Rani hanya bisa menangis sepanjang jalan menuju rumah. Seorang ayah yang selalu dibanggakannya kemudian dalam sekejap saja menjadi orang yang telah mengecewakannya. Dia berpikir tentang nasib sang bunda dan perasaan bundanya sepanjang jalan. Hatinya dipenuhi dengan rasa gundah dan gelisah. Bingung untuk mengatakan kebenaran tentang pengkhianatan ayahnya.
"Assalamualaikum" ucap salam Rani saat masuk ke dalam rumah.
Rani terkejut bukan kepalang saat dia melihat siapa yang telah berada di ruang tamu rumahnya. Seolah-olah mereka telah menunggu kedatangannya. Sontak saja hal ini membuatnya merasa lebih marah lagi. Masih terlihat lembab dan basah wajah Rani yang baru saja menangis. Terlihat merah mata serta hidungnya. Rupanya dia menangis dalam waktu cukup lama. Bunda, ayah serta perempuan muda yang dilihatnya bersama ayahnya tadi tengah duduk bersama di ruang tamu yang sama. Ibunya tersenyum ke arah Rani.
"Waalaikum salam" sahut bunda beserta ayah dan perempuan muda tadi.
Namun dia menundukan wajahnya seolah-olah tak mampu untuk melihat wajah Rani.
"Sayang.... Kenalkan ini Dinda istri muda ayahmu" kata bunda Mutia kepada Rani. Memperkenalkan Dinda sambil memeluknya dari samping.
Sedangkan Dinda hanya duduk terpaku dan diam saja tanpa bersuara apa-apa. Rani terkejut dengan perkataan sang bunda, bagaimana dia tidak marah kepada ayahnya yang telah menduakan dirinya dan mengkhianati bahtera rumah tangga yang telah dibangun selama puluhan tahun? Raut bahagia tetap terpancar dari wajah ibunya. Tidak ada kesedihan ataupun kekecewaan yang seperti dialaminya di wajah sang bunda.
"Apa?".
"Maksud ibu dia istri muda ayah. Ibu tiri aku".
"Bagaimana bunda akan berpikir kalau aku akan menerima kehadirannya dalam hidupku?".
"Tidakkah bunda merasa sakit hati karena ayah telah menduakan bunda? " tanyanya dengan penuh isak tangis.
Air mata berlinang tiada henti dari kelopak matanya yang sayu dan terlihat sedikit bengkak karena terlalu banyak menangis.
Perlahan bundanya menghampiri Rani yang masih belum bisa menerima keadaan ini. Dia benar-benat terkejut hingga tak mampu berkata-kata lagi. Sedangkan ayahnya hanya duduk diam tidak berkata sepatah kata pun. Dinda pun hanya menundukkan kepalanya kebawah.
"Tenang sayang" elus bunda di pundak Rani.
"Bunda tidak marah dan kecewa sama ayah" Rani sungguh tak habis pikir betapa tegar dan kuat ibunya tersebut atas pengkhianatan dari pria yang telah menemani hari-harinya didalam hidupnya selama ini.
"Untuk apa bunda marah sama ayah".
"Apa bunda harus marah karena ayah menikahi Dinda?" tanya bunda disusul dengan anggukan Rani.
"Tentu tidak sayang. Bunda yang menyuruh ayah dan mengijinkan ayah untuk menikah dengan Dinda" kata ibunya.
Rani terkejut untuk kesekian kalinya hari ini,apalagi atas pengakuan langsung dari bundanya baru saja.
Bagaimana mungkin bundanya melakukan hal seperti ini? Membagi suaminya dengan wanita lain.
"Apa?" teriak Rani dengan nada kaget.
"Bunda mengijinkan ayah menikah lagi".
"Dengan wanita yang lebih muda dari bunda" dengan nada tak percaya. Bundanya mengangguk dan tersenyum kepada Rani.
"Dia sudah 4 bulan menjadi istri ayahmu dan teman bunda" kata bunda Mutia kepada Rani dengan senang.Rani yang mendengar pengakuan jujur bundanya seakan tak percaya dengan semua ucapan bundanya tersebut.
"Karena kamu sudah tau tentang Dinda. Maka mulai sekarang Dinda akan tinggal bersama kita".
Rani tampak begitu syok dan tak bisa berkata apapun tentang apa yang dikatakan bundanya tadi. Tiba-tiba saja tubuhnya lunglai dan tak sadarkan diri. Rani tak mampu lagi mendapatkan kejutan-kejutan tentang kenyataan baru yang terjadi dalam hidupnya. Hingga dia pingsan atas segala kenyataan pahit yang dialaminya.
Dinda terlihat begitu panik dengan kondisi Rani. Dia meminta untuk dicerai saja oleh ayah Rani karena tak tega melihat kondisi Rani. Namun ibunya Rani melarang Dinda untuk mengucapkan hal tersebut. Dia mencoba menenangkan Dinda yang ketakutan dan merasa bersalah.
****
Esok harinya Rani terbangun dari tidur panjangnya semalam yang begitu penuh emosi dan menguras tenaga. Rani terkejut bangun dari tidurnya dan beranggapan semua yang terjadi kemaren hanyalah sebuah mimpi buruk.
"Ahamdulillah untung cuma mimpi".
Dia bersiap seperti biasanya sebelum berangkat kerja. Namun dia terkejut saat sedang bercermin ada sesosok wanita muda yang dimimpi buruknya masuk ke kamarnya sambil membawa nampan makanan.
"Apa ini?" tanya Rani.
Dinda yang terkejut melihat Rani yang sudah bangun dan telah berpakaian rapi hanya saling pandang dengan Rani yang menatapnya tajam. Dinda merasa takut dan gemetar menatap Rani.
Rani keluar dari kamarnya dan melewati Dinda yang tengah berdiri membawa makanan. Dia mencari bundanya mencoba untuk menanyakan semuanya yang dia anggapn hanya mimpi buruk. Bundanya sedang di dapur menyiapkan sarapan pagi bersama ayahnya. Hal itu memang sering mereka lakukan berdua. Melihat kegiatan yang begitu romantis seperti ini. Rani merasa sakit dihatinya.
"Owh, sudah bangun kamu sayang".
"Bukankah sarapan kamu tadi diantarkan Dinda ke kamar?" tanya bundanya begitu santai
Ayahnya hanya duduk diam sambil minum kopi. Terjadi kecanggungan antara Rani dan ayahnya sekarang. Tidak ada lagi canda tawa seperti pagi biasanya. Rani menyadari apa yang dialaminya bukanlah mimpi buruk tapi kenyataan.
"Bun. Ini bukan mimpikan" tanyanya ragu.
"Rupanya kamu masih ingin tidur dan bermimpi ya" kata bunda.
Kemudian Dinda datang ke dapur menghampiri Rani dan meletakkan nampan makanan buat sarapan Rani yang dibawanya ke kamar Rani tadi.Rani seolah masih tak percaya dengan kenyataan ini.
"Cukup".
"Bunda tidak usah bersikap kalau bunda baik-baik saja atas kehadiran wanita ini dalam hidup bunda" protes Rani yang masih merasa kecewa.
"Rani jangan seperti itu. Bunda baik-baik saja kok" katanya dengan suara lembut.
"Hormati dia sayang. Karena dia adalah istri ayahmu".
"Dia adalah ibu sambungmu. Jangan kamu anggap kehadirannya adalah sebuah masalah sayang" kata bunda dengan lembut.
"Apa?".
"Menerima dia...."
"Gara-gara dia ayah mengkhianati bunda" katanya dengan nada tidak terima.
"Ayah tidak pernah mengkhianati bunda sayang. Bunda yang menikahkan mereka berdua. Bunda juga yang jadi saksi pernikahan mereka" kata sang bunda kepada Rani dengan penuh penegasan. Seolah-olah tak terima atas tuduhan Rani kepada suaminya dan Dinda.
Rani terkejut mendengar pengakuan bundanya tersebut. Air mata berlinang di pipinya,sekarang dia bingung dan tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Jadi dia benar-benar akan tinggal disini".
"Kalau dia tinggal disini aku yang akan pergi dari rumah ini" ancam Rani.
Rani pergi dari dapur dan masuk ke kamarnya. Dibantingnya dengan keras pintu kamarnya. Dinda yang gemetaran ditenangkan oleh bu Mutia bundanya Rani.
Rani tak habis pikir kenapa bunda seolah-olah begitu melindungi Dinda dan tak terima jika Rani tidak menyukainya. Dirapikannya semua pakaiannya ke dalam koper.
"Dona, aku bisa tinggal di apartemenmu untuk sementara waktu?" tanya Rani pada Dona via telpon.
"Sure. Tumben! Ada masalah ya dirumah?" tanya Dona dari seberang sana.
"Nanti aku ceritakan, aku lagi pengen nenangin diri dulu" kata Rani..
"Ok" jawab Dona.
"Thanks ya" kata Rani kemudian menutup telponnya.
Rani bergegas keluar dari kamarnya dengan membawa sebuah koper besarnya. Dengan perasaan marah, sedih dan kecewa dia keluar dari rumah yang penuh kenangan bahagianya dengan kedua orang tuanya. Namun semua berubah menjadi petaka baginya atas kehadiran Dinda. Sang pengacau dan perusak hidupnya, entah apa yang telah dilakukannya dengan wajah polos dan cantiknya hingga bundanya terus membela dan melindunginya.
"Rani" teriak bunda.
"Selama perempuan itu masih tinggal disini aku tidak akan pernah kembali untuk tinggal disini bun" teriak Rani penuh emosi dan menunjuk ke arah Dinda.
"Aku benci dia dan juga ayah. Aku marah sama bunda karena selalu membelanya".
"Apa yang telah diperbuat olehnya sehingga ibu menerimanya jadi madu bunda?".
Bu Mutia tidak bisa berkata apa-apa dan paham sekali dengan emosi Rani yang penuh kecewa. Namun dia juga tidak bisa mengatakan tentang alasan kenapa ada hadirnya Dinda didalam kehidupannya? Mata Bu Mutia berkaca-kaca melihat anak semata wayangnya pergi meninggalkan rumah. Dia tidak mampu dan tidak bisa mencegahnya. Hanya sebuah do'a yang terbaik menggiring kepergian Rani dari rumah dan membiarkan Rani untuk menenangkan pikirannya dulu. Bu Mutia sadar kalau Rani sekarang benar-benar terguncang. Bu Mutia menangis terisak kemudian dirangkul oleh suaminya pa Herman.
"Berikan dia sedikit waktu hingga dia mengerti semuanya" kata ayah Rani kepada bu Mutia.
"Iya. Semoga nanti dia bisa memahami dan mengerti apa yang telah terjadi?" jawab bu Mutia.
Dinda merasa sangat bersalah atas semua problema yang terjadi dikeluarga barunya tersebut. Sehingga dia tidak bisa berhenti menangis atas rasa bersalahnya. Dia yang menjadi petaka dalam keutuhan keluarga ini. Kenapa dia tidak mati saja saat dia mencoba bunuh diri?
Kenapa dia harus diberikan kesempatan hidup lagi?
Kenapa dia hidup sebagai perusak hidup orang lain?