Setelah puas menikmati suasana malam di Simpang Lima, Ahmad mengajak rombongan untuk pulang ke rumah ibunya yang berada di tengah Kota Semarang. Rumah itu memiliki desain arsitektur yang khas, mengingatkan pada gaya rumah-rumah keraton di Solo—megah, penuh ukiran detail, dan dikelilingi oleh taman hijau yang asri. Yang lain tentu saja kembali ke kamar masing-masing. Salwa mengikuti Ahmad masuk ke kamar suaminga, yang menghadap ke taman kecil dengan kolam ikan. Kamar itu terasa nyaman, dengan nuansa tradisional Jawa yang kental. Tempat tidur kayu besar berukiran klasik menjadi pusat perhatian, dilengkapi dengan kelambu putih yang menjuntai. Ahmad meletakkan tas mereka di sudut kamar, lalu menatap Salwa yang masih berdiri di dekat pintu. "Dek, kamu pasti capek. Mandi dulu aja, biar bada

