8. Jayden dan Pendengarannya

2766 Words
Naka terus melingkarkan tanganya pada perut Alle dan mengusapnya pelan namun tiba-tiba tangan Alle menahannya. Naka menatap Alle heran, ada apa dengan Alle? Naka juga bingung. Alle tak pernah melakukan hal ini, menghentikan aksi Naka? Alle akan selalu pasrah dengan semua yang diperbuat Naka termasuk saat Naka memarahinya. Tapi kali ini, dengan berani Alle menahan tangan Naka. “Mas Naka, aku capek banget hari ini. Biarin aku istirahat ya? aku mau tidur. kamu kalau mau tidur di kamar Juna aja.” Naka menurunkan tangannya dan berdecak kesal. Dia benar-benar merasa bahwa akhir-akhir ini ada perubahan sikap yang terjadi pada Alle. Alle langsung berdiri menuju kamarnya meninggalkan Naka sendirian, ini juga pertama kalinya Alle mengabaikan Naka. Bukan Naka jika dia hanya diam saja. Naka langsung menghampiri Alle yang baru saja sampai didepan pintu kamar Alle, lalu menarik Alle kedalam kamar dan mendorongnya ke ranjang. Tatapan Naka sangat tajam dan penuh emosi, membuat nyali Alle menciut. Naka mendekati Alle lalu mencengkram bahu Alle, membuat Alle meringgis. “Apa yang kamu lakukan, Alle? Menolakku? Apa karena Jonathan?” Alle terkesiap, dia tidak tau kenapa Naka membawa-bawa Jonathan. “Gimana rasanya makan siang dengan Jonathan dan ibunya? Seperti keluarga bahagia bukan? Gimana rasanya ditemani tidur dengan Jonathan?” Plak Alle menampar Naka, tatapan mata Alle tak kalah tajam dari Naka. Bukan tanpa sebab, Alle tau, Naka selalu seperti ini saat cemburu pada Alle, berbeda dengan Naka yang saat marah atau mengomel karena hal lain diluar kecemburuan, dia hanya akan marah-marah saja. Namun, jika menyangkut Alle dekat dengan pria lain dengan kata lain Naka yang cemburu pada Alle maka Naka tak akan segan-segan berbuat kasar dengan tangannya sendiri. Naka menatap Alle tajam. "Kamu gila ya, mas? cemburu sama Jo?dia kakak aku, keluarga dia yang ngasih aku sama Juna kehidupan selama ini. Aku dan Jo itu keluarga!" bentak Alle. Namun, emosi dan ego nya sedang menguasai. Naka marah setiap kali Alle bersama pria lain selain dirinya dan Juna. Tidak peduli pria itu temannya atau bukan, Naka tetap tak suka bila Alle bersama pria lain. “Kamu pikir bisa menyuruhku pergi? Valleria Wisteria? Hahaha jangan harap kamu bisa menolakku! Ingat posisi dan status sekarang sayang, kamu itu belum menjadi istri aku, bisa dibilang hanya selingkuhan? Kamu tau itu! Perempuan sialan!” Alle meneteskan air matanya. Naka kembali kasar padanya. "Apa aku yang meminta untuk menjadi wanita simpananmu? Sejak awal aku tau fakta kamu sudah menikah aku meminta untuk mengakhiri semuanya. Kamu bersih keras menahanku dan mempertahankan hubungan ini! Apa sekarang aku ini wanita simpananmu? Apa kamu membayarku untuk itu? Tidak kan? Aku bukan kekasihmu lagi, benar? Kamu anggap aku seperti p*****r sekarang? Apa aku serendah itu dimatamu, Naka?" pekiknya ditengah isakan yang kini memenuhi kamarnya. Naka tak peduli, egonya masih besar. “Aku tidak suka ditolak! Kamu tau itu!” Teriakan Alle terdengar di seluruh ruangan saat kembali membentak Naka. Naka tidak lagi mempedulikan teriakan Alle. Mereka larut dalam perdebatan mereka, Alle yang juga sesekali memukul Naka meskipun tidak begitu keras hanya sebagai perlawanan karena dia sudah sangat lelah menghadapi Naka, namun Naka tak memperdulikannya, hingga mereka terus beradu argumen dengan saling membetak satu sama lain. Mereka kemudian sama-sama diam dan menatap satu sama lain. "Kamu harusnya juga tau batasanmu, mas Naka. kamu memintaku stay aku udah turuti, tapi kamu gak ada hak buat larang aku deket sama siapapun! kamu larang aku menjauh