar, terutama karena perempuan yang lebih tua tersebut, sudah beberapa kali mengalami mimpi buruk, dan semuanya berkaitan dengan Tarendra
Kendatipun dulu Siska belum menjadi pengawal Sekar, tetapi.dia sudah mengetahui cerita mengenaskan tentang sang bos, yang menjadi korban kebrutalan Tarendra yang tengah mabuk.
Sebagai sesama perempuan, Siska bersimpati dengan kejadian buruk yang menimpa Sekar di masa silam. Siska kian cemas, setelah mengetahui bila Tarendra telah pindah ke Sydney. Sebab kemungkinan besar mereka akan berjumpa kembali di masa mendatang.
***
Awal malam itu, Sekar membeberkan kejadian tadi siang pada Wirya, melalui sambungan video call. Bryan yang juga diundang Sekar untuk mendengarkan ceritanya, benar-benar terkejut dengan kemunculan Tarendra yang tiba-tiba.
"Apa dia yang mengirimkan pesan-pesan itu, Sekar?" tanya Bryan.
"Bisa jadi, Mas. Walaupun aku nggak paham, dia dapat nomorku dari mana," sahut Sekar.
"Mbak, segera nonaktifksn nomor itu. Mungkin saja disadap!" titah Wirya yang mengagetkan orang-orang di tempat itu.
"Duh! Aku nggak kepikiran begitu, Wir," keluh Sekar.
"Hapenya, mana?" desak Wirya.
"Ini." Bryan mengangkat benda yang diambilnya dari meja.
"Matikan, lalu cabut SIM card. Setelah itu, minta Angga bawa hape itu ke counter buat dihilangkan semua data, dan dipindahkan ke nomor baru, yang hapenya nanti disimpan di tempat aman," ungkap Wirya.
Bryan segera mengerjakan permintaan temannya. Kemudian dia memberikan ponsel itu pada Angga, yang bergegas pergi untuk melaksanakan perintah komandannya.
"Kapan Mbak ada rapat lagi, yang berhubungan dengan Palmer Grup?" tanya Wirya.
"Ehm, kayaknya minggu depan." Sekar mendengkus kuat, lalu dia bertanya, "Apa aku nggak usah hadir aja, ya?"
"Mbak tetap hadir, supaya kita bisa tahu apa lagi yang akan dilakukannya. Nanti Chatur atau Angga yang ikut ngawal bareng Siska."
"Kalau mereka ngawal aku, yang dampingi Mas Bryan, siapa?"
"Ada Taylor dan Kurt," imbuh Bryan. "Sebetulnya aku nggak perlu dikawal, tapi Wirya maksa," kelakarnya.
"Kalau nggak dijagain, bisa-bisa Mas nginap di night club," goda Wirya.
"Aku sudah tobat. Nggak pernah clubbing lagi. Lebih sering di rumah, main sama anak-anak."
"Aku nggak percaya."
"Beneran."
"Thur, kata pengawasmu, Mas Bryan beberapa kali menghilang. Pulang-pulang langsung tidur nyaris seharian. Apa betul?" desak Wirya sambil memandangi anak buahnya yang tengah berdiri di kursi belakang bosnya.
"Ini pertanyaan pelik, Bang. Aku pilih pass aja," cetus Chatur.
"Berarti benar."
"Begitulah."
"Heh! Dasar, pengkhianat!" geram Bryan, sembari berusaha meninju ajudannya yang lebih cepat menghindar.
"Aku harus ngirim laporan harian, Pak," kilah Chatur yang telah berpindah duduk ke dekat Siska di kursi samping kiri.
"Tapi jangan semuanya dilaporkan."
"Enggak bisa, Pak. Pasti ketahuan. Bang W punya mata-mata. Kalau nggak ditulis, beliau tetap tahu."
"Mata-mata di Sydney lagi libur sebulan," kelakar Wirya.
"Tetap saja ada pengintaimu!" sungut Bryan.
"Tapi yang dialami Mbak Sekar, aku benar-benar nggak tahu, Mas. Baru kali ini tim rahasia, kecolongan."
"Apa Sekar dipantau juga?"
"Ya, tapi hanya sekali-sekali." Wirya terdiam sejenak, lalu dia berujar, "Aku mau rapat tentang ini dengan komisaris bule dan Pak Tio. Nanti kukabarin lagi."
"Oke, kutunggu informasinya."
"Sip. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Setelah wajah Wirya menghilang dari layar ipadnya, Sekar menoleh ke kanan. "Mas, fasih banget nyebut salamnya."
"Kamu lupa? Keluargaku, kan, banyak yang muslim. Termasuk Ibu dan adikku," terang Bryan.
"Hmm, ya."
"Aku juga hafal surat Al Fatihah dan beberapa surat pendek. Aku belajar sendiri, tanpa disuruh Ayah tiri atau ibuku."