Alle sudah rapi dengan pakaian kantornya, dia segera keluar dari apartemen, tepat saat itu Jayden juga keluar dari apartemennya. Mereka tersenyum canggung setelah kejadian memalukan itu.
"Mau ke kantor?" tanya Jayden. Mencoba memecah kecangungan dan keheningan di antara mereka.
"Em .. iya. ishh kan saya bilang mas, kita pura-pura gak kenal aja! Saya masih malu." Jayden terkekeh.
"Kenapa malu? Cuma kita sama Tuhan aja yang tau ini".
"Ya siapa tau mas Jayden nanti nyebarin lewat sosmed, bikin thread di twitter."
"Ngawur kamu! Saya diam Le, udah jangan malu terus sama saya." Mereka kembali diam masuk ke dalam lift bersama. Entah apa yang terjadi hari ini, namun di lift hanya ada mereka berdua. Jayden sesekali berdehem agar tak terlalu cangung.
"Astagaaa kenapa kita cangung sekali!" seru Alle tiba-tiba. Dia tak tahan dengan situasinya. Jayden langsung menoleh ke Alle yang kini sedang kesal.
"Entahlah ...."
"Lupakan masalah kemarin. Anggap aja kita gak pernah buka paket kita. Lupain juga kejadian yang di apartemen." Jayden mengangguk, menyetujui tawaran Alle.
"Tapi saya gak janji lupa sama kejadian kamu masuk apartemen saya sih, Le." Alle langsung melotot tajam ke Jayden.
"Lupain! Jangan bikin saya malu sih mas."
"Astagaaa Alle, saya bercanda!"
Mereka sama-sama berjalan menuju basement dengan obrolan kecil diantara mereka untuk mendekatkan diri mereka.
"Mau ke kantor bareng saya?" Alle menoleh ke Jayden yang mendadak menawarkam tumpangan pada Alle.
"Hah? Eh, enggak usah, saya bawa mobil sendiri. Makasih tawarannya, mas Jayden." Jayden mengangguk.
"Eh mobil kita sebelahan," ujar Jayden saat Alle membuka kunci otomatis mobil yang ada disebelah mobil Jayden. Alle hanya terekekeh. Menurutnya, Jayden terlalu konyol untuk ukuran seorang CEO.
"Selamat dan semangat bekerja, Alle!" Teriak Jayden sambil membuka pintu mobilnya.
"Semangat kerja juga mas Jayden," balasan Alle membuat Jayden tersenyum hingga kedua lesung pipinya terlihat jelas.
***
Alle memasuki kantornya dengan wajah berseri-seri, terkadang dia tertawa kecil saat mengingat setiap kelakuan konyol Jayden sejak di dalam lift hingga di basement pagi ini. Dia pikir seorang CEO perusahaan besar seperti Jayden akan sangat berwibawa dan kaku. Namun tidak untuk Jayden. Dia justru seperti anak-anak SMA, lebih santai dan terkadang menunjukan sisi konyolnya, tak heran jika Juna bisa dekat dengannya.
"Alle?" Alle menoleh mendapati Naka di sampingnya. Alle hanya tersenyum.
"Pagi pak," sapa Alle. Naka menelisik Alle, ada yang berbeda dari Alle hari ini. Tidak seperti Alle akhir-akhir ini.
"Ada sesuatu yang membuatmu bahagia?" pertanyaan Naka membuat Alle mengelengkan kepalanya.
"Aaah, oke."
Aneh. Pikir Naka.
"Tunggu, ini seperti Alle sebelum insiden aku dan Alle saling mengancam karena dia ingin berpisah denganku. Ini seperti Alle saat belum mengetahui pernikahanku, Alle yang menjalani hubungan bersamaku dengan ceria. Alle kembali?" batin Naka sambil menatap Alle. Mereka kini berada didalam lift. Hanya berdua.
"Apasih? Gak usah liatin gitu! Ada yang aneh dari aku?" tanya Alle. Naka menggeleng. Dia tak tau apa yang sebenarnya terjadi pada gadisnya itu.
"Makan siang nanti ada waktu?"Alle menatap Naka sejenak kemudian menghela nafasnya.
