Keesokan paginya, Alle baru selesai membuatkan sarapan dan Naka sudah ada di meja makan. Perhatian Alle teralihkan saat pintu kamar Juna terbuka dan memperlihatkan Juna yang baru bangun tidur.
“Kamu pulang? Kapan? Kok kakak gak tau?” pertanyaan-pertanyaan Alle tak dijawab Juna. Juna malah menatap tak suka ke arah Naka kemudian dia menuju dapur untuk menuangkan air ke gelas kemudian kembali ke kamarnya. Alle hanya diam menatap punggung Juna yang semakin menghilang dibalik pintu kamar.
Dulu, Juna akan sangat antusias saat ada Naka, tapi sekarang benar-benar berbeda, semuanya berbeda. Semua berbeda karena kesalahan Alle sendiri.
“Adik kamu itu gak tau sopan santun atau gimana? Ditanya kakaknya bukan menjawab malah ngancir.” Alle hanya menatap Naka sekilas lalu mengajak Naka untuk sarapan.
“Gara-gara kamu tau gak? Kamu udah gila!” Naka yang diomeli Alle hanya diam dan menyantap kembali makanannya.
“Padahal aku diam aja. Kenapa sih Juna? Dia ke aku juga jadi galak banget ngalahin kakanya.” Alle menyodorkan pisau pada Naka, sedangkan Naka hanya tertawa karena tingkah Alle.
“Serius loh sayang, Juna beda.” Naka kembali menyantp sarapannya.
Baru beberapa suap Naka menikmati sarapannya ponselnya berbunyi. Alle segera mengambilkan ponsel milik Naka.
“Jonathan telfon nih, gabut ya dia pagi-pagi nelfon.” Naka segera mengangkat telfon dari Jonathan. “Apa?”
“...”
“Oke.” Naka menutup telfonnya, dia segera meneguk segelas s**u yang dibuatkan Alle kemudian dia berdiri mengambil tas dan kuncinya.
“Mau pulang sekarang?”
“Heem, ada urusan sama Jonathan. Maaf ya aku pulang dulu.” Sebelum Naka pergi, dia sempat mengecup kening dan pipi Alle sekilas kemudian pergi dari apartemen Alle. Setelah Naka pergi, Alle membereskan sisa sarapan Naka kemudian berjalan kearah pintu kamar Juna dan mengetuknya.
“Juna, ayo sarapan. Naka udah pergi.” Juna membuka pintunya kamarnya. Dia terlihat lebih segar setelah cuci muka, Juna juga sudah mengenakan celana panjang dan jaket denimnya seperti hendak pergi.
“Mau kemana? Gak mau sarapan dulu?” Lagi-lagi Alle bertanya. Juna hanya menatap Alle tajam kemudian melontarkan kalimat-kalimat menyakitkan yang biasa dia lontarkan untuk kakaknya.
“Kapan kakak sadar? Naka itu selingkuh kak! Kak, mana omongan bang Naka yang bilang mau nikahin kakak dalam waktu dekat ini? Gak ada kan? karena dia selingkuh.”
“Kamu ngomong apa sih Jun? Selingkuh apanya? Orang Naka sering bareng kakak, kapan dia punya waktu selingkuh?”
“Kak, coba kakak juga cari tau, jangan karena sayang atau cinta terus mata kakak dibutakan sama fakta! Atau jangan-jangan sebenarnya kakak ini selingkuhan Naka? Ck, jangan jadi perempuan seperti itu kak.”
“Perempuan seperti apa maksud kamu? kamu kira kakak ini semurah itu?” Alle membentak Juna.
“Iya! Bisa aja kan?” Alle terdiam. Dia sudah sering diperlakukan seperti ini oleh Juna akhir-akhir ini, dia masih belum juga terbiasa. Terkadang air mata Alle lolos begitu saja dihadapan Juna saat Juna mengatakan kalimat itu. Alle masih tidak tau kenapa Juna menjadi seperti ini.
“Juna ....”
"Juna bakal kasih bukti ke kakak kalau semua yang Juna omongin itu bener! Karena Juna lihat pake kedua matanya Juna sendiri!”
“Juna, maaf bukannya kakak gak percaya sama kamu Jun, tapi Naka gak mungkin ngelakuin itu.”
“Itu juga yang Juna fikirin di awal kak. Juna kira Juna salah lihat karena gak mungkin bang Naka kaya gitu, tapi apa? Juna 2 kali liat mereka. Terserah kakak percaua atau tidak!” Juna mengacak rambutnya kasar "Juna juga pernah lihat kalau bang Naka nampar kakak!" Alle menatap Juna dengan tatapan tak percaya, dia tak percaya kalau Juna mengetahui hal itu.
"Itu kakak sama Naka cuma bertengkar biasa Juna."
"Apa ada bertengkar sampai mukulin pacarnya?" nada suara Juna meninggi, membuat nyali Alle semakin menciut.
"Itu Naka gak sengaja nampar kakak Juna, Naka habis itu minta maaf ke kakak karena gak sengaja mukul kakak. kita berdua kalau lagi ribut kadang suka kaya gitu Jun"
"JUNA GAK BUTA KAK! JUNA TAU! NAKA SENGAJA KAN KAYA GITU KE KAKAK!" Juna langsung berjalan ke arah pintu keluar.
Brakkss!
Juna menutup pintu apartemen dengan cukup kencang sebelum Alle selesai menyelesaikan omongannya. Tubuh Alle melemas membuatnya terduduk di lantai dan mengeluarkan air mata yang sejak tadi dia tahan.
***
Juna keluar dari lift dan berjalan di lobi. Disana dia bertemu dengan Jayden yang juga baru keluar dari lift satunya. Juna menyapa Jayden dengan ramah yang tentunya dibalas juga dengan Jayden.
“Mau kemana?” pertanyaan Jayden terlontar begitu saja saat melihat Juna sudah rapi.
“Mau cari sarapan.”
“Wah kebetulan, bareng aja yuk.”
“Gak ngerepotin, bang?” Jayden menggeleng lalu menarik Juna menuju ke basement tempat mobil Jayden terparkir. Jayden mengajak Juna masuk kedalam mobilnya.
“Kakak kamu gak masak apa gimana Jun?”
“Hah? Oh itu, kakak udah berangkat ke kantor. Dia gak tau kalau Juna balik soalnya udah kemaleman tadi malam.” Jayden terekekeh.
"Mana ada hari sabtu kantor masuk?”
“Dia lembur, bang.”
“Lo sering balik malam ya ke apartemen?” Juna menggeleng.
“Gue pulang ke apartemen cuma kalau weekend aja. Sisanya di kos.” Jayden melirik Juna sekilas. Dia bisa melihat kegelisahan Juna, entah karena apa. Yang jelas Juna selalu seperti itu setelah membentak atau melontarkan kalimat kasar pada Alle. Bagaimanapun juga sebenarnya Juna sangat menyayangi Alle, dia hanya marah pada kakaknya yang malah mempertahankan hubungannya dengan pacarnya itu. Juna kecewa karena setiap dia menjelaskan bahwa Juna melihat Naka dengan perempuan lain, Alle selalu berpositif thinking. Juna tak habis fikir dengan kakaknya, dia sudah mendapat perlakuan kasar dari Naka namun masih mempertahankan hubungannya?
“Lo gak akur ya sama kakak lo? Haha santai Jun. Biasa kok, pasti kakak adek sering bertengkar. Abang sama adeknya abang juga suka gitu.”
“Jun, abang tau kita baru kenal semalem. Tapi abang percaya kalau lo itu anak baik-baik. Kalau lo emang lagi ada masalah sama kakak lo dan pengen kabur, ke apartemen abang aja gak apa-apa. Dari pada lo kabur pagi-pagi gini gak jelas kemana kan?” Juna menatap Jayden tak percaya. Bagaimana Jayden tau kalau sebenarnya Juna sedang menghindari kakaknya. Kemudian, Jayden menepuk bahu Juna pelan.
“Kalau Juna meminta bantuan abang, bagaimana?” Juna menatap Jayden dengan serius, sangat serius, Jayden juga bisa melihat keseriusan Juna. Tatapan itu mengingatkan Jayden pada adiknya ketika meminta bantuan pada Jayden.
“Apa? Apapun itu, kalau abang bisa bantu pasti abang bantu.” Juna menggelengkan kepalanya. Tiba-tiba dia mengurungkan niatnya untuk memberitahukan semuanya pada Jayden.
“Nanti malem Juna nginep di apartemen abang, boleh?” Tanya Juna mencoba mengalihkan topiknya. Jayden mengangguk dengan antusias kemudian melajukan mobilnya menyusuri jalanan yang masih sedikit sepi karena waktu masih pagi dan juga bukan merupakan hari kerja.
“lo kuliah jurusan apa?”
“Hukum bang.”
“Wah, udah magang belum?” Juna menggeleng.
“Kamu tau Dyaksa kan? orang aneh yang tadi malam di apartemen abang?” Juna hanya mengangguk setelah mengingat ketiga teman aneh Jayden yang tadi malam berisik di apartemen Jayden.
“Dia pemilik firma hukum ternama disini, nanti abang bantu buat bilang ke dia kalau kamu mau magang di tempat dia, bilang aja ke abang kamu mau magang kapan.” Juna tersenyum mendengarnya, memang sekarang dia sedang sibuk mencari tempat untuk dia magang. Entah takdir atau kebetulan, dia dipertemukan dengan Jayden, manusia dengan sejuta channel perusahaan.
"Makasih bang."
***
Juna tak kembali ke apartemen setelah kejadian perdebatan antara dirinya dan Alle. Alle terus mengirimi pesan pada Juna bahkan menelfon Juna namun tak mendapat balasan dari Juna. Baru tengah malam Juna mengirimi Alle pesan yang mengatakan kalau dia tidak pulang ke apartemen. Alle sedikit lega dan dia pikir Juna kembali ke kosnya namun Alle salah, Juna bukan ke kos melainkan dia ke apartemen Jayden yang ada disebelah unit apartemen Alle.
Alle baru bisa tidur setelah Juna mengirimi pesan tersebut dan sekarang waktu tidur di hari terakhir weekend nya terganggu oleh Naka yang baru saja datang ke apartemennya dan membangunkan Alle.
"Sayang bangun, udah jam 10 loh." Alle menepis tangan Naka yang mengusap pipinya. Lalu memutar badannya membelakangi Naka yang saat ini duduk di pinggir ranjangnya.
"Sayang--"
"Nanti dulu, aku semalem gak bisa tidur. Lagian ini weekend." Alle kembali memejamkan matanya membuat Naka gemas dan langsung mencubit pipinya.
"Sakit Naka!" Naka tertawa lalu duduk di space yang masih tersisa yang ada di ranjang Alle sambil menyandarkan kepalanya pada head board ranjang. Alle menoleh sekilas kemudian memutar tubuhnya menghadap Naka dan melingkarkan tanganya ke perut Naka sambil memejamkan matanya.
"Kenapa gak bisa tidur? Hm?" tanya Naka sambil menciumi pipi Alle beberapa kali.
"Bau iler kamu Yang." Alle langsung mencubit perut berotot milik Naka membuat sang pemilik mengaduh kesakitan.
"Kan belum mandi."
"Ya makanya bangun terus mandi." Alle tak menurutinya dan malah semakin mengeratkan pelukannya pada Naka. Naka akhirnya menggalah dan memilih memainkan ponselnya, membiarkan Alle melingkarkan tangannya pada perut Naka.
"Udah jam segini loh, gak mau sarapan apa? Aku tadi beli nasi uduk dideket kampus lama kamu." Alle langsung membuka matanya dan menatap Naka tajam.
"Isshh gak bilang dari tadi!" Alle langsung berlari ke kamar mandi membuat Naka tertawa melihat tingkah kekasihnya itu.
Naka meninggalkan kamar Alle menuju ke meja makan untuk menyiapkan sarapan mereka. Alle keluar dari kamar, masih memakai pakaian yang sama membuat Naka sedikit heran, Naka curiga Alle tidak mandi.
"Hehe aku cuci muka sama gosok gigi aja. Yang penting nasi uduk dulu, nanti baru mandi." benar dugaan Naka. Begitulah Alle pecinta nasi uduk di dekat kampus tempat dia berkuliah dulu. Letak penjual nasi uduk tersebut juga berada didekat stadion kampus yang isinya lapangan berolahraga dan beberapa fasilitas olahraga gratis disana. Setiap Alle selesai berolahraga disana entah bersama Juna, Naka, atau Jonathan pasti dia akan mampir ke gerai nasi uduk tersebut. Naka menarik Alle mendekat lalu mengangkat tubuh Alle ke atas meja makan membuat Alle menatap Naka heran. Naka menyentil dahi Alle sehingga membuat Alle mengaduh kesakitan. "Nakal" Gerutu Naka.
Alle malah tertawa setelah mendapat omelan dari Naka.
"Morning kiss dulu sini." Alle mendengus, bisa-bisanya setelah mengomelinya, dia meminta morning kiss. Namun Alle tak pernah menolak permintaan laki-laki tersebut. Alle langsung memberikan kecupan-kecupan kilat di kedua pipi Naka dan bibir Naka.
"Padahal udah siang tapi mintanya morning kiss. Dasar!" Alle turun dari meja makan dan duduk di kursi yang tersedia lalu melahap nasi uduk favoritnya, Naka ikut duduk dihadapan Alle dan melahap nasi uduk miliknya.
"Kamu gak ada niat buat resign aja? Aku bisa biayain hidup kamu," ujar Naka. Alle langsung menggeleng.
"Gak mas. Belum saatnya aku jadi tanggung jawab kamu seutuhnya. Nanti kalau udah nikah, bebas kamu mau nyuruh aku kerja atau gak. Sekarang gak dulu." Naka hanya mengangguk pasrah.
Selama ini memang Alle selalu menolak uang pemberian Naka bahkan ketika Naka hendak membantu Alle membiayai kuliah Juna. Alle menolaknya mentah-mentah. Selama ini Alle hidup dengan Juna pure menggunakan uang hasil kerja kerasnya sendiri. Bukan uang Naka. Alle hanya akan menerima hadiah dari Naka bukan uang. Namun, saat Naka memberinya hadiah mahal, Alle juga akan mengomeli Naka. Termasuk saat Naka memberikan apartemen yang saat ini dia tempati. Alle sampai mendiamkan Naka lebih dari tujuh hari. Tentu saja Naka uring-uringan sampai dia akhirnya berjanji pada Alle tidak akan memberinya hadiah mahal seperti apartemen ataupun mobil.