Bab 07 - Tqhree Cutie Bodyguard

1090 Words
07 Sekar terdiam sejenak, kemudian dia melengos. Chatur dan Siska yang turut mendengarkan percakapan itu, saling menyiku sambil mengulum senyuman. Kedatangan Angga dan Taylor menjadikan perbincangan itu berhenti. Kedua ajudan keluarga Arvasathya tersebut, melaporkan detail kepergian mobil sedan marun yang tadi mereka intai. "Jangan dilaporkan ke Dedi. Dia pasti meneruskannya ke Wirya," tukas Bryan, setelah Angga dan Taylor berhenti mengoceh. "Siap!" tegas kedua ajudan. "Hal sepele, kita tangani sendiri. Wirya sudah banyak kerjaan. Dia bakal tambah stres, kalau diganggu dengan hal kayak gini," papar Bryan. "Kecuali kayak pesan bernada ancaman itu, dia mesti tahu, supaya menyiagakan tim detektif," lanjutnya. "Kayaknya Bang W kekurangan anggota bagian itu," timpal Angga. "Ya, tahun lalu, aku merasa diawasi, tapi tahun ini, nggak ada," sela Taylor. "Aku mau pindah ke bagian itu, ditolak Bang W," ungkap Chatur. "Kenapa?" tanya Sekar. "Karena aku angkatan lama. Wajahku sudah dikenal di sini. Aku juga sudah nikah, takutnya berimbas ke istriku," jelas Chatur. "Mungkin bisa, kalau kamu mau pindah ke negara lain," usul Bryan. "Istriku nggak mau, Pak. Sudah betah di sini, katanya," sahut Chatur. "Aku jarang lihat istrimu di kafenya Isna." "Dia sudah pindah ke kafe dua, dan nggak megang bagian depan. Karena lagi hamil, sama Teh Isna diminta jadi staf aja." Bryan manggut-manggut. "Isna itu cerdas, bisa membaca trend pasar di sini." "Dia juga pandai memilih karyawan, baik semua, kan. Nggak ada yang bertingkah," celetuk Sekar. "Teh Isna, kayaknya sudah lama nggak ke sini," sela Siska. "Baru lahiran dia awal bulan ini. Pasti repot ngurus bayi." "Aku lupa kalau kemaren-kemaren dia hamil." "Kamu memang pelupa." Siska meringis. "Aku mau beli vitamin kayak Bang Yan. Supaya pikunku berkurang." "Kamu nyebut Yanuar, aku baru ingat. Ada tender di RK Corps." Bryan meraih ponselnya dari meja. "PB harus gerak cepat, karena ini tendernya besar," lanjutnya sembari mengutak-atik layar ponsel. "Butuh sekuriti berapa, Mas?" tanya Sekar. "Lebih dari 100. Buat semua resort mereka," terang Bryan. "Yang join dengan HKB?" "Ya. Makanya aku promosikan PB dan PBK. Siapa tahu deal." Sementara itu di tempat berbeda, Odettia Christabel Bennet, baru tiba di kantor cabang perusahaan keluarganya di Kota Sydney. Perempuan berusia 32 tahun tersebut, memanggil semua manajer ke ruang rapat. Selama puluhan menit berikutnya, Odettia mendengarkan laporan dari semua divisi. Perempuan berambut cokelat, berulang kali mengangguk. Dia senang, karena cabang Sydney maju pesat dan mengungguli cabang lainnya, di beberapa kota besar di seluruh Australia. Langit sudah gelap sepenuhnya ketika Odettia keluar dari kantornya bersama sang asisten, Sharon. Keduanya bergegas menuju tempat parkir dan memasuki sedan hitam, yang telah menunggu sejak tadi. "Kita langsung ke mansion," tukas Odettia, sesaat setelah sopir melajukan kendaraan keluar dari area itu. "Tidak jadi ke rumah Pak Bryan?" tanya Sharon. "Dia mungkin lagi sibuk. Dari tadi pesanku tidak dibaca," jawab Odettia. "Ehm, ya." "Kamu tahu? Entah kenapa, tapi aku merasa jika dia berubah." "Apa maksudmu?" "Sebulan terakhir, dia tidak pernah mengunjungiku di Melbourne. Dia juga jarang menelepon. Justru aku yang harus menghubunginya terlebih dahulu." "Mungkin dia memang benar-benar sibuk." Odettia menggeleng. "Aku pikir, dia sudah memiliki perempuan lain. Hingga melupakanku. Karena itu, aku sengaja tidak mengatakan kedatanganku saat ini. Aku mau lihat reaksinya, saat aku datang besok ke kantornya." *** Hari berganti. Bryan tiba di kantor HKB beberapa menit sebelum jam 9 pagi. Dia tidak menuju ruang kerja, melainkan langsung ke ruang rapat di mana semua staf telah menunggu. Bryan memasuki ruangan luas itu dengan tergesa-gesa. Dia membalas sapaan semua peserta rapat dengan senyuman tipis, sembari meneruskan langkah ke kursi ujung kanan. Setelah menempati singgasananya, Bryan memberi kode pada Henley yang segera berdiri dan berpindah ke depan. Henley mengintruksikan asistennya untuk menyalakan alat in fokus, sementara dirinya memulai rapat dengan menyapa hadirin dengan santai. "Seperti yang telah kita ketahui bersama, tahun ini perusahaan kita mendapatkan banyak proyek dari beberapa grup besar. Selain Arvhasatya tentunya, Ahyden Grup, RH Corps, TNT Grup, dan tentu saja koalisi besar dengan PG, PC dan PCD," ungkap Henley. "Sebab itu, Tuan Bryan dan semua komisaris HKB, telah sepakat untuk menambah beberapa divisi baru, yang artinya menambah karyawan. Mereka akan ditempatkan di semua proyek, yang pengerjaannya dimulai hampir bersamaan." "Kami juga telah sepakat untuk meminjam beberapa staf andalan dari PBK. Jadi, kalian jangan terkejut bila banyak pengawal yang mondar-mandir di tempat proyek. Selain sebagai staf, mereka juga tetap bertugas sebagai bodyguard di unit masing-masing." "Selain tim PBK, juga akan ada perwakilan dari semua rekanan kita. Kalian pasti sudah tahu tentang HWZ, ZAMRUD, BPAGK, SHEHHBY, FACT, TVJS, LCGL dan Vong Grup. Akan ada tambahan rekanan baru, yang perwakilannya adalah para pengawal tadi." "Wajah-wajah pengawal lama yang pernah bertugas ataupun menjadi pengawas di sini, akan hadir kembali. Tapi, mereka mengusung perusahaan masing-masing dan bukan jadi wakil dari perusahaan besar lainnya." "Supaya kalian ingat siapa orangnya, saya sebutkan sekarang," cakap Henley. "Pertama, Hisyam Fayadh. Dia mantan ketua pengawal pertama Australia dan New Zealand," jelasnya yang disambut seruan hadirin. "Kamu nyebut Hisyam, fans-nya sorak," seloroh Bryan dengan bahasa Indonesia. "Hisyam muncul lagi, penggemarku langsung berkurang," keluh Henley. "Tenang, dia sudah nikah. Nanti fans-nya akan beralih ke kamu." "Sepertinya susah, karena teman-temannya yang ganteng-ganteng juga ikut jadi pengawas proyek. Apalagi sekarang mereka sudah jadi direktur di perusahaan masing-masing." "Lanjur, Hen. Sekalian sebutkan, mereka direktur perusahaan apa." "Baik." Henley membaca catatannya. "Hisyam, sekarang menjadi direktur 30-HB. Ini perusahaan bentukan para Kakak iparnya dan bos PG, PC dan PCD," bebernya. "Yang kedua, Yusuf Haridra Bhranta. The Cutie bodyguard." Henley melengos ketika para staf perempuan berteriak kegirangan. "Yusuf adalah direktur PRHZZ. Ini bentukan para bos PG dan PC," sambungnya. "Ketiga, Aditya Bryatta. Dia merupakan direktur TOPAZ. Kalau tidak salah, komisarisjya juga gabungan dari PG, PC dan PCD," lontar Henley. "Lalu, keempat, ini juga sudah dikenal, yakni Nanang Rahardja, mantan ketua pengawal dua, setelah Hisyam. Nanang sekarang menjadi direktur CORAL. Ini bentukan para bos PBK dan HWZ," imbuhnya. "Kelima, ini jelas pada kenal, karena orangnya paling sering datang dan dinas jadi pengawas di sini. Yaitu, Jeffrey Ekadanta. Dia adalah direktur PEARL. Ini juga buatan bos bule separuh dan teman-temannya." "Terakhir, ini juga sering berkunjung karena jadi pengawas juga. Yakni, Jauhari Devanka, Abang lesung pipi." Henley merengut kala para staf perempuan kembali berteriak gembira. "Senang kalian?" tanyanya sambil mendelik. "Lanjut, Hen," celetuk Bryan yang tengah tersenyum melihat tingkah anak buahnya, yang kentara sekali menyukai sosok Jauhari. "Jauhari merupakan direktur EMERALD. Ini juga perusahaan bentukan para bos besar dan orang-orang PBK," cetus Henley. "Jauhari mungkin akan sering muncul, karena perusahaannya join dengan 4 proyek kita," bebernya yang disambut tepuk tangan hadirin. "Hisyam, Yusuf dan Jauhari muncul, aku tersingkirkan," ujar Henley. "Jangan mengeluh. Mereka memang lebih tampan darimu," kelakar Bryan, yang menjadikan hadirin terbahak, sedangkan Henley tertunduk lesu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD