Jonathan menyadarkan diri dari lamunannya kemudian menghampiri Alle yang masih berdiri membelakanginya.
"Alle." Alle menoleh sebentar kemudian kembali ke posisi semula. Air matanya masih terus mengalir.
"Apa yang Naka lakukan?" Alle hanya menggeleng dan terus menyeka air matanya, namun nihil. Air matanya terus mengalir di pipinya. Alle akhirnya menutup wajahnya dengan kedua tangannya, tubuhnya merosot membuatnya terduduk di lantai dan menangis. Jonathan hanya bisa diam, menunggu perempuan yang membuatnya berhasil bertahan hidup hingga kini itu menangis dihadapannya.
Setelah Alle diam, dia hanya duduk bersimpuh dengan tatapan lurus ke depan. Jonathan memutuskan ikut bersimpuh di sebelahnya.
"Naka mengancamku, Jo." Jonathan menghembuskan nafasnya kasar. Sudah dia duga pasti Naka memiliki kartu yang membuat Alle menurutinya.
"Dia memiliki foto-foto saat aku dan dia bersama, kamu tau kan? aku sama Naka selama ini bareng udah ngapain aja. Foto-foto aku yang dia ambil diam-diam, fotoku yang tidak seharusnya pun ada. Kamu tau kan Jo? Naka tidak pernah main-main. Kalau dia sebarkan foto itu, aku pasti kehilangan pekerjaanku dan reputasiku. Sedangkan aku dan Juna harus tetap hidup. Juna selama ini hidup dengan uangku, kuliah dengan uangku. Aku tidak mau dia menderita." perlahan Jonathan mengepalkan tangannya. Dia marah pada Naka namun dia juga tak bisa berbuat banyak.
"Juna benar, sekarang aku adalah selingkuhan Naka."
Jonathan mengenggam tangan Alle dan mengusapnya.
"Bertahan sebentar lagi. Aku akan membantumu. Akan aku musnahkan bukti-bukti itu dan melepaskanmu dari Naka."
"Makasih Jo. Kamu terlalu sering membantuku. Aku mau merepotkanmu lagi, satu permohonan dariku, boleh?"
"Berapapun permohonan darimu akan aku terima, Alle."
"Tolong jaga Juna. Perhatikan dia. Setelah dia tau fakta bahwa aku mempertahankan hubunganku dengan Naka dia pasti akan membenciku dan menjauh dari ku. Tolong jaga dia. Dan jangan beritahu dia alasan aku mempertahankan hubunganku dengan Naka. Aku tidak mau Juna marah dan bertindak gegabah yang akhirnya membahayakan dirinya sendiri." Jonathan mengangguk.
"Juna itu adik ku juga, Le. Tanpa kamu suruh, aku pasti menjaganya."
"Makasih Jo."
***
Sudah satu bulan sejak kejadian itu. Alle dan Naka masih menjalin hubungan mereka. Naka mungkin bahagia namun tidak dengan Alle. Dia benar-benar tidak nyaman dengan kehadiran Naka sekarang.
Seperti ketika dia ada perjalanan Dinas, bagaimana bisa Naka dia justru selalu mendatangi Alle setelah perjalan dinasnya? Bukan malah pulang ke rumah dulu bertemu istri dan anaknya. Alle semakin merasa jika Naka semakin kesini semakin gila, Alle takut jika dia semakin sulit lepas dari Naka. Naka sepertinya bukan lagi mencintai Alle, tapi justru terobsesi pada Alle dan tidak ingin kehilangan Alle.
Selama ini Alle berusaha hidup dengan uangnya sendiri, menghidupi dirinya dan adiknya, dia tak pernah mau ketika Naka menawarkan bantuan termasuk memberinya uang, Naka bukanlah sugar daddy-nya Alle.
Alle tak semurah itu! Alle masih memiliki akal sehat untuk hidup dengan uang halalnya bukan uang haram. Alle juga akan marah ketika Naka memberinya uang atau barang mahal karena merasa dilecehkan oleh Naka. Tapi sekali lagi, dia tidak bisa lepas dari hubungan gelapnya dengan Naka.
Alle menatap ruang tengah yang kini terasa sunyi. satu tahun lalu, setiap Naka datang ruangan itu akan dipenuhi gelak tawa.
“Bang Naka!” Arjuna, atau biasa disapa Juna, dia adalah adik kandung Alle yang sangat dekat dengan Naka. Setiap Naka datang pasti dia selalu membawakan hadiah untuk Juna.
“Ayo bang mabar”
“Ayo aja sih abang mah, paling kamu yang kalah” Alle hanya terkekeh melihat interaksi adiknya dengan kekasihnya itu, sedangkan dirinya sibuk dengan pekerjaannya.
“Naka” Yang dipanggil masih fokus pada ponselnya.
“Awas bang itu bang”
“Eh bentar-bentar Jun bentar!!!” Alle langsung memukul Naka karena tidak mengubris dirinya malah dia teriak-teriak dengan Juna.
“Astagaaa, apasihh sayangggg?”
“Ini gimana? Aku gak ngerti” Alle menunjukan sebuah berkas pada Naka. Naka menghela nafasnya.
“Bentar ya Jun, daripada ratu ular ngamuk!”
“Aku denger ya!”
“Ya Tuhan” Ucapnya lirih sambil memijit keningnya sendiri.
"Sayang?" Naka sedang berada di apartemen Alle saat ini. Dia baru saja selesai mandi dan memakai kaos putih dan celana pendek yang memang sengaja ia tinggal di apartemen Alle. Kemudian dia duduk diruang tengah dan menyalakan televisi. Alle diam sambil menatap Naka dari dapur.
Alle tersadar saat suara Naka mengintrupsinya, Naka memang selalu bersikap manis dan lembut pada Alle, namun saat Alle membuat kesalahan sekecil apapun yang bisa menyulut emosi Naka, maka tak segan-segan Naka akan berlaku kasar pada Alle.
“Mas Naka, kenapa gak pulang ke rumah dulu? Pasti istri sama anak mas nungguin.” Naka menyesap teh hangat buatan Alle kemudian meletakannya di meja.
“Mereka taunya aku ngelembur. Aku juga udah bilang ke Jonathan buat gak bilang ke Karin kalau aku gak ngelembur.” Alle benar-benar tak habis fikir dengan Naka, bisa-bisanya dia mengkhianati istrinya seperti ini.
“Kamu kelihatan gak suka kalau aku disini, hm?” Naka membelai pelan pipi Alle, dia juga menyelipkan rambut yang menutupi wajah cantik Alle ke telingga Alle. Alle berkesiap lalu menatap Naka dan tersenyum, senyum palsu tentunya.
“Kata siapa aku gak suka? Gak suka banget malah! Selama kamu masih berstatus suami orang aku gak akan suka kamu disini!” Naka menggeleng lalu mencium pipi Alle.
“Kalau istriku mau di poligami, apa kamu mau aku nikahi?” ucapan Naka berhasil membuat Alle terkejut, jantungnya terpacu lebih cepat, bukan karena bahagia melainkan karena rasa takutnya kian bertambah.
Alle menatap Naka dengan tatapan sulit di artikan. Mana mungkin istri Naka mau dipoligami, tapi bagaimana kalau itu mungkin terjadi mengingat Naka yang bisa saja bersikap kasar dan memaksa. Begitulah pikiran Alle saat ini.
“Istri mana yang mau dipoligami?”
“Emm ... bisa saja, aku bisa melakukan apapun yang aku mau.” Alle mencoba tersenyum, tak mau membalas ucapan Naka, takut jika topik ini menjadi lebih panjang lagi. Naka kembali mengecup sekilas bibir Alle, hanya sebentar.
***
Alle berangkat ke kantor seperti biasa, sejak dua hari yang lalu pikirannya tertuju pada Juna yang saat itu pergi setelah membentaknya dan dia belum kembali ke apartemen. Ya, hubungan Juna dan Alle sekarang jauh dari kata baik. Juna marah pada Alle yang tetap mempertahankan hubungannya dan bisa saja menghancurkan rumah tangga Naka.
Alle hanya bilang bahwa dia masih sangat menyayangi Naka dan tidak mau melepasnya. Bukan alasan sebenarnya yang dia katakan pada Juna. Itulah sebabnya Juna marah dan membenci Alle. Setiap ke apartemen, pasti mereka selalu bertengkar. Juna lebih sering mampir ke apartemen Jayden dibanding apartemen Alle.
Alasan dia masih kembali ke apartemen adalah untuk memastikan keadaan kakaknya, Alle. Meskipun Juna membenci Alle, bagaimanapun juga Alle tetap kakaknya dan Juna menyayanginya. Itulah yang membuatnya tetap mengkhawatirkan Alle. Dua hari yang lalu Juna berdebat dengan Alle karena Naka masih sering menginap di apartemen mereka. Kemudian Juna pergi tanpa kabar.
Alle tau pasti Juna kembali ke kosnya, namun tetap saja Alle tak tenang. Pesan dan telfon dari Alle selalu di abaikan oleh Juna. Bukan hanya sekali ini, tapi memang selalu terjadi sejak Alle menerima tawaran Naka untuk mempertahankan hubungan mereka. Bukan tawaran, tepatnya ancaman.
“Alle, awas!” Jonathan menarik Alle yang hampir saja menabrak pintu lift yang belum terbuka.
“Hati-hati Le, ayo masuk.” Alle dan Jonathan berada di dalam lift hanya berdua. Jonathan melirik Alle sebentar kemudian berdehem.
“Kenapa? Ada masalah?” Pertanyaan Jonathan membuat Alle menoleh kearahnya sebentar lalu kembali menatap lurus ke depan.
“Istri dan anaknya Naka apa kabar?” Bukannya menjawab pertanyaan Jonathan, Alle justru melontarkan pertanyaan lain.
Jonathan menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal. Dia hanya merasa tak enak pada Alle jika harus membahas istri dan anaknya Naka dihadapan Alle.
“Baik. Mereka baik.” pada akhirnya Jonathan tetap menjawab pertanyaan dari Alle. Alle hanya mengangguk.
“Jo, kalau misalnya gue mati, sampaiin kata maaf gue ke istri sama anaknya Naka ya?” Jonathan mengalihkan atensinya, menghindari tatapan Alle. Alle selalu berkata seperti ini setiap kali setelah menanyakan kabar anak dan istrinya Naka.
“Udah sampai lantai tempat kerja kita. Ayo!” Jonathan berjalan dulu meninggalkan Alle yang mengikutinya dari belakang.
“Hari ini ada rapat pertemuan dengan beberapa pemegang saham. Naka gak masuk, soalnya dia masih ada urusan keluarga. Jadi tolong bantu saya ya?” Jonathan meminta tolong pada Alle dengan bahasa formal mengingat saat ini sudah berada didalam kantor.
“Baik, pak.”
Alle dan beberapa pegawai membantu menyiapkan rapat tentunya dengan Jonathan juga. Sampai akhirnya beberapa tamu undangan mulai datang. Alle memutuskan keluar dari ruangan karena dia tidak ada urusan lagi. Alle berjalan ke toilet untuk membasuh tangannya.
Setelah itu dia mengelurkan ponselnya, menatap wallpaper ponselnya yang menunjukan foto dia dan Juna. Alle tersenyum melihat wajah sumringah Juna yang kini tak pernah dia lihat lagi.
“Juna, maafin kakak,” ujarnya lirih dan tanpa sadar meneteskan air matanya. Alle dengan cepat mengusap air matanya kemudian keluar dari kamar mandi. Dia berjalan di lorong kantor sampai bertemu dengan seorang pria asing.
“Permisi.” Pria itu menyapa Alle. Tentunya Alle membalas sapaan pria itu dengan ramah. Alle dapat melihat pria itu memakai id card yang dikalungkan dilehernya dengan tali berwarna hijau, tanda bahwa dia salah satu peserta rapat juga. Alle bisa melihat juga nama pria tersebut tertera di id card.
Jayden. Batin Alle membaca nama pria itu.
“Iya pak? Peserta rapat pemegang saham ya?”
“Ah iya benar. Ruang rapatnya dimana ya mbak?”
“Mari saya antar.”
Jayden mengikuti langkah Alle yang mengantarnya ke ruang rapat. Sejak tadi Jayden tak berhenti memperhatikan Alle dari belakang. Senyumnya mengembang saat dia melihat ke arah Alle.
“Disini, pak.”
“Makasih ya mbak.” Jayden langsung masuk ke ruangan tersebut. Sesampainya didalam dia baru sadar akan sesuatu. Dia lupa menanyakan nama pegawai yang mengantarkannya tadi.
Siial. Umpatnya dalam hati.
***