7. Paket dan Tetangga Apartemen

2436 Words
Alle terbangun dari tidurnya saat alarm ponselnya berbunyi. Benar, sudah tidak Jonathan saat dia bangun, Jonathan benar-benar menepati janjinya untuk pergi setelah Alle tertidur. “Dia selalu menepati janjinya,” gumamnya lalu berjalan ke kamar mandi untuk mempersiapkan dirinya bekerja. Setelah mandi Alle ke dapur untuk sarapan, dia hanya akan minum s**u dan makan roti gandum saja saat sedang sendirian di apartemen. Alle menatap setiap sudut apartemenya yang tertata rapi, simpel tapi elegan, semua berkat tangan Juna yang merapikan interior dan desain apartemen serta meletakan perabotan-perabotan dengan tepat. “Beginikah rasanya hidup sendiri?” Alle mencoba menunjukan senyumannya sebelum akhirnya dia keluar dari apartemen menuju ke basement. Dia memiliki mobil pribadi, bukan pemberian Naka, dia menabung untuk membeli mobil itu. Berbeda dengan apartemen. Apartemen itu pemberian dari Naka dan atas nama Alle, jadi bisa saja Alle menjualnya kapanpun dia mau, tapi Alle bukan perempuan selicik itu. Naka memberikannya saat dia ulang tahun. Alle marah waktu itu karena Naka membelikannya barang semewah itu, Alle tak pernah mau jika Naka memberinya barang mewah makanya Alle marah dan mendiamkan Naka selama berminggu-minggu. Berkat bujukan Juna, Alle akhirnya menerima apartemen tersebut dan memaafkan Naka. Namun tidak, jika kejadian itu terulang lagi. Dikantornya sudah ada Jonathan dan Naka. Mereka ada didalam ruangan Naka. Jonathan sejak tadi menatap Naka dengan tatapan marahnya. Tentu saja hal ini membuat Naka heran dan bingung. “Kenapa, Jo?” “Apa yang lu lakuin ke Alle.” Jonathan bahkan tak memakai bahasa formalnya saat ini, padahal biasanya dia akan tetap berbicara formal saat di kantor. “Maksud lu? Alle seperti biasa Jo. Gue sama dia habisin waktu bareng diapartemen, dia treat gue dengan baik, dia---" “Lu betengkar sama Alle kan? sampai dorong Alle, bahunya agak memar.” sahut Jonathan dengan cepat. Naka merubah ekspresinya dan diam menatap Jonathan. “Naka, apa lu gak keterlaluan? Udah bawa perempuan sebaik Alle ke dunia lu, udah lu rusak dia juga, lu injak-injak harga dirinya. Lu belum puas? Sampai lu lakuin hal sekasar ini juga ke Alle? Lu kira Alle apa? b***k lu iya? Sadar Ka!” bahkan sekarang Jonathan membentak sambil mencengkram kerah Naka. Tak peduli siapa Naka dan apa posisinya. “Jo, lu tau kan? Gue suka kesel sama Alle apalagi kalau dia bahas soal istri dan anak gue kalau kita lagi bareng. Lu tau kan gue kalau marah gimana?” “TAPI JANGAN ALLE! ALLE GAK PANTAS LU PERLAKUIN KAYA GITU!” Jonathan mengebrak meja Naka. Naka benar-benar terkejut, temannya ini tak pernah bersikap seperti ini padanya. “Lepasin Alle, Ka. Gue rasa yang dia berikan ke lu udah cukup. Perlakuan lu ke dia juga udah cukup. Hapus semua bukti yang lu buat jadi ancaman ke Alle. Alle pantas bahagia, Ka.” Naka kembali duduk di bangkunya lalu mengusap wajahnya kasar. Dia menunduk sebentar kemudian mendongak lagi. “Gue gak bakal lepasin Alle.” jawaban Naka membuat Jonathan mengepalkan tangannya. “Kenapa? Kenapa Ka? Lu mau nyiksa Alle