Kecewa
"Pagi bunda" sapa Rani kepada ibunya yang sedang menyiapkan sarapan pagi di meja makan.
"Pagi yah".
"Pagi sayang" sahut ayahnya.
"Bagaimana dikantor sayang? Lancar kerjaannya" tanya ayahnya.
"Lancar kok yah. Tapi padat banget jadwalku bulan ini. Banyak meeting. Mesti meeting keluar kota juga ini" jawabnya.
Rani berprofesi sebagai seorang arsitek. Dia menyukai hal tersebut karena kakeknya dulu adalah seorang arsitek. Sedangkan ayahnya seorang pengusaha. Dan ibunya memiliki butik pakaian muslimah khusus perempuan.
Meskipun berasal dari keluarga yang mampu Rani tetap diajarkan sebagai wanita yang mandiri dan hidup dalam kesederhanaan. Sehingga Rani bukanlah seorang wanita yang manja.
****
"Sampai jumpa lagi nanti pak pada pertemuan selanjutnya".
"Saya sangat senang sekali Bapa menyukai desain yang baru saya tampilkan tadi. Untuk detailnya nanti biar asisten saya yang mengantarkan berkasnya" ucap Rani kepada salah satu kliennya.
"Terima kasih juga atas kerja samanya dengan perusahaan kami. Semoga kerja sama kita bisa terus berlanjut terus bu Rani".
"Karena kami memang mencari seorang arsitek yang mempunyai ide baru dan kreatif seperti bu Rani ini" puji sang klien.
Rani sangat senang dengan kepuasaan yang diterima oleh kliennya atas hasil kerja kerasnya yang tak berujung sia-sia. Wajah bahagia terpancar dalam wajah cantiknya dengan senyum yang sumringah.
Tiba-tiba matanya tertuju kepada seorang laki-laki paruh baya yang tengah menggandeng seorang wanita muda yang cantik. Dia seperti mengenal laki-laki tersebut karena wajah tersebut tidak asing untuknya. Iya, sosok itu adalah ayahnya. Rani kaget melihat kejadian tersebut dari kejauhan. Dia tidak bisa mengejar untuk memastikannya lebih dekat karena masih bersama kliennya. Kini sosok tersebut telah hilang dari pandangan matanya.
Sepanjang jalan pulang Rani memikirkan tentang apa yang dilihatnya tadi. Rasa tidak percaya dan tidak mungkin kalau yang dilihatnya bersama wanita muda itu adalah ayahnya. Walaupun sudah berumur lima puluh tahun, ayah Rina memang masih terlihat tampan dan awet muda karena memang ayahnya rutin berolahraga serta mengkonsumsi makanan sehat. Begitu juga sebaliknya ibunya juga terlihat masih muda serta modis walaupun berpenampilan dengan baju syar'inya yang malah memperlihatkan keanggunannya. Rani hanya berpikir itu pasti bukan ayahnya,mungkin dia hanya salah liat.
"Assalamualaikum" ucapnya sebelum masuk ke dalam rumah.
"Waalaikum salam" sahut suara lembut bundanya.
Rani pun menyalami tangan bundanya.
"Ayah mana bun?" tanyanya kepada bundanya karena masih penasaran tentang yang dilihatnya tadi siang.
"Owh....sedang ada urusan diluar kota. Malam ini ayah tidak bisa pulang soalnya urusannya belum selesai" jawab bunda Mutia.
Rani pun hanya diam saja. Dia tak berani untuk menceritakan apa yang dilihatnya tadi siang. Dia masih merasa tidak yakin kalau itu benar-benar ayahnya.
****
Siang itu saat akan makan siang bersama teman sekantornya. Rani dikejutkan dengan sesosok laki-laki yang tengah makan siang dengan wanita muda berduaan dalam satu meja. Wanita muda yang cantik dalam pakaian muslim berwarna peach muda dan kerudung syar'i nya yang memperlihatkan aura kecantikan yang mempesona. Rani sebagai sesama wanita pun tidak bisa menolak kecantikan wanita ini.
"Ayah" kata Rani berdiri di samping meja dimana ayahnya sedang makan.
"Rani...." ayahnya terlihat terkejut melihatnya.
"Ayah lagi ngapain disini. Siapa dia yah?" tanya Rani penuh emosi.
Hal inilah yang ditakutkan oleh Rani sebenarnya. Takut yang dilihat benar-benar ayahnya. Dia takut kalau ayahnya telah menduakan bundanya. Selama ini tidak pernah dia menjumpai atau menyaksikan ayah dan bunda bertengkar. Memang tidak pernah terlihat perkelahian diantara mereka. Hanya keharmonisan serta kemesraan yang ada. Sehingga ini menjadi permasalahan baginya kenapa ayahnya bisa tega menduakan ibunya.
"Tenang sayang. Nanti ayah jelaskan ya dirumah".
Mendengar kata-kata tersebut keluar dari mulut ayahnya Rani benar-benar merasa penuh emosi dan amarah. Sedang wanita muda tersebut hanya tertunduk Tak berani menengadahkan wajahnya.
"Ayah tega" dengan helaan nafas panjang karena menahan emosi.
Kemudian Rani berlari dan keluar dari restoran tersebut. Teman sekantornya yang menyaksikan memanggil namanya, tapi dia tidak memperdulikannya lagi.
Rani menangis terisak didalam mobilnya seakan tak percaya dengan apa yang sudah dilihatnya. Dia tak kuasa menahan kekecewaan yang mendalam kepada ayahnya. Dia bingung dengan reaksi bunda nantinya jika tahu akan hal ini.
Bagaimana dia harus mengatakan kepada bunda kalau laki-laki yang selama ini menjadi teman hidupnya telah mengkhianati sang bunda?
Bagaimana hancurnya perasaan bunda nanti?
Kecewa mungkin pasti. Terluka juga iya. Dia sungguh tidak bisa membayangkan seperti apa reaksi bundanya nanti?