Sesuai dengan jadwal meeting yang sudah ditetapkan dan diatur oleh stafnya. Rani datang lebih awal dengan Fitria dari jadwal yang ditentukan. Rani takut kalau kliennya akan menunggu dia lebih dulu. Dia ingin menunjukkan profesionalitasnya dalam bekerja. Lebih dari tiga puluh menit dia menunggu, namun kliennya juga tak kunjung datang. Saat dia mencoba menelpon stafnya. Datang seorang pria berperawakan gagah, dengan wajah yang begitu rupawan namun penampilannya begitu sungguh kharismatik.
Penampilannya yang rapi serta menarik membuat wanita yang melihatnya akan merasa terlena mengagumi. Fitria yang melihat sosok tersebut terkagum dengan ketampanannya dan kharismatiknya. Kalau dibandingkan dengan Ryan pria ini memang jauh lebih tampan dan lebih macho. Idaman para wanita pokoknya.
"Bu Rani" tanya pria tersebut.
"Iya. Dengan...".
"Perkenalkan saya Rusdy".
"Ok. Langsung saja. Karena saya sangat sibuk dan tidak punya banyak waktu. Biar proposal kerjasama kita nanti dibawa sama asisten saya dulu".
"Untuk lebih lanjutnya biar sekretaris saya yang mengkonfirmasinya".
Tingkah pria yang bernama Rusdy ini membuat Rani merasa jengah. Dia sudah menunggunya lebih dari tiga puluh menit. Tapi dia datang hanya untuk mengambil proposal tanpa mendengar penjelasan tentang proyek kerjasama mereka.
Fitria pun menyerahkan proposal kerjasama ke pria disamping Rusdy. Pria yang berpakaian rapi namun agak gemulai dan lebih feminim. Tidak seperti sosok Rusdy yang maskulin tapi terlihat cuek dan dingin. Tapi aura kelelakiannya begitu terasa kental.
"Maaf sudah membuat anda menunggu".
"Saya permisi dulu" kata Rusdy pamit ke Rani sambil berlalu pergi.
Rani mendadak emosi akan sikap Rusdy yang terlihat sok keren dan juga arogan. Dia merasa tidak dihargai sebagai calon rekan bisnis. Baru pertama kali ini dia menemui klien yang sungguh sombong seperti ini.
"Itu, cowok kok belagu amat. Kayak sok cool banget ya".
"Kita udah nungguin dia lama. Dia datang cuma ngambil proposal. Habis itu pergi. Hah".
"Nggak menghargai banget sich sama rekannya" omel Rani.
Beberapa hari ini Rina selalu merasa kalau kesabarannya tengah diuji. Membuat dia selalu marah dan ingin sekali berteriak meluapkan apa yang dirasakannya.
"Pak Rusdy memang begitu bu Rani. Oh ya, perkenalkan saya Ilham asistennya pa Rusdy" katanya dengan lembut dan sopan.
"Kalau begitu saya pamit dulu. Untuk kerjasama selanjutnya saya akan menghubungi ibu".
"Oh ya, ini kartu nama pa Rusdy" ilham menaruh kartu nama tersebut di atas meja.
"Saya permisi dulu" pamitnya dengan menganggukkan kepalanya dan tersenyum ramah.
"Iya" kata Rani sambil mengambil kartu nama yang diberikan oleh Ilham dan membacanya sekilas.
"Muhammad Rusdy akbar, nama pria angkuh tadi" kata Rani sambil memasukkannya ke dalam tas.
Rani pun melihat ke arah Fitria. Ada perasaan marah serta jengkel ingin menjambak rambutnya karena telah menjadi salah satu orang yang membuat rusak harinya dan hidupnya hancur. Namun hal itu diurungkannya. Dia harus benar-benar sabar dalam mengontrol emosinya. Dia tidak ingin marah seperti sebelumnya. Disaat dia mengetahui tentang kebenaran ayahnya.
Rani melihat wajah Fitria sedikit pucat, dan beberapa kali melihat Fitria seakan menahan sesuatu yang bergejolak di dalam tubuhnya.
"Kamu sakit Fit?" tanya Rani kepada Fitria.
"Saya hanya masuk angin bu. Mungkin efek begadang tadi malam buat persentase tadi dan besok" kata Fitria.
"Kita ke rumah sakit ya. Saya tidak mau kamu sakit" Kata Rani.
"Tidak usah bu. Biar nanti saya minum obat saja. Pasti juga akan sembuh" kata Fitria.
Entah kenapa Rani berpikir kalau Fitria sedang hamil. Dia tidak ingin berasumsi ataupun mengandai-andai. Mobilnya pun melaju menuju rumah sakit dan berhenti di area parkiran.
"Buat apa kita ke rumah sakit bu?" tanya Fitria.
"Sudah saya bilang saya tidak ingin kamu sakit parah karena sudah menjadi sekretaris saya" kata Rani sambil tersenyum.
Rani sangat begitu sayang serta mempercayai Fitria sang sekretaris. Namun, dia tidak menyangka kalau wanita lugu dan polos ini bisa merebut apa yang jadi miliknya. Meski begitu dia tidak ingin meluapkan kekesalan serta kekecewaannya dengan langsung memecat Fitria. Berharap Fitria tidak seperti para pelakor yang biasa dia lihat di berita ataupun di video. Tapi dia tidak bisa meyakinkan hatinya, karena orang akan berubah ketika dirinya merasa jauh lebih hebat dari sebelumnya.
Rani ingin mencoba menyelesaikan masalah ini dengan hati yang dingin dan pikiran yang jernih. Agar nanti dia bisa mencoba berdamai dengan ayahnya.
Rani langsung memeriksakan kondisi Fitria, namun alangkah terkejutnya. Benar Fitria sedang hamil jelas dokter yang memeriksa Fitria. Usia kandungannya sudah memasuki minggu ke lima kata sang dokter. Ini memang efek kehamilan semester pertama. Oleh sebab itu ibu hamil dianjurkan untuk lebih banyak istirahat pada saat ini, karena rentan akan keguguran.
Raut wajah bingung dari Fitria saat mendengar penjelasan sang Dokter. Rani masih bersikap wajar dan seolah-olah merasa kaget dengan kecurigaannya.
Fitria hanya menunduk saat dimobil dan diam seribu bahasa. Fitria merasa malu dan merasa bersalah, karena didalam rahimnya adalah anak Ryan kekasih Rani
"Anak siapa yang kamu kandung Fit?" tanya Rani membuka pembicaraan mereka.
"Anak pacar saya bu" jawabnya lesu.
"Siapa nama pacar kamu?" tanyanya sekali lagi.
"Na... Na... Manyaaaaa..... " jawab Fitria terbata-bata.
"Apakah Ryan ayah dari anak yang kamu kandung itu Fit?" tanya Rani langsung untuk mencari kebenaran tentang feelingnya.
Sontak Fitria terkejut dan tak bisa menjawab pertanyaan dari Rani. Dia hanya bisa diam dan tak memberikan jawaban. Namun Rani bisa melihat buliran air mata mengalir di pipinya walaupun Fitria menghapusnya.
"Saya sudah tau hubungan kamu dengan Ryan".
"Kamu bisa menjawabnya iya atau tidak. Saya juga tidak akan menghamikimu Fit" kata Rani.
"Saya minta maaf bu Rani. Saya khilaf" ucap Fitria berderai air mata. Air mata yang dia coba tahan tak terbendung untuk keluar.
"Jangan menangis, hubungi Ryan dan katakan kalau kamu hamil".
"Dan jangan bilang kalau saya sudah tau hubungan kalian berdua" kata Rani sambil memberikan isyarat tidak.
Fitria mengangguk mengiyakan, dia tidak menyangka kalau Rani tidak marah atau pun bicara kasar terhadapnya. Namun ketegaran dan kesabaran yang diperlihatkan oleh Rani. Sungguh dia merasa menyesal telah terbujuk oleh rayuan Ryan kekasih Rani itu. Dia yang telah meneguk sari dari tubuhnya untuk pertama kali. Pria yang telah melumpuhkan hatinya dan membuatnya jatuh cinta. Hingga rela memberikan harta berharganya tersebut. Menyesal! Perasaan itu hanya pernah terjadi sekali setelah hubungan pertamanya. Setelahnya, hubungan terlarang itu bagaikan candu untuk Fitria. Tidak bisa dia menolak dan menepis rasa yang menggelora itu ketika dibangkitkan oleh Ryan.