disisa hidupnya? Ka, lu punya istri sama anak, inget Karin sama Cio!” “Gue tau gue punya istri dan anak tapi gue gak bisa lepas Alle, gue gak bisa Jo.” Jonathan menatap Naka dalam, dia ingin melontarkan sebuah pertanyaan yang mungkin tak masuk akal. “Lu yakin masih sayang sama Alle? Atau lu itu cuma ketergantungan aja sama Alle karena selama ini lu selalu hidup berdampingan dengan dia, atau lu terobsesi?” Naka tak menjawab, dia malah menunduk. “Gue gak tau, Jo.” Jonathan membuang nafasnya kasar lalu mencengkram kuat bahu Naka. “Gue gak segan-segan habisin lu kalau lu masih kasarin Alle. Gue gak peduli lu siapa, apa posisi lu, mau gue kehilangan pekerjaan gue, gue gak peduli. Ingat itu Ka!” Jonathan langsung keluar dari ruangan Naka setelah mengakhiri pertengkaran pagi mereka dengan sebuah ancaman. Kepergian Jonathan, membuat Naka semakin berpikir. Bagaimana perasaannya ke Alle sekarang. Naka benar-benar rasanya ingin mati saat jauh dari Alle. Ingatannya kembali ke saat dimana dulu Naka bertemu dengan Alle. Jonathan yang sudah menjadi pekerja kantoran masih sering mendatangi Alle setiap jam istirahat. Terkadang Jonathan mengantar jemput Alle ke kampusnya, Jonathan juga sering mengajak Alle makan bersama, bahkan mengenalkan Alle pada orang tuanya. Alle juga yang menemani Jonathan saat ayah Jonathan akhirnya pergi meninggalkan dunia karena sakit yang dideritanya. Alle yang menghibur Jonathan dan ayahnya. Saat ini Jonathan dan Alle tengah berada di mobilnya. Alle memeriksa beberapa berkas persyaratan untuk menerima beasiswa dari Ganaka Grup. "Gak usah di cek. Auto lolos kok kamu. Kan aku yang rekomendasiin kamu langsung ke atasan aku." "Tetep aja walaupun cuma formalitas ya harus totalitas lah." Jonathan hanya tertawa. "Ayo turun. Ikut aku ketemu bos." "Hah? Gilaa gilaa, gak main-main. Aku bahkan ketemu bosnya langsung? Inilah pentingnya memanfaatkan orang dalam." Jonathan hanya menggelengkan kepalanya lalu menarik Alle masuk ke ruangan Naka. Alle kini duduk berhadapan dengan Naka dan Jonathan. Sejak kedatangan Alle, Naka tak bisa mengalihkan atensinya pada hal lain, dia jatuh pada pesona Alle sejak pertama bertemu. "Makasih pak Naka sudah memberi saya kesempatan untuk menerima beasiswa ini," ucapan Alle membuyarkan lamunan Naka. Naka tersenyum manis dan mengangguk. "Alle, pertahankan nilai-nilaimu. Setelah lulus, saya akan berikan tempat untukmu bekerja disini." Mata Alle berbinar mendengar ucapan Naka. Dia hampir meloncat kegirangan, namun dia sadar, dia harus menjaga image-nya. Sejak saat itu, Naka sering berkomunikasi dengan Alle dan dekat dengan Alle. Terkadang Naka ikut Jonathan saat akan bertemu Alle. Terkadang Naka menemui Alle sendiri hingga akhirnya keduanya memiliki perasaan yang sama dan memutuskan untuk menjalin hubungan yang lebih serius. Tepat saat Jonathan keluar dari ruangan Naka, Alle datang memasuki ruang kerja mereka. Alle tersenyum manis pada Jonathan, begitupun Jonathan. “Pulang jam berapa?” tanya Alle lirih. Jonathan nampak berpikir sejenak. “Jam 12 kali,” “Hah? Malam banget? Kan aku tidurnya aja jam 9an.” “Sebenernya pengen sampe pagi malahan.” “Mau mati?” Jonathan tertawa lalu duduk di mejanya sendiri dan Alle juga duduk di mejanya. Alle mungkin memiliki posisi cukup tinggi, namun tetap saja posisinya masih dibawah Jonathan saat di perusahaan Naka. “Sana kerja!” Alle kembali fokus ke pekerjaannya. Tiba-tiba ingatannya tertuju pada paket yang kemarin dia ambil. Dia belum membuka paket tersebut hingga hari ini. Dia tau itu paket yang dibelikan oleh Naka dan dia memang tidak ada keinginan untuk membuka paketnya. Alle berdiri dari duduknya sambil membawa beberapa map berisi surat-surat yang harus ditanda tangani oleh Naka. Sebelum masuk ke ruangan Naka, dia menghirup nafas dalam-dalam, bukan karena takut tapi dia sudah sangat muak dengan semuanya. “Permisi pak, ada surat yang harus bapak tanda tangani.” Alle meletakan berkas-berkas itu di meja Naka. Naka tak fokus pada berkasnya namun justru fokus ke Alle. “Alle?” “Iya pak?” Naka menarik Alle agar mendekat kearahnya kemudian mendudukan Alle di atas mejanya. “Pak, ini kantor.” “No problem, sayang. siapa yang bakalan sembarang masuk ke ruangan aku? biasanya juga gak apa-apa kan?” “Tapi itu pas udah gak ada pegawai dan itu dulu pas aku bukan selingkuhan kamu!" Naka terdiam mendengar ucapan Alle, ada rasa bersalah dalam dirinya namun egonya lebih besar. “4 hari aku gak ketemu kamu, aku ke apartemen nanti malam,” ujar Naka. Alle hanya diam kemudian turun dari meja kerja Naka dan keluar ruangan. Tepat saat itu, ada Karin dan Cio yang tak lain adalah istri dan anaknya Naka yang datang. Alle menyapa mereka dengan ramah. “Pagi bu Karin.” “Eh iya, halo Alle. Astaga makin cantik aja.” Alle tersenyum namun ada rasa bersalah dalam dirinya setiap kali melihat Karin dan Cio. “Iya kan? Dia cantik kan?” goda Jonathan yang ikut mendekati mereka. Karin tertawa. “Iya, kamu gak mau seriusin Alle, Jo?” kini Karin mencoba menggoda Jonathan dan Alle. Namun, yang namanya Jonathan ini tidak akan tergoda, yang ada malah menggoda balik. “Ya mau. Kemarin habis aku lamar, tapi ditolak, iya kan, Le?” goda Jonathan. Alle hanya tersenyum tidak ada minat untuk menjawab Jonathan. “Pak Naka di dalam bu, kalau mau ketemu.” Alle justru mempersilahkan Karin dan Cio masuk ke ruangan Naka. Karin mengangguk lalu masuk ke ruangan Naka bersama Cio. “Nanti makan siang bareng!” ajak Jonathan. Alle menatap Jonathan penuh arti kemudian dia mengangkat satu alisnya seolah bertanya ada apa? “Mama mau ketemu kamu lagi, Le.” Alle mengangguk paham. Memang Alle dan Jonathan sedekat itu. Jonathan beberapa kali mengajak Alle ke rumahnya dan bertemu mamanya. Alle dan Juna bahkan sempat ikut tinggal bersama dengan keluarga Jonathan. Alle yang notabennya cepat beradaptasi dan dekat dengan orang pun langsung akrab dengan mamanya Jonathan. “Dirumah?” Jonathan menggeleng. “Di restauran seberang kantor. Mama nanti kesana. Katanya kangen calon menantunya.” Alle tertawa kemudian kembali duduk di bangkunya untuk bekerja. *** Jayden baru saja selesai menandatangani berkas-berkas yang di berikan padanya. Dia meregangkan badannya yang terasa sangat lelah karena hampir seharian hanya duduk dan fokus pada berkasnya. Dia berjalan keluar ruangan dan meninggalkan kantornya berniat ke firma hukum tempat Dyaksa bekerja. Sesampainya di firma hukum milik Dyaksa, Jayden melangkah dengan ringan tanpa rasa canggung bahkan dia sepertinya hafal dengan firma hukum besar milik Dyaksa ini, setiap karyawan disana yang melihat Jayden pun menyapanya dan dibalas dengan senyuman manis Jayden Langkahnya terus berlanjut menuju meja kerja Dyaksa dimana Dyaksa sedang fokus pada pekerjaannya sampai tak menyadari kalau Jayden sudah berdiri dihadapannya. “Mana datanya?” Setelah Jayden bersuara, Dyaksa baru sadar akan keberadaan Jayden disana. “Hah? Data apa bos?” “Karyawan Ganaka company!” Dyaksa langsung membanting bolpennya dan menatap Jayden tajam. “Lu kira ngumpulin data sehari kelar? Stres lu!” Jayden tertawa dan duduk di hadapan Dyaksa. “Lu nyari apa sih Jay?” “Cewek, ada pegawai cewek disana cantik banget, gue gak tau namanya tapi inget wajahnya dia bantuin gue pas gue kesasar disana.” Dyaksa menatap Jayden tak percaya. Jayden yang dikiranya dan teman-temannya adalah sosok pria penyuka sesama jenis karena tidak pernah berpacaran dengan perempuan ini tiba-tiba saja dia membicarakan sosok perempuan dihadapan Dyaksa. “Serem lu, beneran Jayden kan?” Jayden langsung memukul kepala Dyaksa. “Eh iya beneran Jayden ternyata, pantes kasar.” “Bener-bener gak ada akhlaknya lu, Dy!” Dyaksa hanya tertawa menanggapi amarah bosnya dan membiarkan Jayden pergi. Benar-benar bawahan yang tidak menghormati atasannya. Dyaksa sudah bertemu dengan Jonathan kemarin dan meminta bantuan pada Jonathan tapi Jonathan menolak karena itu berkaitan dengan dokumen perusahaan dan data pribadi pegawainya. Jonathan adalah orang yang bisa diberikan kepercayaan terkait rahasia. Sebenarnya, sekarang Dyaksa sedang bingung bagaimana cara mendapatkan data-data pegawai Ganaka company sedangkan teman dekatnya saja tidak memberikan akses. “Apa gue minta foto pegawainya aja yang cewek. Kan Jayden bilang mau nyari nama pegawai ceweknya Ganaka doang. Gila aja cuma gara-gara urusan cewek gue jadi korban. Gak apa-apa deh daripada Jayden belok.” Dyaksa bermonolog pada dirinya sendiri kemudian dia menghubungi Jonathan lagi. *** Alle memasuki apartemennya setelah seharian bekerja. Dia bersyukur hari ini tak diminta Naka untuk memenuhi hasratnya karena tadi ada Karin dan Cio yang menemani Naka hingga sore. Tangan Alle tergerak untuk membuka paket yang dia ambil kemarin. “Hah? Parfum?” Alle terkejut saat melihat paketnya berupa parfum mahal, tidak sesuai yang Naka katakan waktu itu. Di waktu yang bersamaan, Jayden juga membuka paketnya yang kemarin belum sempat ia buka, betapa terkejutnya dia saat melihat paket yang datang adalah perlengkapan dan kebutuhan perempuan. Jayden langsung menutup paketnya lagi. “Ya kali gue pake bra,” gumamnya. Jayden menyambar kunci mobilnya hendak ke tempat ekspedisi yang mengirimkan barang, menanyakan terkait paketnya yang tertukar dengan paket orang. Saat baru keluar dia melihat Juna yang hendak masuk ke apartemen Juna. “Juna?” “Eh bang Jayden, mau kemana?” “Oh mau ke tempat paket, paket abang ketuker.” “JUNA!” Juna menoleh ke sumber suara. Wajahnya yang tadinya sumringah kini berubah menjadi datar. “Bang Naka?” gumam Juna. Benar, Naka yang memanggilnya, dia baru saja datang dan menghampiri Juna. Juna akan bersikap biasa saja ke Naka meskipun sebenarnya hasrat ingin menghabisi Naka sangat tinggi. Dia akan melampiaskan semua amarahnya pada kakaknya, Alle. “Kakak kamu dirumah?” “Juna baru datang juga. Cek aja didalam. Juna mau main ke apartemen bang Jayden dulu.” Jayden menatap Juna tak paham, kenapa tiba-tiba Juna mau ke apartemennya? Naka hanya mengangguk kemudian memasukan sandi apartemen Alle dan masuk begitu saja. Jayden juga heran, siapa Naka? “Itu siapa? Kakak kamu juga? Maksudnya sepupu kamu?" Juna menggeleng. “Juna mau ikut abang dulu boleh?” tanya Juna. Jayden mengangguk dengan cepat. “Kalau gitu besok aja deh abang perginya. Ayo masuk dulu aja. Mau makan sekalian gak? Kita masak aja.” Juna mengangguk dengan semangat lalu mengikuti Jayden masuk ke apartemennya. Naka yang melihat Alle berdiri menghadap ke meja makan langsung tersenyum dan merengkuhnya dari belakang. Perlakuan Naka ini tentulah membuat Alle terkejut karena Alle saat itu fokus menatap parfum yang baru saja dia buka dari bungkus paketnya. Naka beberapa kali memberika kecupan pada leher dan belakang telingga Alle namun Alle hanya diam saja, dia membiarkan tangan Naka menelusup kedalam perutnya hingga kulit tangan Naka menyentuh langsung kulit perutnya. “Mas Naka,” “Hmm?” “Kamu beneran beliin aku paket yang kamu bilang waktu itu kan?” Naka menghentikan kegiatannya kemudian mengecup pipi Alle dan mengangguk. “Masa paketnya yang datang ini.” Naka mengalihkan atensinya ke arah benda yang ditunjuk Alle. Naka tentu terkejut lalu melepas pelukannya dan melihat parfum mahal itu kemudian menatap Alle. “Apa paketnya ketuker?” tanya Naka. “Mungkin. Besok aku coba ke ekspedisinya.” Alle menutup kotak parfumnya lalu meletakannya ke tempat aman agar tidak merusak barang milik orang. “Kamu tau? Apartemen sebelahmu sudah diisi orang ternyata. Gak tau sejak kapan, soalnya selama ini sepi- sepi aja.” Alle menoleh ke arah Naka yang kini telah mendaratkan pantatnya ke sofa. Alle tak tau kalau apartemen disebelahnya sudah ditempati orang. "Oh ya? Aku gak tau, aku kira masih kosong." “Juna disana.” Alle tak paham dengan ucapan Naka sehingga dia mendekati Naka dan duduk disebelahnya. Berharap Naka menjelaskannya lebih jelas. “Maksudnya?” “Juna sepertinya kenal dengan tetangga barumu. Seorang pria.” Naka menatap Alle tajam kemudian tangannya mengusap pelan rahang Alle. “Juna disini?” Naka mengangguk dan semakin menghapus jarak antara dia dan Alle. Tangannya turun mengusap leher Alle dan semakin turun hingga tangannya kini berada tepat diperut Alle. Naka mengusap pelan perut Alle dari luar kemeja kerja yang masih melekat di tubuh Alle membuat Alle merasa cukup risih dengan perlakuan Naka. Mungkin dulu Alle akan menerima perlakuan itu, namun sekarang semuamya sudah berbeda.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD