Sepulang kerja, Alle berjalan ke lorong tempat peletakan paket, dia hendak mengambil paket yang dikirimkan Naka satu bulan yang lalu, ternyata paket itu sudah datang. Memang lama, karena Naka memesannya dari luar negeri. Setelah paketnya datang, Alle segera mengambilnya lalu masuk kedalam apartemennya, meletakan paket tersebut diatas meja ruang tengah apa ada niatan untuk membukanya. Kemudian dia melangkah ke kamar Juna dan membuka kamar itu. Dia tersenyum menatap sekeliling kamar Juna, tak ada yang berubah, hanya saja ruangan itu terasa dingin dan sunyi karena sering ditinggal pemiliknya.
Tangannya beralih ke gitar milik Juna yang sengaja dia tinggal di apartemen. Juna sering memainkan gitarnya saat berada di dalam kamar, terkadang dia juga bernyanyi dengan suara emasnya. Lagi-lagi air mata Alle menetes dia bahkan kini terisak, merindukan semua kegiatannya dengan Juna dulu. Juna selalu mengajaknya pergi setiap akhir pekan sekedar untuk berkeliling dengan motor kesayangan Juna yang telah dijual demi membayar uang sekolah Juna sebelum Alle mendapat tawaran dari Naka. Namun, Alle tak pernah menggunakan uang dari Naka untuk membiayai pendidikan Juna. Dia selalu memakai uang dari hasil kerjanya di kantor, dia tidak mau memakai uang yang dia anggap haram itu untuk membiayai pendidikan adiknya.
Ponsel Alle berbunyi ditengah isakannya. Dilihatnya nama Jonathan tertera di layar ponselnya. Alle mencoba menetralkan nafasnya dan isakannya kemudian baru mengangkat telfon dari Jonathan.
“Halo Jo?”
“Are you okay, Alle?”
“Heem, i'm totally fine.”
“Aku didepan apartemen kamu. Dari tadi mencet bel gak ada yang bukain pintu."
“Hah? Ngapain kesini?”
“Emm.. cuma gabut aja, jadi mau main.”
“Naka kalau tau bisa marah Jo.”
“Naka diluar kota dengan keluarganya. Aman.”
Alle mematikan telfonnya lalu ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Kemudian dia baru membukakan pintu untuk Jonathan. Alle dapat melihat kedua tangan Jonathan penuh dengan beberapa kantung plastik berisi makanan.
“Aku gak punya teman makan malam, ayo makan bareng.”
Jonathan dengan santainya meletakan makanan yang dia beli ke atas meja lalu mengambil beberapa piring dan sendok seperti di rumahnya sendiri. Alle membantu Jonathan mengeluarkan makanan tersebut dari kemasannya.
“Juna kemana?” pergerakan Alle terhenti saat Jonathan menanyakan Juna.
“Ayo makan!” Jonathan mengerti, dia hanya menurut saja lalu mulai memakan makanannya. Alle terlihat tak nafsu makan, dia masih memikirkan Juna apakah sudah makan atau belum. Juna tak pernah mau menerima uang dari Alle, dia hanya mengijinkan Alle membayar uang kuliahnya dan uang kos saja. Untuk uang saku Juna memilih untuk bekerja sendiri.
“Juna masih sama?” Alle manatap Jonathan yang baru saja melontarkan pertanyaan tersebut.
“Sabar ya?” Jonathan mengusap tangan Alle pelan. Alle tak menjawab dan malah menunduk, sedetik kemudian bahunya bergetar. Jonathan langsung berdiri dari duduknya dan mendekati Alle lalu mengusap bahu Alle.
“Nangis aja Le, gak apa-apa. Nangis sepuas kamu.”
Tanggisan Alle semakin pecah memenuhi ruang makan. Tanpa aba-aba, Jonathan langsung mendekap Alle dan mengusap punggungnya pelan untuk menenangkan Alle. Tak peduli bajunya basah karena air mata Alle, yang Jonathan pikirkan sekarang hanya perasaan Alle.
Alle dan Jonathan sudah duduk berhadapan di ruang tengah. Alle sudah tenang dan tidak menangis lagi. Rasanya sudah sedikit lega setelah Alle menangis tadi.
“Perlu aku yang ngomong ke Juna?” Alle menggelengkan kepalanya menolak penawaran Jonathan.
“Juna gak akan percaya. Percuma, percuma kamu bilang ke dia, dia udah terlalu kecewa sama aku. Dia pasti jijik punya kakak yang jadi selingkuhan suami orang.”
Jonathan memejamkan matanya kasar, hatinya selalu merasa sakit saat Alle mengatakan hal ini. Jangan dipikir Jonathan tidak ingin memberi Naka pelajaran, tentu Jonathan ingin, tapi dia tidak bisa.
“Jo, titip Juna kalau misalnya nanti aku---” ucapan Alle dipotong oleh Jonathan.
“Apa? Kalau kamu mati? Kamu mau ngomong gitu? Le, cukup! Jangan pernah berpikir kaya gitu, tolong!”
“Umur gak ada yang tau, Jo.”
“Le, ucapan itu doa. Kalau kamu beneran mati gimana?” Alle malah tersenyum.
“Lebih baik aku mati kan, Jo? Kayaknya gak ada yang mengharapkan kehadiranku. Bahkan kehadiranku malah mengusik rumah tangga orang lain.”
"Bukan salahmu! Ini salah Naka. Kamu terpaksa karena Naka mengancamu. Alle maaf, sudah satu bulan aku belum bisa hapus file itu. Naka selalu di ruangannya. Naka pernah memergokiku sekali dan aku hampir ketauan waktu itu. Aku harus lebih hati-hati. Ku mohon bertahan Alle." Jonathan semakin menatap Alle miris, ditambah lagi sekarang Jonathan melihat mata sayu Alle yang terlihat sangat lelah.
“Ini luka kapan?” Alle masih bungkam dan tak berani menatap Jonathan. Jonathan baru saja melihat bahu Alle sedikit memar
“Alle, jujur sama aku, ini luka kapan?”
“Jo, udah malam, mending kamu pulang, instirahat.” Alle hendak berdiri namun ditahan Jonathan.
"Jangan sembunyikan apapun dariku, Alle." Alle menghela nafasnya kemudian kembali duduk ke posisi semula.
“Sebelum pergi dinas kemarin, aku sama dia bertengkar lagi, dia gak sengaja dorong aku agak keras sampai membentur lemari,” jawab Alle final. Jonathan mengusap wajahnya sendiri kasar. Jonathan tau, Naka memang baik, lembut, dan hangat pada Alle, namun, apabila Naka marah, dia tak segan-segan akan berbuat kasar bahkan bisa saja memukul orang. Namun, Jonathan tak tau jika dia juga melakukan ini pada Alle bahkan mendorong Alle seperti ini? Mungkin.
“Aku udah gak apa-apa, Jo.” Jonathan menatap Alle iba, tangannya beralih mengenggam tangan Alle.
“Harusnya aku udah bantu kamu buat lepas dari Naka. Tapi bahkan usahaku masih nihil.” Alle terkekeh mendengar ucapan Jonathan.
“Jo, aku tau kamu itu sekretaris sekaligus teman baik Naka. Tapi Jo, bukan berarti itu akan mudah buat kamu membuka data milik Naka. Aku paham Jo. Kamu mau membantu saja aku sudah berterimakasih.”
“Kalau aku bisa lepasin dan bebasin kamu dari Naka, jangan pernah menolak lamaranku, kita menikah setelah aku bisa selesaikan semua tentang kamu dan Naka.”
“Jooo, itu gak mudah jangan dipaksa. Jangan bahayakan posisimu. Kalau kamu kehilangan pekerjaanmu, bagaimana kamu menghidupi mama dan hidup kamu sendiri? Jo, posisimu sangat penting, hidupmu tergantung pada posisimu saat ini."
“Aku gak peduli, Alle. Aku gak bisa lihat kamu kaya gini terus!”
Jonathan mengalihkan pandangannya ke segala arah, dia menahan air matanya. Jonathan menyukai Alle sejak pertama bertemu Alle.
Sejak kejadian di rooftop kampus, mereka jadi sering bertemu dan dekat bahkan Jonathan yang waktu itu menawarkan beasiswa dari perusahaan Naka. Sejak saat itu juga Naka mengenal Alle, setelah Alle lulus, Alle ditarik untuk bekerja dengannya di perusahaan Naka.
Alle tau Jonathan menyukainya, tapi Alle selalu menolak Jonathan dan berakhir mereka malah terjebak dalam friendzone seperti sekarang. Bagi Alle, Jonathan itu orang baik yang dia anggap seperti kakaknya sendiri. Jonathan selalu membantu dan ada untuk Alle, namun Jonathan gagal membantu Alle dalam satu hal hingga akhirnya Alle jatuh ke perangkap Naka.
“Tidur sana, udah malam. Aku pergi kalau kamu udah tidur.” Alle mengangguk kemudian masuk kedalam kamarnya. Baru beberapa menit Alle masuk ke kamarnya, dia sudah membuat Jonathan panik karena berteriak dari dalam kamar.
“JOOOOO!!!” Jonathan langsung berlari ke kamar Alle yang memang tidak dikunci oleh Alle. Dilihatnya Alle sudah duduk diatas ranjang sambil memeluk bantalnya.
“Apa?”
“Kecoa!” Alle menunjuk dibawah meja belajar yang ada di kamarnya. Jonathan langsung mengambil cairan penyemprot yang biasa untuk menyemprot nyamuk. Jonathan menyemprotkannya ke kecoa tersebut. Dia terkekeh lalu menghampiri Alle.
“Dia mati kan, Jo?”
“Pingsan.”
“Hah? Nanti kalau hidup lagi gimana?”
“Hahaha nanti aku buang, Le, tenang aja. Kamu tidur aja. Ck, dasar, terus kalau biasanya ada kecoa gimana?”
Alle membenarkan bantalnya lalu berbaring di tempat tidur sambil menatap langit kamar.
“Biasanya Juna yang usirin serangganya.” Jonathan langsung diam saat Alle menjawab pertanyaannya dan ternyata mengingatkannya pada Juna.
Alle menutup matanya, dia tidak ingin menangis lagi. Entah apa yang dipikirkan Jonathan, tapi sekarang Jonathan sudah berbaring disebelah Alle sambil menghadapkan tubuhnya ke arah Alle.
“Kenapa? Kamu mau tidur disini? Udah bosen hidup? mau berurusan sama Naka?” tanya Alle saat sadar Jonathan di sampingnya. Berbeda saat Alle tidur bersama Naka yang mana dia akan merasa sangat gelisah, tapi ketika Jonathan berbaring disebelahnya, Alle merasa lebih aman.
“Alle, ayo nikah setelah aku bisa melepaskanmu dari Naka.” Alle mengubah posisinya menghadap Jonathan.
“Jo, kamu tau jawabannya kan?” Jonathan mengangguk.
“Kamu pasti bakal jawab kalau kamu gak bisa janji karena gak mau php'in aku, gitu kan?” Alle tersenyum.
“Gimana kalau sebelum kamu berhasil lepasin aku dari Naka, ada orang lain yang lepasin aku? Dan aku bakal bareng orang itu?” Jonathan mengusap rambut Alle saat mendapat pertanyaan seperti itu.
“Aku akan merelakan kamu. Asal kamu bahagia sama orang lain, aku akan merelakanmu. Aku gak suka berada dalam toxic relationship, kamu tau itu. Perasaan kan gak bisa dipaksa juga, Le. Kalau emang kamu sampai akhir gak punya perasaan buat aku, ya buat apa aku paksa kamu kan? Lihat kamu bahagia aja udah jadi kemenangan tersendiri buat aku.”
Alle tersenyum, dalam hatinya dia menggutuk dirinya sendiri yang tidak pernah bisa membalas perasaan Jonathan. Padahal Jonathan pria baik dan sabar. Bahkan mungkin dia terlampau baik untuk Alle. Alle memilih memejamkan matanya merasakan usapan lembut Jonathan di puncak kepalanya.
“Kamu sekarang gak punya perasaan apapun sama Naka kan?” Alle kembali membuka kedua matanya saat kendnegar pertanyaan Jonathan barusan.
“Aku masih waras Jo, gak bakal punya perasaan sama suami orang. Apalagi sejak Naka mengancamku dan menggunakan Juna juga sebagai ancamanku. Aku rasa, perasaanku padanya berubah menjadi perasaan benci padanya."
“Tidur!” Alle kembali memejamkan matanya dan menuju ke alam mimpi.
***
Jayden baru saja sampai di apartemennya dengan tangan kanan memegang sebuah paket yang tadi dia ambil dari tempat paket diletakan. Sama seperti Alle, Jayden belum berminat untuk membuka paketnya dan memilih membersihkan dirinya dibawah guyuran air hangat dari shower dikamar mandinya.
Pikirannya masih tertuju pada perempuan yang tadi dia temui saat rapat, Alle. Jaedan masih memikirkan siapa Alle, karena sampai saat ini dia tidak tau namanya, dan hanya ingat wajahnya saja. Bagaimana mungkin dia bisa melupakan paras cantik Alle secepat itu? Tidak akan.
Selesai mandi, Jayden memakai bathrope-nya lalu berjalan keluar kamar mandi menuju ke kamarnya. Dia mencari benda persegi kesayangannya kemudian menyalakannya. Dia mencari kontak milik Dyaksa. Setelah menemukannya, dia langsung mendekatkan benda persegi itu ketelinganya.
“Dyaksa.”
“Apasih Jay? Malem-malem juga lu ganggu aja.”
“Bantuin gue!”
“Apalagi elah? Nyusahin mulu lu jadi orang kaya.”
“Hidup lu tuh pamrih mulu! Sekali-kali semangat kek gue suruh.”
“Iya bos Jay ada apa? Takut turun jabatan gue.”
“Bangsaatt. Dengerin gue!”
“Daritadi gue denger ya.”
“Cari tau data semua pegawai di Ganaka company. Kalau udah dapat kirim ke gue.”
“Lu waras gak sih Jay? Itu pegawai dia sebanyak itu lu suruh gue nyari semua? Sehat lu?”
“Oke gue tunggu, 2x lipat dari gaji lu. Itu upahnya.”
“Gak!”
“3x lipat.”
“gue pikir-pikir dulu."
”4 Kali lipat gue kasih ke lu buat 3 bulan kedepan kalau lu bisa nemuin yang gue mau."
"Deal! Tapi butuh waktu lama. Soalnya tuh pegawai bejibun. Ntar gue minta bantuan si Jonathan deh, sobat gue tuh!”
“Gue tunggu!”
Jayden tersenyum menatap ponselnya kemudian melemparnya sembarangan. Dyaksa sebenarnya teman sekaligus penasihat hukum Jayden.
Sedangkan Julian adalah teman Jayden yang bekerja sebagai salah satu ahli IT.
Tama, teman Jayden yang saat ini bekerja sebagai dokter yang juga menjadi dokter kaluarga Jayden.
Memang sekuat itu power orang-orang yang ada dikeliling Jayden. Tak heran jika Jayden sering menyelesaikan masalah pekerjaan dengan cukup cepat.
“Tunggu sebentar lagi ....” gumamnya.