4. Tentang Alle dan Jonathan

1785 Words
"Kamu udah gila ya? Gimana bisa aku menikahi suami orang lain? Jangan gila kamu!" Naka menatap Alle tak percaya. Sekarang dia paham kenapa Alle meminta mengakhiri semuanya. "Alle ...." Alle melempar beberapa foto Naka dengan Karin dan juga Cio yang sudah dia cetak sebelumnya. "Aku ini cuma selingkuhan kamu ya?" Naka menggeleng. Dia masih mengelak fakta itu. "Kamu bukan selingkuhan aku! Kamu calon istri aku!" "Sadar mas sadar! Kamu udah punya istri dan anak!" "Aku lebih kenal kamu dulu dibanding Karin. Kita menjalin hubungan lebih dulu!" Suara Naka semakin meninggi namun tak membuat nyali Alle ciut. Dia masih menatap Naka tajam. "Tapi kamu menikah sama Karin harusnya kamu akhiri hubungan kita!" "AKU GAK BISA ALLE! PERASAAN AKU CUMA BUAT KAMU!" Naka bahkan menangis dihadapan Alle. Ini pertama kalinya bagi Alle melihat Naka menangis. "Aku terpaksa menikahi Karin karena ada Cio di rahim Karin saat itu. Dan keluargaku memang menjodohkanku dengan Karin, tapi aku tidak pernah mencintainya!" Alle menatap Naka dengan tatapan tak percayanya. "Setelah kamu hamilin dia, kamu masih bilang gak cinta sama dia?" "KAMU GAK TAU YANG SEBENARNYA ALLE!" "KAMU JUGA GAK TAU GIMANA PERASAAN AKU PAS TAU SEMUANYA MAS!" Alle ikut membentak Naka. "Aku mau kita putus aja!" Naka mencengkram Alle dan mendorongnya hingga membentur tembok kemudian Naka menghimpit tubuh Alle, menguncinya dengan tubuh Naka. "Aku gak bakal lepasin kamu Alle. Sampai kapanpun. Kamu milikku. Tidak ada orang lain yang boleh milikin kamu!" ujar Naka. "Kamu udah punya keluarga mas!" "Aku gak peduli! Bertahan sama aku sebentar lagi. Aku akan segera menceraikan Karin kemudian kita menikah!" "Kamu benar-benar udah gak waras!" Plaaakk Naka menampar Alle. Tatapannya tajam. Alle mulai gemetar karena takut dengan tatapan Naka saat ini. Naka menarik Alle dan mendudukannya di bangku kerja Naka sedangkan Naka berdiri disamping Alle sambil merangkul Alle erat agar Alle tak pergi. Naka membuka dokumen laptopnya dan menunjukan beberapa foto yang membuat Alle terkejut. "Naka! Apa-apaan kamu? Kenapa kamu foto aku pas lagi kaya gitu?" "Kenang-kenangan kalau kita sering bareng Alle. Dengar, kalau kamu masih mau reputasi dan pekerjaanmu. Jangan pernah berpikir lepas dari aku. Atau foto ini akan tersebar." Alle menatap Naka marah. Dia sangat marah. "Kamu gila Naka!" "Aku gini karena aku sayang sama kamu!" bentak Naka. Alle menggeleng. "Kamu--" Naka mendorong Alle cukup kasar sehingga membuat Alle berteriak kesakitan. Naka yang kasar kembali, begitulah batin Alle. dua kali Naka bersikap kasar pada Alle ketika mereka bertengkar. Dan ini adalah ketiga kalinya. Alle tidak tau apa yang menyebabkan Naka bisa bersifat sekasar itu pada Alle. Alle dan Naka beberapa kali bertengkar tapi ketika pertengkaran mereka yang saat itu disebabkan karena Naka cemburu pada Alle lah Naka langsung bersikap kasar pada Alle. "Berani kamu minta berpisah dariku, aku pastikan kamu kehilangan pekerjaan dan reputasi mu. Ingat Juna, Alle. Dia bisa hidup seperti sekarang karena usahamu." Naka melepas cengkramannya pada pundak Alle kemudian mengusap pelan kedua pipi Alle yang sudah basah karena air matanya. "Kamu udah gila Naka!" "IYA AKU GILA! GILA KARENA AKU GAK MAU KEHILANGAN KAMU ALLE! KALAU AKU GAK BISA MILIKIN KAMU MAKA ORANG LAIN JUGA GAK BISA!" Ceklek Pintu ruangan Naka terbuka, Jonathan, dia yang membukanya. Jonathan langsung masuk ke ruangan Naka dan menutup pintu ruangan tersebut. Matanya menatap kearah Alle yang kini keadaannya berantakan. Lengan bajunya sedikit kusut, rambutnya berantakan, dan wajah serta matanya yang bengkak karena menangis. "Aku gak tau kalau kamu datang lebih pagi. Aku kira aku udah paling pagi karena kantor masih sepi. Kalian udah omongin itu?" perkataan Jonathan membuat Naka menatap Jonathan dan Alle bergantian. "Oh? Jadi Jo juga udah tau? Wahh jangan-jangan kalian main belakang ya? Saling bocorin rahasia? Iya?" Naka mencengkram bahu Alle. "Aku bahkan tidak pernah menghianati kamu," ujar Alle lirih. "Oh ya?" Alle langsung berdiri menepis tangan Naka kasar dan menatap Naka tajam. "KAMU YANG KHIANATI AKU! KAMU UDAH PUNYA KELUARGA APA SUSAHNYA LEPASIN AKUUU NAKAA!!!" teriak Alle. Plakk Naka menampar Alle. "NAKA! BREENGSEEK!"bentak Jonathan kemudian mendorong Naka hingga membentur tembok dan mencengkram kerahnya. "Jangan gila!" bentak Jonathan. Naka tersenyum sinis pada Jonathan. "Aku menyuruhmu mengawasi dan menjaga Alle bukan berarti kalian berdua bisa bermain di belakangku. Sadar sama batasan kalian!" Jonathan menonjok tembok membuat Naka terdiam. "Urusanku dengan Naka sudah selesai, aku pergi."ujar Alle. "Gimana? Hubungan kalian?" tanya Jonathan. "Kita lanjutkan Jo, kita tetap berhubungan. Tenang, aku akan menikahi Alle setelah menceraikan Karin." tangan Jonathan mengepal mendengar ucapan Naka. "Alle?" Jonathan ingin memastikan jawaban Alle. "Naka benar, Jo." Alle langsung keluar dari ruangan Naka setelah mengucapkan kalimat itu. "b******k! Lu ancam Alle apa? Alle gak mungkin setuju gitu aja. Kemarin dia bersih keras mau akhiri hubungan kalian!" Naka tertawa dan menatap Jonathan sinis. "Kalian bahkan bertemu kemarin?" "b*****h! Lu b*****t Ka! Asal lu tau kemarin Alle nelfon gue sambil nangis dia nyebut Karin sama Cio! Alle tau semuanya! Dia curiga sama lu jadi kemarin pas lu pulang dia diam-diam ngikuti lu! Dia nangis dia marah, dia nyaris bunuh diri asal lu tau! Itu alasan gue gak bilang ke lu biar kalian selesain masalah itu sekarang!" bentak Jonathan. Naka langsung terdiam setelah mendengar ucapan Jonathan. Matanya menatap tangannya yang tadi dia gunakan untuk menampar Alle. "Apa pernah Alle selingkuh dari lu? Gak pernah Ka. Alle tulus sayang ke lu. Hidupnya udah terlalu hancur sejak dia ditelantarkan orang tuanya dan sekarang dia harus tau fakta kalau lu itu milik orang lain. Harusnya sejak awal lu mau nikah lu akhiri semuanya sama Alle!" Naka menatap Jonathan tajam. "Gue gak bisa lepas Alle dan lu tau itu,Jo!" "Tapi lu udah berkeluarga Nakaaa! Sadarrrr Ka! Jangan serakah!" "Gue terlalu sayang ke Alle melebihi ke siapapun. Gue gak bisa lepas dia!" "Kalau lu gak bisa lepas dia harusnya lu jaga dia! Perasaan dia, mental sampai fisiknya! Bukan malah kasar ke dia! Gue gak segan-segan bunuh lu kalau sampai Alle terluka lagi sikap lu! Lu tau kan? Yang punya perasaan ke Alle gak cuma lu! Tapi gue juga. Tapi apa? Perasaan Alle cuma buat lu Ka!" Setelah mengucapkan kalimat itu, Jonathan langsung meninggalkan ruangan Naka. Dicarinya keberadaan Alle, namun Alle tak ada disana. Sudah ada beberapa pegawai yang datang juga dan Jonathan juga bertanya pada mereka namun mereka mengatakan tak melihat Alle sejak datang. Jonathan langsung pergi mencari keberadaan Alle. Dia pergi ke rooftop kantor tempat biasanya Alle merenung. Dan benar saja Jonathan menemukan Alle yang tengah berdiri di pinggir rooftop, di dekat tembok pembatas. Tatapannya lurus kedepan menatap gedung-gedung pencakar langit lain yang ada di sekitar kantornya. Melihat keadaan dan posisi Alle saat ini mengingatkan Jonathan pada pertemuan pertamanya dengan Alle. Jonathan adalah mahasiswa akhir saat itu. Dia baru selesai sidang dan tinggal menunggu tanggal wisudanya. Keadaan keluarganya tengah kacau. Bisnis ayahnya menggalami kerugian karena korupsi yang dilakukan oleh salah satu orang terpercaya ayahnya yang kini sedang dalam pencarian. Ayahnya jatuh sakit karena terlalu memikirkan kondisinya saat ini. Ibunya hanya bisa menangis. Dan Jonathan menggalami tekanan tersendiri. Kini dia berdiri di rooftop kampusnya. Dia sudah naik ke tembok pembatas, yang artinya ketika dia terpeleset sedikit saja, dia akan jatuh ke tempat parkir yang ada di bawah. Melihatnya saja membuat bulu kuduk berdiri apalagi jika bener-benar jatuh. Namun tekat Jonathan saat itu adalah mengakhiri hidupnya. Baru saja Jonathan memejamkan matanya, suara seorang perempuan mengintrupsinya. "Kalau mau mati, ajak-ajak dong!" Jonathan kembali membuka matanya, dia memutar tubuhnya. Hampir saja dia oleng dan jatuh, namun perempuan itu langsung menariknya turun dari pembatas. Jonathan sudah berhadapan dengan perempuan itu. Perempuan dengan kaos putih polos yang dia padukan dengan kemeja kotak-kotak tanpa dia kancingkan sebagai outernya dan celana jeans high-waist sambil mengunyah permen karet. "Apa beban hidupmu seberat itu sampai mau mati?" Jonathan masih diam memperhatikan perempuan dihadapannya itu. Cantik, batinnya. "Alle. Nama aku Alle, Valleria. Mahasiswa semester 4." Jonathan kembali menatap heran kearah Alle, perempuan itu. Dia tiba-tiba mengenalkan dirinya pada Jonathan? Alle tiba-tiba saja meloncat dan duduk di pembatas rooftop tempat Jonathan tadi berdiri. Jonathan sampai kaget saat Alle meloncat tadi, dia pikir Alle akan meloncat dari gedung, tetapi ternyata dia hanya duduk di pembatas. Tangan Alle menepuk-nepuk tempat di sisi kirinya. "Duduk sini!" seru Alle. Jonathan hanya diam dan duduk disebelah Alle. "Apa yang membuatmu ingin mengakhiri hidup? Apa hidupnya sudah sehancur itu?" tanya Alle. Jonathan hanya diam saja. "Terserah kamu mau cerita atau gak, kalau gak mau aku aja yang cerita--" "Bisnis keluargaku hancur karena orang terpercaya papa melakulan korupsi dan sekarang sedang dalam pelarian. Papa jatuh sakit, mama hanya ibu rumah tangga. Aku hanya anak yang menjadi beban mereka," jelas Jonathan. Alle berdecih. "Apa sudah tidak ada alasan kamu buat bertahan hidup? Mama atau papamu? Mereka tidak mungkin membencimu kan?" Jonathan menggeleng. "Mereka menyayangiku," balas Jonathan. Alle menjentikan jarinya. "Mereka tidak membencimu tapi kamu putus asa? Cih, anak macam apa kamu ini? Harusnya kamu berusaha mengembalikan keadaan keluargamu. Bukan memperkeruh keadaan keluargamu dengan cara mati konyol!" cibir Alle. "Kamu tau? Aku hanya hidup dengan adikku. Aku dan adikku ditelantarkan sejak aku duduk di bangku SMP. Kami di diterlantarkan di panti asuhan. Aku bersyukur panti itu mau merawatku dan adikku. Aku mencari beasiswa demi bisa kuliah seperti sekarang dan memperbaiki hidupku agar aku bisa hidup bahagia dengan adikku. Beasiswa itu hanya berlaku 2 tahun dan ini sudah tahun keduaku. Aku harus mencari beasiswa lagi agar tetap bisa kuliah. Kalau aku tidak mendapatkannya mungkin aku harus bekerja saja." Alle menarik nafasnya dan menghembuskannya kasar. "Aku harus bekerja agar adikku bisa sekolah dan kuliah juga. Adikku adalah alasan kenapa aku hidup hingga saat ini. Kalau aku tidak menjadikan adikku sebagai alasan. Mungkin aku sudah mati sejak lama karena hidupku terlalu menyedihkan." Jonathan terdiam mendengar penuturan Alle. "Kamu harus jadikan keluargamu sebagai alasan kamu hidup! Bersyukur keluargamu masih utuh dan kamu tidak diterlantarkan. Bertahanlah!" Alle menepuk pundak Jonathan kemudian turun dari tembok pembatas dan berjalan pergi. Sebelum sepenuhnya menghilang, Jonathan Berteriak. "Jonathan! Namaku Jonathan!" Alle hanya tersenyum kemudian tetap pergi. Jonathan diam menatap kedua kakinya sendiri. Mencerna semua ucapan Alle. Perempuan muda yang hidupnya jauh lebih sengsara daripada dirinya. "JO! JO! JANGAN MATI JO! SADAR! JANGAN GILA!" Jonathan terkejut saat seseorang menariknya turun dari tembok pembatas dan memarahinya. "Jo, kenapa lu diam aja? Kenapa gak cerita ke gue kalau masalah keluarga lu se-serius ini? Gue ini temen lu Jo!" Jonathan menatap seorang pria yang kini ada dihadapannya. Pria dengan setelah jas rapi khas orang kantoran, pria yang usianya jauh lebih tua darinya. "Gue gak mau ngerepotin lu, Naka." Pria bernama Naka berdecih. "Kita temenan dari lama Jo! Apa yang bikin gue direpotin? Gak ada! Siapin CV lu. Besok datang ke kantor gue. Lu gantiin Tian, sekretaris gue, dia mau pindah kerja. Dan gue mau posisinya di pegang lu!" Jonathan menatap Naka dengan tatapan bingungnya. "Tian bakal latih lu sebelum dia pergi. Gue bakal tanam saham di perusahaan papa lu buat perbaiki bisnisnya." begitulah awal mula Jonathan bertemu dengan Alle.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD