Sepulang bekerja, Alle tak langsung pulang. Dia sengaja pulang malam untuk menghabisakan waktunya di sebuah club malam. Pikirannya kacau. Semua tentang Naka dan Juna. Naka yang menjebaknya untuk terus terikat hubungan dengannya dan Juna yang semakin menunjukan kebenciannya pada Alle.
Alle tak masalah bila kehilangan Naka atau melepas Naka. Namun Juna? Juna adalah alasan dia masih hidup hingga sekarang. Juna juga alasan dia mengurungkan diri untuk mengakhiri hidupnya beberapa tahun lalu. Namun kini Juna membencinya. Menjauh dari hidup Alle.
"Apa aku harus mengakhiri hidupku sekarang?" gumam Alle sambil meminum minuman beralkohol cukup tinggi itu. Tingkat kesadarannya juga sudah menurun dan membuatnya terus melontarkan kata-kata tak jelas.
"Juna, kalau kamu tau alasannya hahaha pasti kamu juga akan terancam kan? Tapi sekarang kamu malah membenci kakak?!"
"Baajingaaann! Hidup ini Siialan! Aku memang tak pantas bahagia ya? Hahaha!"
Dengan kesadaran yang masih tersisa, Alle memanggil taksi online yang mau membawa dirinya ke apartemen miliknya.
Sesampainya di apartemen, Alle berjalan sempoyongan dengan tenaga yang tersisa. Dia memasuki lift dan menekan tombol angka sesuai angka lantai unitnya berada.
Ting
Saat pintu telah terbuka Alle segera keluar dari lift menuju pintu unit apartemen. Dia memasukan sandi pintunya dan pintu apartemen pun terbuka. Alle langsung berjalan ke kamar dan membanting tubuhnya sendiri keatas tempat tidur. Kepalanya sudah sangat pusing dan dia tidak sanggup lagi membuka matanya. Alle akhirnya hanyut dalam mimpinya.
Tidur nyenyak Alle terganggu saat alarm ponselnya berbunyi. Alle meraihnya lalu mematikan alarmnya dan meregangkan dirinya.
"Kamu sudah bangun?" Alle menoleh kesamping. Betapa terkejutnya dia melihat sosok pria yang asing baginya tengah berbaring menghadapnya dan tersenyum. Alle lantas memukuli pria itu.
"APA YANG KAMU LAKUKAN DI KAMARKU HAH? PRIA m***m!"
Pria itu mengaduh kesakitan dan meminta Alle menghentikan pukulannya.
"Tunggu! Tunggu! Berhenti! Ini kamarku!" teriak pria itu.
"Hahaha? Kamarmu? Apa kamu orang gila---tunggu! HAH?" Alle terkejut saat melihat sekelilingnya. Sangat asing baginya, tidak seperti kamarnya.
"Ini kamarku nona."
"Tunggu! Kenapa aku bisa masuk?" pria itu terkekeh lalu berdiri menghadap Alle.
"Harusnya aku yang tanya kan?"
"Aku tadi malam memasukan sandi kamarku! 970214!"
Pria itu nampak terkejut mendengar penuturan Alle.
"Sandi kita sama? Tapi ini unit 1027. Kamu unit berapa?"
"HAH? ASTAGAA--" Alle langsung memunguti barangnya yang serakan.
"Maaf om, saya salah unit ... astagaaa maaf." Alle langsung berlari keluar dari kamar pria itu membuat pria itu tertawa. Baru beberapa detik Alle keluar, dia kembali masuk ke kamar Jayden.
"Kenapa?" tanya Jayden bingung.
"Emm... sprei om bau alkohol karena saya. Saya cuci dulu ya om sebagai permintaan maaf saya." Jayden hendak menolak namun Alle malah berteriak.
"JANGAN MENOLAK! SAYA HARUS TANGGUNG JAWAB. DIAM! OM DIAM SAJA DISITU, JANGAN BICARA!" teriaknya. Jayden benar-benar menahan tawanya saat ini, menurutnya, tingkah Alle sangat lucu. Alle menarik sprei dan sarung bantal serta sarung guling yang ada diatas tempat tidur Jayden lalu membawanya hingga tangannya penuh.
"Kamu tinggal di unit berapa? Biar aku antar." Alle melotot kemudian menggeleng.
"Gak usah! Jangan! Saya maluu!" Jayden terkekeh.
"Ken--"
"Jangan bicara! Tolong! Anggap saya tidak ada! Saya maluu ihh!"
"Iya iya saya diam," balas Jayden. Alle malah melotot.
"Itu barusan om ngomong! Ah tau ah, saya kembalikan spreinya kalau udah bersih. Sekali lagi maaf. Tolong pura-pura tidak kenal saya aja. Saya malu! Intinya saya malu!" Alle langsung berlari keluar dari apartemen Jayden.
"NAMAKU JAYDEN!" teriaknya. Namun Alle sudah keluar dari unitnya.
"Anjir! Lupa kan nanya namanya. Itu kan cewe di Ganaka Company yang gue cari? Hah? Berarti dia se apartemen sama gue dong?" monolognya.
***
Jayden baru saja menyelesaikan pekerjaannya, kini dia sedang ada di cafetaria kantor sambil menikmati americano dingin favoritnya. Tangannya sibuk memegang ponsel, jempolnya sibuk men-scroll halaman media sosial miliknya, mata tajamnya menatap setiap halaman dan konten yang lewat di beranda sosial media miliknya.
Tiba-tiba dia terkekeh saat mengingat Alle, perempuan yang selama ini dia cari ternyata satu apartemen dengannya. Terlebih lagi kejadian kemarin yang cukup mengelikan baginya.
Saat itu Jayden baru pulang dari rumah Dyaksa karena mereka baru saja berkumpul dengan teman-temannya. Saat Jayden memasuki kamar dia masih belum sadar jika Alle ada di tempat tidurnya, Jayden langsung saja membersihkan diri di kamar mandi kemudian kembali ke kamarnya.
Dia terkejut, sangat terkejut saat melihat seorang perempuan tidur diatas tempat tidurnya. Dilantai dia melihat tas yang terbuka dan beberapa barang berserakan.
"Hey! Kamu siapa!" Jayden mengoyangkan badan Alle sedikit kasar karena kesal ada penyusup ke kamarnya. Alle hanya bereaksi dengan memutar tubuhnya membuat rambut yang tadinya menutupi wajahnya kini tersingkir. Jayden terkejut saat melihat wajah Alle.
"Dia---"
Awalnya Jayden hendak marah, namun dia kini malah senang setelah tau siapa yang ada dikamarnya. Jayden menatap tas perempuan itu berniat mencari identitasnya. Saat Jayden sudah memegang tas Alle, dia kembali urungkan niatnya.
"Gak boleh Jay, gak sopan! Bapak lu nonton di surga begee!" gumamnya. Jayden kembali menatap Alle kemudian dia membenarkan selimut Alle, membiarkan perempuan itu tertidur dengan nyaman.
Jayden mengambil selimut lain di lemari kemudian dia tidur di sofa yang ada di kamarnya sambil menatap Alle dan tersenyum. "Tuhan kayaknya lagi baik sama gue ya? Gue nyari bidadari, eh di kasih dengan cuma-cuma disini."
Paginya, Jayden bangun lebih awal dibanding Alle. Jayden meregangkan tubuhnya kemudian berjalan ke tempat tidurnya dan menatap Alle masih terlelap. Jayden berbaring disebelah Alle sambil terus menatap Alle.
"10 menit lagi bangunin dia Jay, dia harus kerja," gumamnya sendiri. Jayden mengulurkan tangannya untuk mengusap rambut Alle namun dia urungkan karena Alle membuka matanya karena terganggu dengan suara alarm.
Benar-benar konyol kejadian kemarin, Jayden bahkan selalu tertawa saat mengingat Alle berteriak dan menyuruh Jayden diam karena dia malu. Kegiatan Jayden yang sedang mengingat kejadian kemarin terhenti ketika seseorang datang dan menepuk bahunya pelan.
Jayden menoleh ke samping mendapati sekretaris sekaligus asisten pribadinya tersenyum padanya. Mahesa namanya, pria muda tampan dan manis itu sudah hampir 5 tahun menjabat sebagai sekretaris dan asisten pribadi Jayden. Sikapnya yang murah senyum dan sabar membuatnya disenangi hampir seluruh penghuni JYD Corp. , termasuk Jayden sendiri.
“Gimana Mahes?” Jayden memang biasa memanggil Mahesa dengan sebutan Mahes, terkadang juga dia memanggil Mahesa dengan sebutan Esa, katanya memanggil nama lengkap Mahesa terlalu panjang. Padahal hanya menambah huruf A saja dibelakang Mahes.
“Kata mbak-mbak ekspekdisinya paket pak Jayden ketuker sama tetangga sebelah apartemen bapak. Terus kurir yang nganter katanya udah pensiun pak? Gimana dong?” Jayden berdecak sebal, bisa-bisanya paket parfumnya berubah menjadi bra set. “Eh pak pak tapi, ini tadi saya dikasih nomer tetangga bapak dari ekspekdisinya. Bapak hubungin aja deh” Mahesa menyerahkan secarik kertas berisi nomer pada Jayden.
“Okedeh. Makasih ya.”
“Siap pak, saya balik dulu ke ruangan ya pak.” Jayden mengacungkan jempolnya lalu melihat secarik kertas yang ada dihadapannya itu.
“Tunggu tetangga sebelah gue? Apa Juna ya? Coba deh gue hubungi Juna aja. Eh ajak ketemu aja deh.”
Jayden pada akhirnya mengajak Juna bertemu di jam makan siang, kebetulan Juna juga sudah selesai kelas pada jam makan siang. Jayden yang menemui Juna dan mengajak Juna makan di sebuah cafe didekat kampus Juna.
Jayden yang tadi menjemput Juna rupanya disambut tatapan-tatapan para mahasiswi di kampus Juna yang kagum pada pesona Jayden. Mata mereka semakin berbinar kala Juna datang menghampiri Jayden. Jayden langsung berdecih, tak menyangka bahwa ternyata Juna adalah mahasiswa famous di kampusnya. Memang Juna ini tampan, tapi Jayden lebih tampan.
Satu hal yang Jayden baru tau, ternyata Juna adalah ketua Hima di kampusnya. Jayden tau karena tadi saat Juna hendak masuk mobil tiba-tiba ada yang memanggilnya dan menyerahkan proposal kegiatan ke Juna. Kemudian Juna mengatakan,”Nanti sore di ruang Hima, kumpul ya?” Dan dijawab oleh temannya dengan nada bercanda “Siaplah, ketua Hima gue emang, gak pernah gabut” dari sanalah Jayden tau bahwa Juna adalah ketua Hima di kampusnya.
“Tumben bang ngajak Juna ketemu diluar, kangen ya?” celetuk Juna sambil menyantap makan siangnya. Jayden hanya berdecak sebal menanggapinya.
“Oh iya Jun, ada sesuatu yang mau abang tanyain.”
“Apa?”
“Kakak kamu cewek ya?” Juna mengangguk.
"Lah terus yang cowok waktu itu siapa?" tanya Jayden.
"Orang gila," balas Juna seenaknya. Jayden tak mempedulikan lagi pertanyaan itu, dia kembali ke topik utama yang membuatnya bertemu dengan Juna sekarang.
“Jun, kamu inget gak? Pas kamu main ke apartemen abang ada paket diatas meja yang pas abang buka isinya perlengkapan perempuan?” Juna langsung tertawa saat mendengar pertanyaan Jayden. Benar, Juna tau itu, bahkan saat melihatnya langsung Juna tak henti-hentinya menertawakan dan meledek Jayden padahal Jayden sudah menjelaskan pada Juna kalau itu bukan paketnya. Tapi Juna terus-terusan mengejek Jayden.
“Ketawa terus keselek rasain kamu!”
“Maaf bang, soalnya kocak banget dah.”
“Nah ini Jun, ternyata paketnya ketuker.” Juna mengangguk lalu meminum minumannya. “Ketukernya sama paket kakak kamu deh Jun kayaknya, kan gak mungkin itu punya kamu.”
Juna langsung tersedak saat mendengar Jayden mengatakan kalimat terakhirnya. Kini giliran Jayden yang menertawakan Juna habis-habisan. Pasalnya wajah Juna memerah karena terus batuk-batuk akibat tersedak.
“Jun, bantuin abang dong, tukarin paketnya sama kakak kamu.” Juna terdiam lalu menatap Jayden. Entahlah kini dia tiba-tiba memikirkan sebuah ide, ide dimana dia ingin mempertemukan Jayden dengan Alle secara langsung.
“Gak bisa bang, abang kan tau sendiri Juna gak akur sama kakaknya Juna. Juna males, ini aja lagi kabur dari apartemen.” Jayden menandang kaki Juna pelan karena kesal, Juna hanya tertawa menanggapinya. Memang Juna sengaja supaya Jayden sendiri yang menghampiri Alle dan menukar paketnya.
“Jun lah, bantu sekali ya.”
“Gak bisa bang. Juna kayaknya semingguan ini gak bakal balik. Hima lagi sibuk.”
Ditengah negosiasi mereka, ponsel Jayden berbunyi. Jayden melihat ponselnya dan langsung terlihat panik lalu melempar ponselnya pada Juna. Juna melihat layar Jayden tertulis nama kontak 'yang punya bra' dan Juna hafal nomer itu nomer kakaknya. Juna langsung tertawa dan melempar balik ponsel Jayden kemudian berdiri dari duduknya mengambil tasnya dan mendekati Jayden.
“Bang, makasih banget makan siangnya. Selamat berjuang menukar paket!” Juna menepuk bahu Jayden lalu berlari keluar cafe.
“Junaa!! Heh!!! Kurang ajarrr kamu!” Juna malah menjulurkan lidahnya meledek kearah Jayden. Jayden kembali menatap ponselnya kemudian menarik nafasnya dalam dan mengangkat telfon dari Alle.
“Ha--halo” Jayden menepuk pipinya karena dia bisa-bisanya gagap.
“Halo, maaf benar ini dengan pak Jayden? Yang paketnya tertukar sama saya karena unit apartemen kita sebelahan?” Jayden sedikit heran, pasalnya suara kakaknya Juna terdengar gemetar dan seperti ketakutan. Jayden sampai berpikir apa dia dikira penjahat? Tapi tunggu, Jayden seperti tak asing dengan suaranya namun dia tak ingat.
“Iya benar. Ini Valleria?”
“Benar pak, saya Valleria. Bapak ada di apartemen kapan ya? Saya mau tukar paketnya”
“Malam ini ada.”
“Baik pak, nanti malam saya tukarkan paketnya ya pak.”
“Iya.”
“Terimakasih pak.”
Setelah telfonnya berakhir, Jayden tampak berpikir, suaranya tidak asing. Batinnya. Suara perempuan yang menelfonnya tampak familiar di telingganya.
“Oh iya kan gue nguping pas Juna sama kakaknya bertengkar makanya gak asing.” begitulah pikiran Jayden.
***
Alle baru saja selesai makan siang bersama Jonathan, hari ini Naka tidak ada diruangannya karena dia harus menunggu Cio, anaknya yang sakit. Jonathan sebenarnya berniat mengajak Alle untuk menjenguk Cio tapi Alle menolak dengan alasan dia akan semakin merasa bersalah kalau bertemu istri dan anaknya Naka. Jonathan hanya bisa menurut saja.
“Oh iya Le, yang itu gimana? Yang tetangga kamu itu?”
“Hmm, oh itu, udah sih nanti malam di apartemen katanya, nanti malem mau tukeran sih paketnya. Ihhh aku malu Jo.” Jonathan tertawa, Alle baru saja menceritakan kejadian yang terjadi karena kebodohannya sendiri.
“Haha ya lagian kamu juga mabuk sendirian, udah tau kalau lagi hangover suka rese! Itu paket untung ketukernya sama tetangga sendiri, jadi gak terlalu ribet kan?”
"Jo, kamu aja deh yang ambil dari si Jayden Jayden itu. Aku maluu!"
"Ya kalau bisa sih boleh. Tapi kamu tau kan? Aku nanti sama Naka mau keluar kota, pulang malam. Udah gak apa-apa ambil aja, terus minta maaf udah. Jangan ngomong konyol lagi!" Alle mengangguk kemudian kembali duduk di bangkunya dan diam menatap ponselnya. Jonathan ikut diam menatap Alle dari bangkunya sendiri.
Sejak tadi pagi Alle selalu menatap ponselnya karena menunggu kabar dari Juna, adiknya yang tadi pagi berdebat hebat dengannya. Terlebih lagi Juna melihat Naka dan Alle tadi pagi buta membuat Alle semakin tak tenang.
“Alle?” Alle terperangah saat Jonathan sudah berdiri dihadapannya.
“Nanti biar aku yang ngomong ke Juna. Kamu jangan khawatir.” Alle tersenyum dan menggelengkan kepalanya untuk menolak niat baik Jonathan.
“Jo, ingat batasan kamu. Ini masalahku, gak seharusnya aku melibatkan kamu. Kamu sudah terlalu banyak membantuku, Jo.” Jonathan menghela nafasnya pasrah lalu duduk kembali ke bangkunya.
***
Sepulang kerja Alle langsung pulang ke apartemennya berharap Juna juga pulang hari ini, tetapi sesampainya di apartemen, kosong. Tak ada Juna dan tak ada siapapun. Alle memutuskan untuk membersihkan dirinya yang seharian ini bekerja. Setelah selesai mandi Alle memasak mie instan untuk makan malamnya, mungkin tepatnya makan sore karena saat ini masih menunjukan pukul 5 sore.
Alle memakan mie instannya sambil menonton televisi yang sebenarnya sama sekali tak menarik baginya. Dia sengaja menyalakan televisi agar keadaan tak terlalu sepi. Mata Alle menangkap sebuah kotak paket yang waktu itu ia buka dan berisi parfum mahal, seketika dia teringat tetangganya.
Alle segera mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan untuk tetangganya tersebut.
-Maaf pak, sudah di apartemen belum pak? Saya mau menukarkan paket kita-
Alle kembali meletakan ponselnya, menunggu jawaban dari tetangganya yang baru saja dia chat. Sambil menunggu balasan, Alle berjalan ke dapur untuk mencuci piring bekasnya makan. Kemudian dia mengecek lemari pendinginnya melihat persediaan bahan makanannya, masih atau tidak.
“Oke besok grocery shopping,” gumamnya.
Ting
Nada dering ponsel pertanda ada pesan masuk membuat Alle langsung berjalan mengambil ponselnya.
-Maaf baru membalas pesanmu, saya sudah di apartement. Ayo kita tukar paket kita-
Alle membalas pesan tersebut.
-Saya segera keluar-
Alle membawa box berisi parfum itu keluar apartemen, tepat saat dia keluar, tetangganya yang tak lain adalah Jayden dia juga keluar. Mereka berdua sama-sama mematung saat berhadapan satu sama lain.
Jayden yang cukup terkejut karena tetangganya adalah orang yang selama ini dia cari dan orang yang kemarin masuk ke kamarnya karena sandi mereka sama. Alle yang terkejut karena ingat bahwa Jayden adalah salah satu kolega di kantornya yang waktu itu mencari ruangan rapat, iya dia baru ingat sekarang setelah melihat wajah tampan Jayden dengan jelas.
Tak bisa Jayden pungkiri jika sekarang perasaannya sangat bahagia, bagaimana tidak? Dia berhasil bertemu dengan orang yang selama ini dia cari. Bahkan sebelum Dyaksa mengirimkan apa yang Jayden minta, dia sudah bisa mengetahuinya sendiri. Sudut bibir Jayden tertarik dan membentuk senyuman manis hingga membuat dua buah cekungan di kedua pipinya yang membuat Jayden semakin terlihat manis dan tampan dalam waktu bersamaan.
“Maaf, pak. Bapak kolega yang waktu itu--” ucapan lirih Alle terpotong oleh Jayden yang tiba-tiba mengulurkan tangannya.
“Jayden, CEO JYD Corp.” nafas Alle tercekat saat Jayden menyebut posisinya dalam kantor yang dia pijaki saat ini. Seorang CEO? Itulah yang ada di pikiran Alle saat ini. Alle dengan sopan menerima uluran tangan Jayden.
“Valleria, bisa dipanggil Alle saja, pak.” Jayden terkekeh melihat Alle yang semakin menunduk.
“Jangan panggil pak atau om diluar jam kerja. Lagipula kita tetangga.” Alle mengangkat wajahnya, menatap Jayden.
Kini Jayden bisa dengan leluasa melihat wajah cantik Alle. Penampilan Alle memang berbeda, tidak seperti saat dia temui di kantor, Alle dihadapannya sekarang benar-benar terlihat polos, wajah tanpa make up, memakai kaos putih kebesaran dan celana selutut, namun Jayden heran karena meskipun begitu Alle terlihat tetap cantik, bahkan menurutnya Alle tidak terlihat seperti karyawan perusahaan saat sedang polos seperti saat ini, Alle lebih terlihat seperti siswa SMA.
“Lalu saya harus panggil apa?”
“Emm ... karena sudah jelas saya lebih tua-- tunggu, memakai saya sepertinya terlalu kaku ya. Oke, karena sepertinya aku jauh lebih tua dari kamu, jadi kamu bisa panggil aku Mas Jayden, atau mau panggil Jayden aja?”
Alle nampak berpikir tapi kemudian dia mengangguk.
“Iya, Pak--Mas Jayden.” Jayden tersenyum mendengar Alle menyebutnya seperti itu.
“Ah, ini, paketnya mas Jayden, maaf kemarin saya buka boxnya karena saya p--”
“Husstt, Aku Alle bukan Saya, kita tetangga bukan sedang di kantor.” Jayden memotong ucapan Alle hanya untuk memperbaiki cara Alle memanggilnya.
“Ah iya, aku. Enggak! Saya! Pokoknya Saya. Tolong deh pak--Mas Jayden jangan bikin saya tambah malu! Saya udah malu salah masuk apart sekarang malah gini.” Jayden tertawa melihat gelagat Alle yang benar-benar lucu kemudian Jayden menerima paketnya dan memberikan paket milik Alle.
"Maaf buat kemarin karena saya salah masuk ke apartemen mas Jayden, lagian mas Jayden juga ngapain sandi apartnya sama kaya saya?"
"Ya saya gak tau. Itu ulang tahun saya!" Alle melotot.
"I-itu juga ... hari ulang tahun saya!" Jayden kini terdiam. Dia mulai yakin jika ini sepertinya bukan sebuah kebetulan, namun takdir. Sebelum Jayden membuka mulutnya, Alle kembali berbicara.
"Maaf lagi, karena sempat buka paketnya mas Jayden."
“Aku juga minta maaf karena kemarin paketmu aku buka.” Alle langsung melotot tajam, wajahnya memerah karena malu.
“Hah? Mas Jayden buka paket aku? Astagaaa. Maluuuu kuadraatt saya massss!”teriakan Alle membuat Jayden terkekeh gemas. "Udahlah mas kita pura-pura gak kenal aja!" Alle benar-benar mengemaskan di mata Jayden. Terlebih lagi setelah berteriak Alle langsung berlari masuk ke dalam apartemennya meninggalkan Jayden yang tak bisa menghentikan kekehannya.
“Woii!” Jayden langsung berdecak saat melihat Tama dan Dyaksa berjalan ke arahnya. Entahlah ada urusan apa mereka malam-malam ke apartemen Jayden dengan membawa dua kantung plastik penuh di tangannya. Jayden menyuruh mereka untuk masuk ke apartemennya. Bak rumah sendiri, Tama dan Dyaksa langsung rebahan di sofa seperti tuan rumah. Jayden tak keberatan karena sudah terbiasa melihat kelakuan kedua temannya yang tidak seperti manusia katanya.
“Eh iya Jay, gue udah dapat foto karyawan Ganaka dari si Jo.” Dyaksa mengeluarkan ponselnya, jarinya dengan lihai menari diatas layar sentuh ponselnya namun belum selesai Dyaksa membuka file yang akan ditunjukan pada Jayden, ucapan Jayden membuat Dyaksa harus menahan emosinya dan lebih sabar lagi.
“Gak perlu Dy, gue udah tau, udah kenalan juga, malah punya nomernya.” Tama tertawa saat mendengar Jayden mengatakan kalimat tersebut terlebih lagi ekspresi wajah Dyaksa. Bagaimana Dyaksa tak kesal? Dia bahkan memohon dan merayu Jonathan agar menyerahkan foto-foto karyawannya dan dengan santainya Jayden mengatakan tidak jadi?
“Untung gue di bayar jadi sabar aja gue,” gerutu Dyaksa.
“Kelamaan sih lu! Lebih gercep ekspekdisi SiFaster malahan!” Jayden tertawa saat mengingat bagaimana dia menggenal Alle dengan konyolnya, semua karena expedisi siFaster yang salah menggirimkan paket.
***