Sebuah Pengkhianatan

1299 Words
"Rani, ada apa dengan lu?" tanya Dona saat Rani datang ke apartemennya dengan menangis. "Ayahku Dona. Ayahku beristri lagi" katanya sambil menangis terisak. "Maksud lu. Bokap sama nyokap lu cerai gitu?" tanya Dona. "Nggak. Bunda malah mau di madu sama ayah. Bunda malah membela Dinda" kata Rani. "Siapa Dinda?" tanya Dona lemot. "Dia istri baru ayah". "Bagus donk. Berarti tandanya ibu lu calon penghuni surga" ledek Dona ke Rani yang terus menangis. "Kamu kok gitu sich sama aku Don, nggak ada respect gitu. Sedih gitu, nenangin gitu. Bete aku jadinya sama kamu" kata Rani yang mulai ngambek ke Dona. "Ah, gitu aja kok ngambek sich" ujar Dona sambil ketawa. "Liat gue. Gue berasal dari keluarga yang broken home. Bokap nikah lagi sama sekretarisnya. Nyokap akhirnya stress dan memutuskan bunuh diri". "Lha gue bisa apa selain nurutin kemauan bokap gue. Hingga akhirnya gue di depak keluar rumah dan di suruh stay di singapore sama om gue". "Yang lu hadapin tu nggak seberapa Rani. Apalagi nyokap lu happy aja gitu dimadu. That's mean. So far so good for her. Lu nya aja yang baper tau" kata Dona menasehati Rani. "Entahlah aku nggak tau Don. Biar aku menenangkan pikiranku dulu" kata Rani sambil menyandarkan kepalanya di sofa. **** "Ini Ryan kenapa susah sekali sich di hubungi" kata Rani yang mulai kesal dengan handphonenya yang tidak bisa tersambung dengan tunangannya. "Paling Ryan lagi selingkuh noh sama cewe. Merengkuh kenikmatan dunia di hotel berbintang" ucap Dona yang asyik main game online. "Jangan samakan Ryan dengan cowok lainnya tau. Dia itu baik. Sopan, menghargai aku pula". "Tidak pernah sekalipun dia memaksa menyentuh aku. Setelah ku bilang halalin aku terlebih dahulu" kata Rani memuji Ryan yang sangat menghormatinya sebagai muslimah. "Itu mah akting. Semua cowok noh sama. Liat yang seksi mulus ngaceng. Apalagi kalau ceweknya ngasih daging empuk. Wuih, sedaaaaap.... maknyosss" ledek Dona sambil ketawa. Rina jengkel dengan kelakuan dan kata-kata Dona yang selalu menghina dan menjelekkan Ryan. Rina tau kalau sahabatnya Dona tidak menyukai Ryan. Sejak awal Dona memang selalu ketus dan judes terhadap Ryan. Namun dia memaklumi hal tersebut karena masa lalu yang pahit dialami oleh Dona. Dimana ayahnya berselingkuh dan membuat ibunya meninggal. Tak pernah sekalipun Dona mau menjalin hubungan serius dengan seorang laki-laki. Melainkan hanya untuk bermain-bermain saja. Ya boleh dibilang play girl sich dia. "Memang kapan lu terakhir kali ketemu Ryan?" tanya Dona serius. "Sekitar seminggu yang lalu". "Katanya sich dia ada urusan bisnis di luar negeri". "Seharusnya hari ini sich dia sudah pulang" kata Rani yang mengkhawatirkan Ryan. Ponsel Rani berdering,rupanya salah satu stafnya yang menghubunginya. Kalau besok jadwal meeting dengan klien baru. Jadwalnya dimajukan lebih awal karena si klien ada urusan yang tidak bisa dipending. Rani pun memahami dan mengerti tentang permintaan kliennya tersebut. Sehingga dia menanyakan tentang berkas persentasenya nanti. Ternyata semuanya sudah disiapkan oleh sekretarisnya yang bernama Fitria. Rani mencoba menghubungi Fitria namun nomernya tidak aktif. Akhirnya dia memutuskan untuk ke apartemennya. Berkali-kali Rani mengetuk pintu dan menekan tombol di samping pintu namun tak ada respon seseorang dari dalam sana. Rani mencoba ke kantor untuk mencek sendiri di meja Fitria, mungkin berkasnya ada disana. Padahal Rani sudah meminta cuti selama tiga hari untuk tidak masuk ke kantor karena ingin menenangkan pikirannya. Tapi mau bagaimana lagi. Persentase yang dadakan membuatnya harus memulai aktivitas kerja lebih awal. Di area parkir kantor dia melihat dari kejauhan sebuah mobil yang tak asing bagi dirinya. Iya, itu mobil Ryan. Rani berjalan perlahan mendekati mobil yang begitu persis seperti mobil Ryan. Namun hal yang tak terduga untuk dilihatnya. Ryan tengah b******u mesra dengan Fitria. Rani syok melihatnya. Dia berdiri terpaku di belakang mobil Ryan. Menyaksikan Ryan yang tengah asyik bermesraan dengan sekretarisnya. Entah berapa lama mereka sudah bersama? Entah berapa lama sudah mereka memadu kasih? "Sayang.... I miss you" kata Ryan ke Fitria. "Bagaimana dengan bu Rani mas?" tanya Fitria ke Ryan. "Kamu nggak usah mikirin dia. Dia juga tidak pernah memikirkan aku". "Dia tidak pernah mengerti apa yang aku mau?". "Sedangkan kamu selalu mengerti dan memberikan apa yang aku butuhkan" kata Ryan penuh mesra kepada Fitria. Entah apa yang telah mereka perbuat didalam mobil sana. Namun Rani hanya bisa duduk terdiam dan menangis pilu tak bersuara mendengar penghianatan kekasih yang dianggapnya pria paling suci. Rani pun pergi meninggalkan kedua sejoli tersebut yang tengah asyik b******u mesra di parkiran mobil kantornya. "Doona....." tangis Rani yang kembali ke apartemen Dona. "Kenapa lagi lu mewek?" "Perasaan akhir-akhir ini kerjaan lu nangis mulu deh. Cengeng amat sich lu" ledek Dona seraya menghibur Rani yang menangis di pelukannya. Walaupun dia sendiri tidak tau kenapa Rani menangis. "Ternyata Ryan selingkuh sama sekretaris aku Don" kata Rani sambil menangis tersedu-sedu. "Eeeaaalllaaah....gue pikir apaan". "Gue udah tau". Sontak saja Rani terkejut kalau Dona mengetahuinya. "Kok nggak kasih tau sich kalau Ryan selingkuh". "Jahat kamu Don" kata Rani sambil memukuli bahu Dona. "Kan tadi udah gue bilang kalau Ryan paling lagi asyik selingkuh makanya susah lu hubungi". "Lu nya aja yang nggak peka dan nggak percaya. Kalau sudah gini lu baru percaya kan" kata Dona sambil nyentil hidung Rani. "Saaakit....." kata Rani sambil mengusap hidungnya. "Sakit ya. Sini tak tiup. Cup...cup...cup...anak manis anak cakep jangan nangis lagi ya" usap Dona sambil nimang-nimang Rani. "Sakitnya tuh bukan disini tapi disini" kata Rani menunjuk hidungnya kemudian menunjuk ke arah dadanya. Dona memang sahabat terbaik Rani. Dia paling mengerti Rani. Dia selalu bikin Rani melupakan segala sedihnya dengan tingkah tololnya. Walaupun Dona sedikit tomboy namun dia memiliki sifat keibuan yang luar biasa. Oleh sebab itu Rani selalu nyaman untuk berbagi segala hal kepada Dona. Mereka berdua pun tertawa lepas dan hilang sedih Rani begitu saja karena tingkah Dona. "Sejak kapan kamu tau kalau Ryan selingkuh dengan Fitria?" tanya Rani penuh penasaran. "Segitu amat lu liatin gue. Kayak kriminal aja gue di interogasi" ledek Dona melihat tatapan Rani yang penuh curiga. "Jangan-jangan kamu ya comblangin mereka" tanya Rani ketus. "Gila lu. Lu pikir gue teman apaan. Ya nggak lah. Salah lu sendiri dulu nyuruh gue nemuin sohib lu si kunyuk kutu buku di hotel Ebony". "Maksud lu Eko". "Ya iyalah. Siapa lagi?". "Nah, pas di hotel sana gue liat kalau Ryan mau check out sama Fitria. Apalagi gue liat rambutnya Fitria masih lembab say" ledek Dona sambil mengibaskan rambut panjang sebahunya. "Eko aja sampai ngomen kalau mereka sempat satu lift pas naik ke atas dua jam yang lalu. Tanpa malu mereka berciuman didalam lift di depan Eko". "Eko aja bilang sampai panas dingin nahan mau kencing... Hahaha" tawa Dona yang mengingat ekspresi Eko pas bercerita. "Kok nasib aku begini banget sich". "Kemaren ayah ketahuan nikah lagi. Sekarang Ryan ketahuan selingkuh juga". "Apakah aku nggak pantas untuk bahagia?". "Mereka kedua pria yang aku banggakan dan aku puja ternyata penghianat semua" kata Rani kesal. Namun kekesalannya kali ini tidak sesedih saat dia mengetahui pernikahan baru ayahnya. Untuk kali ini dia lebih tegar. Dan lebih mengontrol emosinya untuk tidak terpuruk dan lebih menerima kenyataan walaupun sakit yang harus didapatnya. **** Sebuah pesan masuk dari Ryan. "Sayang kita dinner yuk. Aku sudah pulang. I miss you honey" diakhiri dengan sebuah emoji hati. Rani hanya membaca pesan masuk tersebut. Tak bertenaga rasanya dia ingin membalasnya. Kemudian sebuah panggilan masuk dari Ryan. Namun langsung di reject oleh Rani. Melihat hal tersebut Dona langsung berkomentar. "Angkat aja telpon dari Ryan. Bilang lu lagi sibuk buat persentase besok. Pasti dia paham kalau lu nggak bisa di ganggu". "Jangan lu tunjukin kemarahan lu. Bersikap lah santai dan sewajarnya. Maka lu nggak terlalu dianggap kecintaan banget ke dia" saran Dona. "Iya bos" kata Rani. Ponsel Rani berdering lagi. Sebuah panggilan masuk dari Ryan. "Halo". "Honey. Dinner yuk". "Nggak bisa deh kalo malam ini. Aku lagi nyiapian persentase buat besok. Maaf ya. Lain kali aja" kata Rani. "Ok honey. Semangat ya buat persentase besok". "I miss you honey"ucap Ryan. Pembicaraan pun langsung di putus oleh Rani.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD