Mengelak

1095 Words
"Mas Ryan. Fitria mau bicara sesuatu" kata Fitria via telpon. "Bisa nanti kita ketemuan mas?" tanyanya. "Ok. Kita ketemuan ditempat biasa saja" jawab Ryan. Rani yang melihat semua tersebut benar-benar merasa tidak sakit hati. Melainkan hanya merasa iba kepada Fitria. Entah perasaan apa ini? Dia benar-benar merasa bisa mengontrol semua perasaan dan emosinya. Hal yang tidak bisa dipercaya olehnya. *** "Kamu sudah menunggu aku lama sayang" tanya pria berpakaian rapi yang masih mengenakan jas hitam dan baju hem putih dibalik jas mahalnya tersebut. Dia lah Ryan Putra Anggara. "Tidak, aku baru saja datang" jawab Fitria. Sebuah kecupan hangat mendarat di dahi Fitria. Ryan memperlakukan Fitria dengan sangat lembut penuh kehangatan. Sikap lembutnya lah yang sudah membuat Fitria terpikat dan luluh dengan menjalin kasih terlarang dengan Ryan. "Apa yang ingin kamu bicarakan sayang?" tanya Ryan lembut. "Aku hamil sayang" jawab Fitria tertunduk. Sebuah senyuman terurai dari bibir Ryan dan sebuah kecupan diberikan nya dipelipis Fitria. "Aku akan bertanggung jawab. Inikan anak kita" kata Ryan dengan penuh sayang sambil mengusap perut Fitria yang masih rata. "Bagaimana dengan bu Rani?" tanyanya untuk memastikan. Walaupun dia tau Rani sudah mengetahui hubungan mereka. Namun Fitria hanya ingin meyakinkan kalau Ryan benar-benar mencintainya bukan Rani. "Biar itu nanti menjadi urusanku" jawab Ryan. Sekali lagi mereka memadu kasih di apartemen milik Ryan. Fitria merasa benar-benar sangat bahagia karena merasa dicintai oleh Ryan. *** "Kamu harus jaga kesehatan kamu ya sayang" pesan Ryan saat mengantarkan Fitria pulang ke kosannya. "Iya sayang, aku masuk dulu kedalam" kata Fitria dan dibalas anggukan oleh Ryan. Ryan pun melaju mobilnya, dan Fitria berbalik badan tersenyum sambil mengelus perutnya yang masih rata. Dia merasa begitu sangat bahagia dan merasa beruntung memliki Ryan sebagai kekasihnya. Sebuah lampu mobil menyorot ke arah dirinya yang masih berdiri dipinggir jalan. Mobil tersebut melaju kencang ke arah Fitria. Sontak hal tersebut membuat Fitria terkejut. "Braaaaak....." Kecelakaan pun terjadi. Fitria tersungkur dijalanan. Kawasan tempat tinggal Fitria merupakan kawasan yang sepi sehingga tidak ada yang melihat kejadian tersebut. Mobil itu pun melaju meninggalkan Fitria yang sedang terkapar. Fitria yang masih sadarkan diri mencoba mengambil handphonenya dan menelpon seseorang yang dikenalnya. "Tooolong saya.... " kata Fitria saat panggilannya terhubung. Kemudian dia tidak sadarkan diri. *** Fitria terbaring lemas diatas ranjang rumah sakit. Baru pagi tadi dia datang ke rumah sakit dan malam harinya dia menjadi penghuni rumah sakit lagi. Namun dengan kasus yang berbeda, kini dia harus rawat inap. "Bagaimana keadaannya dok?" tanya Rani kepada dokter yang memeriksa Fitria. "Pasien baik-baik saja. Tidak ada luka yang parah. Hanya saja, janin yang ada dalam rahimnya tidak bisa diselamatkan". "Pasien mengalami keguguran" jawaban dokter tersebut membuat Rani kaget dan merasa marah kepada si penabrak. "b******k banget sih yang nabrak sekretaris lu Rin" kata Dona yang menemani Rani saat mendapatkan panggilan telpon dari Fitria untuk mendatangi kosan Fitria. "Aku tidak tau siapa pelakunya". "Kita tunggu sampai Fitria sadar, baru kita laporkan kejadian tabrak lari ini ke polisi" kata Rani sambil memandangi wajah lugu sekretarisnya. Fitria adalah gadis kampung yang mencoba peruntungan untuk bekerja dikota. Setelah ayahnya meninggal dialah yang menjadi tulang punggung keluarga untuk membiayai sekolah ke dua adiknya. Fitria bertemu dengan Rani saat duduk satu bus ketika Rani pulang berkunjung ke rumah neneknya. Setelah mendengarkan cerita Fitria, Rani pun menawari pekerjaan kepada Fitria untuk menjadi sekretarisnya karena sekretatisnya baru saja resign karena dilarang oleh suaminya untuk bekerja setelah menikah. Entah kenapa Rani tiba-tiba memikirkan Ryan. Apakah Ryan yang mencoba mencelakai Fitria? Kemudian dia mencoba memanggil nomer Ryan, setelah menunggu beberapa saat panggilannya diterima oleh Ryan. "Hai sayang" sahut suara diseberang sana. "Hai sayang. Kamu dimana? Apa kamu sedang sibuk?" tanya Rani. "Aku masih dikantor. Tidak terlalu sibuk. Apa kamu mau ketemuan?" tanya Ryan. "Iya. Apa kamu bisa?" tanya Rani. "Tentu sayang. Kita sudah lama tidak jalan bersama" balasnya. "Kita ketemuan direstoran biasanya ya" kata Rani. "Baik sayang. Aku segera kesana" jawab Ryan dengan nada bahagia. Rani mengeluarkan nafas berat yang seolah-olah telah menyesakkan dadanya selama ini. Dona yang datang menghampiri Rani merasa kasian dengan hidup sahabatnya sekarang ini. Bagaimana tidak, masalah demi masalah kini menghampiri hidupnya? "Kamu telponan sama siapa?" tanya Dona kepada Rani. "Janjian mau ketemu sama Ryan" ucapnya. "What? Ngapain?" tanyanya keheranan. "Aku cuma pengen mastiin sesuatu" jawab Rani. "Jangan beurusan lagi dengan pria tukang selingkuh itu" kata Dona. "Iya. Aku sekalian ingin memutuskan pertunangan kami" balasnya. "Baguslah kalau begitu. Aku dukung keputusan mu" kata Dona. "Tolong jagain Fitria ya buat aku" kata Rani kepada Dona. *** "Apa kau sudah lama menunggu?" tanya Rani kepada Ryan yang sudah datang terlebih dahulu. "Aku baru sampai juga" jawab Ryan. "Aku merindukanmu Rani" kata Ryan mencoba untuk memegang tangan Rani namun Rani menolak. Ryan merasa ada yang aneh dengan tatapan Rani sekarang terhadapnya. Apakah Fitria sudah menceritakan tentang hubungan mereka kepada Rani? Ryan mencoba menerka-nerka dari tatapan dingin di mata Rani. "Aku ingin memutuskan pertunangan kita" kata Rani seraya melepas cincin dijari manisnya dan meletakkannya didepan tangan Ryan. "Apa maksud kamu sayang?" tanya Ryan bersandiwara seolah-olah dia terkejut. "Aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita. Aku sudah mengetahui hubunganmu dengan Fitria" kata Rani to the point pada apa yang ingin dia sampaikan. "Sayang jangan seperti ini, aku sayang dan mencintai kamu. Itu semua jebakan licik Fitria sayang. Dia sengaja merayu aku hingga aku masuk ke dalam perangkapnya sayang". "Aku akui aku salah sayang. Tapi aku tidak ingin berpisah denganmu sayang" bujuk Ryan kepada Rani mencoba untuk meluluhkan hatinya. "Kamu tidak usah bersandiwara lagi Ryan. Aku yang mempergoki kebejatanmu dengan kepala mataku sendiri" katanya dengan penuh penekanan. Ryan mencoba meraih tangan Rani namun Rani menjauhkan tangannya. "Apakah kamu juga yang menabrak Fitria sehingga dia mengalami keguguran?" kata-kata Rani langsung membuat Ryan terperanjat tak percaya. "Sial kenapa sekarang dia jadi seorang yang sok pintar sih" gumam Ryan didalam hati. "Kamu bicara apa sih sayang? Aku tidak mengerti" ucap Ryan mencoba mengelak tuduhan Rani. "Aku tau Fitria hamil anak kamu Ryan" kata Rani membuat Ryan terdiam "Sayang itu tidak benar" ucap Ryan mencoba membela diri. "Kamu tidak usah menyangkalnya. Aku melihat sendiri kamu menyetubuhi dia diparkiran kantor ku. Lebih tepatnya di dalam mobilmu" kata Rani yang bergetar karena harus mengingat kembali kejadian pilu tersebut. "Sayang dengerin aku dulu". "Jangan panggil aku sayang lagi. Karena kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi" kata Rani kali ini dengan tegas. "Aku harap kamu bisa mempertanggung jawabkan segala perbuatanmu Ryan" kata Rani sambil berjalan meninggalkan. Ryan yang sedang mengutuk Rani di dalam hatinya merasa begitu sangat marah, dia merasa direndahkan oleh wanita untuk pertama kalinya. "Lihat saja nanti Rani tunggu pembalasanku. Akan aku buat kau menyesal telah menghancurkan harga diriku" ucap Ryan dalam hatinya dengan penuh amarah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD