"Juna mana? Kok sepi sih? Aku juga beliin dia loh."
"Di kos."
"Lah? Bukannya kemarin baru datang?"
"Aku sama dia habis perang kemarin makanya dia ngambek." Naka menggelengkan kepalanya.
"Kamu tuh ngalah dong sama adek kamu, bisa-bisanya di bikin ngambek."
Alle tak mengubrisnya. Menyebut nama Juna membuatnya kembali berpikir tentang Naka. Tentang Naka yang disebutkan Juna bahwa Naka bersama perempuan lain. Alle menghentikan aktivitasnya lalu menatap Naka.
"Mas Naka, sayang gak sama aku?" Naka menatap Alle kemudian melanjutkan makannya.
"Sayang lah, kalau gak sayang ngapain aku pertahanin kamu selama 4 tahun ini. Kamu juga tau sendiri kan kalau aku sayang ke kamu."
Alle mengangguk dan kembali makan. Namun, dia masih tak tenang dan ingin kembali melanjutkan pertanyaannya.
"Mungkin gak kalau misalnya mas Naka selingkuh dari aku?" Naka langsung menatap Alle tajam.
"Hah? Kamu ngomong apa sih sayang? Kenapa tiba-tiba mikir gitu?"
"Iisshhh gak mikir! Kan aku bilang misalnya masss, gimana sih!" Alle mengerucutkan bibirnya membuat Naka gemas dengan tingkah kekasihnya itu.
"Gak usah ngambek gitu, gemes tau gak?" Alle hanya menghela nafas kesal. "Aku gak bakal selingkuhin kamu, Alle. Aku sayang sama kamu, aku gak mau lepasin kamu ataupun kehilangan kamu. Maaf kalau selama ini aku kadang kalau emosi kasar ke kamu, tapi kamu harus tau, aku itu sangat amat takut kalau kamu hilang dan pergi dari hidup aku, Le. Aku sayang sama kamu." Alle dapat melihat adanya ketulusan setiap Naka menyatakan perasaannya pada Alle. Naka memang sangat menyayangi Alle melebihi apapun yang dia miliki.
"Kapan mas Naka mau serius sama Alle?" pertanyaan Alle membuat Naka terdiam.
"Secepatnya, tapi tidak sekarang. Nanti kalau udah waktunya, aku ajak kamu ketemu mama papa aku. Kita omongin rencana pernikahan kita. Tapi maaf, bukan dalam waktu dekat ini, Le."
Jawaban yang sama yang selalu Alle dengar sampai Alle pun hafal dan ikut merapalkan jawaban Naka dalam batinnya bersamaan saat Naka mengucapkan kalimat itu.
"Hp kamu bunyi." Naka mengambil ponselnya lalu mengangkat telfon dari Jonathan.
"Gimana Jo?"
"Lo dimana Ka? Alle?"
"Iya gue di apartemen Alle."
"Ck, gila lo ya? Ini weekend, harusnya lo habisin waktu sama keluarga lo malah ke Alle!"
"Kenapa sih?"
"Orang tua lo datang ke rumah lo! Barusan Karin nelfon gue, nanya lo sama gue apa gak?"
"Oke gue balik sekarang."
Naka mengakhiri panggilannya dengan Jonathan kemudian berjalan mendekati Alle dan mengecup pipi Alle.
"Sayang aku harus pulang. Mama papa aku tiba-tiba datang ke rumah."
"Oh yaudah gak apa-apa. Titip salam buat mereka."
"Pastilah. Aku pergi dulu ya."
Alle mengangguk dan membiarkan Naka pergi dari apartemennya. Alle kembali memikirkan semua perkataan Juna. Ucapan adiknya itu tak sepenuhnya salah terutama tentang Naka yang tidak segera menikahinya dan selalu memberikan alasan yang sama. Kemudian, sikap Naka belakangan ini yang sering menerima telfon dari Jonathan kemudian dia pergi dengan berbagai alasan.
***
Naka memarkirkan mobilnya didepan rumah mewah miliknya kemudian setengah berlari memasuki rumahnya. Di ruang keluarga sudah terlihat mama papanya yang tengah berbincang dengan seorang anak kecil.
"Papa!" teriak anak kecil itu saat melihat Naka datang. Naka tersenyum lalu merentangkan tangannya membiarkan anak kecil itu berlari ke pelukannya kemudian dia mengendong anak itu.
"Cio udah bangun? Tadi papa pergi kamu masih bobok." Anak kecil bernama Cio itu mengangguk.
"Loh mas? Katanya pulang sorean?" Naka menoleh ke arah perempuan yang baru saja keluar dari dapur sambil membawa nampan berisi minuman dan beberapa cemilan yang kemudian dia letakan di meja tempat orang tuanya Naka duduk.
"Aduh kamu ini gak usah repot-repot lah Rin, nanti mama sama papa kalau mau apa-apa juga pasti bilang atau ambil sendiri," ujar mamanya Naka. Karin, perempuan itu tersenyum.
"Apa sih mah, sama mertua sendiri gak bakal kerepotan lah Karin."
"Heh Naka, kamu tuh weekend malah pergi!" omel papanya Naka.
"Hehe, Naka diajak temen-temen kumpul pa, udah lama banget gak gabung. Yaudah tadi aku pergi aja. Udah bilang ke Karin kok," ujar Naka.
"Kamu aku telfon gak bisa dari tadi."
"Iya maaf tadi hp aku ketinggalan di mobil, untungnya Jo nelfon temen aku."
"Jo kok gak ikut kumpul sih, Mas?"
"Tau dah dia bilang sibuk padahal tugasnya udah kelar. Pengen dirumah kali."
***
Alle bersimpuh di lantai, lututnya lemas setelah dia melihat apa yang dia lihat barusan. Baru saja Alle mencoba menguatkan dirinya, Juna malah mengiriminya beberapa bukti ucapannya tentang Naka. Alle tadinya penasaran dan dia memutuskan mengikuti Naka kerumah Naka. Sampai akhirnya Alle melihat Naka bermain dengan seorang anak kecil dan kedua orang tuanya di halaman rumahnya.
Alle bisa mendengar dengan jelas bahwa anak itu memanggil Naka dengan sebutan 'Papa' kemudian dia melihat perempuan bernama Karin. Alle tau dia, Karin beberapa kali ke kantor mencari Naka, namun Naka mengatakan jika Karin adalah sepupunya. Tapi yang hari ini dia lihat dan dia dengar berbeda. Naka memanggil Karin 'sayang' kemudian Cio memanggil Karin 'mama'.
Baru saja dia sampai di apartemen dan ingin menenangkan dirinya, Juna mengiriminya pesan berisi foto Naka dan Karin bersama Cio di sebuah mall. Pada akhirnya ucapan Juna benar, bukan hanya Naka selingkuh tapi juga Alle yang ternyata menjadi selingkuhan Naka. Alle benar-benar tak habis fikir dengan semua ini. Semesta sepertinya sedang mengajaknya bercanda.
Alle meraih ponselnya dan menelfon Jonathan. Dia yakin Jonathan juga tau semuanya.
"Halo Alle?"
"Jo ...." Suara parau Alle dapat terdengar.
"Le? Kamu nangis? Kenapa? Aku telfonin Naka ya?"
"Jangan Jo ... biarin dia habisin waktu sama keluarga kecilnya, sama istri dan anaknya."
hening, Jonathan juga langsung bungkam, sepertinya Jo terkejut saat Alle menggungkapkan fakta tersebut.
"Alle ... sejak kapan kamu tau?"
"Sakit Jo ...."
"Alle aku kesana!"
"Jangan kasih tau Naka."
"Iya."
Alle melempar ponselnya ke sembarang arah, dia menangis dan berteriak untuk meluapkan segala emosinya.
Setelah emosinya cukup stabil Alle hanya duduk diam menghadap jendela besar dan termenung disana. Alle memikirkan cara untuk memutuskan hubungannya dengan Naka.
Tak lama, terdengar suara ketukan pintu. Alle langsung berdiri dan berjalan dengan lunglai untuk membuka pintu. Dilihatnya Jonathan yang panik melihat keadaan Alle.
"Alle?"
"Kenapa? Kenapa kamu diam Jo?" Jonathan menunduk penuh penyesalan. Air mata Alle kembali jatuh. Jonathan langsung menarik Alle masuk kedalam apartemen dan menutup pintu apartemen Alle.
"Maaf Alle, maaf. Aku terpaksa diam, hidupku bergantung pada Naka. Kalau aku tidak menurutinya, aku dan keluargaku mungkin tidak bisa bertahan hidup karena aku kehilangan pekerjaanku. Maaff."
Jonathan merengkuh Alle, mendekapnya erat. Dia tidak bisa melihat perempuan yang dia cintai selama ini menangis dihadapannya. Jonathan marah pada dirinya sendiri yang justru merahasiakan semua fakta tentang Naka pada Alle.
"Aku merusak rumah tangga mereka Jo." Jonathan menggeleng.
"Gak Alle. Gak, bukan salah kamu. Naka yang salah, harusnya Naka mengakhiri hubungan kalian saat dia akan menikah."
"Maksud kamu apa Jo? Maksud kamu Naka menikah saat dia udah sama aku?" Jonathan mengangguk.
"3 tahun lalu, mereka menikah. Naka tidak mencintai Karin. Sampai detik ini hati Naka cuma ada kamu, Le."
"Tapi ini salah Jo! Ini gak boleh! Dia udah punya istri dan anak! Aku harus akhiri semuanya Jo! Aku gak bisa kaya gini."
Jonathan menunduk. Dia menyesal karena tak bisa memberikan bantuan apapun pada Alle. Apa masih pantas dia mencintai Alle? pikirnya.
"Kita bicara bertiga besok di kantor. Aku, kamu, dan Naka."
Alle mengangguk.
"Gimana kamu bisa tau?"
"Juna ...."Jonathan menatap Alle terkejut. Juna? Bagaimana bisa.
"Juna melihat Naka sama Karin dan Cio anaknya di mall. Dia mengirimi fotonya. Aku tadi mengikuti Naka sampai rumahnya. Dan iya, aku lihat semuanya." Jonathan mengusap wajahnya kasar. Jika Naka tau semua ini berawal dari Juna, pasti Juna juga dalam pengawasan Naka yang artinya Juna bisa dalam bahaya.
"Jangan beritahu Naka kalau Juna yang mengatakan ini padamu," ujar Jonathan.
"Aku paham Jo, aku tau bagaimana Naka. Kita sudah 4 tahun berhubungan. Hanya masalah dia menikah saja yang aku tidak tau."
Kemudian hening hingga beberapa menit. Keduanya sama-sama larut dalam pikirannya masing-masing.
"Jo, tolong jaga Juna. Aku takut ...."
"Tenang Alle, Juna ada dalam pengawasanku."
"Makasih Jo."
"Aku gak pantas menerima ucapan makasih dari kamu. Aku juga salah dalam hal ini."
***
Hari berikutnya, Alle sudah berada di ruangan Naka. Jonathan belum ada disana karena Alle memang sengaja berangkat lebih pagi untuk menyelesaikan urusannya dengan Naka. Alle juga meminta Naka berangkat lebih awal dan tentunya Naka setuju. Kantor masih sepi, hanya ada mereka berdua yang kini berada diruangan Naka.
"Kenapa? Mau ngapain pagi-pagi ketemu? Kamu kangen ya?" tanya Naka. Alle masih diam menatap Naka tajam. Naka tak mengerti dengan tatapan Alle yang penuh amarah kemudian dia mendekati Alle dan mengusap pipi Alle.
"Kamu kenapa sayang? Marah karena kemarin aku langsung pulang?"
Alle masih diam. Matanya mulai memerah saat merasakan ada dorongan yang akan keluar dari pelupuk matanya.
"Kamu kenapa Alle?" Alle menangis. Pertahanannya runtuh. Naka juga terlihat panik dan langsung menarik Alle kedalam dekapannya.
"Sayang kenapa? Cerita kalau ada masalah." Alle semakin menangis. Dia bahkan sulit mengungkapkannya. Benar-benar sulit. Hingga akhirnya dia sedikit tenang dan mendorong Naka agar sedikit menjauh.
"Kenapa sayang?"
"Mas Naka ...."
"Hem?"
"Ayo kita berhenti sampai disini. Hubungan kita, ayo kita akhiri. Aku mau kita jalan sendiri-sendiri." Naka sangat terkejut mendengar ucapan Alle. Naka langsung memegang kedua bahu Alle dan menetralkan amarahnya.
"Alle, kenapa? Kalau ada masalah kita selesaikan baik-baik. Aku gak mau kita putus. Kalau ini soal pernikahan kita, oke aku akan percepat pernikahan kita." Alle tersenyum sinis ke Naka. Bisa-bisanya dia membicarakan pernikahan disaat dirinya masih berkeluarga dengan orang lain.
"Masalah kita selesai kalau kita berpisah, mas!" Naka menggeleng.
"Apanya yang selesai? Gak! Aku gak akan lepasin kamu! Aku sayang sama kamu Alle. Kamu mau nikah kapan? Aku turuti, ayo kita menikah!"
Alle menampar Naka.