kan? aku bisa aja bongkar kebusukan kamu ke istrimu, kamu pikir aku takut? gak!aku diam karena aku mau lindungi Juna. adek aku. orang yang sekarang jauhin aku gara-gara kamu! tolong, kamu juga jaga batasan kamu!" Naka mengacak-acak rambutnya sendiri, dia tau dia salah, melakukan hal yang seharusnya tak ia lakukan, Naka akhirnya berhenti dan menjatuhkan dirinya di samping Alle. Naka merasa bersalah setelah melihat Alle tak berdaya seperti ini kemudian menarik Alle kedalam pelukannya. Alle hanya pasrah karena tubuhnya terasa tak memiliki tenaga lagi dan tidak sanggup lagi bergerak setelah pertengkaran hebat mereka yang baru saja terjadi. Jangankan bergerak untuk menangis saja dia sudah tidak memiliki tenaga. Alle memejamkan matanya dan tertidur dalam pelukan Naka. *** Alle terbangun saat merasakan sebuah tangan melingkar erat di perutnya dan usapan-usapan lembut yang dia rasakan menyentuh kulit perutnya. Alle menolehkan kepalanya dan mendapati Naka yang masih memejamkan matanya namun tangannya sibuk mengusap perut Alle. Alle benar-benar tak habis fikir, apa Naka tak merasa berdosa telah menghianati pernikahannya? Alle saja selalu dihantui rasa bersalah ketika mengingat anak dan istri Naka. "Good morning," ujar Naka kemudian menghujami kecupan-kecupan kecil pada leher Alle. “Mas, masih pagi, aku capek, awas!” suara Alle terdengar sangat lemah. Tapi Naka tak peduli dan terus melanjutkan kegiatannya. Membuat Alle menahan suaranya. Ceklek Alle langsung menarik selimut menutupi bagian atas tubuhnya begitupun Naka yang menjauhkan diri dari Alle saat pintu kamar dibuka. Alle melotot tajam saat tau Juna yang membuka pintu kamarnya. “Upss, maaf Juna gak tau kalau lagi ada kegiatan panas pagi ini.” Juna menutup pintu kamar Alle dengan sangat keras. “Aku mau mandi kamunya awas dulu, halangin jalan mulu perasaan!” Alle hendak turun namun ditahan oleh Naka. “Ayo mandi bareng!" Alle langsung memukul Naka dengan bantal. “Otak kamu tuh onderdilnya udah berkurang pasti, benerin dulu otaknya di bersihin dulu otaknya!” Naka terkekeh melihat Alle yang emosi. memang mereka seperti ini, setelah berdebat habis-habisan bahkan saling memaki dan meneriaki satu sama lain, keesokannya mereka akan membaik. "Bercanda sayang, marah - marah mulu perasaan, aku bisa mandi di kamar Juna," ujar Naka. Alle tak mempedulikannya dan langsung berjalan ke kamar mandi. Setelah selesai mandi, Alle mulai menyibukkan dirinya di dapur menyiapkan sarapan untuk Naka dan Juna yang sedang ada di apartemennya. Sebenarnya tubuh Alle masih sangat sakit karena perlakuan Naka semalam, namun karena ada Juna, dia tidak mau terlihat kesakitan ataupun terlihat sangat lemah dihadapan Juna. Alle tau Juna sangat membencinya tapi Alle juga tau bahwa Juna pasti akan mengkhawatirkannya kalau saja Alle dalam kondisi kurang baik. Ini pernah terjadi saat Alle yang waktu itu demam tinggi di apartemen sendirian dan sanggup bangun, Juna sudah dalam posisi marah pada Alle karena Alle tak mendengarkan peringatan Juna tentang Naka yang selingkuh. Juna kebetulan saat itu pulang untuk mengambil barang miliknya, dia melihat kondisi Alle yang sedang demam tinggi bahkan bisa dibilang Alle nyaris pingsan. Juna terlihat sangat khawatir waktu itu dan langsung menelfon Jonathan. Kenapa Jonathan? Karena Alle dan Juna merupakan bagian keluarga Jonathan juga. Juna tak mengenal rekan kerja Alle lainnya, hanya Jonathan yang dekat dengan Juna dan selalu berbalas pesan dengan Juna. Juna tau Jonathan merupakan orang terpercaya Naka dan bisa dibilang tangan kanannya Naka, namun Juna tak memiliki perasaan benci kepada Jonathan. Juna pandai membaca mimik atau raut wajah orang dan dia bisa mengenali sifat orang hanya dengan melihat wajahnya saja, menurut Juna, Jonathan adalah orang yang tulus menemani dan menjaga Alle dari jauh. Juna selalu meminta bantuan Jonathan agar bisa melepaskan Alle dari Naka, namun jawaban Jonathan selalu sama. “Abang lagi berusaha, Jun. Abang berusaha buat lepasin kakakmu dari jeratan Naka, sabar ya?” Begitulah jawaban Jonathan. Memang benar Jonathan sedang berusaha untuk melepaskan Alle dari Naka, namun semuanya selalu gagal. Alle selalu melarangnya karena takut Jonathan kenapa-kenapa karena Naka tak pernah main-main dalam bertindak. Setelah Jonathan datang, dia dan Juna langsung membawa Alle ke rumah sakit terdekat bahkan Juna menemani Alle sampai Alle benar-benar sehat. Juna bahkan menolak perintah Jonathan untuk pulang dan membiarkan Jonathan menjaga kakaknya. Namun, Juna menolak. Saat itu juga Naka datang menjenguk Alle, melihat itu barulah Juna mau pergi meninggalkan Alle namun menitipkan Alle pada Jonathan dan meminta Jonathan mengabarinya bila Naka sudah pergi. Sekarang Alle kembali fokus ke kegiatan menyiapkan sarapan, Alle meletakan beberapa masakannya di piring. Saat itu juga Naka datang dan langsung merengkuh Alle dari belakang. Alle menghembuskan nafasnya berat, dia benar-benar ingin mengakhiri semuanya. “Maaf tadi malam aku kasar, maaf nyakitin kamu lagi.” ucapan Naka terdengar sangat jelas ditelingga Alle. Tubuh Alle membeku di tempat. Untuk pertama kalinya Naka meminta maaf pada Alle karena bersikap kasar pada Alle. Naka mengeratkan rengkuhannya dan mendaratkan dagunya di bahu Alle. “Gak apa-apa, biasanya juga kamu kasar. Aku udah terbiasa.” jawaban Alle berhasil membuat Naka melonggarkan rengkuhnya, ada perasaan perih yang Naka rasakan saat Alle mengatakan hal tersebut. Apa sekasar dan semenyakitkan itu? Sampai dia sepasrah itu?. Batin Naka berteriak. Alle dengan lembut melepas tangan Naka yang masih melingkar diperutnya. “Aku mau siapin sarapan dulu. Kamu duduk aja!” Alle berjalan ke meja makan dan merapikan semua masakannya di atas meja makan. Naka kemudian memilih untuk duduk di meja makan sambil memperhatikan Alle menyiapkan masakannya. Dia tak pernah melihat pemandangan seperti ini dirumahnya. Karin, istrinya tak bisa melakukan hal seperti yang dilakukan Alle setiap pagi. Alle hanya tersenyum saat melihat Naka memperhatikannya, senyum terpaksa tentunya. “Darimana kamu tau aku dan Jo bertemu beberapa waktu lalu?” pertanyaan Alle sontak membuat Naka menoleh. “Hmm, malam itu aku kesini, tapi aku lihat Jonathan datang dan mengajakmu makan malam disini! Apa kamu bermain-main dengan dia?” Alle terkekeh. “Apa aku terlihat akan bermain dibelakang kamu dengannya? Seorang Jonathan? Dia sudah seperti kakakku sendiri. Aku tak ada niatan untuk bermain dengannya. Bisa kamu kontrol kecemburuanmu itu?" "Aku cuma takut kamu pergi dari aku, Le." "Apa dengan cara itu kamu memberikan treat untukku? Apa selama ini aku menahanmu bergaul dengan perempuan lain? Tidak Naka! Ini aku bergaul dengan Jo! Jonathan! Sahabatmu! Kamu kenal dia! dia kakakku!" bentak Alle. Naka terdiam sejenak sambil memperhatikan Alle. "Jonathan bahkan tak keluar dari apartemenmu. Aku menunggunya keluar sampai tengah malam didepan mobilnya tapi dia--" ucapan Naka dipotong dengan cepat oleh Alle. "Dia pergi. Dia pergi lebih dari jam 12 malam. Kalau kamu berniat memang menunggunya. Tunggu sampai pagi. Pastikan dia benar-benar menginap disini atau tidak?!" Alle menatap Naka penuh emosi. "Soal aku makan siang dengan ibunya Jo. Dia udah kaya ibuku dan Juna! Jo dan ibunya itu udah dianggap Juna dan aku sebagai keluarga! Kamu tau itu! Harusnya kamu ngerti!" Naka terdiam. Alle benar, dirinya terlalu egois dan tersulut emosi. Padahal Jonathan sudah memperingatkannya agar tak kasar pada Alle. "Maaf, maafff, aku terlalu kekanakan dan emosian." Alle hanya diam, kemudian, dia berjalan ke depan pintu kamar Juna dan mengetuk pintunya hingga pintu tersebut dibuka oleh sang penghuni kamar. Juna terlihat sudah rapi dengan tas ransel kuliahnya. Alle tersenyum manis ke Juna namun Juna hanya membalasnya dengan tatapan sinis. “Kakak udah bikin sarapan, mau sarapan bareng?” Juna tak menjawab Alle dan justru menatap tajam kearah Naka yang saat itu duduk santai di meja makan. Tatapan penuh kebencian di mata Juna bisa dilihat oleh Alle. “Oh, kalau kamu gak mau sarapan bareng, biar kakak bawain ke kamar kamu--” “Juna mau ke kampus,” balas Juna singkat kemudian berjalan menuju pintu keluar. Naka sempat menyapa Juna dan dibalas dengan senyuman tipis yang tentunya senyuman palsu dari Juna. “Atau mau kakak bawain bekal, Jun? Juna!” Juna sudah membuka pintunya tanpa mempedulikan teriakan Alle. “Mas, aku antar Juna kedepan dulu.” Naka mengangguki ucapan Alle. Alle berlari keluar dari unit apartemennya, Juna masih ada disana dan hendak berjalan pergi namun ditahan Alle. “Juna, gak mau sarapan dulu? Kamu jarang sarapan sama kakak.” Juna menepis tangan Alle kasar dan sedikit mendorong Alle agar menjauh darinya. “Juna udah pernah bilang kan? Gak sudi sarapan bareng suami orang! apalagi yang jadiin kakak Juna jadi simpanan!" Alle tak mampu menahan air matanya, dia menanggis didepan Juna. Rasa sakit di tubuh dan batinnya seolah-olah terasa berkali-kali lipat. “Juna ... tolong ngertiin kakak sekali aja, kakak kangen bareng kamu, tolong hargai usaha kakak juga Jun--” “Apa yang harus dihargai kak? Kakak menjadi selingkuhan pria seperti Naka gitu. Apa yang harus dihargaii?” Suara Juna meninggi, terdengar memekik di telingga Alle. “Kakak juga tau kan? Ini kosekuensinya kalau kakak masih pertahanin hubungan kakak dengan Naka. Sejak awal Juna tau Naka selingkuh bahkan udah nikah, Juna minta kakak buat akhiri hubungan kalian, tapi apa? Kakak milih buat dipertahankan? Udah gak sehat kakak?" “Kamu bahkan gak tau apa-apa Juna, kenapa kakak melakukan ini, kenapa kakak pertahankan hubungan kakak? Semuanya kakak lakuin demi kamu!” Juna mendecih lalu meninggalkan Alle yang menangis sendirian di lorong apartemennya. Kaki Alle melemas dan akhirnya dia terjatuh ke lantai. Tanpa mereka sadari, sejak tadi seseorang mendengar pertengkaran mereka. Jayden, tadinya dia hendak keluar apartemen, baru saja pintunya terbuka sedikit dia sudah mendengar perdebatan antara Juna dan Alle. Jayden sebenarnya penasaran dengan siapa perempuan yang dipanggil Juna 'kak' dalam pertengkarannya. Mungkin kakaknya? Tapi kakak Juna cowok kan? Cowo yang kemarin? Atau bukan?. Begitulah batin Jayden saat mendengar pertengkaran Juna dan Alle. Dia hanya bisa mendengarnya tidak mengintipnya karena takut ketahuan. Bertemu beberapa kali dan menjadi cukup dekat dengan Juna membuat Jayden sangat hafal dengan suara Juna. Baru kali ini pria itu melihat Juna memekik dengan nada tinggi bahkan membentak seorang perempuan. Saat melihat Alle bersimpuh di lantai, Jayden berniat untuk membantunya, namun, seorang pria baru saja datang dan berlari mendekati Alle dengan raut paniknya. Jayden kembali menutup pintu apartemennya. “Alle?” “Jo?” Jonathan tak mengijinkan Alle berbicara lagi, dia langsung menarik Alle kedalam dekapannya dan menenangkan Alle. Jonathan tau Alle baru saja berdebat dengan Juna karena tadi Jonathan berpapasan dengan Juna saat Juna akan keluar dari lift. Jonathan langsung terburu-buru memasuki lift setelah Juna mengatakan, “Kakak nangis gara-gara aku, dia didepan pintu apartemen, di dalam ada Naka,” ucapan singkat Juna berhasil membuat Jonathan khawatir dan langsung menekan angka menuju lantai dimana unit apartemen Alle berada. Setelah Alle sedikit tenang, Jonathan melepas dekapannya. “Kamu ngapain kesini, Jo? Ada Naka didalam!” “Justru itu aku kesini, ayo masuk.” Jonathan membantu Alle berdiri. Alle membuka pintu apartemennya dan mempersilahkan Jonathan masuk kedalam apartemennya. Jonathan langsung menghampiri Naka yang tengah sarapan, Naka langsung melayangkan tatapan tajamnya ke Jonathan. “Lu gila Ka?” suara pertama yang Jonathan ucapkan berhasil mengintrupsi Naka. Naka menautkan kedua alisnya, tak paham dengan maksud Jonathan. “Anak lu sakit! Lu malah pergi ke rumah perempuan lain! Lu bahkan gak bisa dihubungi! Karin nelfon gue nanyain lu dimana? Kapan ngelemburnya selesai? Cio masuk rumah sakit, Ka!” Naka terkesiap. Dia langsung mengambil ponsel, jaket, dan kunci mobilnya di kamar Alle, dia pergi dengan raut khawatirnya tepat setelah Jonathan menyebut nama Cio. Alle terdiam mendengar ucapan Jonathan barusan. “Bukankah aku terlalu jahat, Jo? Suaminya pergi karena menemuiku, karena aku!” Jonathan menggeleng menanggapi ucapan Alle barusan kemudian dia duduk di meja makan dan dengan tanpa dosanya dia mengambil piring untuk menumpang sarapan disana. “Aku lapar.” ucapan itu lolos dari bibir Jonathan, Alle terkekeh lalu duduk dihadapan Jonathan dan mereka sarapan bersama. Saat sedang menikmati sarapan mereka, suara dering ponsel Jonathan membuat acara sarapan mereka terhenti. Jonathan berdecak kesal saat melihat siapa yang menelfonnya. “Kenapa? Angkatlah Jo.” “Dyaksa nih, pengacaranya JDS Corp.” “Ya angkat dong!” Jonathan akhirnya mengangkat telfon dari Dyaksa karena desakan Alle. “Hm,” “Ham hem ham hem aja lu. Jo gue mau--” “Kan gue bilang Dy, datanya itu rahasia gak boleh disebar. Ntar gue digorok bos gue.” “Dengerin dulu! Gue minta foto-foto karyawan lu aja udah. Yang cewek aja.” “Buat apa sih?” “Si Jayden bos gue katanya lagi nyari karyawan di perusahaan lu, kemarin dia pas di kantor lu ditolong sama karyawan disana, dia gak sempet nanya nama sekalian katanya buat terimakasih. Makanya dia mau minta foto muka karyawan lu, dia inget mukanya soalnya. Nanti kalau udah ketemu dia mau nanyain namanya sekalian berterima kasih.” Dyaksa ini memang pandai merangkai kata-kata. Tentu saja yang diucapkan Dyaksa bohong, Jayden sudah berterimakasih waktu itu. Itu hanya akal-akalan Dyaksa agar Jonathan mau memberikan foto-foto karyawannya. “Yaudah nanti. Pas foto bareng-bareng aja ya? Kalau satu-satu capek gue nyarinya.” “Siap deh Jo! Emang lu doang yang terbaik dan--” Jonathan langsung menutup telfonnya tanpa mendengar Dyaksa menyelesaikan ucapannya. “Kenapa dia Jo?” “Minta foto Karyawan katanya bosnya lagi nyari karyawan yang kemarin nolong dia gitu. Mau terima kasih katanya.” “Ck, kocak bener bosnya.” Kekehan Alle pecah saat mendengar cerita Jonathan tentang Jayden yang sedang mencari karyawan disana demi mengucapkan terimakasih. “Jo, sebelum ke kantor kita ke ekspekdisi dulu bisa? Paket aku ketuker sama orang. Mau aku tanyain.” Jonathan menganggukan kepalanya, pertanda dia menyetujui Alle. Setelah selesai sarapan Jonathan meminta Alle untuk bersiap-siap saja, membiarkan Jonathan yang membereskan sarapan mereka dari mulai mencuci piring hingga membersihkan meja makan. Alle awalnya melarangnya, namun Jonathan tetaplah Jonathan, dia akan tetap ngotot mengerjakannya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD