17. Antara Juna dan Jayden

1324 Words
Keesokan paginya, Jayden terbangun karena ponsel Alle yang terus berbunyi namun Alle tetap terlelap karena kelelahan akibat kegiatan mereka semalam. Jayden juga sebenarnya tak tega membangunkan Alle namun dia harus membangunkan perempuan itu karena sekarang hari kerja dan Alle pergi ke kantor. "Alle, bangun," Jayden mengoyangkan tubuh Alle namun Alle hanya mengeliat dan kembali tidur. "Alle udah jam 5 pagi, bangun!" "Masih capek mas." Jayden berdecak. "Ya gimana gak capek orang semalem---" dengan cepat Alle membungkam bibir Jayden dengan tangannya. "Gausah dibahas!" Alle duduk diatas tempat tidur dan mengumpulkan nyawanya, dilihatnya Jayden sudah mengenakan pakaiannya lengkap, berbeda dengan Alle yang hanya memakai kaos polos oversize milik Jayden semalam. "Bangun, kerja. Oh iya ternyata dari kemarin Juna spam chat saya sama kamu, nanyain kamu dimana, tadi pagi dia nelfon kamu berkali kali, yaudah saya angkat!" Alle melotot tajam ke Jayden. "Kenapa diangkat? Nanti dia mikir kita ngelakuin hal yang enggak-enggak ya meskipun emang iya. Tapi kan mas ... aduh Juna bisa tambah marah." "Tenang aja, saya bilang kamu di apartemen saya dari semalam karena ketiduran jadi saya suruh tidur di kamar adek saya. Saya juga mikirin kamu kali Le, gak mungkin saya bilang yang sebenarnya! Udah sekarang bangun, benerin penampilan kamu sana. Kita sarapan bareng sama Juna juga." "Gak usah, saya bisa sarapan sendiri. Mas sama Juna aja. Saya gak mau merusak selera makan Juna kalau dia lihat saya." Jayden langsung duduk disamping Alle dan mengusap tangan Alle lembut. "Jangan mikir gitu, Juna gak bakal kehilangan selera makannya karena kakaknya cantik kaya kamu!" Alle hanya menghela nafas, dia paham kalau Jayden tak mengerti maksudnya. "Udah mandi sana, apa kamu gak bisa jalan gara-gara saya brutal tadi malam?" Alle langsung memukul Jayden. "Sembarangan! Ini bukan pertama buat saya." "Ya siapa tau." "Udah ahh, sana mas Jayden keluar dulu saya mau mandi mau ganti baju juga." "Ya udah ganti aja, semalem juga saya udah lihat semuanya." Alle langsung melempar Jayden dengan bantal. "MAS JAYDEN! GAUSAH DIBAHAS!" Jayden tertawa lalu mengacak-acak rambut Alle dengan gemas. "Lucu banget sih," ledek Jayden. "Pergi sana." "Iya iya, eh tapi ada sesuatu yang mau saya kasih tau." Jayden mendekat ke Alle berniat membisikan sesuatu yang akan ia beritahukan pada Alle. "You're good kisser and good player last night, Alle." Jayden langsung mengecup pipi Alle dan lari keluar kamar karena tau kalau Alle akan segera murka akibat kelakuan Jayden. Setelah selesai membersihkan diri, Alle keluar dari kamar dan berjalan ke meja makan karena melihat Jayden sedang menyiapkan makan disana. "Lah kapan masaknya?" tanya Alle karena semua makanan sudah siap di meja. "Kata siapa masak? Orang beli. Gerebfud tadi." "Oooooohh!" Alle membantu Jayden menyiapkan piring dan sendok. Tentunya untuk Juna juga, namun Juna belum terlihat keberadaannya. "Juna mana?" "Masih di apart kamu. Mau mandi dulu katanya." "Mas, hp aku mana ya? Gak ada di kamar." "Saya charger tuh dideket tv, baterainya habis." Alle berjalan ke dekat televisi dan mengecek ponselnya. Ada beberapa pesan dan telfon dari Naka, Jonathan, dan ada pesan dari Juna yang belum sempat dia baca. Dia buka pesan satu persatu mulai dari Juna, pesan yang Juna kirim adalah yang tadi pagi Jayden sampaikan bahwa Juna menanyakan keberadaan Alle. Kemudian dia membuka pesan Naka dan Jonathan secara bergantian, baru saja akan membalas pesan Jonathan, Alle merasakan ada sebuah tangan melingkar di perutnya dan salah satu bahunya terasa berat. Dia tolehkan kepalanya ke samping dan mendapati wajah tampan Jayden yang saat ini dia tengah melabuhkan dagunya di bahu Alle dan tangan di perut Alle juga milik Jayden. "Apasih?" ketus Alle mencoba menyingkirkan kepala Jayden namun nihil. "Berat tau mas!" "Bentar doang bentar." Alle kembali membalas pesan-pesan yang masuk, membiarkan Jayden nyaman pada posisinya. "Bentar lagi Juna ulang tahun," ucapan Alle membuat Jayden menarik kepalanya namun masih merengkuh tubuh Alle. "Mau beli hadiah gak buat dia?" tanya Jayden. "Iyalah pasti! Temenin ya mas?" Jayden mengangguk dengan semangat kemudian mengecup pipi Alle sekilas. "Mau kapan belinya?" "Emmm ... ulang tahunnya masih 3 mingguan lagi, tapi alangkah baiknya disiapin hadiah dari sekarang. Kalau besok gimana?" "Boleh. Saya juga mau kasih hadiah buat Juna." "Nanti saya nitip hadiahnya di apart mas ya? Biar Juna gak curiga. Nanti gak jadi surprise kalau ketauan." Jayden memutar tubuh Alle agar menghadap ke arahnya, kemudian dia menangkup kedua pipi Alle. "Semua yang mau direncanakan Alle, Jayden ngikut aja!" balas Jayden. Alle tertawa kemudian memberikan satu kecupan untuk Jayden. "Pipi kiri belum loh." "Dih ngelunjak." Alle hendak melepas tangan Jayden yang memeganginya namun malah semakin dieratkan oleh Jayden. "Yang kiri dulu!" "Issshhh!" Alle mendekatkan wajahnya pada wajah Jayden namun pada saat itu pintu apartemen terbuka dan menampilkan Juna dengan kaos kuning dan celana boxer kesayangannya. Alle dan Jayden sama-sama menjauhkan diri. "Juna tau sandi apartnya mas Jayden?" tanya Alle. Juna dan Jayden kompak mengangguk. Juna sepertinya tak peka dengan apa yang terjadi karena dia sama sekali tak terkejut dan bersikap biasa saja. "Sandi kalian kan sama," balas Juna saat sudah duduk di kursi meja makan. "Hah? Ih mas Jayden belum ganti sandinya ya?" tanya Alle. "Lah ngapain saya ganti. Nanti malah lupa. Kamu aja yang ganti." "Yaa gak mau!" "Yaudah saya juga gak mau!" "Udah ... udah ... masih pagi. Lagian kakak ngapain salah masuk ke apartemen bang Jay?" ucapan Juna membuat Alle terkejut kemudian dia memukul Jayden. "Mas Jayden cerita ya ke Juna?" tanya Alle dengan nada sedikit keras. Jayden malah tertawa dan memilih duduk dihadapan Juna. "Gak ada rahasia antara saya sama Juna, Alle," balas Jayden santai. Alle mendengus kesal kemudian duduk di samping Jayden. "Makan, buruan nanti telat ke kantor." Alle menyendokan makanan ke mulutnya begitupun Jayden dan Juna. Namun tiba-tiba Alle berhenti. Dia teringat ucapan Juna dimana Juna tak sudi untuk satu meja makan dengan Alle dan membuat nafsu makan Juna hilang. Alle tak mau itu terjadi sekarang, hal ini membuat Alle ingin pergi saja dari sana dan membiarkan Juna makan dengan tenang. "Kenapa?" tanya Jayden yang sadar dengan kegiatan Alle yang sudah berhenti. Alle berdiri dari duduknya. "Saya udah kenyang mas. Saya balik ya? Makasi---" "Gak baik makanannya sisa." Jayden memotong ucapan Alle. Alle justru menatap Juna. "Kalau gitu saya bawa aja, nanti saya makan dikantor kalau pas lapar." Jayden menahan tangan Alle yang hendak mengambil makannya. "Duduk! Habisin dulu makanannya!" "Mas ... gak bisa ...." "Lihat aja, Juna makannya lahap kok. Gak ada yang salah dengan Juna meskipun kamu disini. Kamu duduk sekarang dan habisin makannya. Gak habis gak boleh pulang!" Jayden berbicara dengan nada sedikit tinggi membuat Alle cukup takut kemudian dia duduk kembali dan makan sarapannya. Diam-diam Juna mengacungkan jempol ke Jayden yang dibalas senyuman tengil dari Jayden. "Makannya udah habis? Kamu pulang aja siap-siap kerja. Biar Juna yang beresin. Saya juga mau kerja. Juna hari ini nganggur daripada dia jadi pengangguran mending saya babuin dia hari ini," ujar Jayden saat melihat Alle hendak membersihkan sisa makannya. "Bisa-bisanya gue kena," gumam Juna. "Hah? Eh gak usah, saya aja." "Kakak sama abang pergi aja. Juna yang beresin. Mending kalian berangkat bareng. Cinta lingkungan dengan mengurangi polusi udara makanya pake satu mobil aja. Bang Jayden cowo kaga? Kalau cowo, anter jemput dong!" ucapan sekaligus ledekan Juna terlontar begitu saja membuat Jayden melotot ke arah Juna. "Sana kamu ganti baju Le. Kita berangkat bareng. Hari ini saya jadi supir kamu, tapi hari ini juga Juna jadi asisten rumah tangga saya di apart," ledek Jayden balik. "Sembarangan aja bang!" "Udah udah sana." Jayden mendorong Alle pelan sampai keluar dari apartemennya agar Alle bersiap. Setelah Alle pergi, Jayden mendekati Juna. "Mau uang saku berapa? Mau makan apa? Abang turutin soalnya kamu udah ngide nyuruh abang antar jemput kakak kamu." Juna tertawa. "Usaha dong bang kalau serius sama kakak. Udah ciom-ciom manja masa gak ada kemajuan?" Jayden melotot saat mendengar ucapan Juna. Juna melihat? "Kamu lihat?" "Ya lagian bisa-bisanya pelukan sama nyosor gitu pas di ruang tengah, buka pintu keliatan lah hahaha!" "Dah diem aja kamu Jun. Kakak kamu suka malu kalau diledekin gitu. Udah lah abang mau siap-siap mau berangkat bareng calon istri." Jayden langsung berlari masuk ke kamarnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD