"Kalau malam ini saya yang menempati kamarnya boleh?" pertanyaan Alle berhasil membuat Jayden terkejut.
"Hah? Kamu nginep?" Alle mengangguk.
"Saya mager balik ke apart."
"Saya gendong Le, kalau kamu mager."
"Mas Jayden kenapa? Saya gak dibolehin ya nginep sini? Kayaknya dari tadi berharap saya balik terus. Yaudah saya pulang! Padahal saya niat nginep disini karena males ketemu Naka. Itu manusia bisa masuk apartemen saya kapanpun dia mau. Makanya saya mau disini aja." Alle hendak berdiri namun di tahan Jayden.
"Iya boleh. Kamu boleh tidur di kamar adek saya. Ayo saya antar."
Alle mengikuti langkah Jayden menuju kamar adiknya Jayden. Tak jauh beda dengan kamar Juna, pikirnya. Ada sebuah gitar dan piano di kamar adiknya Jayden. Sepertinya keluarga Jayden memang memiliki bakat spesial di bidang seni.
"Kamu tidur aja disini." Alle mengangguk lalu menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur.
"Bau parfum Juna."
"Dia emang suka tidur disini Le." Alle diam menatap langit-langit kamar.
"Kalau saya pergi, menurut mas Jayden, Juna bakal sedih gak?" Jayden yang tadinya hanya duduk di tepi ranjang kini ikut berbaring disamping Alle dan memutar tubuhnya menghadap Alle.
"Sedih, Juna itu sayang sama kamu Le. Dia gengsi aja." Alle ikut memutar tubuhnya menghadap Jayden. Kini posisi mereka saling berhadapan. "Juna selalu menanyakan kamu lewat saya sejak kita dekat," lanjutnya.
"Rasanya saya ingin hidup bebas mas."
"Lah kamu bisa lah, kenapa gak bisa? Apa yang buat kamu gak bisa? Saya yakin Juna juga pasti tidak terlalu membebani kamu kan? Juna udah dewasa."
"Naka. Saya gak bisa lepas dari dia."
Jayden terdiam. Dia sebenarnya penasaran dengan apa yang Naka lakukan pada Alle sampai membuat Alle tak bisa lepas dari Naka padahal Alle ingin lepas. Jayden penasaran dengan masalah Alle dan Naka namun dia sadar, Alle sendiri tak mengijinkannya tau, jangankan dia, Juna saya tak diijinkan untuk tau hal ini.
"Saya tau kalau saya ini gak diijinkan tau masalah kamu sama Naka. Tapi, kalau kamu butuh bantuan saya, bilang aja, saya bantu." Alle malah terkekeh seolah meremehkan Jayden. Tangannya terulur mengusap pelan pipi gembul Jayden.
"Mas Jayden tuh ganteng, baik, mapan, saya yakin banyak perempuan yang mau sama mas. Kenapa mas Jayden malah suka sama saya? Perempuan yang sudah tidak bersih lagi, perempuan yang sudah punya pacar bahkan sudah tidur dengan pacarnya. Mas gak mau cari perempuan baik-baik?" Jayden terkekeh kemudian tangannya menahan tangan Alle yang ada di pipinya dan mengusapnya pelan.
"Siapa bilang kamu bukan perempuan baik-baik? Kamu perempuan baik-baik, perempuan pintar, perempuan kuat, perempuan cantik, yang pernah aku temui. Selama kamu dan pacar kamu belum ada ikatan sah, kenapa saya harus mundur? Mau sepuluh tahun kamu sama pacar kamu itu pacaran, kalau saya yang jadi jodoh kamu ya dalam semalam bisa aja kamu jadi milik saya."
"Kalau pada akhirnya saya sama laki-laki lain gimana? Bukan mas dan bukan Naka?" tanya Alle.
"Takdir gak ada yang tau Le. Kalau memang kamu bukan takdir saya, ya saya bisa apa? Masa saya marah sama Tuhan? Ya gak lah! Sebagai hambanya, saya cuma bisa berdoa dan meminta biar kamu jadi jodoh saya tapi kalau pada akhirnya kita gak berjodoh setidaknya kita bisa berteman kan?" Alle tersenyum, ucapan Jayden hampir sama dengan Jonathan, mencintai dan menyayangi untuk membahagiakan orang yang mereka cintai dan sayangi bukan untuk ego mereka.
Mereka berdua sama-sama mengatakan bahwa akan merelakan Alle jika memang pada akhirnya Alle bukan takdir mereka. Mereka sama-sama mengatakan dengan tatapan yang tulus. Apakah ini yang namanya cinta dan sayang yang sebenarnya?
Berbeda dengan Naka, yang terus memaksakan kehendaknya untuk tetap bersama Alle, mementingkan egonya untuk memiliki Alle, tidak rela jika orang lain memilikinya. Ini cinta atau obsesi? Entahlah Alle tidak tau tentang ini.
"Alle, saya juga punya rahasia yang bisa dibilang sebagai kelemahan saya. Setiap perempuan yang dekat dengan saya dan hendak saya ajak serius saat saya beritahu rahasia saya itu, mereka memilih pergi. Itu alasan saya untuk melajang sampai sekarang. Tapi, melihat kamu, saya merasa ingin kamu menjadi orang yang menerima rahasia saya," ujar Jayden.
"Rahasia apa?"
"Belum saatnya saya cerita Le. Tapi kalau memang nantinya kamu juga pergi. Saya tidak masalah. Itu hak kamu."
"Mas Jayden mau nunggu saya?" tanya Alle tiba-tiba.
"Kapan pun saya akan menunggu kamu."
"Tunggu saya sampai saya bisa lari dari Naka dan sembuh dari trauma tentang kisah cinta ya mas? Jujur saja, saya tidak ingin menjalin hubungan apapun setelah nanti lepas dari Naka. Kisah saya dan Naka ternyata menambah deretan kenangan buruk tentang percintaan dalam hidup saya. Saya pikir Naka bisa menjadi obat, tapi ternyata menjadi racun, awalnya tak begitu terlihat tapi semakin lama efeknya semakin terasa dan menyakitkan." Jayden menatap iba pada Alle.
"Separah itu? Sesakit dan sehancur itu hubunganmu dengan Naka?" Alle mengangguk.
"Sama seperti mas Jayden yang gak bisa cerita sekarang tentang rahasia mas. Saya juga akan cerita kalau memang saya sudah benar-benar siap dan membutuhkan bantuan mas."
"Datang ke saya Alle kalau kamu butuh bantuan saya. Saya akan bantu, apapun itu."
Alle tersentuh, sangat tersentuh. Dia dan Jayden memang belum lama mengenal, tapi Jayden banyak memberikan pertolongan dan tawaran baik untuk Alle. Dengan Jayden merawat Juna secara baik saja sudah membuat Alle merasa tersentuh dengan kehadiran Jayden disekelilingnya saat ini.
"Makasih mas." Alle merapatkan tubuhnya pada Jayden dan menenggelamkan wajahnya pada dadda bidang Jayden. Jayden menyamankan posisinya dan merengkuh tubuh Alle yang ada pada pelukannya saat ini.
"Saya tidak bercanda dengan perasaan saya Alle," bisik Jayden. Alle mendongakan kepalanya dan tersenyum ke Jayden. Entah keberanian dari mana, Jayden menempelkan bibirnya pada bibir Alle. Tidak ada perlawanan dari Alle, dia justru membalas perlakuan Jayden. Kecupan lembut itu perlahan berubah menjadi ciuman cukup dalam.
"Maaf, tapi sepertinya kamu gak jadi tidur lebih awal Alle." Alle terkekeh kemudian mengalungkan tangannya pada leher Jayden dan menarik Jayden agar sedikit mendekat.
"Saya rasa, malam ini saya tidak jadi tidur." Mendapat respon demikian, Jayden kembali memeberikan kecupan lembut dibibir Alle hingga kamar mereka pada akhirnya menjadi saksi bisu adegan panas mereka malam itu. Tak peduli siapapun yang kini disisi Alle. Jayden dan Alle tetap melakukan kegiatannya. Tak ada penolakan dari salah satu pihak, keduanya sama-sama mengikuti permainan malam itu dengan baik.
Alle merapikan selimut untuk menyelimuti tubuhnya dan Jayden yang baru saja menyelesaikan kegiatan mereka. Alle kini memakai kaos polos yang tadi dipakai Jayden karena suhu kamar milik adik Jayden ini cukup dingin. Alle kembali membaringkan tubuhnya disamping Jayden yang kini meposisikan tubuhnya menghadap Alle dan menompang kepalanya dengan salah satu tangannya. Satu tangannya lagi dia gunakan untuk mengusap rambut Alle.
"Maaf." Itulah kalimat pertama yang Jayden lontarkan.
"Kenapa minta maaf? Saya juga menerima dan melakukan kegiatan itu dengan baik. Bukan cuma satu pihak yang mau, tapi kita."
Jayden merubah posisinya, menjadikan tangannya bantalan untuk Alle. Alle menyamankan posisinya untuk berada didekat Jayden, mendekatkan dirinya pada dadda bidang Jayden.
"Maaf saya ingkar janji, tadi janji satu kali saja tapi malah lebih. Saya gak bisa nahan diri," ujar Jayden. Alle tertawa kemudian memukul pelan dadda Jayden.
"Apasih mas! Makanya jadi orang jangan nafsuan!" ledek Alle. Jayden langsung melotot.
"Ngaca! Kamu juga tadi minta dilanjut!" ucapan Jayden berhasil membuat wajah Alle memerah karena malu kemudian dia berbalik membelakangi Jayden.
"Kenapa malah belakangin saya? Kamu marah?"
"Issh diem! Malu tau." Jayden tertawa kemudian memberikan pelukan pada Alle dari belakang dan sesekali mengecup puncak kepala Alle. Tangan Alle kini tertaut dengan salah satu tangan Jayden, Alle yang menautkannya.
"Kalau kita kaya gini, bukankah kita gak ada bedanya sama Naka? Dia selingkuh, tapi dengan kita kaya gini sama aja kamu selingkuh. Atau kamu emang mau dendam sama Naka dengan cara ini?" pertanyaan Jayden berhasil membuat Alle memutar tubuhnya dan menatap Jayden.
"Beda. Kita beda. Sejak tau fakta yang sebenarnya seharusnya saya dan Naka berhenti. Saya mau berhenti! Tapi Naka memaksa melanjutkan hubungan kita. Hubungan saya dan dia harus berakhir, ada hati lain yang harus di jaga. Mas Jayden gak akan paham kalau aku belum cerita semuanya, maaf aku belum siap cerita semua. Yang jelas, kita gak sama kaya Naka, kita beda. Naka brengsssek, mas Jayden enggak." Jayden masih tak paham dengan ucapan Alle, dimana perbedaannya? Mereka sama-sama saling bermain di belakang pasangan masing-masing. Tapi Alle bilang berbeda?
"Saya selalu merasa bersalah pada seseorang setiap mengingat kalau saya masih menjalin hubungan dengan Naka. Hubungan ini harusnya sudah selesai. Tapi aku cuma bisa ikutin permainan Naka, entah sampai kapan."
Jayden diam, dia tak mau memperpanjang bahasan ini. Selalu ada yang berbeda pada Alle setiap membahas hubungannya dan Naka, Jayden bisa melihat nada dan tatapan Alle yang berbeda, ada tekanan dan beban tersendiri setiap Alle membahasnya. Tanpa pikir panjang Jayden menarik Alle kedalam rengkuhannya membiarkan Alle memiliki kenyamanan dalam rengkuhannya.
"Tidur, udah jam dua pagi, besok kerja kan?" Alle hanya diam dan memejamkan matanya. Dia tau, Jayden mengalihkan topik demi dirinya.