"Apa? Kamu mau makan siang denganku? Mau dibilang apa sama pegawai yang lain? Sudah cukup aku menderita selama satu bulan terakhir. Jangan membuatku jadi bahan gosip." Naka menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Aku cuma tanya Alle. Kenapa kamu marah-marah hah?"
"Kamu ngeselin!" balas Alle lalu meninggalkan Naka yang masih heran dengan sikap Alle.
Alle terus mengerutu hingga tiba di meja kerjanya. Jonathan yang melihat Alle tampak kesal itu mendekatinya dan memilih duduk di hadapan Alle.
"What's Wrong, babe?"
"Biasa, Naka." Jonathan hanya ber-oh ria.
"Mau ke rumah?" tanya Jonathan tiba-tiba. Alle menatap Jonathan.
"Rumah?" Jonathan mengangguki pertanyaan Alle barusan.
"Boleh. Aku nginep disana."
"Oke!"
"Gimana soal paket dan tetangga?" Pertanyaan Jonathan membuat Alle sangat antusias untuk bercerita. Entahlah, dia baru kali ini seantusias ini.
"Jo, kamu tau gak? Dia si Jayden ini, ternyata, CEO JYD Corp.!" Jonathan sontak ikut terkejut saat mendengar ucapan Alle.
"Jadi dia Jayden Siregar. Dia atasan temen aku yang waktu itu aku ceritain kalau dia lagi minta foto karyawan Ganaka, Le."
"Astagaa sempitt banget dunia."
"Bisa-bisanya sandi kalian sama," celetuk Jonathan. Alle mengangkat bahunya. Tak menceritakan kalau sandi mereka ada tanggal ulang tahun mereka karena nanti Jonathan bisa tau sandinya.
"Jo, jangan cerita masalah ini ke Naka, oke?" Jonathan mengacungkan jempolnya.
***
Sepulang dari kantor, Alle pergi ke rumah Jonathan. Mereka pergi dengan terpisah karena sama-sama membawa mobil. Mereka sama-sama bungkam pada Naka.
Tak ada yang bilang bahwa Alle ke rumah Jonathan hari ini. Alle benar-benar sedang tidak ingin mendengar semua hal tentang Naka setidaknya hari ini.
Sesampainya di rumah Jonathan, Alle langsung turun dari mobilnya dan memarkirkan mobilnya sembarangan karena biasanya nanti akan di atur oleh Jonathan.
"Kunci mobil mana?!" teriak Jonathan. Alle terkekeh karena lupa menyerahkan kunci mobilnya ke Jonathan, dia terlalu merindukan mamanya Jonathan sehingga ingin cepat bertemu dengannya.
"Tangkap!" teriak Alle sambil melempar kuncinya membuat Jonathan menggeleng tak percaya dengan tingkah gadis 25 tahun yang akan menginjak usia 26 tahun. Alle berlari masuk kedalam rumah Jonathan.
"Mamaaa!" teriak Alle saat melihat mamanya Jonathan di dapur. Mamanya Jonathan tersenyum dan langsung memeluk Alle.
"Kangen banget mama sama kamu."
"Apasih ma, minggu lalu aja kita baru selesai makan siang bareng."
"Kamu jarang kesini sih sekarang."
"Sibuk ma, sekarang kan ketua bidang," celetuk Jonathan yang baru saja masuk rumah lalu meletakan kunci mobilnya dan kunci mobil Alle di atas meja televisi.
"Dih apaan sih Jo! Mama, nanti aku nginep disini kok."
Mata mamanya Jonathan berbinar.
"Nah bagus tuh. Kamar kamu sama Juna udah lama gak ada yang nempati. Kenapa gak ajak Juna juga sih?" Alle hanya tersenyum mendengar pertanyaan mamanya Jonathan.
Alle dan Juna sempat tinggal bersama keluarga Jonathan selama hampir 2 tahun. Saat itu Alle mengajak Juna kabur dari panti asuhan karena Juna hendak di adopsi orang lain dan Alle tidak mau berpisah dari Juna.
Dia hanya punya Jonathan sebagai teman waktu itu membuat dia menghubungi Jonathan saat dia kabur. Beruntungnya, mama dan papanya Jonathan menerima kehadiran Alle dan Juna seperti anak mereka sendiri.
Tak lama setelah itu, papa Jonathan berpulang ke sisi Tuhan. Jonathan dan mamanya cukup terpukul, dengan kehadiran Alle dan Juna kesedihan mereka cukup terobati karena Alle dan Juna selalu berusaha menghibur mereka.
Sampai akhirnya Naka dan Alle menjalin hubungan. Naka tidak terlalu suka Alle bersama Jonathan, itu yang membuatnya memberikan Alle sebuah apartemen dan akhirnya Alle bersama Juna tinggal di apartemen. Namun, hingga kini mamanya Jonathan tak pernah mengubah kamar Alle dan Juna, kamar itu masih ada dan masih sama. Hal ini karena Alle dan Juna masih sering menginap disana meskipun hampir 1 tahun terakhir sudah jarang.
"Kata Jo mama mau bikin brownis?" tanya Alle.
"Udah selesai. Mama udah bikin buat kamu sama Juna juga."
"Asiiikkk!!" seru Alle. Jonathan tersenyum menatap Alle yang seperti ini. Gadis itu cukup pintar menyembunyikan masalahnya sendiri dan menutupinya dengan sikap hebohnya yang seolah tak terjadi apapun.
"Sana kalian mandi dulu."
"Siap Ma!"
Setelah selesai mandi dan menganti pakaian mereka dengan pakaian santai, Jonathan, Alle dan Mama Jonathan menikmati makan malam bersama. Bercengkrama di meja makan seperti biasanya. Beberapa kali mamanya Jonathan mengungkit Juna namun Jonathan mencoba menganti topik tersebut karena topik itu cukup sensitif untuk Alle yang saat ini tengah jauh dari Juna.
"Biar Alle yang cuci ma," ujar Alle saat melihat mamanya Jonathan hendak membereskan meja makan.
"Biar Alle dan Jo yang cuci!" tegas Alle sekali lagi. Mamanya Jonathan tersenyum dan mengangguk.
"Mama bikinin wedang jahe kesukaan kamu ya?" Alle mengangguk menyetujui ucapan mamanya Jonathan.
"Anak mama Jo apa Alle sih ma? Perasaan Jo gak pernah ditawarin kaya Alle gitu."
"Aku lah, udah jelas kali Jo!"
"Belum pernah di lempar galon ya kamu?" protes Jonathan. Alle malah meledek Jonathan.
"Kalau galonnya punya Atuy galon, boleh lah, se owner-ownernya juga aku terima!"
"Inget Naka," Alle langsung mendengus kesal saat Jonathan menyebut nama Naka.
***
Alle sudah berada di kamarnya yang ada di rumah Jonathan. Dia belum memejamkan matanya, masih menatap layar ponselnya. Sampai akhirnya ada pesan dari Juna masuk, mata Alle berbinar dan langsung membukanya.
-salam buat mama. Maaf Juna gak bisa kesana- begitulah pesan singkat dari Juna. Alle tau, pasti Jonathan yang memberitahu Juna bahwa dia ada di rumah Jonathan.
-Iya, kamu udah makan di kos kan?- Balasan dan pertanyaan sederhana dari Alle untuk Juna. Hingga 15 menit dia menunggu tak ada pesan lagi dari Juna. Juna tak membalas ataupun sekedar membaca pesan Alle.
"Huh ...."
Ting
Alle langsung mengambil ponselnya mengira itu Juna, tapi ternyata bukan. Kontak bernama 'Jayden unit sebelah' yang mengiriminya pesan.
Jayden unit sebelah
Alle?
Lagi gak di apart ya?
Saya mau berbagi makanan, tapi dari tadi saya bel apart kamu gak ada yang nyaut.
Read
22.43
Alle
Iya mas
Saya lagi di rumah temen
Makasih atas niat baiknya
Read
22.43
"Gercep banget readnya" Gumam Alle.
Jayden unit sebelah
Yahhh
Yaudah deh, lain kali kalau saya ajak makan malam di apart saya bisa kan?
Ajak Juna juga
Read
22.45
Alle
Iya, kalau ada waktu.
Mas Jayden kenal adek saya ya?
Read
22.45
Jayden unit sebelah
Iya, Juna sering mampir di tempat saya
Juna juga sering cerita kamu nyebelin makanya dia suka ngambek sama kamu
Read
22.46
Alle terkekeh melihat chat barusan. Juna cerita pada Jayden kalau mereka sering bertengkar?
Alle
Juna juga nyebelin!
Tapi saya sayang Juna
Kalau Juna main ke tempat mas Jayden tolong treat dia dengan baik, kasih makan yang banyak juga
Read
22.47
Jayden unit sebelah
Iyalah jelas!
Juna udah kaya adek saya sendiri. Saya juga punya adek seumuran Juna. Jadi gak susah buat ngerawat dan deket sama Juna.
Juna lagi sibuk Hima katanya.
Katanya dia pengen pensiun jadi kahim
Wakahimnya gak guna katanya. Anggotanya juga gak becus. Makanya dia pengen cepet-cepet lengser
Alle merenung membaca pesan dari Jayden yang menceritakan kehidupan Juna sekarang. Juna bahkan banyak bercerita pada Jayden, orang baru dalam hidupnya.
Alle
Mas...
Read
23.00
Jayden unit sebelah
Eh iya?
Kirain udah tidur karena tadi gak bales lagi.
Kenapa Le?
Read
23.01
Alle
Titip Juna (delete)
Kalau aku pergi atau mati tolong jaga Juna (delete)
Tolong jaga Juna kalau saya nanti gak ada (delete)
Gak apa-apa mas, saya lupa mau bilang apa
Saya tidur dulu ya mas?
Mas Jayden juga jangan tidur kemaleman meskipun besok weekend
Read
23.04
Jayden unit sebelah
Iya, kamu juga
Good night Alle
Read
23.04
Alle
Iya...
Alle menghela nafasnya lalu meletakan ponselnya di meja kecil disamping tempat tidurnya. Tak lama setelah itu pintu kamarnya terbuka. Dia memang sengaja tak mengunci pintunya. Dilihatnya Jonathan berdiri di ambang pintu membuat Alle tersenyum.
"Kenapa?" tanya Alle.
"Belum tidur? Udah jam 11 malam," ujar Jonathan sambil berjalan mendekat ke Alle kemudian berbaring di samping Alle.
"Mikirin Juna?" tanya Jonathan. Alle tersenyum dan menggeleng.
"Juna barusan ngechat. Titip salam buat mama."
"Udah? Itu aja?" Alle mengangguk.
"Kenapa kamu gak bilang yang sebenarnya ke Juna? Kalau kamu bilang pasti Juna gak akan kaya gini ke kamu."
"Kalau aku bilang ke Juna. Juna pasti marah dan akan menemui Naka tanpa memikirkan dampak perbuatannya. Kalau Juna seperti itu, apa kamu pikir Naka akan tinggal diam? Tidak, Naka pasti akan melakukan sesuatu pada Juna meskipun Juna itu adek aku!" Jonathan terdiam.
"Kamu tau sendiri Naka seperti apa, Jo."
"Maaf, kalau dulu aku gak mempertemukan kalian pasti hidupmu gak kaya gini ya?" Alle menggeleng.
"Kalau kamu gak nemuin aku sama Naka pasti sekarang aku gak bisa selesaiin kuliah aku karena beasiswaku selesai, aku gak akan bisa kerja kaya sekarang. Mungkin aku dan Juna bakal hidup jadi gelandangan" Balas Alle. Jonathan menatap Alle sendu. Baginya Alle benar-benar perempuan kuat dalam menghadapi segala hal hanya demi satu orang dihidupnya, Juna.
Jonathan merentangkan tangannya. Alle tersenyum dan paham maksudnya, Alle menjatuhkan dirinya pada rengkuhan hangat Jonathan, menyandarkan kepalanya pada daada bidang Jonathan.
"Kamu perempuan hebat Alle. Beruntung laki-laki yang kelak akan mendapatkanmu," ujar Jonathan lirih. Baru saja mereka diam, ponsel Alle berdering. Jonathan membantu Alle mengambil ponselnya.
"Naka!" Alle langsung berdecak malas. Dengan malas dia mengangkat telfon Naka.
"Kamu dimana? Aku ke apartemen kosong"
"Aku di kos Juna. Ini weekend, Juna gak bisa pulang. Aku lagi pengen ketemu dia, jadi aku ke kosnya."
"Aku kesana ya? Mau ketemu Juna juga."
"Jangan! Juna sekarang marah ke kamu. Kalau kamu lupa!"
"Karena itu aku ingin tau apa alasan dia marah sama aku, Allee.e"
"Nggak usah. Aku udah tau. Nanti kalau kita ketemu aku kasih tau. Jangan kesini, Juna bisa semakin membencimu."
"Oke, kamu jangan begadang. Juna juga. Titip salam buat Juna."
"Iya."
"Good night."
"Iya."
Alle mematikan telfonnya bahkan dia mematikan ponselnya. Malas kalau Naka menganggunya lagi. Rasanya dia ingin pergi jauh dari Naka.
"Kenapa bohong ke Naka?" Alle menoleh ke Jonathan. Dia masih menggunakan lengan Jonathan sebagai bantalannya. Mereka tidur berhadapan.
"Kita nanti bisa ribut lagi kalau cemburu, Jo. Dia bisa cemburu sama kamu juga. Udahlah dia gak penting. Lagian dia juga udah berbohong lebih besar dari aku!" Jonathan mengusap puncak kepala Alle pelan.
"Maaf, belum bisa ambil bukti yang dibawa Naka. Aku rasa aku cuma bisa sayang dan cinta ke kamu tapi tidak bisa bertindak apapun ya, Le?" Alle terkekeh mendengar ucapan Jonathan.
"Kamu salah, Jo. Kamu jauh lebih banyak bertindak setiap aku dalam masalah. Kalau kamu tidak bisa bertindak untuk masalahku yang sekarang, mungkin Tuhan sedang menyusun rencana dan jalan lain untukku bukan melalui kamu. Tapi mungkin orang lain." Jonathan mengangguk paham.
Kapanpun dia harus siap apabila Alle akan berdampingan dengan orang lain, bukan dirinya. Dia percaya dengan takdir dan jodoh. Apabila memang Alle jodohnya, pasti dia bisa bersama Alle. Bila bukan, setidaknya dia dan Alle masih bisa seperti saudara.
"Kamu tidak mau membuka hati untuk orang lain, Jo?" Jonathan kembali merengkuh Alle. Alle memejamkan matanya dalam rengkuhan hangat Jonathan.
"Let it flow. Itu prinsipku kalau soal perasaan dan percintaan. Aku bahagia melihatmu bahagia. Jadi tolong tetap bahagia, Alle."
"Sana kekamarmu, nanti ketahuan mama gimana?"
"Nanti kalau kamu udah tidur aku ke kamarku." Alle mengangguk dan memejamkan matanya.
Pada akhirnya Jonathan juga terlelap di samping Alle hingga pagi.
Keesokan paginya, seperti biasa, mamanya Jonathan akan membangunkan Jonathan, namun Jonathan tidak ada dikamarnya.
"Loh tumben udah bangun? Padahal weekend." mamanya Jonathan tak ambil pusing. Dia langsung ke kamar Alle untuk membangunkan Alle. Beberapa kali mengetuk pintu tak ada tanggapan dari Alle.
"Alle, mama ijin masuk ya?" Mamanya Jonathan membuka pintu kamar Alle. Awalnya dia terkejut karena melihat Jonathan yang tidur dengan merengkuh Alle. Namun dia mencoba biasa. Mamanya Jonathan berjalan mendekati Jonathan dan membangunkan Jonathan.
"Jo, bangun."
"Jooo ...." Mamanya mengoyangkan badan Jonathan sampai akhirnya Jonathan membuka matanya dan mendapati mamanya.
"Udah pagi ma?"
"Heem, kamu ngapain tidur disini?" Jonathan baru sadar dia tidur di kamar Alle.
"Astaga, ketiduran ma ... padahal semalem Jo janji ke Alle kalau Alle tidur Jo mau ke kamar Jo hehe," Mamanya berdecak.
"Dasar anak muda. Udah sana bangunin Alle. Mama udah siapin sarapan. Oh iya, ada Juna tuh, dia pagi-pagi kesini bawa motor." Jonathan seketika terdiam sampai mamanya keluar dari kamar.
"Le bangun."
"Alle bangun!"
"Alle! Ada Juna di sini!" Alle langsung membuka matanya setelah mendengar nama Juna disebut.
"Kok bisa?"
"Gak tau, kata mama tuh. Udah kamu mandi sana terus keluar temuin Juna."
Setelah selesai dengan dirinya sendiri, Alle berjalan ke meja makan, sudah ada mamanya Jonathan dan Juna yang sedang mengobrol disana.
"Pagi Ma, kamu kesini naik apa Jun?" ujar Alle. Ingin melihat reaksi Juna.
"Motor kak. Habis ini langsung pulang soalnya ada acara kampus," balas Juna seperti biasa saja.
"Apa sih weekend kok ke kampus!" ledek mamanya Jonathan. Tak lama setelah itu Jonathan ikut bergabung dan duduk disebelah Alle. Karena ibunya duduk disamping Juna.
"Eh ayo sarapan dulu. Kamu habis ini mau langsung pulang juga, Le?" tanya mamanya Jonathan. Alle menggeleng.
"Alle mau disini dulu. Kalau bisa sih disini terus, ma hehe." Juna tak paham maksud Alle. Kenapa Alle justru memilih disini. Sedangkan kalau di apartemen dia bisa bebas melakukan apapun dengan Naka.
"Pacar kakak gak ke apartemen apa? Nanti nyariin," sindir Juna. Alle langsung menghentikan pergerakan tangannya yang baru akan menyendok nasi. Alle hanya diam dan memejamkan matanya sejenak.
"Alle lagi gak enak badan Jun, makanya abang suruh dia disini dulu. Kasihan kalau di apartemen sendirian," balas Jonathan mencoba membantu Alle. Mamanya Jonathan terkejut saat Jonathan mengatakan Alle sedang tidak baik-baik saja.
"Loh kenapa? Kamu sakit? Kok gak bilang mama?"
"Hah?eh, gak apa-apa kok ma, Alle agak pusing aja kemarin. Ini udah mendingan tapi Jo masih khawatir."
Setelah selesai sarapan, Jonathan dan Juna duduk di teras rumah sambil mengobrol. Alle membantu mamanya Jonathan di dapur untuk menyiapkan pesanan brownies dari tetangganya. Mamanya Jonathan ini memang membuka usaha kue di rumahnya. Dia hanya akan membuat kue kalau ada yang memesan saja.
"Ini jusnya." Alle datang membawa dua gelas jus untuk Juna dan Jonathan yang tengah duduk di teras rumah.
"Makasih," ujar Jonathan.
"Aku mau antar mama buat nganter kue."
"Eh aku aja Le," ujar Jonathan. Alle menggeleng. "Aku aja Jo, kamu sama Juna dirumah"
"Katanya sakit?" celetuk Juna. Alle tersenyum.
"Gak, bang Jo cuma bantu kakak alihin topik yang kamu omongin aja tadi. Kakak gak sakit," ujar Alle dengan jujur. Jonathan benar-benar tak habis pikir kenapa Alle tak bisa tegas pada Juna dan mengatakan sebenarnya ke Juna.
"MAMA, AYO!" teriak Alle. Setelah Alle dan mamanya Jonathan pergi. Kini hanya tersisa Juna dan Jonathan di rumah.
"Kamu tuh kenapa marah ke Alle Jun?"
"Juna gak marah bang. Juna kesel aja. Biar kak Alle sadar kalau pacarnya itu udah punya istri sama anak! Juna gak mau kakak di cap jadi pelakor!" Jonathan meneguk jusnya kemudian kembali bicara.
"Kamu gak tau yang sebenarnya Jun. Harusnya kamu support Alle bukan malah menjauh. Alle gini buat kamu juga."
"Buat aku apanya? Makanya kasih tau alasannya biar Juna ngerti! Kalian aja diam!"
"Abang gak diijinin kakak kamu buat ngomong yang sebenarnya. Maaf."
"Kalian ini sama aja!"