Bab 08 - Up To You!

1134 Words
⁰08 *Grup Mega Proyek* Bryan : Henley ngambek. Anak buahnya heboh, Three Cutie Bodyguard akan sering datang ke Australia. Keven : Henley memang, gitu. Sirik mulu. Jourell : Dia kesal, karena kalah ganteng. Hansel : Padahal badannya lebih tinggi dan gagah dari tiga cutie itu. Sebastian Anargya : Dimaklumi saja. Anak buah Wirya memang cakep-cakep. Trevor Aryeswara : Bukan hanya yang muda-muda, Power Rangers juga pada tampan. Brayden Raffles : Pertama kali ketemu Alvaro, aku sampai mikir. Enggak salah dia jadi pengawal? Hadrian Danadyaksha : Betul. Harusnya dia jadi model. Alvaro Gustav Baltissen : Enggak mau aku. Bisa-bisa jadi melambai. Luthfan Baihaqi: Zulfi, tercakep nomor dua di lapis dua. Lainufar Suwardana : Ketiga, dirutnya. Damsaz Qalbi Dewawarman : Keempat, Yoga. Zainal Ervansyah : Kelima, Andri. Hendri Danantya : Tapi, setelah tim Hisyam muncul, pada kelibas itu abang-abangnya. Zeinharis Abqary : Kecuali Zulfi. Pemegang rekor pengawal senior favorit nomor 1, selama 4 tahun bertirut-turut. Axelle Dante Adhitama : Adik iparku memang tampan. Samudra Adhitama : Jalan sama Zulfi, aku ketutupan. Harry Adhitama : Aku jelas kalah kasep dibandingkan Abah Fazluna. Fritz Hayaka : Apalagi aku. Mukaku Cina banget. Calvin Jesther Adhitama : Walaupun Bang Zulfi ganteng, tapi aku tetap paling manis di keluarga Adhitama. Wirya : Kenapa aku jadi kesal baca komentar Calvin, ya? Baskara Gardapati Ganendra : Iyakan saja, @Wirya. Adikmu itu. Wirya : Aku lebih sayang Xander, Myron, Rangga, Irshava, Rina, Kyle dan Laura. Austin David Wirapranata : Hati Calvin langsung patah. Tristan Cyrus : Terbelah. Heru Pranadipa Dewawarman : Hancur. Atalaric Pradipta Dewawarman : Jadi debu. Fairel Atthariz Calief : Kebawa angin. Arman Rinaldi : Lenyap tak berbekas. Chandra Kamandaka : Calvin jadi tak punya hati. Theodore Liem : Kosong. Ferdianto Atmaja : Melompong. Andra Kastara : Dikontrakkan saja. Supaya tidak angker. Linggha Atthaya Pangestu : Komentar Andra, bikin saya ngakak. Giandra Ardianto ; Aku keselek! Leandru Mahendra : Aku lagi meeting, terus ketawa. Dipelototin Ayah. Benigno Griffin Janitra : @Andra, lagi waras? Andra : Yes, Dokter cinta. Ethan Janitra : Ucapan Mas Andra, sukses bikin aku cekikikan. Zulfi Hamizhan : Pantas telingaku berdengung. Digosipin di sini, rupanya. Yoga : Aku terganteng urutan empat. Makasih, semuanya! Andri : Nomor lima, keren! Haryono : Aku berarti nomor enam. Yanuar : @Yono ngimpi! Haryono : Opo, toh? Yanuar ; Aku nomor 6. Kamu urutan 17. Hayono : Ora sudi! Hisyam : Ternyata fansku masih banyak di Sydney. Yusuf : Aku terharu, banyak penggemar. Jauhari : Aku nggak nyangka punya fans di sana. Nanang : Apalah aku, nih. Cuma manis sedikit, itu pun dilihat dari Jam Gadang. Aditya : Aku mau prihatin, tapi jadinya ketawa baca komentar Nanang. Harun : Tenang, @Nanang. Yang manis kayak kita, selalu jadi pilihan terbaik. Qadry : Setuju! Chairil : Harun jadi kayak Bang Hasan. Fawwaz : Harun, Ustaz penyejuk hati. Beni : Aku siap jadi Adik iparmu, @Harun. Ibrahim : Beni nongol di semua grup dan bilang mau jadi Adik ipar banyak orang. Kacau! Jeffrey : Ho oh. Di grup pengawal utama, dia ngerayu Bang Aswin supaya dijodohkan dengan adiknya Kak Novi. Valdi : Di grup lapis empat, Beni pedekate ke Robi, supaya dibolehkan kencan sama Risfania. Frank : Grup PCD utama, Beni bikin heboh, karena pengen ngedeketin Inka Diratama, kakaknya Tamawijaya. Beni : Kalian bongkar rahasiaku! Alvaro : @Beni, bukannya kamu lagi ngedeketin putrinya Pak Jerome Hank Ming? Beni : Astagfirullah! Padre bikin gosip baru! Wirya : Kupikir Beni lagi CLBK. Zulfi : Sama pacarnya yang dulu? @Wirya. Wirya : Bukan, tapi ke Nandya. Asistennya Kak Liana. Mereka pernah naksir-naksiran, waktu Beni jadi ajudan pengganti tim Pak Tio. Tio ; Oh, pantesan. Nandya sering melamun. Sampai dicubit sama istriku. Beni : Bang W, benar-benar pengendus rahasia! Aku nggak bisa sembunyi lagi. *** Bryan menengadah kala pintu ruang kerjanya diketuk dari luar. Dia belum sempat menyahut ketika pintu terbuka dan seorang perempuan memasuki ruangan. Bryan terkesiap. Dia tidak menyangka bila Odettia akan hadir, karena perempuan tersebut sama sekali tidak memberitahukan kedatangannya ke Sydney. Pria berkumis tipis memaksakan senyuman sambil menenangkan diri. Bryan tidak mau Odettia tahu bila dirinya terkejut, akibat kemunculan perempuan tersebut secara tiba-tiba. "Kamu, kapan datang dari Melbourne?" tanya Bryan usai bersalaman dan beradu pipi dengan perempuan bergaun ungu. "Kemarin siang, dan aku langsung ke kantor," jawab Odettia sembari duduk di tepi meja. "Kenapa tidak memberitahuku?" "Aku sengaja melakukan itu. Supaya jadi surprised." "Ehm, ya, dan kamu berhasil." Odettia menyunggingkan senyuman sambil mengamati lelaki berparas manis yang tengah memandangi laptopnya. "Sudah makan siang?" desaknya. Bryan mengangguk. Dia mematikan laptop, lalu menengadah untuk memerhatikan perempuan bermata besar. "Kamu?" tanyanya. "Aku belum makan." "Kalau begitu, kita berangkat untuk mencari restoran." Odettia menggeleng. "Aku sudah memesan makanan. Mungkin sebentar lagi akan datang." Dia memajukan badan. "Aku ingin bicara tentang hal penting," paparnya. "Katakan. Aku siap mendengarkan." Odettia kembali menggeleng. "Setelah makan, baru kita bicara. Supaya aku bisa berkonsentrasi." Panggilan seseorang dari luar menjadikan perbincangan itu terputus. Bryan mempersilakan pegawainya masuk, yang ternyata hendak mengantarkan pesanan Odettia. Belasan menit berikutnya, pasangan tersebut telah berpindah ke sofa panjang. Meskipun berdampingan, tetapi keduanya tidak urun suara sedikit pun. Berbagai pertanyaan berkelebat dalam benak Bryan. Dia menebak-nebak apa yang hendak dibicarakan Odettia, sebelum akhirnya Bryan menyerah dan sabar menunggu, perempuan di samping kanannya memulai percakapan. Odettia menyelesaikan bersantap dengan cepat. Lalu dia meneguk minuman hingga isi gelasnya habis. Hati Odettia sudah mantap untuk mengonfrontasi lelaki, yang telah dekat dengannya selama setahun terakhir. "Kenapa kamu mengabaikanku?" tanya Odettia yang mengagetkan Bryan. "Mengabaikan?" tanya sang duda untuk memastikan pendengarannya. "Ya." "Aku tidak begitu." "Akui saja. Tidak perlu berkilah." "Aku benar-benar tidak paham, Odett." Perempuan berambut panjang menatap Bryan dengan tajam. "Kamu tidak datang mengunjungiku. Padahal biasanya akhir bulan kamu akan datang dan bersamaku seminggu." "Kamu lupa? Akhir tahun kemarin aku di Aukland untuk merayakan Natal bersama keluarga." "Aku ingat itu, tapi awal bulan ini kamu tetap tidak datang." "Dua proyek dimulai bersamaan tanggal 5 kemarin. Aku harus fokus ke sana." "Asistenmu banyak. Biar mereka yang tangani." "Tidak bisa begitu. Aku pemimpinnya, jelas harus turun tangan langsung. Apalagi ini proyek besar." "Kamu sudah pernah menangani 3 proyek sekaligus, tapi kamu tetap meluangkan waktu untukku." "Untuk sekarang, aku tidak bisa begitu. Aku harus lebih perhatian pada anak-anak." Odettia mendengkus. "Dari dulu alasanmu selalu itu. Aku bosan mendengarnya." Bryan menyipitkan mata. "Orang tua mereka hanya aku, Odett. Aku juga tidak mau terus merepotkan Aruna untuk pengasuhan anak-anak. Aku papanya, dan sudah menjadi kewajibanku untuk lebih memerhatikan mereka." "Kamu tahu? Itu sebabnya aku tidak mau menikah denganmu, karena aku pasti tersisihkan. Anakmu lebih diutamakan!" Bryan mengeraskan rahangnya. "Ya, aku tahu. Karena itu juga aku tidak memaksa kita untuk menikah. Aku juga tahu, kamu tidak mau berbagi diriku dengan anak-anak. Dan aku tidak bisa hanya mengutamakanmu!" "Okay! Hubungan kita selesai!" "Up to you!" Odettia bangkit berdiri dan menyambar baugette bag hitamnya dari sofa. Dia jalan cepat keluar tanpa berpamitan pada Bryan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD