Bab 06 - Cemburu

1089 Words
06 Suara gaduh dari luar kamar pagi itu, menjadikan Sekar penasaran. Dia bergegas menuntaskan berpakaian, lalu jalan ke pintu sambil menjepit rambutnya tinggi-tinggi. Sekar membuka pintu dan seketika terdiam. Dia mengedipkan mata dua kali, sebelum mengukir senyuman. Karin memegangi kotak kue dengan lilin berbentuk angka 34. Sementara Lucky, Siska, Bryan dan beberapa orang lainnya kompak menyanyikan lagu happy birthday. "Selamat ulang tahun, Tante," cakap Karin. "Makasih, Cantik," sahut Sekar. "Tiup lilinnya, Mbak," pinta Siska. Sekar merunduk, lalu memejamkan mata sambil mengucapkan doa dalam hati. Setelahnya, Sekar membuka mata dan meniup lilin hingga padam. "Yuk, kita pindah ke sofa," ajak Sekar. "Potong kue!" pekik Lucky sembari jalan bersama papanya. Setibanya di ruang tengah, Sekar mengambil kotak dari Karin dan meletakkan benda itu ke meja. Dia meraih pisau yang diberikan Siska, lalu Sekar memotong-motong kue dengan rapi. Keven muncul bersama keluarganya. Disusul Jourell dan Vlorin serta Mackynzie dan para ajudan. Mereka duduk di sembarang tempat sambil menikmati kue-kue. Bryan bergeser ke dekat meja untuk mengambil kue lain yang dibawakan Aruna. Dia melirik Sekar dan menggerakkan dagu ke teras, seakan-akan tengah memberikan kode. Sekian menit berlalu, Sekar dan Bryan telah berpindah ke dekat pagar pembatas balkon. Mereka berbincang tentang bisnis yang ditangani bersama, sebelum Bryan mengubah topik percakapan itu. "Aku sudah berunding dengan Wirya, Chatur akan jadi pengawalmu selama beberapa bulan ke depan," tutur Bryan. "Ehm, ya," sahut Sekar. "Kamu nggak usah mikirin gajinya. Sudah ada saldoku di PBK." "Aku sanggup bayar gaji dua ajudan." "Beneran nggak usah, Kar." Sekar melirik pria di sebelah kanannya. "Aku nggak mau merepotkan Mas." "Santai saja. Aku nggak merasa direpotin." "Aku khawatir, akan jadi ketergantungan." Bryan memandangi perempuan berhidung bangir yang tengah merapikan rambutnya dengan jemari. "Mas dan adikmu, adalah temanku. Sudah sewajarnya aku ikut membantu menjaga keselamatanmu. Supaya tidak diganggu lagi oleh mantanmu." Sekar kembali memandangi lelaki berkumis tipis tersebut. "Aku jadi nggak enak hati. Kalau Odettia tahu, bisa saja dia cemburu." "Dia nggak perlu cemburu. Kita cuma sahabatan." Bryan menatap Sekar lekat-lekat. "Kecuali, jika kita meneruskan hubungan tempo hari. Odettia pasti mengamuk," lanjutnya. Sekar tertegun, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangan ke depan. "Yang itu jangan diungkit lagi. Aku malu." "Kamu pikir, aku nggak malu? Bisa-bisanya aku bercinta dengan Adik temanku. Heru pasti akan meninjuku bila tahu tentang ini." Sekar meringis. "Semoga saja dia nggak akan pernah tahu. Karena aku pasti akan diceramahinya panjang lebar." "Aku boleh nanya hal pribadi?" "Ya." "Apa kamu pernah bersama pria lain? Maksudku, selain mantanmu." "Enggak pernah." "So, i'm the first after 4 years?" "Yes." "Thanks. Kamu sudah mempercayaiku." "Aku nggak punya pilihan. Kalau aku keluar, bisa saja aku jadi korban laki-laki lain." "Ya, kamu benar. Dan masalahnya akan makin rumit." "Hu um." Sekar menoleh ke belakang. "Semuanya mandangin kita," lanjutnya. "Abaikan. Mereka cuma kepo." Sekar mengulum senyuman sembari memutar badan ke depan. "Habis ini aku akan dicecar Aruna dan Vlorin." "Tetap sembunyikan tentang rahasia kita." "Iya. Itu nggak akan kuceritakan pada siapa pun. Termasuk Tari." *** Hari berganti. Siang itu, Sekar kembali menghadiri rapat di kantor rekanan. Dia mengabaikan pria berkemeja cokelat, yang memandanginya saksama sejak tadi. Chatur dan Siska yang duduk berdampingan di kursi khusus asisten, terus mengawasi gerak-gerik mantan suami Sekar yang menempati kursi samping kiri meja. Seusai rapat, Sekar berdiri dan menyambangi presdir perusahaan tersebut. Mereka berbincang serius, sebelum pria tua itu mengajak Sekar untuk berpindah ke ruang kerjanya. Chatur dan Siska mengikuti langkah kedua orang tersebut keluar ruangan. Sementara Tarendra mengamati kelompok itu, hingga tidak terlihat lagi. Tarendra menggerutu dalam hati, karena niatnya untuk mendekati Sekar tidak bisa terlaksana. Pria berhidung tidak terlalu mancung, berpikir cepat, sebelum berdiri dan menyambar tas kerjanya. Tarendra berpamitan pada direktur operasional perusahaan itu dan asistennya. Sementara pada yang lainnya dia hanya mengangguk, sebelum berbalik dan menjauhi tempat itu. Puluhan menit berlalu, Tarendra mengamati ketiga orang yang tengah bergerak memasuki mobil SUV silver. Dia menunggu mobil itu melaju keluar area parkir, lalu mengikutinya dari jarak aman. "Bu, ada yang mengekori kita," cakap Chatur sembari terus mengemudi. "Mobil yang mana?" tanya Sekar sembari memutar badan ke belakang. "Sedan merah tua." "Yang nomor dua di belakang?" "Ya. Aku sengaja belok-belok, dia tetap ngikut." Sekar mendengkus. "Terus, gimana?" "Kita lanjut ke kantor HKB." "Jangan mengganggu Mas Bryan." "Beliau lagi nyantai kalau jam segini." "Tempat lain aja, misalnya ke kantor Aruna." "Dia akan nyecar Ibu dengan banyak pertanyaan." Sekar melengos. "Hmm, ya. Kemarin itu, dia sama Vlorin terus saja mendesakku. Padahal aku dan Mas Bryan cuma ngomongin bisnis." "Karena itu, kalau kita ke kantor HKB, aman. Nggak ada yang akan mendesak Ibu." "Ehm, ya." Belasan menit berikutnya, Sekar telah tiba di depan bangunan tinggi. Dia terkejut saat Bryan muncul dari dalam lobi utama dan mendatanginya yang baru keluar dari mobil. Sekar menjengit kala Bryan memeluk pinggangnya dan merapatkan badan mereka. Belum sempat Sekar bertanya, Bryan telah mendaratkan kecupan di kedua pipinya. "Pengintaimu tengah melihat ke sini," bisik Bryan sembari menjauhkzn diri sedikit. "Balas cium aku, Sekar. Supaya dia mengira jika kita adalah pasangan," pintanya tanpa melepaskan dekapan. Sekar tertegun sebelum akhirnya maju untuk menciumi pipi kanan Bryan. "Cukup, kan?" tanyanya. "Ya, sekarang kita ke dalam. Angga dan Taylor tengah bersembunyi untuk mengawasi pengintaimu." Sekar mengikuti langkah Bryan menuju lobi utama. Hatinya berdegup kencang, karena Bryan tetap memeluk pinggangnya dari samping. Sementara di mobil sedan marun, Tarendra menggertakkan gigi. Dia kesal, karena menyaksikan kemesraan Sekar dengan CEO HKB Grup. Semenjak pindah ke Kota Sydney 3 minggu silam, Tarendra telah meneliti orang-orang di seputar Sekar. Tarendra pernah membuntuti mantan istrinya ke tempat itu, meskipun dia tidak melihat siapa yang ditemui Sekar. Akan tetapi, melihat kemesraan tadi, Tarendra curiga jika Sekar dan Bryan tengah menjalin hubungan serius. Hal itu menyebabkan Tarendra cemburu, dan berniat untuk menyusun strategi supaya bisa mendapatkan Sekar kembali. "Dia sudah pergi," cakap Bryan, seusai membaca pesan dari Taylor. "Syukurlah." Sekar mengusap dadanya. "Kamu sudah makan?" "Tadi sudah. Sekitar jam 11." "Sekarang sudah hampir jam 3. Aku pengen ngunyah." "Mau pesan apa?" Sekar membuka aplikasi pesan antar di ponselnya. "Rujak ala Indonesia. Yang pakai siraman kacang di atasnya." Sekar menaikkan alisnya. "Mas lagi ngidam?" "Ya, dari kemarin aku pengen itu." "Minta buatin sama asisten rumah." Bryan menggeleng. "Dia nggak pandai bikin kudapan ala kita." "Hmm, kalau Odettia?" "Apalagi dia, Kar. Jangankan masak, nyuci piring aja nggak pernah." Sekar mengulum senyuman. "Aku bisa masak dan berbenah, karena di rumah semua anak dilatih begitu sama Ibu. Buat bekal kami, kata beliau." "Sama, ibuku juga begitu. Hanya saja, sekarang aku terlalu sibuk dan nggak sempat berkreaai di dapur." "Mas bisa masak?" "Tentu saja. Aku jagoan ngerebus air, atau masak mi instan," pungkas Bryan sambil memasang ekspresi wajah serius.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD